Lingon Togutil eps 20
Posted on 25 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 20
Perahu memantai dengan mulus setenang paras kepala kampung Waijoi yang telentang diatas tandu. Tutumole, Ali dan Ahmad dengan wajah bersimbah air mata berusaha menurunkan tandu.
Tampak beberapa lelaki sibuk memperbaiki jala dan pancing, sebagian lain memeriksa perahu. Mendengar Ahmad minta bantuan, mereka menghampiri. Detik berikutnya terjadi heboh. Sebagian membantu menggotong tandu, sebagian berlari masuk kampung sambil berteriak histeris.
“Pak Dullah tewas dibunuh…”
“Kepala Kampung mati…. “
Ketika suara heboh menerobos rumah Dullah seketika Milcem dan anak- anaknya berlari keluar. Mengetahui Dullah mati terbunuh mereka histeris, menangis dan berteriak. Dari rumah besar keluarga Masinga, ibu Dijah menjerit tangis. Ina tidak lagi hirau masa iddahnya,berjalan tertatih-tatih dan bersandar di ambang pintu. Airmata membasahi mata dan pipinya.
“Kakak .... kak Dullah, ooohhh mengapa kamu mati.” Isak tangis Ina memilukan.
Bido yang kebetulan bertamu, mendampingi dan memeluk Ina khawatir sahabatnya jatuh. Bido menangis, air mata membasahi pipinya. “Kak Dullah membantu pernikahanku … hutang budi ini belum sempat kulunasi… dia orang baik… mengapa ada orang yang begitu jahat membunuhnya…?”
“Kak Dijah, adik Milcem … apakah dikubur malam ini?” Tanya Ustad Harun.
Milcem memandang ibu mertuanya. Dijah menyahut dengan isak. “Secepatnya .. lebih cepat lebih baik… selesai dimandikan, sembahyang langsung dikubur…”
Orang-orang kampung hampir semuanya datang menyatakan belasungkawa. Karapu warga kaya bersama isterinya Seruni menghampiri ibu Dijah. Seruni, wanita usia awal empatpuluhan, menghibur. “Ibu Dijah …. biarkan aku mengatur tahlilan[1], aku punya banyak persediaan makanan dan kue-kue…”
Ibu Dijah mengangguk. “Baik Seruni dan terimakasih bantuanmu…”
Hari-hari belakangan Seruni berusaha akrab dengan keluarga Ibu Dijah, demi perjodohan putranya dengan Amina.
Ahmad berkata kepada Tutumole dan Ali di pojokan rumah. “Pasti ulah juragan judi Kao itu. Ada kaitannya. Dia dendam lantaran kita mendatangi dan permalukan dia di rumahnya. Tetapi aku tak punya bukti. Bagaimana cara membalas pembunuhan atas diri Kak Dullah? Nyawa bayar nyawa, darah bayar darah.”
Tutumole membenarkan pendapat Ahmad. “Tidak ada bukti, kita jangan salah bunuh orang. Dalangnya itu mungkin orang lain. Kejahatan tak selamanya bisa disembunyikan, ada waktunya kejahatan itu muncul untuk diketahui orang. Jika kita pasti siapa orang yang menyuruh para penjahat itu, kita akan balas dendam.”
Ahmad dan Ali setuju.
Salat isya lama berlalu, enam pemuda mendatangi rumah Harun, guru agama dan imam masjid. Harun menerima mereka di ruang tamu, sebelumnya anak-anak muda itu telah minta ijin bertamu. Tidak lama kemudian isteri Harun membawa keluar nampan berisi teh panas dan pisang rebus.
Mereka datang untuk urusan kepala kampung. Sejak Dullah meninggal, jabatan itu kosong. Satu pekan Saman dan Muklis mengendalikan kampung. “Kita harus pilih kepala kampung secepatnya, rencana sebelum akhir bulan sudah terpilih seorang kepala kampung yang disetujui warga.” Ujar Muklis.
“Kita calonkan pak Karapu!” Tegas Getenpiri, petarung kepercayaan Karapu.
Karapu menggeleng kepala. “Tidak bisa. Aku tidak mau. Cari orang lain!”
