Lingon Togutil eps 22
Posted on 28 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 22
Percintaan dengan Kalai di tengah hutan dan di rumah Watam sangat membekas. Kejantanan yang masih terasa di sekujur badannya. “Lai .... Lai... mengapa kamu tinggalkan aku. Janjimu akan selalu berada di sisiku dan selalu menolong aku.... tapi kini kamu pergi jauh... pergi tanpa pesan....”
Kalai tiba di rumah ayahnya siang hari. Dia nginap satu malam. Keesokan hari sebelum fajar menyingsing Kalai berlayar ke Loleba. Dia menitip perahunya di pelabuhan Loleba. Dari situ dia jalan kaki menuju Waijoi, butuh satu siang satu malam.
Selama perjalanan dikala istirahat tidur malam pikirannya membayang paras dan tubuh Karin. Pikiran liar mengganggunya terus. Semakin jauh dari Loleba, semakin tak kuasa dia membuang bayangan wajah dan sosok Karin dari lamunan. Setiap saat desakan rindu pada Karin kian menggila. Dalam setiap tarikan nafasnya seakan dia melihat Karin berada didekatnya.
“Aku miskin, hanya petarung Togutil, mukaku jelek. Memang tidak pantas menjadi suaminya. Akan kuberikan gaun hitam, perhiasan dan keping emas. Setelah itu aku pergi dan tak perlu lagi mengingatnya. Tetapi mampukah aku melupakannya? Jadi apa yang harus kulakukan?”
Malam hari, Karin tidur di rumah Katina. Satu pembaringan berdua Katina, sedang Mikala menempati kamar lain. Karin gelisah. Pikirannya melamun Kalai.
“Kalai menghilang begitu saja. Mengapa tidak pamitan? Apakah dia marah? Tidak mungkin dia marah, selama ini dia tak pernah marah padaku. Lagipula aku tidak berbuat salah, aku hanya lupa mengajak dia masuk rumah.”
Bagaimana pun dia beralasan, tetap saja Karin menyimpan rasa menyesal. Dia ingin memutar kembali hari kemarin dan mengubah perilakunya. Tetapi nasi telah jadi bubur, tak mungkin hari kemarin kembali seperti semula.
Masih menyimpan rasa penasaran, Karin mengajak Katina dan Mikala mencari di hutan sekitar kampung. Bermacam rasa menggumpal dalam hati. Rasa kehilangan menyita paling banyak ruang dalam relung hatinya. Sejak lolos dari kejaran Basam dan prajurit Lingon, dia selalu berada di dekat Kalai.
Laki-laki itu setia melayaninya, melindungi dan selalu memperhatikan. Kalai bahkan tak pernah mengijinkan dia ke sungai sendirian. Kalai selalu menemaninya. Kalau dia mandi di sungai, Kalai berada tidak jauh.
“Awas jangan mengintip.”
Ucapan itu diingatnya, karena sering dia ucapkan kepada Kalai dan anehnya Kalai patuh meskipun laki-laki itu mengagumi kecantikan paras dan badannya. Kini dia kehilangan Kalai. Sembunyi-sembunyi dia sering menangis mengingat suaminya itu, bertanya-tanya apakah Kalai pergi selamanya.
Setiap hari Karin minta Katina dan Mikala mengantarnya ke hutan. Ada sekelumit harapan menemukan Kalai di gubuk darurat.
Hari itu Karin mengajak Katina dan Mikala ke hutan mencari jejak Kalai. Wajah Karin tetap murung. Ia ingin segera mengetahui keberadaan suaminya. Dia tahu Mikala adalah pencari jejak yang terlatih.
“Tak ada jejak, tak ada tanda-tanda.” Komentar Mikala.
“Empat hari kita mencari. Tak ada jejaknya. Katakan sejujurnya Karin, kamu mencintai Kalai?” Desak Katina.
Karin menyangkal, namun mempelajari mimik temannya, Katina tahu Karin jatuh cinta. Dia tak ingin mendesak.
