Lingon Togutil eps 21

Posted on 28 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 21

Sasupu kenal siapa Pasuk, petarung kejam yang terkenal di pesisir Dodaga dan Subaim. Jika Karapu dengan mudah membunuh Pasuk, artinya Karapu sangat handal. Karapu pedagang kaya, dua pengawal setianya, si kembar Mutu dan Gamuk sangat terkenal di wilayah Selatan.

Mata Sasupu melirik memerhatikan orang sekitar. Tampak Mutu dan Gamuk menghunus pedang melangkah dan berdiri di kiri kanan Karapu.

Sasupu makin ragu.

Tiba-tiba terdengar suara.

Dilarang tarung dalam wilayah desa Waijoi, apalagi di pekarangan rumah almarhum saudaraku. Aku tidak mengijinkan siapa pun mengotori rumah ini.” Suara wibawa Tutumole berhasil mendinginkan suasana.

Sasupu tak pernah berpikir membentur Sousoulol Tutumole, lalu menyahut. “Ini hanya salah faham.” Dia melangkah balik dengan bersungut-sungut.

Karapu menyalami Tutumole. “Aku hanya ingin memberi kesan kepada Sasupu bahwa tidak semua orang takut padanya.”

“Tindakanmu benar. Sasupu harus ditentang.” Tutumole tersenyum. Selama ini dia tak pernah bisa akrab dengan Karapu karena masa lalunya yang buruk. Tetapi kini kesannya membaik. “Ingat Karapu, kamu berjanji jika terpilih jadi kepala kampung akan melarang judi, jangan ingkar!” 

“Pasti kulaksanakan.”

            Karapu lahir dan menjalani masa kecil di Waijoi. Usia duabelas ayahnya pergi tak pernah kembali, memaksanya harus bekerja menafkahi ibu dan adiknya, Samuna.  Sadar kehidupan yang kasar diwarnai kekerasan, sejak kecil Karapu berlatih tarung.

Berganti-ganti guru tarung sampai akhirnya berjumpa Kandar asal tanah Jawa, petarung berusia limapuluhan yang tidak dikenal orang. Lapar menuntut ilmu tarung membuat dia lebih banyak merantau di luar rumah. Tetapi tidak pernah lupa tanggungjawabnya. Dia selalu mencukupi kebutuhan ibu dan adiknya.

Usia delapanbelas, ibunya meninggal. Tahun berikutnya dia menikahkan Samuna adiknya dengan pemuda asal Lolobata. Sejak itu Karapu tak pernah pulang ke Waijoi. Usia duapuluh tiga dia menolong seorang gadis yang nyaris diperkosa penjahat. Gadis itu, Seruni, berasal dari keluarga kaya Tidore.

Seruni percaya akan janji cinta Karapu. Dia memberinya seluruh perhiasan miliknya untuk modal dagang. Dua tahun kemudian Karapu memenuhi janji, datang membawa sukses sebagai pedagang kaya dan melamar Seruni.  Menikah di Tidore, Karapu membawa Seruni ke rumah peninggalan ayahnya di Waijoi.

Tiga anaknya lahir di Waijoi, Karapu jarang berada di rumah. Seruni mengurus keluarga, bersosialisasi dengan masyarakat. Karapu bekerja keras, semakin kaya.

Suatu hari Seruni membanting diri di tempat tidur, menangis. Mengetahui suami jual beli minuman keras, membeli dari kapal asing dan menjual ke kampung pesisir.

“Pulangkan aku ke Tidore, Bete, Usman dan Mawar ikut aku.” Teriaknya.

Karapu sangat mencintai isteri dan anaknya. Dia minta maaf dan berjanji tidak akan berdagang minuman keras lagi.

Seruni mengajak suaminya menemui ustad Harun. Hari itu, empat tahun silam, Karapu menjalani kehidupan baru. Hampir separuh hartanya disumbangkan ke mesjid-mesjid pesisir, Seruni dan anak-anaknya yang melaksanakan.