“Sebenarnya Ahmad cocok. Dia petarung putra Sousoulol yang masyhur. Sayang ibu Dijah melarang dia mencalonkan diri. Tampaknya larangan ibu Dijah tidak bisa ditawar.” Tutur Saman.
“Bagaimana dengan Sousoulol Tutumole sudah kalian hubungi?” Harun bertanya penuh harap.
“Dia tak bersedia, alasannya tidak bisa melepas janjinya sebagai Sousoulol yang harus menolong orang setiap saat. Tak mungkin dia memegang dua jabatan sama penting, pasti salah satu harus mengalah. Itu sebab dia menolak.” Tutur Saman.
Muklis, menyatakan ketidaksukaan terhadap Sasupu. “Aku tidak setuju Sasupu jadi calon. Kita berupaya memberantas judi di kampung, sebaliknya Sasupu melestarikan warungnya tempat bermain judi.”
Saman mengeluh. “Dia warga asli Waijoi punya hak sama dengan warga lain. Jika tak ada calon lain, dengan sendirinya Sasupu menjadi kepala kampung. Calon terbaik kita, Pak Harun dan Ahmad menolak.”
“Kita butuh kepala kampung yang bertanggungjawab dan mampu mengatur keamanan. Sasupu lebih suka mengurus judi dan saguer.” Muklis tetap protes.
“Kalau begitu tambahkan syarat calon kepala kampung.” Tegas Karapu bersemangat. “Calon harus membangun sistem keamanan desa, melarang judi dan jualan saguer. Syarat itu akan membatasi Sasupu.”
“Telah kita rencanakan pagar keliling desa yang berbatasan dengan hutan, tetapi terbentur soal biaya. Jika Sasupu menang rencana pasti batal, Sasupu pemabuk dan pejudi sekakar[2]. Sepeser pun dia tak akan membantu biaya pagar.” Tegas Saman.
Karapu merenung. Dia menoleh kepada Harun. “Ustad, aku minta ijin pulang, kalau perlu besok aku dating lagi. Hari ini ada yang harus kukerjakan.”
Para pemuda mencibir kepergian Karapu.
“Karapu sama sekakar dengan Sasupu, makanya dia lari begitu mendengar pagar desa butuh biaya besar. Huh kita juga tak akan minta sumbangan kepadanya.” Tegas Muklis, nadanya sinis.
“Kudengar Lakopar besok akan calonkan diri.” Tegas Saman. Lalu bertanya kepada Dubudeng. “Benarkah ayahmu maju sebagai calon?”
Dubudeng mengangguk. “Benar. Ayah yakin bisa berbuat banyak untuk Waijoi.”
“Bagaimana kalau Karapu kita calonkan?” Harun mengajukan usul.
“Dia penjual minuman keras, suka pelesir dengan perempuan pelacur di Tobelo. Dia mantan pembunuh, kekayaannya hasil perdagangan haram.” Tegas Dubudeng. “Waijoi tidak boleh dipimpin orang seperti dia.”
Harun menarik nafas panjang. “Karapu pribadi yang menarik. Dia ulet, pantang menyerah, berani, empat tahun belakangan aku membimbingnya memperdalam agama. Dia telah insyaf. Sejak empat tahun lalu dia tidak pernah minum alkohol.”
“Dia berdagang minuman keras, kata orang juga berdagang perempuan, dia sering ke Tobelo, masih berhubungan dengan pedagang kapal asing.” Tegas Muklis.
“Itu masa lalu. Empat tahun lalu pekerjaan itu dia tinggalkan. Sebagian uangnya dia sumbangkan ke masjid-masjid pesisir. Kini dia berdagang dari hasil kebunnya. Dia punya beberapa kebun di Tidore, Foli, Kao dan Subaim. Dia pernah mengajak aku pesiar melihat kebunnya. Dia berubah. Dia Karapu yang baru, yang lahir empat tahun lalu di ruang tamu rumahku. Aku jamin perilakunya, dia sangat ideal jadi calon. Aku yang mencalonkan, katakan kepada warga aku yang menjamin.”
Saman terperangah, begitu juga teman-temannya. Kecuali Dubudeng.
“Kami baru tahu cerita ini.” Kata Saman.