“Aku hutang nyawa padanya, jika tidak dia tolong pasti aku sudah tertangkap Basam. Diperkosa lalu dibunuh.” Karin menceritakan pengalaman bersama Kalai. “Kami menikah di Watam.” Tegas Karin dengan mata basah air mata.
“Kamu dan Kalai menikah di Watam, siapa yang menikahkan?” Tanya Katina.
“Kapitan adat Watam, bersama kepala kampung dan imam masjid. Mereka memberi aku surat nikah, katanya aku boleh seranjang dengan Kalai di desa mana saja.”
“Lalu kamu lupa suamimu menunggu di luar pagar sementara kamu bergembira dengan aku, makan dan bercerita. Oh kamu sungguh gila Karin.” Tegas Katina.
“Aku bersalah. Sekarang sudah empat hari dia pergi. Mungkin dia pergi ke Utara menjenguk keluarganya. Semoga dia kembali.”
Kalai sudah separuh jalan menuju Waijoi. Siang hari itu di tengah hutan, pandangannya menangkap sesuatu yang bergerak. Ternyata Karin, istri yang selama ini dia rindukan.
“Karin ......” Kalai memanggil.
Karin menoleh, terkejut melihat suaminya. “Lai… Kalai…oh Lai…” Suaranya gagap. Saat berikutnya dia lari menghambur, melompat dan memeluk suaminya.
Terjangan Karin tak terhindar, Kalai tak mampu menahan, jatuh terjengkang. Punggungnya menghantam tanah, Karin berada di atas tubuh Kalai. Mereka berpelukan.
Karin berbisik lirih di telinga Kalai. “Kamu ingkar janji, pergi tinggalkan aku, awas kamu.”
Kalai tersenyum, istrinya masih seperti dulu, suka mengancam.
“Maafkan aku.” Kalai menatap mata biru jelita itu. “Aku sengsara merindu kamu, aku sangat mencintaimu.”
Karin menatap Kalai menemukan kesungguhan dan kejujuran dalam mata suaminya. “Kemarin aku mencari-cari, kamu pergi tanpa memberitahu aku.”
“Aku menunggu lama di pagar, mungkin kamu sibuk dengan keluargamu. Malam itu aku nginap di hutan. Esoknya ke Tutua.”
“Maafkan aku karena kamu menunggu lama. Kamu marah?”
Kalai menggeleng. “Tidak.”
Katina dan Mikala tersenyum melihat dua sejoli berpelukan. Katina menghampiri. “Ayo kita ke kampung. Kalian nginap di rumahku.”
Kalai menggeleng. “Aku nginap di hutan, tempatku di hutan.”
“Nginap di rumah Katina, dia adik ibuku. Kamu tak perlu malu.” Tegas Karin.
Kalai menggeleng. “Aku di hutan saja.”
Karin tahu Kalai tak suka nginap di rumah orang karena tak mau hutang budi. Dia tak memaksa lagi. “Kamu pergi kemana? Berapa hari tidak melihatmu. Setiap hari aku mencarimu.” Tukas Karin.
“Aku ke rumah ayah mengambil barang milikku yang kutitip disana.”
“Empat hari dia pergi, kemana saja, benarkah pergi ke Tutua? Atau dia punya wanita lain, istri lain?” Karin bergumam dalam hati. Dia merasa tidak pantas curiga tetapi dia ingin pertanyaan di benaknya terjawab.
“Sekarang ini tujuanmu kemana, Waijoi atau kampung lain?”
Kalai menatap Karin, tatapan yang memancarkan isi hatinya. “Aku ingin menemui kamu, memandang kecantikanmu dan memberi kamu hadiah. Setelah itu aku pergi dan mungkin tidak pernah datang lagi ke Waijoi.” Dia membuka ranselnya, memegang kotak perhiasan lalu memandang Karin. “Ini hadiah untukmu.”
Karin heran akan tingkah-laku Kalai yang serba canggung. Dia bertanya-tanya. “Apa maksudmu tidak pernah datang lagi ke Waijoi?” Tegasnya, dalam hati dia benarkan kecurigaannya bahwa Kalai punya istri lain.