Karapu memperdalam  agama, rajin ibadah. Pekerjaannya kini berkebun. Menjual hasil kebun ke kapal asing. Kebunnya tersebar di beberapa kampung, dia menyewa orang kepercayaan, keluarga Seruni dari Tidore dan pulau Mere sebagai pengelola.

            Hari pemilihan tersisa tiga calon, Karapu, Sasupu dan Lakopar. Pada saatnya Sasupu mundur. Dia pidato di hadapan warga yang berkumpul di depan masjid. “Aku tidak sepadan dibanding Karapu. Seluruh warga memilih dia. Percuma bersaing dengan calon yang hampir pasti terpilih. Karena pasti ada larangan judi, maka aku pindah ke kampung lain. Aku minta waktu tujuh hari untuk memindah semua barang.” Usai pidato singkat Sasupu melangkah pergi.

            Dua calon maju dalam pemilihan. Karapu, saudagar kaya dan Lakopar yang baru delapan tahun menjadi warga Waijoi. Dalam pemungutan suara, Karapu terpilih sebagai kepala kampung resmi menggantikan almarhum Dullah. Warga bergembira, mengucap selamat kepada Karapu.

 

Bab Tujuh

Cinta dan Cemburu

Kalai dan Karin tiba di Waijoi senja hari setelah lima hari menempuh perjalanan. Di pos batas desa dua penjaga menghadang.

            “Kalian siapa? Mau kemana?”

            Kalai menoleh memandang Karin. Tahu maksud suaminya, Karin menyahut. “Kami ingin mengunjungi keluargaku, Bido istri Sousoulol Tutumole.”

            Melihat Karin juga dari suku Lingon, pengawal memberi ijin. Tetapi senjata Kalai harus dititip di pos jaga, itu peraturan kampung. Memang sejak Karapu kepala kampung, keamanan desa menjadi prioritas utama. Pagar keliling desa dibangun secara gotong royong namun seluruh biaya datang dari kantong Karapu.

            Salah seorang pengawal mengantar ke rumah Sousoulol. Begitu sampai di pagar  pekarangan, pengawal berseru. “Bapak Sousoulol, ada tamu berkunjung.”

            Setelah melihat Bido keluar dan berdiri di ambang pintu, pengawal itu balik badan kembali ke pos jaga.

            Terdengar pekik Bido, keras. “Karin…. !” Bido setengah berlari menyongsong.

            Karin teriak gembira. “Bido…!”

            Dua perempuan Lingon yang sama tinggi sama cantik berpelukan, keduanya saling pandang, melepas rindu. Tutumole berdiri di ambang pintu. Suami isteri Katina dan Mikala, yang kebetulan sedang bertamu gembira menyambut Karin.

            Mereka masuk dalam rumah. Tak lama terdengar suara tawa dan percakapan yang ramai. Ketika Karin menutur pemberontakan Basam membantai semua keluarga Tamako dan Jakudu, terdengar teriak histeria dan tangisan.

Kalai berdiri di pagar pekarangan, menanti diajak masuk rumah. Tetapi Karin tak kunjung keluar. Lebih satu jam menanti dengan sia-sia, akhirnya Kalai memutuskan pergi. Dia melangkah lunglai kembali ke pos jaga.

            Dia menyapa penjaga. “Aku hanya mengantar gadis itu bertemu keluarganya.”

            Para penjaga mengangguk. Mereka membiarkan Kalai mengambil senjatanya.

            Sore itu juga Kalai pergi. Menjelang malam dia menemukan gubuk darurat bekas pejalan hutan. Dia tidur dalam suasana hati gelisah.

Dia berupaya tidur. Matanya terpejam tetapi pikirannya mengembara. Gambaran Karin tertawa, berjalan, tidur, berenang. Paras dan badannya yang cantik menggantung di pelupuk mata dan benaknya terutama pergumulan cinta dengan istrinya.

            Kalai mengeluh. Setiap malam Karin selalu minta dipeluk karena kedinginan. Aroma badan istrinya seakan masih melekat di ujung hidungnya. Kali ini Karin tidak ada, tak ada suara Karin yang memelas minta dipeluk. Tak ada desah dan rintihan cinta Karin.

