Lingon Togutil eps 25

Posted on 02 Agustus 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 25

            Karin menutur singkat pertemuan dengan Tetetua tanpa menyinggung kejadian dan perbuatan Jangu. Dia tahu jika menutur perilaku Jangu pasti Kalai meradang, bakal terjadi tarung. Bisa saja Kalai membunuh pengganggu istrinya itu.

            “Kata Jangu dia tergila-gila padaku, dia punya banyak perahu, rumah indah di Tobelo.” Pikiran itu sungguh memalukan, tanpa sadar Karin menepuk kepalanya. Lalu kata-kata Malini kembali mengiang di telinganya.

            Karin menatap tajam suaminya. “Lai ... benarkah kamu berhubungan dengan Malini, melamar dia jadi istrimu? Kamu juga melamar Kabiho. Jawab yang jujur, apakah kamu sudah bosan padaku dan ingin menambah istri?”

            “Aneh. Kamu sungguh aneh. Dari mana cerita omongkosong itu? Aku tidak pernah berhubungan atau bicara dengan perempuan-perempuan yang kamu sebut."

            “Jawab yang jujur. Apa saja jawabanmu aku akan menerimanya. Meskipun kamu membuang aku, aku akan menerimanya. Karena aku cinta kamu. Cintaku sangat besar, lebih baik mati daripada kehilangan kamu. Jawab yang jujur Lai...”

            “Aku sudah menjawab jujur. Aku tidak kenal perempuan perempuan itu. Dari mana asal cerita itu?”

            “Mereka yang bercerita. Malini yang bercerita.”

            “Kamu percaya begitu saja, kamu pernah melihat aku bicara dengan mereka?”

            Karin menggeleng.

            “Kamu bodoh. Percaya sesuatu yang tidak kamu lihat dan dengar.”

            “Aku tidak bodoh.”

            “Yah. Kamu tidak bodoh. Kamu pintar, gunakan akal pikiranmu menemukan kebenaran cerita orang. Jangan semua cerita kamu percaya begitu saja.” Kalai lalu menarik badan istrinya, memeluk dan mengelus-elus kepalanya.

            Karin menangis. “Maafkan aku Lai, menuduh kamu yang tidak benar. Tetapi aku sangat cinta kamu. Aku tak mau kehilangan kamu.” 

            “Selamanya aku akan ada disisimu.”

Bab Sembilan

Sihir Jahat

Kepala kampung Karapu berembuk serius dengan ustad Harun dan kapitan hukum adat Mabungkas di halaman masjid sambil memandang tempat ibadah itu. Diskusi perdebatan tiga tetua kampung ini menyita perhatian orang sekitar.

            “Kita tidak punya tukang ahli, Nurdin pulang ke Makassar, dia membawa anak istrinya jadi mungkin tidak kembali lagi.” Karapu menggerutu.

            “Belakangan ini angin makin kencang, khawatir atapnya rubuh.” Ujar ustad Harun. “Bagaimana pembicaraan dengan menantumu Getenpiri?”

            “Dia tidak sanggup, takut gagal.” Kata Mabungkas.

            “Aku ingat sahabatku Kipatoma, dia tukang ahli. Sayang aku tak tahu dimana dia sekarang.” Karapu mengeluh. “Getenpiri tidak bisa memberitahu karena telah berjanji tidak akan menyebut keberadaan ayahnya.”

             “Rupanya Kipatoma telah menjauhi keramaian.” Jawab Mabungkas.

            “Bagaimana pendapat kalian jika tugas kupercayakan kepada Getenpiri? Aku akan membantunya sebagai penasehat.” Potong Karapu terpaksa.

            Saat itu Getenpiri, lelaki berbadan tegap tinggi langsing menghampiri tiga tetua itu. “Pak Kapala masih mencari tukang untuk memperbaiki masjid?”

            Tiga tetua memandang Getenpiri penuh harap. Karapu menjawab antusias. “Benar. Kamu punya pilihan?”

            Getenpiri tersenyum. “Pak Kepala sudah bertemu dia, tadi pagi.”

            “Siapa?” Karapu bertanya.

            “Kalai, kakakku! Tadi pagi dia bersama isterinya diantar Mikala menemui pak Kapala melapor akan meninggalkan Waijoi.”

            “Tidak! Aku tidak bertemu.” Karapu lalu menyambung. “Oh pasti dia bertemu Saman, wakil yang mengurus kependudukan. Ada apa dengan kakakmu?”