“Barangkali kamu malu bersuamikan aku, malu kepada keluargamu. Itu sebab kamu membiarkan aku menunggu di luar pagar. Tak apa, aku mengerti. Kura-kura dan rembulan perbedaannya terlalu besar.”
Mata Karin melotot. “Aku tidak malu jadi istrimu, aku sangat mencintai kamu. Kamu punya perempuan lain? Kamu bosan dengan aku?” Tangan Karin gemetar menahan marah. Cemburu membakar dadanya.
Kalai terkejut. Gagap dia menjawab. “Ti... tidak...”
“Kubunuh perempuanmu itu, katakan siapa dia, tinggal dimana?”
Kalai masih saja gugup. “Perempuanku cuma kamu. Istriku cuma kamu, tidak ada istri lain. Aku pergi mengambil hadiah untuk kamu.” Dia menyodor kotak hitam itu.
Karin menatap mata suaminya. Tatapan penuh rindu. Dan dia menemukan sinar birahi dimata Kalai. Dia sangat mengenal tatapan birahi di mata Kalai.
Amarah Karin surut.
Karin tertawa senang, menerima kotak perhiasan dari tangan suaminya.. “Apa ini?” Karin membuka tutupnya. Seketika dia kaget melihat isinya, perhiasan indah berkilau. Kalung dengan liontin, sepasang anting dan sepasang gelang. Juga terdapat tiga keping emas.
Untuk sesaat Karin terpaku di tempat. “Darimana kamu peroleh perhiasan ini?”
“Kamu pantas memakainya dan supaya hatimu senang. Ada juga baju perempuan, semua aku peroleh dari bekerja di kapal Espanya sebelum bertemu kamu, itu bukan hasil rampok atau mencuri.”
Kalai menuang semua isi ransel. Memisahkan gaun hitam, kemudian sisanya yakni pakaian miliknya dibuntal dengan kain sarung. “Ini baju wanita Espanya, juga ranselnya, semua ini hadiahku untuk kamu. Dalam kotak ada surat bahasa asing ditulis oleh majikanku supaya tidak ada tuduhan benda itu curian.”
Karin masih terpaku memegang kotak kecil yang terbuka.
Katina dan Mikala melongok isi kotak.
“Itu emas murni, tak bisa luntur.” Ujar Katina.
“Kamu bekerja di kapal asing lalu mendapat hadiah ini? Siapa yang memberimu? Majikanmu? Pasti dia wanita. Dan ini bajunya?”
“Benar. Majikanku wanita, namanya Lisabet.”
“Benar dugaanku, dia punya wanita lain. Dia tahu nama wanita itu, Lisabet, tentu ada sebabnya. Pasti mereka bercinta! Kalau tidak, tak mungkin dia memberi Kalai hadiah semahal ini.” Pikiran ini memancing kembali amarah Karin. Cemburu.
Tiba-tiba Karin menutup kotak lalu melemparnya ke arah Kalai. “Tidak sudi aku menerima hadiah ini. Berikan kepada wanita lain!”
Kalai tak sempat bereaksi saking kagetnya. Kotak itu menghantam mukanya. Cepat dia menangkap sebelum kotak jatuh ke tanah.
Saat berikut Karin melempar baju biru ke wajah Kalai lalu membalik badan dan melangkah pergi. “Aku cinta kamu. Cintaku sangat besar. Tapi kamu menyakiti aku!” Serunya marah.
Katina meraih lengannya.
“Lepaskan! Aku mau pulang!”
Kalai bingung, tidak mengerti mengapa tiba-tiba Karin marah. Tapi dia diam.
“Pulang sendiri, apa kamu tidak takut? Ada Berebere.” Mikala menakuti.
“Biar aku dibunuh Berebere.” Suara Karin masih tinggi.
Muka Karin, cemberut dan masam. Katina yang berpengalaman tahu persis Karin cemburu. Dia berkata kepada Kalai yang masih bingung. “Kalai antar Karin pulang, aku takut dia bertemu Berebere.”
Karin berteriak. “Aku pulang sendiri!” Tetapi lengannya tidak dilepas Katina.
"Mengapa kamu marah-marah?” Kalai bertanya.
( Bersambung eps 23 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







