Lingon Togutil eps 24

Posted on 31 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 24

Pantai putus di ujung Selatan terhalang batu karang besar. Batu karang sepanjang limapuluh meter melintang dari laut menuju daratan membentuk tebing. Tak ada jalan terus ke Selatan kecuali memutar melalui laut atau mendaki tebing.

            Jalan buntu. Dia berbalik badan. Langkahnya terhenti melihat seorang lelaki tinggi gempal menghampirinya. Dia kenal karena lelaki itu pernah beberapa kali menyapanya dan memperkenalkan diri. Dialah Jangu, petarung Waijoi asal Tobelo.

Jangu bertahun-tahun bekerja di kapal asing dan menjadi pemasok minuman keras di pesisir Kao Barat. Juga ke warung Sasupu. Tak heran dia kaya, punya rumah dan perahu sewaan di Tobelo. Resminya dia warga Waijoi dan menetap di rumah Lakopar.

Karin menyimpan rasa kesal, karena bayangan wajah dan sosok Jangu sering membayang setelah perkenalan pertama beberapa waktu lalu. “Mengapa aku sering membayang dia, kuakui dia tampan dan jantan, tetapi aku istri Kalai mengapa  menoleh  lelaki lain?” Bantahan muncul setiap paras Jangu membayang dalam lamunannya. Bahkan sering kali dia membayang Jangu memeluknya.

            Karin teringat pengalaman di kampungnya ketika Basam menghadang dan niat memerkosa. Tanpa dibuat-buat Karin waspada, menegur.

“Mau apa menghadang jalanku?” Karin juga kesal, Jangu tidak kenal malu, tetap mengejar meskipun sudah ditolak dan sudah tahu Karin istri Kalai. Lima kali Jangu menyapanya, ini kali keenam.

            “Jangan marah Karin, aku kebetulan melihat kamu sendirian, aku khawatir ada orang mengganggu.” Tampaknya Jangu dalam keadaan mabuk, matanya merah begitu juga wajahnya yang tampan.

            “Jangan mendekat, ingat hukum adat melarang kamu mendekat! Aku istri Kalai.

            Jangu tersenyum. “Tinggalkan suami miskin itu, ikut aku hidup di Tobelo, aku punya rumah besar dan indah. Aku masih bujang. Kamu kujadikan wanita tercantik di Tobelo, kita akan sering bepergian melaut, aku punya banyak perahu sewaan. Kamu akan hidup senang, pakaian bagus dan perhiasan emas bertumpuk.”

            Beberapa saat Karin terbujuk godaan Jangu. Tetapi dia cepat sadar.

            Kawasan itu sepi. Tidak ada orang. Karin melihat sebelah kirinya laut, sebelah kanan tebing karang. Satu-satunya jalan pulang harus melewati lelaki itu. Karin berpikir akan menggunakan kecepatan larinya.

            “Jangan lari. Aku tidak bermaksud buruk, hanya ingin bicara.” Kata Jangu. Dia bergerak menutup jalan Karin. “Aku mencintaimu, tergila-gila padamu, jadilah isteriku kamu akan kumanja, aku punya rumah dan perahu, banyak uang emas dan perhiasan.”

            Karin ragu. Bujukan itu sangat mengena kelemahan Karin. Pikiran Karin melayang bagaikan sedang melamun.“Dia punya rumah dan perahu, aku bisa pesiar tiap hari....Oh alanglah enaknya....”

            Sebuah perahu kecil memantai tidak jauh dari tempat Karin dan Jangu.

Jangu mendekat, menatap mata Karin yang tampak hampa. Dia memegang tangan perempuan Lingon yang sudah lama dia impikan. Dia membaca mantra pamungkas, membuat Karin semakin linglung.

Terdengar teriakan seseorang. “Sihir .... sihir.... sihir jahat....” Laki-laki tua melompat turun dari perahu, gerakannya gesit.

Teriakan lelaki tua itu menyadarkan Karin. Spontan dia menarik tangannya dari genggaman Jangu. Dia menoleh ke arah teriakan.

Melihat lelaki itu Karin berteriak. “Tolong … tolong…”

            “Aku tidak bermaksud buruk, mengapa teriak minta tolong? Apakah mencintai kamu suatu kejahatan, kurasa tidak.”

            “Kamu menghadang jalanku, aku mau pulang.” Karin melihat lelaki yang baru datang. Orangtua kurus, rambutnya jarang dan tak sehelai pun yang warna hitam. Karin menaksir usianya enampuluhan.

Karin mengeluh dalam hati. “Jangu akan menghantam mati si kakek.”

            “Kita duduk dulu, kamu belum menjawab lamaranku, ikut aku ke Tobelo. Sekarang kita berangkat.” Jangu bertekad menculik dan melarikan Karin ke Tobelo.