            Getenpiri tersenyum bangga. “Kalai itu tukang ahli, sebelum ke Waijoi dia membangun rumah putri kepala kampung Watam. Dia lebih terampil dari ayah. Katanya dia hendak  pulang memperkenalkan istrinya kepada ayah dan ibu.”

            Paras Karapu kontan berseri. “Masalahku selesai. Piri, panggil kakakmu ke sini, kami ingin bicara.”

            Kalai datang berdua Karin, masing-masing membawa buntalan pakaian. Mereka siap pulang ke rumah Kipatoma. Tadi Karin telah pamitan dengan Tetetua.

“Pak Kapala, kami pamit hendak pulang ke Utara.”

            Karapu memandang Kalai berganti Karin. “Kalai, putra sahabatku, jangan pergi, aku punya pekerjaan untuk tukang ahli seperti kamu.”

            “Pekerjaan apa?”

            “Atap masjid ini perlu perbaikan. Aku mencari tukang ahli, menurut Getenpiri kamu sama ahli seperti ayahmu. Coba lihat atap masjid, kupikir sebagian harus diganti, sebaiknya kamu periksa!” Karapu mendesak tidak ingin Kalai menolak. 

            Cukup lama Kalai mengamati dari beberapa sudut pandang. Dia memanjat atap meneliti satu demi satu bahan bangunan, jumlah dan daya tahan. Kemudian menjelaskan kepada para tetua termasuk Tutumole yang baru bergabung.

“Kayu masih kuat, tetapi pertautan dan ikatan satu sama lain tidak tepat. Sebagian  harus dirombak, ganti bentuk. Pasti butuh banyak kayu balok. Biaya cukup besar.”

            Para tetua menanyakan banyak hal. Kalai menjawab dengan rinci dan jelas. Mereka puas dengan jawaban Kalai.  

            “Kamu sanggup mengerjakan?” Karapu bertanya serius.

            Kalai mengangguk. “Jika dibantu beberapa tenaga, perkiraanku limabelas atau duapuluh hari kerja.”

            “Bagus. Nanti malam kau ke rumahku, kita bicarakan gajimu dan bahan bangunan yang kamu perlukan.” Tukas Karapu.

            “Maaf pak Kapala, sebaiknya dibicarakan sekarang, kalau kita sepakat, aku bisa menunda kepergianku.” Kalai menoleh kepada istrinya.

            Karin menarik tangan suaminya, menjauh dari Karapu. “Tidak bisa ditunda. Kita  nginap dimana? Aku sudah pamit dengan Bido dan Katina, tidak mungkin balik lagi.”

            Kita tinggal di hutan. Pekerjaan ini penting, aku bisa mendapat uang. Masa depan juga bagus.  Orang akan menilai hasil kerjaku.” Kalai tampak antusias.

            “Lai kalau terjadi kesepakatan, minta ijin pergi Tutua, kamu telah berjanji dan kita telah putuskan, aku ingin bertemu ibu dan ayah. ” Karin cemberut.

            “Baiklah.” Kalai menuntun tangan istrinya mengikuti Karapu.

            Di serambi rumahnya Karapu membuka percakapan. “Ayahmu Kipatoma sahabatku, kami tarung bahu membahu, dua kali dia selamatkan aku dari kematian. Tak kusangka sekarang bertemu putra tertuanya.”

            Pembicaraan tidak berlangsung lama. Singkat dan cepat mendapatkan keputusan. Karin yang ikut mendengar, merasa senang.

            “Akan kubayar empat keping emas. Kamu tinggal di rumah Sasupu yang baru kubeli, tinggal percuma selama kamu perlukan. Nantinya rumah akan kuperbaiki, itu juga butuh tenagamu.”

             “Lai, katamu, pak Karapu butuh waktu tujuh hari untuk mengumpul uang hasil kebun dan membeli bahan bangunan. Sebaiknya kita tunggu di rumah ayah.

            Kalai tertawa. “Benar, pertemuan dengan mertuamu tidak boleh ditunda. Kita nginap di sana empat atau lima malam, kemudian kembali ke Waijoi dan bekerja.”

            “Hari ini kita berangkat supaya lebih cepat tiba.” Karin antusias.

            Mereka menjelaskan kepada Karapu rencana menjenguk orangtuanya.

