Wisang Geni Part Two Bab 1 by John Halmahera

Posted on 09 Juni 2014 ( 0 comments )


Bab Satu

Dendam Himalaya

 

 

Catatan Penulis :

1.      Hak pengarang novel orijinal ini berada di tangan John Halmahera.

2.      Boleh mengutip menyebarluaskan cerita Wisang Geni part Two ini tetapi hanya di dunia maya (on-line), tidak perlu bayar ke pengarang, syaratnya minta ijin tertulis via email kepada Pengarang (johnhalmahera@gmail.com) dan setelah saya jawab/setujui maka anda boleh melaksanakan.

3.      Jika ada penggemar yang ingin menerbitkan sebagai novel silahkan hubungi saya, tidak pakai royalti, jual putus dan harganya murah. Komisi bagi pihak ketiga juga saya sediakan.

4.      Novel WG part Two ini pernah saya rilis tahun lalu, kini akan saya rilis atau publikasi bab demi bab (seluruhnya ada 23 bab).

5.      Terimakasih.

 

      Arjapura, laki-laki separuh baya bertubuh besar tapi tidak terlalu tinggi, berdiri di sisi kapal  yang mengarungi samudera Hindia. Dia memandang laut luas yang sedang bergelora. Ombak besar dan angin kencang mengombang-ambing kapal seperti juga perasaan dalam dirinya yang berkecamuk amarah dendam.

      “Wisang Geni, kamu telah membangunkan raksasa tidur. Kamu bunuh putraku, apakah kamu pikir semudah itu, setelah membunuh kamu bisa hidup tenang? Balas dendamku sangat kejam, akan kubunuh anak-anakmu, memerkosa isteri-isterimu, membiarkan kamu merasakan sakit hati seperti yang kurasakan. Setelah itu baru aku membunuhmu. Kamu pendekar nomor satu tanah Jawa, pikirmu bisa menahan ilmu dari gunung putih Himalaya? Aku datang membawa dendam berdarah dari Himalaya. Kamu tidak tahu aku datang, tetapi aku tahu kamu ada di sana.”

      Dia berkata kepada diri sendiri. Suaranya yang parau dan serak, ditelan gemuruh angin dan ombak samudera Hindia. Dia mengepal jari-jari tangannya, terdengar suara gemeretak, buku-buku  jarinya memutih. “Aku bersumpah, kamu akan mati secara mengerikan. Aku akan meremas hancur dan mengunyah tubuhmu!”

      Sumpah dendamnya seakan didengar laut, seketika ombak dan gemuruh angin membesar. Laut bergolak. Beberapa saat kemudian laut menjadi lebih tenang. Ombak dan angin kencang kembali ke fase normal.

      Arjapura telah menempuh perjalanan jauh dari Himalaya. Saking ingin cepat tiba di tanah Jawa, dia menempuh jalur berbahaya dan angker lewat negeri Nanzhao Yunnan, Burma. Dia melayari sungai Ayeyarwadi dari utara ke selatan. Beberapa kali dihadang perampok dan penjahat tetapi ilmu-silatnya yang tinggi tak memberi peluang para penjahat menjarah barang dagangannya.

      Barang-barang akan dijual di pelabuhan Jedung sebagai modal dagang dan hidup. Dia tak tahu berapa lama akan menetap, mungkin juga tak akan kembali ke Himalaya, karena tahu untuk tarung balas dendam, seseorang harus menggali dua liang lahat.

      Berlayar sendirian menuju tanah Jawa sungguh perbuatan yang kelewat berani. Demi dendam yang menyiksa dirinya, yang membuat tidurnya tidak nyenyak, dia rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya serta kehidupan damai di kawasan Himalaya. Bagaimanapun juga dia teringat keluarganya, isteri pertamanya, isteri-isteri mudanya dan anak-anaknya serta murid-murid yang sedang belajar di perguruannya.

     

Satu bulan sebelumnya dia bersama isteri pertama Pujadewi, ibu kandung Wasudeva. dan tiga adik Wasudeva pergi ke perguruan Yudistira. Mereka menanyakan keberadaan Wasudeva dari dua murid utama Yudistira yang baru pulang dari tanah Jawa. Sudah dua tahun Wasudeva pergi dan tak ada kabar beritanya.

Mereka terkejut mendengar kabar kematian Wasudeva dalam pertarungan di tanah Jawa. Arjapura marah, wajahnya yang hitam memerah. Pujadewi menangis. Bismata dan dua adiknya berteriak marah. Suasana riuh. Murid dan pelayan di perguruan Yudistira ketakutan tapi diam-diam bersikap waspada.