“Tentu saja dia tak pernah ceritakan amalnya. Isterinya, Seruni, wanita beribadah asal Tidore masih punya hubungan dengan keraton. Dia mengubah suaminya, lihat tiga anaknya, Ramebete, Usman, dan Mawar, rajin salat dan mengaji.” Tutur Harun.
“Jadi selama ini Karapu berguru kepada Ustad?” Muklis masih penasaran.
“Empat tahun lalu Seruni mengantar suaminya menemui aku. Itulah awalnya Karapu insyaf.”
“Aku sering melihat Ustad bertamu ke rumah Karapu, malam hari. Kupikir Ustad mengajar anak-anak Karapu. Ternyata Karapu juga belajar.” Potong Saman.
Harun tidak menceritakan Karapu ketakutan karena pada suatu malam mimpi rumahnya terbakar. Keluarganya berhasil melarikan diri, tetapi dia terkurung api. Mimpi itulah yang mengubah Karapu menjadi manusia baru.
Saman dan Muklis saling pandang. Tatapan yang penuh arti.
“Ustad, katamu dia menyumbang masjid-masjid di pesisir. Mengapa masjid Waijoi, masjid kampung sendiri dia lupakan?” Muklis penasaran.
“Benar, atap masjid kita terancam roboh.” Potong Saman.
“Pernah dia berpikir demikian, tapi dia tidak yakin warga mau terima, mungkin terjadi perdebatan dan hal itu akan mempermalukan dia dan keluarganya.”
“Tetapi dia menyumbang masjid kampung lain.” Protes Muklis.
“Isteri dan anaknya yang melaksanakan.” Harun tersenyum, ingat bahwa itu adalah idenya.
“Kita calonkan Karapu!” Tegas Muklis, suaranya keras.
“Kamu dengar sendiri, tadi dia menolak.” Potong Saman.
Muklis tidak patah semangat. “Ustad, bagaimana cara meminta agar dia bersedia jadi calon?”
Harun tertawa. “Karapu pasti menolak. Dia pernah katakan kepadaku, pekerjaan yang tidak dia sukai adalah jabatan kepala kampung. Tetapi Karapu adalah penyayang keluarga, dia sayang isteri dan anak-anaknya. Hubungi mereka, biar mereka yang bicara dan membujuk Karapu, mudah-mudahan dia bersedia.”
Sasupu menenggak saguer dari tabung. Dia menatap tajam Jangu salah seorang anak buahnya. “Benarkah Harun mencalonkan diri? Apa katanya?”
Jangu menggeleng. “Para pemuda mencalonkan tetapi dia menolak. Sampai malam ini, tidak ada calon lain. Satu-satunya calon adalah kamu sendiri. Tampaknya kamu akan terpilih sebagai kepala kampung.”
“Apa rencanamu? Pemilihan hanya tinggal lima hari lagi. Kamu harus kerja keras, jika aku menang kamu kuangkat jadi juru tulis desa.”
“Hampir separuh kelompok pemuda telah aku kuasai. Mereka pasti akan memilih kamu. Rencanaku, pada hari pemilihan kelompok kita akan melakukan pawai keliling desa sambil teriak “Pilih Sasupu dia akan memperbaiki masjid dan rumah para janda, seluruh biaya diambil dari kantongnya sendiri.”
Sasupu tertawa senang. “Kamu memang pintar. Licik dan pintar, tapi jangan coba-coba menipu aku, ingat itu.”
“Aku tidak berani, sumpah demi agamaku.”
“Kamu tidak beragama, tidak pernah sembahyang.” Teriak Sasupu.
“Aku pengikut setia majikan, kamu tidak sembahyang aku juga tidak.”
“Benarkah Ahmad, Tutumole, Harun tidak mencalonkan diri?”
“Pasti. Mereka tidak berani bersaing dengan kamu, aku berhasil menakuti mereka.” Jangu berbohong.
“Bagus. Bagaimana dengan Karapu, orang sombong itu?”
“Karapu tidak bersedia dicalonkan.”
“Dia pura-pura, nanti pada saatnya dia akan maju.” Tegas Sasupu.
Jangu pandai bicara dan menjilat. “Kusiapkan rencana, aku akan kampanye bahwa Karapu punya wanita piaraan di Kao dan Tobelo. Pasti warga akan menolak dia. Tetapi aku butuh uang untuk menyuap beberapa orang.” Jangu memberi isyarat dengan membalik tangan, minta uang. “Lakopar juga mencalonkan diri.”