“Aku butuh waktu tujuh hari mengumpulkan uang dari hasil kebun dan membeli bahan bangunan. Sebaiknya mulai kerja tujuh hari dari sekarang.” Tegas Karapu. “Aku  ingin pekerjaan selesai sebelum perkawinan Ramebete.”

            “Kami pergi tidak lebih dari enam atau tujuh hari.” Kata Kalai. “Sekarang juga  kami berangkat.”

            Hari masih pagi sepasang kekasih itu mendayung perahu menuju Utara. 

Kampung Tutua letaknya sekitar sepuluh kilo Utara desa Hatetabako dan lima kilo Selatan kampung Iga. Sebelah Barat terbentang Samudera Pasifik yang memisah dari daratan Kao Barat. Sungai Ake Ifis mengalir ke laut terpisah seratus meter di Utara  kampung. Sebelah Timur, hutan yang sebagian dibabat dijadikan kebun warga.

            Mereka tiba usai salat Isya.

Karin memandang kagum panorama desa yang disiram sinar rembulan. Rumah-rumah tertata rapi dihiasi pohon nyiur dan kerimbunan bambu. Penduduk tidak banyak, sekitar tigapuluh kepala keluarga, sebagian besar masih sanak famili dengan Maisani.

Pertama masuk rumah Karin terpaku melihat sosok Kipatoma. Mirip Kalai, badan dan wajah sangat mirip. Tinggi besar dan gempal. Hanya sang ayah kulitnya lebih gelap. Parasnya kaku dan tampak kejam.

“Kalai, inikah istrimu? Namamu Karin?” Suara keras dan parau Kipatoma menambah sangar sosoknya di mata Karin.

            Suara Karin tersendat di tenggorokan. “Aku Karin.”

            “Ayah, bicara jangan keras-keras. Suaramu mengejutkan menantumu.” Kalai menuntun Karin mendekat, salaman dengan Kipatoma dan Maisani. “Dia ibuku, Maisani, tepatnya ibu tiri tetapi bagiku dia ibu tersayang.”

Kipatoma berbisik. “Jangan takut, ayahmu ini tidak makan manusia, apalagi manusia cantik seperti kamu.” Lantas dia tertawa keras.

            Ketika salaman dengan Karin, Maisani terkejut. Kaget yang tidak dibuat-buat. Dia mundur setengah langkah dengan paras pucat.

            Karin heran.

            Maisani memperbaiki suasana. “Tanganmu panas. Aku kaget.”

            Karin tersenyum. “Aku sehat Ibu.”

Maisani memeluk Karin. “Ayahmu itu parasnya seram, tetapi hatinya lembut, sangat cinta istri dan anak-anaknya.”

            Maisani wanita awet muda dalam usianya yang di awal empatpuluhan. Dari Kipatoma dia melahirkan Getenpiri yang kini usianya duapuluh tiga, Kalid delapanbelas dan si bungsu Ayati tigabelas.

 

Setelah makan malam Maisani bicara dengan Kipatoma. “Ada sihir jahat melekat di tubuh Karin. Saat salaman kurasakan tangannya sangat panas. Tubuhnya juga menguar hawa panas, matanya agak liar.”

            Kipatoma membenarkan pendapat isterinya. “Aku juga mencium aroma sihir.  Perbuatan orang jahat, kasihan dia. Sebaiknya kamu periksa, lebih cepat, lebih baik.”

            Suami istri itu memanggil Kalai dan Karin. Maisani membaca dalam batin ayat-ayat amalannya. Lalu tanpa basa basi atau penjelasan, Maisani menghampiri dan memeluk Karin. Saat berikut Maisani mundur selangkah, mimiknya pucat.

            “Ya Allah apa ini?” Paras Maisani pucat.

            “Ibu kenapa? Ada apa?” Suara Karin tegang lantaran curiga dan takut.

Kalai terkejut. Dia tahu ibu tirinya memiliki kekuatan supernatural yang diperolehnya sejak kecil dan telah melalui latihan serta didikan seorang guru spiritual dari negeri seberang yang pernah singgah di Tutua. Pasti ada sesuatu dalam tubuh istrinya yang berkaitan dengan hal-hal gaib.

Kalai belum sempat bertanya, Karin mendahului. “Ada apa ibu? Apakah aku berbuat salah?”