 “Bagaimana matinya?” Tanya Arjapura.

“Dia mati terhormat, tuan. Tarung satu lawan satu.”

Arjapura memukul meja. Empat kaki meja amblas ke dalam tanah. Permukaan meja pecah berantakan. Tanda kemarahan luar biasa. Terdengar  geramnya macam harimau raksasa terluka.

Suami isteri murid Yudistira merunduk dengan tubuh gemetar ketakutan, berkata lirih. “Maaf, tuan. Kami tidak campur tangan, guru Yudistira dan keluarganya juga tidak campur tangan, itu pertarungan dua pendekar. Tuan Wasudeva tarung secara ksatria dengan pendekar tanah Jawa. Kami semua berharap kemenangan di pihak tuan Wasudewa, tetapi apa hendak dikata, karma dewata menentukan putra tuan mati dalam tarung.”

“Siapa namanya, laki-laki yang membunuh putraku?”

“Wisang Geni.”

“Siapa orang itu?

“Dia ketua perguruan Lemah Tulis, ilmu silatnya tinggi, julukannya pendekar nomor satu tanah Jawa. Dia pernah mengalahkan beberapa pendekar utama dari  Kuangchou. Dia, suami Gayatri. Tadinya guru sangat marah mendengar Gayatri menikah dengan Wisang Geni. Tapi entah bagaimana guru Yudistira akhirnya mau menerima Wisang Geni sebagai anak mantunya.”

“Gurumu mengakui dia sebagai anak menantu sebelum kematian putraku?”

“Sesudah kematian putra tuan.”

“Mereka tinggal di Lemah Tulis?” Desak Arjapura.

“Tidak. Wisang Geni dan keluarga guru tinggal di lereng Timur gunung Welirang.” Tutur murid Yudistira.

“Ceritakan selengkapnya.” Desis Pujadewi. Matinya Wasudeva putra tertuanya, pukulan berat baginya. Putranya itu calon pengganti ayahnya sebagai ketua perguruan Arjapura. Kini dia mengandalkan putra keduanya, Bismata dan dua adiknya.

Murid Yudistira menceritakan detail pertarungan Wisang Geni lawan Wasudeva di atas geladak kapal.

Lima tamu dari perguruan Arjapura terpahna, terpengaruh cerita tarung dahsyat itu. Arjapura marah tetapi masih bisa mengendalikan diri dan menekan emosi keluarganya.                              

Murid Yudistira memberi hormat. “Maafkan kami suami isteri, jika cerita ini membuat tuan sekeluarga marah dan berduka. Sesungguhnya kami semua, guru Yudistira dan keluarga besar, ikut berduka, tetapi kata guru, kami semua tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa ikut campur, itu pertarungan  dua ksatria yang tidak bisa terhindarkan.”

      Arjapura kembali ke perguruannya mengatur segala sesuatu. Menyerahkan perguruan ke tangan isteri dan anak-anaknya. Dia berpesan. “Kalian atur perguruan dengan baik, jika aku tidak kembali dalam waktu tiga tahun itu artinya aku mati. Dan kalian tidak boleh pergi ke tanah Jawa untuk mencari aku atau membalas dendam. Matinya Wasudeva maka aku tetapkan Bismata sebagai ketua perguruan, dia akan didampingi ibunya Pujadewi. Tidak boleh ada perkelahian antar sesama saudara dan semua keluarga harus bersatu dan hidup dalam keharmonisan. Ingat itu.”

 

Arjapura tiba di pelabuhan Jedung. Dia menyamar sebagai pedagang, membawa banyak barang dagangan. Yang pertama-tama dia lakukan, mencari tempat tinggal. Dia menyewa rumah di Karambang, desa cukup besar dan rame yang bertetangga dengan pelabuhan Jedung dan menggelar barang jualannya di emperan rumah.

Menggunakan sedikit bahasa Jawa yang dipelajarinya dari seorang pedagang di atas kapal disertai bahasa isyarat tangan, dia bisa melakukan transaksi jual beli.

Suatu hari dia kedatangan suami isteri Minten dan Parto yang memiliki warung di pelabuhan Jedung. Itulah rumah besar berfungsi sebagai warung makan merangkap tempat jualan berbagai macam barang keperluan.  

Suami isteri itu tertarik kualitas barang dagangan yang dibawa Arjapura, menawarkan kerjasama berbagi keuntungan. Arjapura setuju. Dia tidak perlu lagi bersusah-payah menjajakan barang, tetapi memercayakan pada suami isteri itu untuk menjualnya. Dia hanya mengawasi tanpa harus memperlihatkan diri di publik.

