Lingon Togutil eps 26
Posted on 05 Agustus 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 26
Karin menukas cepat. “Tapi kita saling cinta.”
“Kalian berdua di tengah hutan tetapi kalian tidak berhubungan badan. Itu luar biasa.”
Karin terkejut sesaat kemudian sadar. “Kalai memberitahu Ibu?”
Maisani mengangguk. “Kalai bercerita. Kalian menikah di Watam.”
Sesaat hening. Karin diam.
Maisani tersenyum. “Sekarang terbukti, sihir Lingon sudah jauh berkurang. Sihir Jangu sangat kuat, telah menggantikan sihir Lingon, sihir Jangu makin hari makin kuat.”
Maisani tidak menutur lebih jauh. Dia menyimpan rahasia sihir itu. Karin akan membenci Kalai dan semua lelaki kecuali Jangu. Dan Karin akan menurut apa yang diperintah Jangu. Sihir itu punya batas waktu, jika tujuan Jangu mengawini Karin tidak tercapai, pada limit waktunya Karin akan gila.
“Kami menikah di Watam, selama satu bulan berhubungan badan. Tetapi aku tidak merasa hamil.”
“Mungkin saja kamu hamil tetapi tidak merasa hamil. Itu sihir Jangu, sangat keras. Kejadian di pantai, kamu nyaris diculik, kamu tidak kuasa menolak, kamu akan menerimanya sebagai cinta yang wajar, untung Tetetua menolongmu.”
Badan Karin gemetar, parasnya pucat, mata birunya berkaca-kaca. “Ibu katakan bagaimana cara melepas sihir itu?”
Maisani memutuskan akan memandikan Karin, besok pagi setelah salat subuh. “Malam ini kamu tidur berdua Ayati, biar Kalai tidur berdua Kalid. Besok pagi kalian berdua akan ibu cuci dan bersihkan, acaranya sederhana, malam harinya kamu boleh berhubungan badan dengan suamimu.”
Karin merunduk, pipinya memerah malu.
“Ibu akan adakan pengajian mohon perlindungan Allah kepada kamu dan Kalai.”
Tiga tokoh wanita paling dimalui di desa Tutua, Maisani, Kanari, Salamah. Ketiganya dimalui dan dihormati karena ilmu spiritualnya. Mereka memimpin pengajian, meruwat dan memandikan Karin pada pagi hari. Mandi mengusir sihir dan menanam pampele[1] dalam tubuh Karin.
Karin merasa nyaman dan aman. Sejak melarikan diri dari kejaran Basam dan para petarungnya, Karin tak pernah tenteram. Dia dihantui ketakutan dibunuh, diperkosa, diculik. Ketakutannya jauh berkurang saat dia berdekatan Kalai.
Di Waijoi keadaan sama buruknya. Dia harus numpang di rumah Katina, menahan sabar dari ejekan Malini dan teman-temannya. Kemana-mana lelaki memandangnya bagaikan seonggok daging yang nikmat dimakan. Mereka, Jangu, Dubudeng, Tude dan Tofor memandangnya bagaikan hendak menerkam.
Dia merasa aman saat bersama Kalai tetapi dia sembunyikan masalah itu dari pengetahuan suaminya. Ayah dan ibu yang biasanya memanja sudah tak ada lagi. Tetapi dia beruntung memiliki Kalai yang melindungi siang dan malam, bahkan memeluknya kala dia dihantui ketakutan di malam hari.
“Kini aku punya keluarga, punya ayah dan ibu, punya suami yang memberiku kehangatan cinta. Semua di Tutua indah, nyaman dan aman.” Kata Karin kepada Kalai. “Aku ingin menetap di sini, punya rumah disini, melahirkan anak-anakmu, jika kamu harus bekerja di desa lain aku menunggu tanpa rasa khawatir, ada ayah ibu dan banyak kerabat sekitar. Aku merasa aman di sini.”
Lima malam bergelut cinta dengan Kalai. Setiap malam bisik-bisik, bicara cinta tak pernah bosan. Sepanjang malam mata tidak terpejam. Mata menelusuri tiap pori wajah kekasih, telinga menangkap bisik dan getar cinta dari mulut sang kekasih.
Karin bagaikan musafir di tengah gurun pasir menemukan air, memuaskan dahaga tanpa henti. Dia meyakini suaminya, bahwa dia rela mati menebus kenikmatan yang dia reguk selama di Tutua. Romantisme lebih hangat dibanding di Watam.
Cinta Karin yang terpendam selama ini mekar dan berkembang membentuk jaring cinta yang melilit Kalai bagaikan tentakel gurita raksasa. Tidak ada lelaki bisa lepas dari cinta perempuan secantik Karin, tidak juga Kalai yang perkasa.