Karin heran, Bido atau Katina yang memeluknya tidak mengalami hal seperti yang dialami Maisani. Tadi Maisani memeluknya tetapi tidak terjadi apa-apa, mengapa sekarang Maisani mundur dengan wajah pucat.

Dua tangan Maisani menggenggam tangan Karin sambil menggeleng kepala. “Celaka, sihir jahat. Siapa yang berbuat jahat kepada anak ini?” Kata Maisani.

Karin ingat ucapan Tetetua di pantai saat menolongnya dari perilaku buruk Jangu. Tetetua berulang-ulang menyebut, “Sihir… sihir… sihir jahat…”

            “Sihir apa Ibu?” Desak Kalai.

            “Benar, ada sihir yang ditanam orang dalam tubuhmu.” Maisani menarik tangan Karin yang masih bingung. Masuk kamar.

            Hanya berdua dalam kamar, Maisani meraba sekujur badan menantunya lalu menatap tajam mata Karin. “Kamu bertengkar dengan Kalai, kamu cemburu, marah, sangat marah, benar?”

            Karin terkejut. “Benar, bagaimana ibu bisa tahu?”

            “Matamu yang bercerita. Ibu meminjam penglihatan matamu dan pikiranmu. Benarkah kamu sangat marah pada Kalai?”

            “Pernah bertengkar, berkali-kali. Kemarin sebelum keputusan ke Tutua, kami bertengkar. Aku mau menetap di Waijoi, Kalai mau pindah ke Tutua. Dia marah dan kesal padaku, aku menangis.”

            Dua tangan Maisani memegang pipi menantunya, menatap tajam mata biru yang masih bingung. Agak lama, lalu Maisani berkata. “Badanmu hangat tidak wajar, ada sihir jahat dalam tubuhmu. Sihir lelaki itu sangat keras, kamu tak bisa menolak permintaan dia, kamu akan mengikuti perintahnya. Ceritakan siapa lelaki itu?”

            Karin menutur pengalaman di kampung Lingon. Basam ingin memerkosanya. Dia menutur kejadian dengan Jangu di pantai. Tidak ada yang dia sembunyikan. Maisani mendengar dengan teliti. “Bu, tentang Jangu aku tidak beritahu Kalai, takut dia marah dan bertarung.”

            “Sihir Jangu perbuatan dukun Tobelo, sangat keras. Sihir itu telah menindih sihir Basam. Sekarang Jangu yang memerintah dirimu.”

            “Tetapi mengapa? Apa salahku? Aku baru bertemu Jangu beberapa hari lalu.”

            “Kamu cantik. Banyak laki-laki menginginkan kamu. Hal itu jadi masalah besar bagi kamu dan Kalai. Kalau tidak hati-hati hubunganmu dengan Kalai bisa putus, kalian berdua bakal merana sepanjang hidup.” Maisani memandang haru  menantunya. “Kamu akan mendatangkan bencana bagi Kalai tetapi kamu juga membuat Kalai bahagia. Semua tergantung kekuatan cintamu kepada Kalai.”

            Tak pernah sebelumnya Karin takut seperti saat mendengar penuturan Maisani. Putus hubungan dengan Kalai, orang yang paling dicintainya adalah melapetaka hidup yang tak mungkin bisa dilaluinya.

            “Tetapi apa salahku? Apa salah Kalai? Ibu bisa melihat masa depan?” Karin tidak meragukan kejujuran Maisani, tetapi kabar itu terlalu buruk untuk dipercaya.

            “Hanya kamu yang bisa mengatasi. Takdir pertemukan kalian berdua. Kalai tak pernah bertualang sampai di lereng Watowato wilayah kaum Lingon. Dia menutur kepada ibu, bahwa keinginan menikmati suasana angker Watowato muncul begitu saja dan dia tak kuasa menahan diri.”

            Karin menambahkan. “Sebelum bertemu Kalai, aku mimpi kampungku kebakaran besar, aku terkurung api, keluargaku tidak ada, lalu lelaki asing menolongku, tetapi wajahnya tidak jelas. Belakangan menjadi nyata, pemberontak membunuh keluargaku, aku melarikan diri, Kalai menyelamatkan aku dari kejaran mereka.”

            “Pertemuan kalian adalah takdir dan jodoh, banyak halangan bahkan ada ancaman maut. Ada baik, ada buruknya. Adalah lebih baik seandainya kalian tidak bertemu, dengan demikian ancaman maut tidak pernah ada.”

( Bersambung eps 26 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com