“Kurangajar, kamu mulai memeras aku!” Sasupu merogoh kantongnya.
“Kalau mau menang harus keluar biaya, jabatan kepala kampung harganya mahal. Dua hari sebelum pemilihan aku butuh biaya tambahan.” Jangu tersenyum licik.
Ustad Harun bersama Saman dan Muklis berhasil membujuk Seruni dan tiga anaknya. “Jika Pak Karapu tidak maju, maka Sasupu akan jadi kepala kampung, apakah Ibu Seruni rela melihat anak-anak kita ketagihan minuman keras dan main judi?”
Ucapan Ustad Harun menggugah rasa keadilan Seruni dan tiga anaknya. Mereka lalu mendesak Karapu mencalonkan diri. Seruni dibantu calon besan Milcem, ikut kampanye mengimbau para ibu memilih Karapu.
Sasupu geram bahkan mencak-mencak marah mendengar janji Karapu akan melarang judi di lingkungan desa. Dia melangkah menuju markas pemilihan yang dipusatkan di pekarangan rumah almarhum kepala kampung Dullah.
Jangu dan lima pengawal mengikut. Paras Sasupu tegang dan tampak kejam.
Banyak warga berkumpul di markas pemilihan. Melihat kedatangan Sasupu bersama anteknya, beberapa orang minggir memberi jalan. Sasupu berhenti di meja dimana Muklis dan para pemuda duduk ngobrol.
“Mana dia yang melarang permainan judi di warungku?” Suara Sasupu keras.
“Dia siapa?” Saman pura-pura tidak tahu maksud Sasupu.
Sasupu yang dibawah pengaruh saguer membentak. “Karapu! Mana dia?”
Dari samping rumah Karapu muncul, mengenakan kemeja dan celana hitam. “Sasupu mencari aku? Ada keperluan apa?”
Sasupu kaget Karapu muncul, dia tidak menyangka Karapu ada di sekitar rumah. Setahunya Karapu sedang bepergian.
“Apa benar ucapanmu akan melarang permainan judi di warungku?”
“Kalau aku terpilih kepala kampung aku akan melarang siapa saja bermain judi di lingkungan desa. Ini sesuai kemauan warga.” Tegas Karapu menatap tajam Sasupu.
“Dullah tidak melarang, mengapa sekarang ada larangan? Pasti mulutmu yang busuk yang mengatur, merayu warga agar memilih kamu.” Suara Sasupu geram.
“Setahuku Dullah akan membuat larangan, tapi sebelum larangan diumumkan seseorang telah membunuhnya. Kamu tahu siapa pembunuhnya?”
Sasupu terkejut. Ucapan itu seakan menuduhnya. Dia licik cepat menyerang balik. “Kamu lebih tahu siapa pembunuhnya.”
Karapu tertawa. “Ha ... ha... ha... Siap-siaplah menutup warungmu. Jika aku jadi kepala kampung tindakanku yang pertama, menutup warungmu!”
“Berani kamu?” Sasupu siap-siap menarik pedang dari sarung.
Lima pengawalnya berdiri siaga.
Karapu memegang pedang yang masih dalam sarungnya. “Sasupu tidak perlu ada pertumpahan darah.”
Warga yang berada sekitar, menyingkir, menonton dari jauh.
Sasupu ragu. Dia ingat cerita temannya, Moro, dua bulan lalu.
“Karapu sungguh petarung ulung, aku menyaksikan langsung dia tarung lawan Pasuk. Gerakan Karapu gesit dan kejam, dua tiga kali pedang bentrok lalu mendadak pedangnya memotong, Pasuk, jatuh macam pohon pisang ditebang. Darah Pasuk mengotori kemejanya. Dia membuka kemeja, memamer dadanya yang bidang berotot dan berbulu. Seorang pengawalnya menyodor kemeja bersih.”
( Bersambung eps 21 )
[1] Tahlilan : pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran untuk memohon rahmat dan ampunan bagi arwah orang yang meninggal dunia.
[2] Sekakar : Pelit
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