Berat hati Kalai meninggalkan istri yang cantik jelita itu, tetapi janjinya kepada Karapu dan warga Waijoi memperbaiki masjid memaksanya pergi. Karin tidak berdaya mengikuti kekasihnya. Ibu mertuanya melarang dia ikut Kalai.
“Kamu masih harus menjalani terapi limabelas hari lagi. Atau kamu dan Kalai hancur bersama, musuh tidak punya rasa kasihan.” Tegas Maisani di ambang fajar hari perpisahan itu.
“Ibu… Aku tak mau berpisah dengan Kalai, aku mau ikut.”
“Perpisahan hanya sementara, Kalai mencari nafkah, kamu di sini memperkuat batinmu menghadapi musuh-musuhmu.”
Karin menangis, air mata membasahi pipinya yang kini mekar berisi. “Siapa musuh itu, siapa musuhku, siapa musuh Kalai?”
“Mereka menggunakan sihir jahat, iblis jahat membantu mereka. Dan kamu Karin ibarat rumah kosong tak ada dinding tak ada pelindung, mudah diterobos. Tidak satu atau dua iblis merasuk tubuhmu, puluhan berganti-ganti. Sampai suatu saat kamu berubah menjadi iblis bermuka Karin dan kamu akan membunuh suamimu. Setelah itu iblis akan pergi meninggalkan tubuhmu, dan kamu kembali sebagaimana Karin semula. Kamu akan melihat suamimu menggeletak berkubang darah, mati! Dan pisau berlumur darah berada di tanganmu. Kamu menangis menyesal tetapi tak ada yang bisa kamu perbuat lagi.”
Karin menangis sesenggukan, bicara putus-putus. “Ibu.. ja.. ngan.. ja.. ngan.. bica.. ra .. itu.. ibu… am..puni aku … ampuni juga .. Ka…lai… tolong … kami berdua..”
“Hanya kamu yang bisa mengalahkan musuh.”
“Bagaimana cara Ibu ….. ? Aku bukan petarung, aku lemah…”
“Bukan petarung, tetapi kamu pejuang, kamu harus berjuang untuk suami dan anak-anakmu.”
“Ajari aku… Ibu…”
“Ingat apa kata ibu Kanari dan ibu Salamah? Batin dan pikiranmu harus diisi, setiap hari, selama limabelas hari. Tidak ada jalan lain.”
Karin mengangguk lemah. Tak berdaya, berpisah dengan Kalai selama limabelas bahkan mungkin tujuhbelas hari adalah bencana baginya.
“Sekarang hapus air matamu, jangan lemah, harus kuat.” Maisani mendesak keras dengan tekanan suara. “Dasar anak manja.”
“Ibu, aku tidak manja, aku hanya cinta Kalai..... “
“Karin…” Suara Maisani agak tinggi. “Kamu ingat ibu Salamah dan ibu Kanari menangis ketika memeriksa badanmu, menyesali orang yang berbuat jahat kepadamu. Apakah itu bukan rasa sayang mereka kepadamu? Aku dan Kipatoma serta saudara mu, Ayati, Kalid dan Piri, mustahil mereka tidak sayang kamu? Tetapi kamu harus kuat batinmu, harus mandiri dan berjuang demi suami yang kamu cinta.”
Karin memeluk Maisani. “Ibu, aku patuh semua perintah ibu. Bimbing aku supaya kuat menghadapi orang-orang yang memusuhi aku.”
Maisani menyembunyikan tawa. “Nah sekarang kamu siap-siap mengantar suamimu keluar rumah.”
Karin mengiringi Kalai, menggandeng lengan suaminya. Keduanya berhadapan di ambang pintu, saling pandang mesra.
“Cinta perempuan Lingon hanya satu kali dalam hidupnya, ibarat anak panah tunggal sekali dilepas tidak akan kembali ke busur, kesetiaanku menjadi jaminan nyawaku, tidak akan aku berpaling kepada lelaki lain. Tak ada lagi minatku kepada seisi dunia melainkan hidup bersama kamu sampai di ujung penghidupan.” Bisik Karin.
Bab Sepuluh
Dendam Tujuh Tahun
Karin tiba di Waijoi bersama Maisani, Kalid dan Ayati. Mereka diantar Kipatoma dan dua kakak Maisani, Korako dan Gamcako. Tiga petarung itu langsung kembali ke Tutua tampaknya tidak mau bertemu orang.
