Lingon Togutil eps 23
Posted on 31 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 23
Karin makin marah terhadap Kalai. Matanya melotot. Saat berikut marahnya mereda melihat pelipis Kalai berdarah. Darah masih menetes di pipi dari luka bekas lemparan kotak perhiasan. Dia ingin minta maaf tetapi mulutnya terkunci rasa malu.
Karin memaksa diri. “Ceritakan tentang wanita majikanmu itu, awas bohong! Kamu bercinta dengan dia?” Suaranya datar dan ketus.
Sebodoh-bodohnya Kalai, dia tahu jika menceritakan pernah bercinta dengan Lisabet, pasti Karin akan ngamuk. Dia menggeleng kepala. “Tidak pernah. Aku hanya pernah menolongnya dari gigitan ular berbisa dan kalajengking.”
Karin mendesak dengan mimik serius. “Tidak pernah bercinta dengan dia? Hanya menolong dari gigitan ular, mengusir ular? Kamu tidak bohong?”
“Tidak bohong, itu cerita benar.” Kalai memberanikan diri menatap si gadis.
“Awas kamu bohong, aku tidak suka dibohongi.”
“Tidak. Aku tidak bohong.”
Mendadak saja Karin berubah. Dia menghampiri, begitu dekatnya sehingga Kalai terdesak mundur. Karin berbisik lirih, tak mau didengar Mikala dan Katina. “Wanita itu masih muda? Apakah dia cantik?”
“Dia janda, suaminya mati dalam perang. Dia cantik.” Tutur Kalai.
Wajah Karin cemberut. “Tahu darimana kalau dia janda. Kamu tiduri dia?”
Kalai terkejut, merasa seakan rahasianya terungkap. Cepat menukas. “Tidak. Aku tidak tiduri dia, juru bahasa yang memberitahu, semua petarung tahu dia janda. Jika punya suami, tak mungkin suaminya tidak ikut bersamanya.”
Karin tersenyum. “Katamu dia cantik, apakah lebih cantik dari aku?”
“Tentu saja kamu lebih cantik, kamu lebih muda dan lebih cantik.”
Semua wanita ingin dipuji kecantikannya. Karin tersenyum bangga. Mata birunya bersinar terang.
“Baik. Kalau begitu kisah tentang wanita itu tidak boleh kamu ceritakan kepada siapa pun juga.” Karin gembira, parasnya berseri-seri, menghampiri Kalai. “Luka keningmu berdarah.”
Kalai mengangguk. “Luka ini tidak sakit.” Hatinya senang persoalan telah selesai, dia merapikan baju biru memasukkan dalam ransel. “Terimalah hadiah ini.” Kalai menyodor kembali kotak dan ransel. “Sudah lama aku niat memberimu hadiah ini. Kemarin aku mengambil dari tempat penyimpanan.”
“Jadi kamu pergi untuk mengambil perhiasan dan baju ini, untuk aku?”
Kalai berbisik lirih. “Aku cinta kamu, setiap malam merindukan kamu.”
Pipi Karin merona merah, mata birunya berkaca-kaca, terharu. Karin tampak gembira, parasnya berseri-seri. “Lai aku sangat cinta sama kamu, tiap saat aku merindu, kamu tidak boleh tinggalkan aku lagi .... awas kamu....”
Karin lalu menggandeng tangan Kalai. “Ikut aku ke rumah, temui Bido dan Sousoulol.”
Kalai enggan tapi tak berani menolak, khawatir Karin marah lagi.
Bab Delapan
Tetetua Penyelamat
Matahari tertutup mendung tipis, udara pagi sejuk. Cuaca cerah berawan. Namun suasana hati Karin sedang kesal. Dia mulai bosan tinggal di rumah Katina. Numpang selama beberapa hari, dia merasa tidak bebas. Dia malu kepada Mikala. Aktifitas hidup di hutan lebih bebas, selalu berdua Kalai, berjalan, memancing dan memanggang ikan, makan berdua, malam hari dia merengek minta dipeluk. Kebebasan itu tidak ada lagi, Katina semuanya serba teratur.
Karin mendatangi gubuk kekasihnya. Kali ini tidak membawa sarapan.
Pembicaraan perihal rumah tinggal jadi memanas. Kalai usul tinggal sementara di rumah ayahnya di Tutua desa terpencil sebelah Utara Hatetabako. Karin menolak.