 “Sekali dia berada dalam pelukanku, tak mungkin kulepas.” Tampaknya Jangu sudah punya ketetapan hati menculik Karin.

            Karin heran melihat orangtua itu menarik perahu ke darat. Tua usia namun masih bertenaga. Karin menantang Jangu. “Kurangajar, minggir, biarkan aku pulang.”

            “Aku tak bisa tidur nyenyak selalu terbayang wajah dan tubuhmu. Sungguh, aku ingin kamu jadi isteriku, sekarang ikut aku ke Tobelo.” Jangu merayu.

            Ketika itu orangtua menghampiri dengan tongkat di tangan. Jalannya terseok-seok seperti tidak bertenaga. “Sihir! Sihir! Sihir jahat!” Dia berseru.

            Karin berseru. “Tete, tolong aku…!”

Kakek itu tertawa. “Kamu cucuku. Aku akan menolong kamu.” Dia melotot memandang Jangu. “Tidak boleh mengganggu wanita, apalagi dia menolak ajakanmu.” Kakek melangkah menghampiri Karin.

            Jangu berseru marah. “Tua bangka! Jangan ikut campur, jika ingin selamat.”

            “Aku justru mau ikut campur, lepaskan cucuku, biarkan dia pergi.”

            Jangu mendorong dada si orangtua. Dorongan kuat dan bertenaga.

            Orangtua menangkis dengan tongkatnya. Lalu tongkat itu bergerak macam ular, menghantam kaki Jangu.

            Jangu kesakitan, melangkah mundur memasang kuda-kuda tarung.

            Orangtua menyerang lanjut, tongkatnya bekerja cepat.

            “Tasss! Tasss… Tassss …. Tasss…Tasss…!”

Kepala Jangu berkali-kali diterpa tongkat, tak ada gunanya Jangu menangkis. Jika tangan Jangu melindungi kepala, tongkat turun menghantam badan. Tongkat punya jalan sendiri menemukan sasaran tanpa Jangu bisa menangkis atau mengelak.

Jangu merasa kepalanya bagai digodam palu besar, sesaat dia khawatir tengkorak kepalanya retak. Tapi dia tak bisa mengelak atau menangkis. Sekitar belasan kali pukulan di kepala dan badan kekarnya. Bahu, lengan, kaki, pinggul semua dapat bagian. Sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun.

Tak lagi hirau diri sebagai petarung, Jangu teriak. “Ampun… ampun… ampun!”

Orangtua melancarkan pukulan sambil memaki-maki. “Laki-laki bejat, tak punya malu mengganggu perempuan di  tempat sepi.” Orangtua mengakhiri serangan dengan  menyepak pantat Jangu yang terhuyung-huyung terjerembab di pasir.

Jangu berusaha bangkit. Gagal. Jatuh terduduk. Dia menatap orangtua itu dengan pandangan minta belas kasihan. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.

Orangtua membentak. “Pergi! Lari cepat atau kubunuh kamu!”

Selama pengalaman tarung belum pernah Jangu mengalami dipermalu seperti itu. Dia memandang orangtua dengan rasa tidak percaya. Matanya berkaca-kaca. Malu dan sakit. Tetapi tak berdaya membalas.

Kepalanya berdenyut-denyut bagaikan ada api membara didalamnya. Badannya ngilu, sakit dan lemas. Seketika dia tahu pukulan orangtua itu disertai amalan mantra  mumpuni. Tidak berpikir panjang lagi, Jangu lari terseok-seok. Jatuh bangun beberapa kali, sungguh dia merasa malu, namun lari menjauh lebih selamat.

Karin teriak senang. “Bagus Tete[1], dia menangis, dasar pengecut cerengenge[2].”

            Orangtua meneliti Karin dari atas ke bawah, balik lagi dari kaki ke wajahnya. Lalu dia memaki. “Lingon bodoh! Cucu bodoh, hampir saja kamu diperkosa!”

            Karin heran. Saat berikut dia marah, Membanting kakinya. “Mengapa memaki aku? Tidak ada salahku padamu.”

            “Salah! Kamu bersalah! Gadis  cantik jalan sendirian di tempat sunyi, tempat ini banyak hantu. Mana kekasihmu, mana dia? Seharusnya dia menemani kamu.”

            Melihat usia dan bentuk tubuhnya yang kurus, Karin berpikir orangtua itu patut dikasihani. Nyatanya  dia berilmu tinggi. Tongkat yang digunakan memukul, tidak besar, panjang satu  meter, diameter hanya satu sampai dua sentimeter. Kepala dan tubuh Jangu besar, tetapi tidak bisa menahan pukulan kakek itu. Karin yakin bahkan Jakudu tidak akan bisa melakukan seperti yang dilakukan si kakek terhadap Jangu.

“Aku istri Kalai. Laki-laki tadi tahu aku istri orang tapi berani menggoda malah ingin menculik aku membawa kerumahnya di Tobelo, untung ada kamu Tete.”