Menetap di warung Minten di pelabuhan Jedung itu dia mendapat satu kamar yang bersebelahan dengan kamar suami isteri itu.

Selama beberapa malam dia mengetahui apa yang terjadi di kamar sebelah. Minten sering menangis mengutarakan kekesalan lantaran suaminya tidak bisa memenuhi hasrat seksnya. Dan Parto hanya bisa membujuk dan minta maaf.

Di siang hari Arjapura bisa menangkap hasrat birahi dari pancaran mata Minten saat keduanya bertatapan. Perempuan itu sering tersenyum, menawarkan makanan, melayani dan menungguinya makan.

Jika melangkah didepan Arjapura, wanita itu sengaja melenggok memperlihatkan bokong yang dibungkus sewek ketat. Jika berbicara soal barang dagangan, Minten  sengaja menatap dengan mata berbinar atau menggerakkan mulut dengan genit.  

Terbersit akal licik Arjapura.

Menggunakan tenaga batinnya yang sudah mencapai taraf tinggi dia menyalurkan  sihir memengaruhi pikiran Minten.

Fantasi perempuan usia duapuluhenam tahun itu mulai melihat kejantanan tetamunya. Dia gelisah dan makin gelisah, hasrat seksnya makin membakar akal sehatnya setiap bertatap muka dengan Arjapura.

Hari itu ketika Parto menjaja barang dagangan ke beberapa desa tetangga, Minten menggoda dan memancing tetamunya. Arjapura tak menyia-siakan peluang yang sudah ditunggu-tunggu, menarik Minten masuk kamarnya.  

Beberapa hari setelah perselingkuhan, Parto kedapatan mati di tepi kali Porong. Sejak hari itu Arjapura menjadi suami Minten. Tidak perlu ada pesta kawin atau keramaian, orang pun tidak perduli apakah itu suami isteri resmi atau tidak resmi.

Rencana pertama Arjapura sudah terlaksana, menetap di suatu tempat dimana dia bisa memantau kegiatan pelabuhan Jedung, mengetahui masuk keluarnya kapal layar. Dengan demikian dia bisa memantau kepulangan rombongan Yudistira ke Himalaya.

Dia memang menanti saat yang tepat untuk membunuh anak-isteri Wisang Geni, saat dimana keluarga Yudistira tidak lagi kumpul bersama. Target utamanya adalah anak-isteri Wisang Geni, kemudian baru membunuh pembunuh putranya itu.

Untuk itu dia menunggu saat Yudistira pulang ke Himalaya. Dia tak mau bentrok dengan Yudistira yang adalah sahabatnya. Meskipun dia yakin mampu mengalahkan Yudistira namun dia merasa tidak bermanfaat bentrok dengan Yudistira.

Dia hanya menginginkan nyawa Wisang Geni, isteri dan anak-anaknya. Dan satu-satunya jalan aman memuluskan rencananya jika rombongan Yudistira sudah pulang.

Dia menunggu saat yang tepat. “Aku harus sabar menunggu. Sekarang aku berada di tempat gelap, tidak seorang pun tahu siapa aku, Minten pun tidak pernah tahu aku memiliki ilmu-silat tinggi, dikiranya aku pedagang biasa.”

Pada waktu-waktu tertentu dimana air laut pasang dan topan mengamuk di samudera luas, tidak akan ada kapal datang atau berangkat meninggalkan pelabuhan Jedung. Saat itu, saat yang tepat untuk menjual barang dagangannya dia bersama isterinya pergi ke desa-desa sekitar. Dia menggunakan jasa orang-orang perguruan Brantas sebagai pengawal dan penunjuk jalan. Dia perlu mengenal desa-desa dan jalanan di tanah Jawa.

Suatu hari mereka tiba di desa Sadayu, tidak jauh dari kaki gunung Welirang. 

Dini hari itu setelah bercinta dengan Minten, dia berpesan pada isterinya. “Aku pergi ke suatu tempat, ada yang harus kukerjakan. Nanti malam aku sudah kembali.”

Pagi itu Arjapura melakukan perjalanan cepat ke lereng gunung Welirang, dia sudah punya gambaran tempat tinggal Wisang Geni dan keluarga Yudistira dari cerita sepasang suami isteri murid Yudistira itu.

Tetapi dia tidak berbuat sesuatupun. Dia hanya menyelidiki. Melihat dan memeta rumah-rumah yang dihuni Wisang Geni dan keluarga besar Yudistira.