“Kita menetap di Tutua, ayah sediakan tanah untuk kita membangun rumah sendiri. Mengapa kamu tidak mau? Kamu lebih suka di Waijoi meskipun kamu numpang di rumah Katina, sedang aku di gubuk darurat. Aku bosan hidup begini.”
“Aku juga bosan, kita hidup berpisah, aku juga malu menumpang di rumah Katina meski dia bibiku. Kita punya uang mengapa tidak membeli rumah?” Karin melotot.
“Tidak ada rumah yang dijual. Terakhir warung Sasupu telah dibeli kepala kampung, meskipun punya keping emas kita tak bisa membeli rumah di sini.”
“Kita tetap di Waijoi, aku tidak mau pindah.” Karin ngotot.
“Kamu isteriku, kamu ikut mauku. Kamu mau beli rumah dimana? Di Waijoi tak ada rumah dijual. Di rumah ayahku ada kamar lebih, kita tinggal sementara sambil membangun rumah. Silahkan memilih dan katakan pilihanmu padaku.” Tutur Kalai yang tidak sabar menghadapi Karin yang keras kepala.
Karin menangis. Tidak biasanya Kalai tegas kepadanya. “Aku mau tinggal di Waijoi, kamu telah berjanji akan selalu disisiku.”
“Benar. Tetapi kamu di rumah bibimu atau di rumah Bido, aku di gubuk ini. Sudah sebelas hari tinggal berpisah rumah. Kapan kita kumpul sebagai suami isteri, kapan? Apakah kamu betah hidup seperti ini?”
Karin bosan dengan kondisi yang memisahkan dia dari Kalai. Bosan tinggal di rumah Katina. Bosan dan malu. Tetapi dia ingin menetap di Waijoi tidak mau pindah ke Tutua, kampung halaman orangtua Kalai. “Mengapa kamu memaksa aku?”
“Keras kepala!”
“Tidak! Aku tidak keras kepala! Kamu lupa janjimu padaku.” Karin berseru sambil beranjak pergi. Dia berlari sambil menangis. Kalai tidak berusaha menghentikan, dia menganggap Karin perlu diatur. Tertalu keras kepala.
“Bicara belum tuntas. Kamu lari dan menangis. Tidak bisakah kamu mengubah tabiatmu?” Seru Kalai.
Karin teriak sambil tetap berlari. “Aku cinta kamu, tapi kamu tidak cinta aku.”
Karin menghapus airmata. Dia mengatur langkahnya. Dia sembunyikan perasaannya tak mau dilihat orang. Dia melangkah menuju pantai. Tengah jalan dia mampir di rumah Ramebete. Dia perlu bergaul dengan para gadis seperti anjuran Bido dan Katina.
Serambi rumah ramai oleh guyonan para gadis yang sedang merenda sutera dan seprei. Meskipun hari nikah berjarak satu purnama tetapi karena Ramebete yang menikah maka perhelatan dipersiapkan jauh hari sebelumnya. Karapu menyediakan biaya besar untuk perkawinan putrinya dengan Ragota.
Karin menyapa Ramebete si tuan rumah, lalu duduk dekat Ponda.
Seperti empat pertemuan sebelumnya, dimana dia menjadi bahan olok-olok para gadis. Malini, Kotila dan Pisani yang paling gencar mengolok, ketiganya sambung menyambung. “Lingon liar, badanmu bau hutan, sebaiknya kembali ke hutan, tidak pantas tinggal di pesisir.” Dan masih banyak olok-olok lainnya.
Hanya lantaran kulitnya putih, rambut pirang, mata biru dianggapnya dia aneh dan perlu diasingkan. Tapi sepanjang olok-olok tidak melampaui batas kewajaran, dia sanggup menahan sabar dan manda menerima. Dia tidak takut menghadapi olok-olok para gadis. Menurutnya tidak membuat dia kehilangan sesuatu miliknya.
Kehadiran Malini yang baru datang mengubah suasana penuh canda menjadi kaku. Para gadis tahu Malini akan menjajah Karin dengan olok-olok kasar dan lucu.
Begitu duduk Malini memulai provokasinya, memandang Karin dia berkata sinis. “Bagus, gadis Lingon ini bergabung dengan kita, gadis hutan wajib belajar sopan santun supaya tidak liar lagi. Supaya bau busuknya hilang.”