            Malam hening.

            Kalai masih merasakan aroma badan Karin, bebauan rambutnya. Masih terasa nikmatnya memeluk badannya. Masih hangat rasa persanggamaan. Perjalanan dari Watam ke Waijoi diwarnai hasrat dan cinta. Kalai sangat mencintai istri Lingon itu.

            Mengapa dia melupakan aku?” Bisiknya sendiri.

            Kalai mengeluh. Badan kenyal berlekuk itu tak ada lagi. Dia merasa kosong, hampa. Hidupnya hancur, hanya dalam sehari semua miliknya lenyap. “Karin adalah hidupku, aku mencintainya, dia pergi, hidupku kosong. Dia telah melupakan aku.”        

Dia ingat baju yang dipakai Karin berhari-hari, Kalai membuka buntalan. Kemeja itu masih ada. Belum dicuci. Kalai membawa pakaian itu ke mukanya, menciumi dengan hasrat berapi.

            Aroma badan Karin masih melekat di pakaian itu, bebauan ketiak yang keras, semua menindih bau badannya sendiri. Bagaikan gila dia memeluk menciumi pakaian itu seakan menemukan kembali Karin istrinya yang hilang. Lantas sesuatu berkelebat di benaknya. Teringat akan gaun hitam hadiah Lisabet saat perpisahan. Siapa Lisabet?

Satu tahun lalu dalam pengembaraan dia melihat kapal Spanyol berlabuh di perairan Subaim. Mereka mencari petarung pengalaman, mengenal hutan, pemandu jalan dan pemanggul barang perbekalan, diutamakan yang kekar dan punya kemampuan tarung. Mereka mencari hasil hutan dan kulit binatang. Pelamar dijanjikan bayaran keping emas dan perak. 

            Mereka tidak menerima pekerja begitu saja, semua melalui tes. Kontrak kerja lisan selama dua bulan. Beberapa orang Spanyol menguasai bahasa Melayu bertindak sebagai juru bahasa, melakukan tanya jawab dan tes fisik.

            Seorang wanita kulit putih usia tigapuluh, cantik, rambut pirang memakai payung warna warni berjalan mondar-mandir di geladak. Pelamar di samping Kalai berbisik, ”dia nyonya pemilik kapal, bangsawan dan orang kaya dari negeri Espanya.”

            Mereka butuh  dua puluh lelaki. Pelamar sedikitnya seratus orang. Satu demi satu pelamar diseleksi. Hanya beberapa yang lolos, yang lain pulang dengan kecewa. Kalai maju. Penguji memukul perut dan dada, mendorong dan menendang kuda-kuda kaki. Kalai tetap berdiri tegar. Penguji bertanya rinci tentang hutan dan desa pesisir, serta pengalaman tarungnya.

            Wanita itu berseru dalam bahasa Spanyol, memanggil si penguji. Mereka berdiri agak jauh, bicara serius. Tampak penguji manggut-manggut. Penguji kembali ke kumpulan pelamar, menarik tubuh Kalai, mendorongnya ke kelompok yang lolos tes.

            Pekerjaan sangat berbahaya. Rombongan Spanyol  ikut masuk, jumlahnya sekitar  tigapuluh serdadu bersenjata lengkap. Duapuluh petarung memanggul perlengkapan tenda dan ransum. Puluhan awak kapal dan serdadu Spanyol lainnya tidak ikut, mereka mengawal kapal.

            Kalai mendapat tugas khusus mengawal  nyonya majikan. Rombongan dibagi dua lingkaran. Lingkar paling luar, petarung pribumi untuk mendeteksi lebih awal serangan perampok hutan. Lingkar dalam serdadu dengan mantel tebal bersenjata senapan, mereka terlatih dan dipersiapkan untuk mengamankan orang-orang penting.

            Melalui penerjemah, majikan yang bernama Lisabet menjelaskan tugas Kalai. Menjaga keselamatan Lisabet dari gangguan binatang dan manusia. Menenteng ransel bekal dan selalu menjaga tenda tidur sang majikan.