Dia mengawasi para penghuni perkampungan kecil itu, semuanya orang-orang yang menguasai ilmu-silat. Dia tak berani gegabah, sadar Wisang Geni berilmu tinggi, apalagi ada Yudistira dan keluarganya. Maka dia semakin memastikan akan menyerang Wisang Geni hanya jika Yudistira sekeluarga pulang ke Himalaya.

“Guru masih mau menetap satu atau dua tahun lagi. Setelah itu mereka akan kembali ke kampung halaman.” Tutur murid Yudistira waktu itu.

Selama satu tahun menetap di tanah Jawa, Arjapura sudah mahir bahasa Jawa yang dipelajarinya dari Minten. Memasuki tahun kedua perkawinannya, Minten hamil besar. Seringkali Minten istirahat di rumah di perbukitan sementara warung Jedung dijaga adik lelakinya dan para pembantunya. Pada tahun kedua itu Minten melahirkan seorang bayi perempuan diberi nama Lastri.

Dibalik keanehan dan kekejaman sifat egoisnya Arjapura tetaplah manusia biasa yang mencintai anak darah daging sendiri. Lahirnya Lastri menjadi semacam perekat hubungan Arjapura dengan Minten.

Arjapura hidup menyepi, menjauh dari pandangan umum baik di Karambang maupun di warung Jedung. Hanya Minten dan para pembantunya yang bergaul rapat dengan penduduk setempat. Dia tetap menyembunyikan nama dan asal usulnya, penduduk sekitar mengenalnya sebagai Pura si pedagang dari Tanah Seberang.

Rumah kecilnya di Karambang strategis, berada di perbukitan tinggi dekat kali Porong, dimana dia bisa memantau lalulintas sekitar pelabuhan Jedung, kapal-kapal asing yang datang dan pergi ke negeri seberang. “Jika Yudistira pulang ke Himalaya, aku akan segera mengetahuinya, saat itulah tiba saatnya perburuanku dan kematian bagi Wisang Geni  serta anak isterinya.”

Memenuhi hasrat birahinya yang besar Arjapura sering melakukan perjalanan ke desa-desa sekitar dan secara sembunyi meniduri wanita-wanita yang disukainya. Tetapi dia tak pernah lupa melatih jurus-jurus silatnya. Setiap hari senggang dia semedi memperdalam kekuatan batinnya untuk menambah bobot sihirnya. Ada waktu-waktu tertentu di malam hari dia berlatih jurus silat di tempat sepi.

Di Himalaya di kawasan yang menjadi wilayah kekuasaannya dia tak punya tandingan, semua orang segan dan takut. Kemana dia pergi, orang akan menghormati dan menaruh rasa takut dan segan.

Orang-orang di kawasannya membayar upeti kepadanya sebagai balas jasa proteksi yang dia janjikan, bahkan putri mereka pun disodorkan untuk menjadi isterinya. Di kawasannya Arjapura adalah raja tanpa mahkota, raja yang menentukan mati hidup dan nasib orang-orang disekitarnya.

“Hanya Yudistira yang bisa menandingiku! Tapi kini dengan ilmu ciptaanku yang baru, aku pasti bisa mengatasi Yudistira!” Arjapura rajin melatih diri. Dia tahu tingkat kualitas ilmu-silat putranya, tetapi dari penuturan murid Yudistira itu maka jelaslah ilmu-silat Wisang Geni lebih tinggi dari Wasudeva.

Jurus sapno tasafar haimeri dilka yeh bhawarhai (perjalanan impian, pusaran tujuan hatiku) yang memiliki perubahan 11 jurus mematikan. Juga is mein doobjana zarasa lamha chupata khwab milgaya (banyak waktu yang lenyap kini telah kembali) terdiri 17 jurus. Atau hum samundar ke andaarchale (menuju kedalaman laut)  dengan 7 jurus pukulan bercampur sihir. Dan 5 jurus bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai (tertawalah terus hingga menjadi gila) yang jadi andalan.

      Meskipun tenaga-dalam Wasudeva kalah dari Wisang Geni, namun dengan tenaga-dalam seperti yang dimiliki putranya serta jurus-jurus mematikan bercampur sihir kuat, seharusnya Wasudeva tidak akan kalah.

      Jadi kalau sampai kalah dan terbunuh, jelaslah tenaga-dalam dan ilmu Wisang Geni tidak bisa dianggap remeh. Apalagi cerita keberhasilannya mengalahkan jago-jago Kuangchou sehingga dia dinobat sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.