Karin diam, tetapi tangannya gemetar menahan marah. Dia berpikir akan bereaksi atau diam. Selalu, keberadaan Malini membuat dia tidak nyaman. Ponda, yang duduk dekatnya berbisik, “sabar saja, tidak ada gunanya meladeni gadis gila itu.”
Melihat gadis yang tak disukainya diam, Malini makin gencar mengejek. “Aku dengar cerita dia kawin dengan Kalai si manjangan[1] buruk. Mungkin hanya sandiwara buktinya Kalai tidur di hutan berkawan dengan ular, Lingon ini numpang di rumah Katina. Rupanya Kalai mulai bosan dengan si Lingon, dia mulai berburu gadis pesisir. Kalai mengemis cinta padaku, bahkan berlutut mengemis, tapi kutolak. Aku tidak tertarik dengan laki-laki manjangan.”
“Malini, dia bukan manjangan, dia petarung ulung, dia membunuh Berebere dan menyelamatkan Karin.” Tukas Pisani.
“Siapa yang melihat dia membunuh Berebere? Tidak ada! Tak seorang pun! Itu kabar bohong yang ditiup perempuan Lingon ini.” Kata Malini bersemangat.
“Aku menyaksikan suamiku membunuh Berebere itu.” Potong Karin bangga.
“Nah apalagi katamu Malini, jelas Kalai itu petarung ulung. Dia pembunuh Berebere. ” Tegas Pisani.
Malini naik darah. Gadis ini tidak suka pendapatnya dibantah. “Pisani, ada apa denganmu, apakah kamu jatuh cinta pada si manjangan. Percuma, Kalai tak berharga, dia mengemis cinta padaku, aku tolak. Dia melamar Kabiho, juga ditolak. Nah dia kembali ke pelukan perempuan Lingon. Mereka cocok, liar ketemu liar.”
“Kamu salah Malini. Mereka suami istri ketika datang di Waijoi, mereka menikah di Watam, ada surat nikah dari ketua masjid dan kepala kampung Watam. Lagipula tidak mungkin Kalai melamar kamu, aku tak pernah melihat dia bergaul dengan kamu.” Tukas Ponda, yang adalah istri Getenpiri.
“Aku tak mau berdebat dengan kamu Ponda, ceritaku itu benar.” Kata Malini.
Karin tercengang. “Benarkah Kalai melamar dua gadis itu? Mungkin tanpa setahuku.” Dia belum mau bereaksi, menurutnya adu mulut dengan Malini suatu perbuatan sia-sia. Malini judes dan pandai bersilat lidah.
Tetapi hatinya tetap panas dan cemburu. Kalai berkhianat! “Lai mengkhianati cintaku, aku cinta padanya sepenuh hatiku, tetapi dia masih berpaling kepada gadis lain, apalagi gadis-gadis itu justru yang sering menghina aku.”
Terdengar suara Malini. “Kalai menanyakan kesediaanku jadi isterinya. Aku jawab, tidak. Dia jelek, jadi budak saja tidak pantas, dia manjangan, lemah. Omong kosong bahwa dia petarung. Setelah gagal mendapatkan aku, dia mengejar Kabiho. Dia menyukai pantat Kabiho yang besar. Dia pasti mengejar Pisani, laki-laki manjangan menyukai gadis yang dadanya besar.”
Kabiho ikut-ikutan mengejek. “Kalai memuji pantat dan dadaku, tapi aku tidak tertarik. Cambang dan rambut tidak terurus, pasti bau busuk dan banyak kutu.”
Pisani memotong dengan nada tinggi. “Eh Malini, boleh saja kamu mengejek Kalai, tapi jangan bawa-bawa namaku. Kalai tak pernah bicara denganku, bertemu juga tak pernah, dari mana asalnya ceritamu itu.”
“Laki-laki itu yang cerita padaku, katanya dada Pisani besar dan menggairahkan. Sungguh, aku tidak bohong. Itu sebabnya aku menolak, kupikir dia akan jadi suami yang buas. Suami macam dia, setelah kawin satu dua bulan, akan mencari istri lain.” Tukas Malini masih dengan semangat tinggi.
Pisani berseru. “Pasti kamu bohong. Aku tidak percaya.”