“Lain kali jangan jalan sendirian di tempat sepi. Kamu wanita cantik pasti akan mengundang lelaki berbuat jahat kepadamu.”

“Tete mau pergi kemana?” Karin menghampiri dan memegang tangannya.

            “Aku mau pulang!” Tiba-tiba teringat sesuatu, dia memandang keliling. “Ikan. Mana ikanku?”

            Karin ikut mencari. Seingat dia kakek itu tidak menenteng ikan. Lalu Karin berlari ke perahu si kakek. Dia kembali sambil menenteng ikatan lima ekor ikan.

            “Aku dapat ikanmu!”

            Kakek itu senang.  “Cucuku, ikut aku ke rumahku, ada hadiah buat kamu.”

            “Rumahmu dimana?”

            Tetetua menunjuk tebing. “Atas tebing.”

            “Hadiah apa?”

            Karin mengikuti Tetetua ke atas tebing.

Matahari baru muncul dari ufuk Timur, Karin sudah muncul di gubuk kekasihnya.  Pembicaraan dengan Tetetua kemarin telah mengubah pikirannya. Dia mau mengalah, ikut maunya Kalai, mendirikan rumah dan menetap di kampung Tutua.

Gubuk itu kosong, tetapi barang-barang Kalai berserakan. Buntalan pakaian, selimut, beberapa bilah tombak dan pedang panjang.

“Dia hanya membawa golok dan pisau. Pasti sedang berlatih.” Karin berkata kepada diri sendiri.

Karin menaruh barang bawaan di atas dipan, duduk bersandar tiang penyanggah. Dia betah menunggu, pikirannya melayang. Bersama Kalai berperahu menuju desa Tutua,  tinggal sementara di rumah orangtua Kalai sambil mendirikan rumah sendiri, dan yang membuat jantungnya berdebar kencang dia akan bercinta sepuas-puasnya. Dia tertawa senang.

“Mengapa baru sekarang aku sadar, kasihan Kalai, tetapi aku juga patut dikasihani. Kami berdua harus menahan diri dari hasrat yang bergejolak. Setiap bertemu birahi itu mengganggu.” Karin gembira telah memutuskan hal yang benar, dia sangat berterimakasih kepada Tetetua.

Agak lama kemudian Kalai muncul. Dia tertawa melihat Karin yang rebahan karena masih mengantuk.

“Apa yang kamu bawa untuk suamimu?”

Karin bangkit duduk. Dia membuka buntalan bawaannya. “Ikan bakar dua ekor, kasbi[3] rebus, nanas yang sudah aku kupas. Satu tabung air putih, masih pagi jadi minum air.” Karin tertawa. “Kamu pasti lapar.”

“Memang aku lapar. Aku berlatih lebih lama dari biasanya. Lihat keringatku.” Kalai mulai menyantap makanan.

Karin memandang mesra kekasihnya. “Lai maafkan aku. Kuakui kesalahanku, keras kepala dan mau menang sendiri. Sekarang aku bersedia ikut kamu ke Tutua, tinggal di rumah ayahmu. Kita tidur berpelukan dan bercinta  sepuasnya.”  

“Senang mendengar keputusanmu, kapan kita berangkat?”

“Sekarang! Hari ini! Buntalanku sudah siap. Aku hanya perlu pamit kepada Katina, Mikala, Bido dan Sousoulol.” Suara Karin terdengar gembira.

Kalai memandang isterinya.

“Bagaimana Lai, sekarang kita berangkat?” Karin bertanya antusias. Karin tidak menceritakan bagaimana proses keputusannya.

 “Aku lapar. Ikan ini masih segar, pasti kamu yang masak, benar?”

            Karin kesal pertanyaan tidak dijawab tetapi dia berusaha menahan diri. “Memang aku yang masak di rumah Katina. Sekarang Lai, jawab pertanyaanku tadi.”

            “Kamu tanya apa?”

            Tiba-tiba Karin menerkam. “Pura-pura lupa. Kugigit kamu!”

            Terpaksa Kalai menangkap tubuh Karin. “Ampun Karin… ampun…”

Karin melepas gigitannya. Menyeka mulutnya dengan tangan. “Keringatmu asin.”

            “Gigitanmu mesra.” Kalai tersenyum.

            “Jawab pertanyaanku, kita berangkat sekarang, jadi?

            Kalai menatap mesra. “Baik kita berangkat sekarang.”

            “Kita memulai hidup baru, Lai!” Karin menatap mesra. “Sebelum pergi aku ingin bertemu Tetetua, dia menyayang aku.” 

            “Siapa Tetetua?”

( Bersambung eps 25 )



[1] Tete : Kakek. Tetetua : Kakek yang sangat tua

[2] Cerengenge : cengeng, mudah menangis.

[3] Kasbi : singkong

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com