      Berpikir demikian Arjapura tiba pada satu kesimpulan bahwa Wisang Geni adalah musuh yang sulit dikalahkan. Namun dia yakin pada jurus dan tenaga-dalam yang dilatihnya puluhan tahun serta jurus baru gubahannya dua tahun terakhir di Himalaya. Terutama pukulan tapak tangannya yang mengandung racun mematikan.

      Selama lima tahun terakhir dia tekun melatih jurus yang diwarisinya dari gurunya siluman gunung putih yang sangat ditakuti di wilayah Himalaya. Dia melatih tangan beracun, memasukkan tangan ke bongkah salju paling dingin dan menyerap racun dari kalajengking biru yang sangat berbisa. Dari gurunya dia juga melatih ilmu sihir penakluk dewa dan berbagai jenis racun berikut pemunahnya.

      Pukulan tangan salju atau pukulan kalajengking biru atau pukulan racun dingin, jika mengena tubuh lawan serta merta akan mengirim racun dingin kedalam tubuh musuh yang dalam hitungan satu sampai tiga hari akan mati keracunan.

      Bagian tubuh yang kena pukulan akan berwarna biru. Tanda biru itu akan menjalar ke bagian lain sedikit demi sedikit tergantung lemah kuatnya tenaga-dalam musuh. Jika warna biru mencapai bagian dada maka jantung akan berhenti berdetak.

      Awalnya ambisi Arjapura mengubah jurus-jurus baru yang mumpuni karena ingin memenangi persaingan dengan Yudistira. Dia hanya ingin memperlihatkan kepada Satyawati, isteri Yudistira, wanita yang pernah dicintainya itu, bahwa dia kini lebih unggul dari Yudistira. Hanya itu.

      Tetapi dalam perkembanganya ketika gurunya siluman gunung putih  menambah bobot sihir kedalam jurus pukulannya, dia terperosok kedalam misteri sihir yang lalu disadarinya akan menjadi kekuatan ilmu silatnya. Dia makin tekun mendalami sihir memasukkan kekuatan magis itu kedalam jurus-jurus pukulan barunya.  

      Jadilah beberapa jurus mematikan yang berbau sesat, dingin membeku menuju nirvana, jembatan asmara melayang di angkasa, pijar api dari neraka, panas membakar bumi, dingin membeku alam, bunga-bunga mengharumi bidadari, asmara di tengah badai salju, bunga salju tidak sanggup memadam birahi.

      Delapan jurus ini disempurnakannya dengan memasukkan unsur sihir. Jurus yang sulit diduga, tenaga-dalamnya yang tinggi hasil latihan puluhan tahun, racun dingin pada tapak tangannya, tiga unsur ini  telah meningkatkan ilmu-silatnya dua kali lipat dari sebelumnya. Ditambah lagi sihir kuat pada setiap pukulan dari delapan jurus itu maka jadilah setiap gerakan sebagai jurus mematikan.

      Pada akhir pendalaman ilmu-silatnya dia mengawinkan delapan jurus itu kedalam  ilmu andalannya “bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai” (tertawalah terus hingga menjadi gila) yang tadinya hanya 5 jurus menjadi 13 jurus. Bisa dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan senjata.

 

Kawasan desa Karambang dan pelabuhan Jedung rame dengan pedagang asing dan lokal, para pelancong dan penjual jasa. Peredaran uang dan juga sistem barter menjadi pemasukan besar bagi keraton. Kapal-kapal dari Asia Barat dan Asia Timur hampir tiap bulan merapat. Pedagang asing sibuk membeli dari pedagang lokal sambil menjual atau barter dengan barang bawaannya. Perahu layar  dari tanah Jawa belahan Barat atau dari kerajaan di Sumatera dan Kalimantan, ikut meramaikan perdagangan.

Setiap bulan purnama semua pemilik warung di Jedung setor pajak kepada Kepala Desa. Pajak itu dibagi separuh untuk keraton, tigapuluh bagian untuk desa dan duapuluh bagian untuk perguruan Brantas.

Keraton Tumapel adalah pemilik wilayah. Perguruan Brantas penjaga ketertiban dan keamanan. Perusuh, pencopet, perampok atau pencuri jika tertangkap dibunuh ditempat. Setiap hari kelima awal bulan, orang-orang keraton Tumapel yang diwakili adipati Gajah Pringgon penguasa pelabuhan Jedung, datang mengambil pajak. Begitu juga wakil perguruan Brantas yang menagih uang jasa keamanan.

Selain itu perguruan Brantas punya hak monopoli transportasi sungai, mengantar jemput para pedagang ke tempat tertentu. Mengandalkan murid-muridnya yang berjumlah ratusan, perguruan Brantas sangat ditakuti para perampok. Para perampok&am


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com