Malini tertawa geli. “Nah itu tandanya kamu suka Kalai. Kamu lebih montok dibanding si Lingon, pasti Kalai akan memilih kamu.”
Pisani terdiam, berpikir. “Jika Kalai mau, aku juga mau. Tak apa jadi istri kedua, wajahnya tidak tampan tapi dia jantan.”
Karin tidak sanggup menahan diri lagi. Tadi pagi dia marah pada Kalai. Kini marahnya menjadi-jadi, menurutnya Kalai mengkhianati cintanya. Tetapi dia juga marah pada Malini dan Kabiho yang mengolok-olok dirinya dan Kalai.
Dia bangkit, berkata singkat. “Aku pulang.”
Langkahnya terhenti ketika mendengar ejekan Malini.
“Hei Lingon, jangan pergi, masih banyak cerita yang harus kamu dengar. Kamu tidak pantas berada di antara kami, kamu liar, tidak tahu cara bergaul, baumu busuk, pantasnya tetap tinggal di hutan bergaul dengan ular!” Seru Malini.
Karin tak pernah mengerti alasan Malini membencinya. Tetapi kali ini dia tidak butuh alasan untuk mengerti. Malini telah menghinanya, berlebihan. Malini juga menghina dan menista Kalai, lelaki yang paling dicintainya.
Dia marah. Keberaniannya muncul karena terpaksa. Dia menuding Malini. “Justru kamu orang hutan, mulutmu bau busuk, itu sebab bicaramu semuanya busuk.”
“Hei jangan pergi, perempuan sundal!” Teriak Malini.
Karin berbalik badan, menatap Malini. “Aku tahu kamu membenci aku, tapi kamu cuma berani bicara. Kamu berani tarung? Maju tarung, kalau memang berani!”
Malini bangkit. “Siapa bilang aku tidak berani.” Tetapi dia tetap berdiri di tempat.
“Malini, aku peringatkan kamu. Aku gadis terhormat, terlatih tarung untuk bela diri. Kalau mau coba, mari buktikan, tapi jangan menyesal jika wajahmu kucakar sampai cacat. Maju, terima tantanganku, jangan cuma pintar bicara.” Karin menatap tajam.
Malini diam.
Dia serba salah. Maju tarung akan dipermalu. Dia yakin Karin punya kepandaian tarung, sementara dia tak tahu cara berkelahi. Kalau diam, tidak menerima tantangan juga mendapat malu. Dia berdiri diam dengan wajah merah saking malu.
Melihat Malini diam di tempat, Karin berkata, “sudah kuduga, mulut busuk, banyak bicara tetapi pengecut. Aku peringatkan kamu Malini, jangan coba-coba lagi menghina aku. Kuhajar kamu sampai merayap di tanah minta ampun.”
Karin menoleh ke arah Ramebete, dia pamitan sekali lagi.
“Sabar ada batasnya, akhirnya Karin marah, Malini habis dipermalu, kalau maju tarung Malini bisa diinjak-injak.” Kata Ponda sinis. Paling tidak sekarang ini dia menegaskan kepada teman-temannya bahwa dia berada di pihak Karin.
Muka Malini pucat. Sangat malu. Tak pernah menyangka dia akan terhina di hadapan teman-temannya.
Karin bergegas setengah berlari menuju pantai. Mungkin Kalai memancing ikan. Amarahnya meluap, akan ditumpahkan kepada Kalai. Dia siapkan peluru tajam untuk menyerang suaminya. “Lai, kamu berani mempermainkan aku, beraninya melamar gadis-gadis itu, aku lebih cantik, mengapa kamu berkhianat? Pikirmu aku perempuan murahan yang mudah ditipu?”
Karin meneliti beberapa perahu yang ditambat di tiang. Tetapi dia tidak kenal perahu Kalai yang baru diambil dari Loleba dua hari lalu. Karenanya tidak tahu apakah suaminya melaut atau tidak. Dia menunggu agak lama, kemudian melangkah santai sepanjang pantai sambil berpikir.
“Aku tak yakin Kalai melamar mereka. Tetapi mungkin juga benar. Keadaan memburuk, aku isterinya, tetapi kapan tinggal bersama dalam satu rumah masih tandatanya. Sebab inikah Kalai memilih wanita lain, wanita yang punya rumah?”
Tanpa sadar dia berjalan jauh mengarah Selatan.
( Bersambung eps 24 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