Getenpiri melihat kedatangan ibunya. Dia bersiul memanggil kakaknya. “Kalai, ibu dan istrimu datang!” Tidak menunggu jawaban dia berlari menyongsong dan membawakan buntalan ibu dan iparnya.
Kalai yang berada di atas wuwungan, berseru kepada dua sahabat, Kalara dan Murutu. “Gantikan aku.” Dia berayun-ayun dari balok ke balok, dalam sekejap sudah mendarat di tanah.
Karin berlari menyongsong suaminya. Mereka pelukan.
“Lai aku rindu…” Karin berbisik mesra.
“Aku juga rindu.” Bisik Kalai di telinga istrinya. “Limabelas hari berpisah, aku kedinginan tiap malam.”
“Limabelas hari ibarat satu tahun.” Karin menangis haru.
Kalai mengelus rambut istrinya. “Kamu lebih cantik dan lebih berisi. Aku jatuh cinta lagi kepadamu wahai gadis Lingon.”
“Mauku tiap hari kamu jatuh cinta padaku, hari ini aku berhias untukmu. Cuma riasanku dirusak angin dan air laut.”
“Kau tetap saja cantik menarik.”
Kalai salaman dengan ibunya, mencium tangan dan memeluk wanita tua yang hatinya welas asih. “Mana ayah?”
“Ayah dan dua pamanmu mengantar tetapi langsung kembali. Mereka tak mau bertemu orang.”
“Aku mengerti.”
Matahari mulai miring ke Barat, Kalai memeluk Ayati. “Kamu cantik, hati-hati akan banyak laki-laki menggoda dan merayu kamu.”
“Aku tidak takut, ada Piri dan Kalai yang menjagaku.” Sahutnya manja.
Kalai menyuruh Getenpiri membawa rombongan ke rumah Sasupu yang sudah dia tempati. “Aku selesaikan pekerjaanku dulu.” Dia kembali ke masjid.
Diam-diam Kalai bersyukur datangnya Karin. Selama ini gosip beredar Karin diculik dan dijual ke kapal asing, gosip lain mengatakan dia bercerai, cerita lain Karin pulang ke kampung Lingon.
Beberapa gadis yang selama ini sibuk menyediakan makan dan minum, memandang iri kepada Karin. Harapan menggoda Kalai sirna sudah, Karin muncul sekaligus menyapu bersih gosip. Dan Karin muncul dengan pesona kecantikannya.
Pakaian Karin adalah busana adat, kebaya panjang, kain sarung dan kerudung. Parasnya yang cantik berkeringat kemerahan diterpa terik matahari. Dipunggungnya dia menyandang ransel ransel berlambang kerajaan Spanyol.
Malini cemberut. “Lingon busuk ternyata masih hidup.”
“Sahabatku itu makin cantik, busananya bagus, lihat tas punggungnya pasti Kalai yang memberinya.” Ponda melirik sinis Malini.
Malini kesal. Tadinya dia pikir Karin telah cerai dari Kalai. Selama beberapa hari dia berusaha mendekati Kalai. Namun laki-laki itu selalu menghindar, khawatir menjadi gosip panjang.
Beberapa gadis berusaha mendekati Kalai karena gosip Karin tidak lagi di sisi Kalai. Mereka tidak perduli wajah Kalai yang tidak tampan, mereka kagum keahlian lelaki itu membangun rumah, suatu jaminan untuk hari tua. Karenanya mereka membantu kerja mengangkat benda yang ringan, membersihkan pekarangan dan serambi masjid.
Kalai sebagai perancang, memerintah sukarelawan. Tetapi dia juga mengerjakan bagian yang sulit. Pembantu utama Kalai adalah Getenpiri dan dua sahabatnya Kalara dan Murutu. Para tetua juga ikut membantu terutama Karapu yang bahkan ikut mengangkat balok.
Tidak heran tepat hari duapuluh tiga pekerjaan selesai. Perbaikan atap membuat masjid tampak tinggi dan kokoh, ruangan dalam lebih luas dan longgar. “Kini salat Jumat bisa menampung lebih banyak jamaah tanpa berdesakan sampai pelataran.” Komentar Karapu yang tampak puas.
Para pemuda gotong royong membersihkan masjid agar segera bisa dimanfaatkan salat berjamaah. Karapu membayar Kalai empat keping emas sebagaimana janji. Ketika Kalai menyatakan akan menetap di desa Tutua, Karapu tampak tidak puas.
“Sebaiknya kamu menetap sampai dengan perkawinan Ramebete, aku perlu orang yang mengatur keamanan.” Karapu memohon.
Kalai mengiyakan setelah disetujui Karin.
( Bersambung eps 27 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