            Terkadang di tengah jalan Kalai harus menggendong Lisabet di punggungnya, mengusir ular dan binatang berbisa. Bahkan saat makan Kalai melayani memberinya minuman kaleng. Hubungan akrab setiap hari, memasuki hari duapuluh Lisabet merayu dan memaksakan hubungan badan. Kalai tak bisa menolak.

            Dua bulan lebih sepuluh hari, kontrak selesai. Pada malam perpisahan, Lisabet memberi hadiah istimewa pada Kalai. Kotak kecil berisi kalung dan gelang emas berikut surat bukti pemberian yang ditandatangani Lisabet dan si Penerjemah. Juga keping emas serta satu gaun hitam. “Untuk istrimu.” Katanya.

            Dua bulan bersama Lisabet, pengalaman yang sulit dia lupakan. Wanita itu cantik, seksi dan sangat menggoda. Ekspresif dalam bercinta. Kalai tergila-gila kecantikannya tetapi tak punya perasaan mendalam. Perpisahan tidak membuatnya terpuruk. Dia memutuskan menyimpan hartanya di rumah ayahnya di desa Tutua.

           

Saat Karin bergembira bertemu keluarganya, Kalai melangkah menuju pantai Loleba, tempat dia menyimpan perahu kecilnya. Perahu kapasitas empat orang. Esok siang setelah istirahat makan dia mendayung menuju Hatetabako, lalu melanjutkan berjalan kaki ke desa Tutua.

            “Akan kuberikan gaun hitam kepada Karin dan keping emas. Tiga untuk Karin, dua untuk ibu, satu untuk adik Ayati dan satu untuk aku sendiri. Setelah itu aku pergi dan tak perlu mengingat dia lagi.” Dia berduka mengingat akan berpisah dengan istrinya.

Pertemuan Karin dengan keluarganya terhenti saat beduk magrib. Mereka semua bersama-sama menuju masjid.

            Aku tetap di rumah.” Kata Karin.

            “Kutemani, kebetulan aku berhalangan sembahyang.” Ujar Katina.

            Mendadak Karin teringat akan Kalai. Dia melangkah ke pintu, memandang keluar. Kalai tidak kelihatan batang hidungnya. “Kemana dia?” Bisiknya.

            Katina yang berdiri disebelahnya bertanya. “Dia, siapa?”

            “Laki-laki yang mengantar aku.”

            “Siapa dia?” Istri Mikala mengulang tanya.

            Karin menyahut asalan. “Petarung Togutil yang kuceritakan tadi.”

            Katina mendesak. “Bukankah kalian telah berpisah satu hari sebelumnya?”

            Karin mengelak. “Kecuali yang seorang ini. Sudahlah jangan bertanya lagi.”

Meskipun demikian pikirannya tetap kalut. “Mengapa Kalai pergi? Pergi kemana?

            Dia mengajak Katina mencari Kalai di pos jaga.

            “Sudah pergi, katanya pergi ke Utara.” Kata penjaga.

            Saking kaget Karin merasa rohnya melayang keluar. Sesaat Karin merasa bersalah membiarkan Kalai lama menunggu. Dia menyesal, mengakui kesalahannya.

            “Tidak perlu dipikirkan,” Kata Karin kepada Katina. Namun dalam hati, Karin menangis, “aku bersalah, aku meremehkan suamiku, kini aku kehilangan cintaku, dia pergi ke Utara, mungkin tak pernah lagi bertemu.”

            Malam hari Karin sulit memejam mata. Wajah Kalai yang sangar dengan bekas luka di mata kiri membayang terus. Aroma keras badan lelaki jantan itu masih tercium di ujung hidungnya. Setiap malam dia menikmati khayalan aroma bau badan yang keras merangsang itu, membuatnya ingin dipeluk setiap malam. Mengingat itu Karin hanya bisa menangis.

“Oh kemana cintaku pergi?” Karin berbisik lirih dan sendu..

( Bersambung eps 22 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com