Lingon Togutil eps 19
Posted on 24 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 19
Panus menggeleng. “Tidak kenal. Waijoi tempat tinggal Sousoulol Tutumole. Apa hubungan orang itu dengan Tutumole?”
“Dullah anak Masinga gurunya Tutumole. Tak ada hubungan erat lagipula kau tak pernah ingin tahu siapa calon korbanmu. Bunuh juga Sousoulol dan dua adik Dullah, Ahmad dan Ali.”
“Empat orang. Ongkosnya mahal, apalagi harus membunuh Sousoulol. Siapa di kawasan ini yang sanggup menahan pedang panjang Tutumole?” Panus menggerutu.
“Mudah bagimu, kamu bunuh dia dengan sembunyi, sehebat-hebatnya dia tidak akan bisa menghindari panahmu, kamu akan terkenal sebagai pembunuh Sousoulol. Tarifmu jadi mahal.”
“Ongkosnya mahal.”
“Untuk Sousoulol lima keping emas, Dullah si kepala kampung dan dua adiknya masing-masing dua keping. Jumlahnya sebelas keping emas.” Tegas Bai.
“Tambah lagi. Tutumole tujuh keping! Dullah dan dua adiknya masing-masing tiga. Jadi enambelas, bayar sekarang sepuluh setelah tugas selesai bayar enam.” Tegas Panus. “Kamu tahu aku harus memanggil lima anak buahku. Sousoulol harus dikeroyok paling sedikit tiga orang.”
“Jumlah itu kuterima dari saudagar. Aku tidak menipu. Kalau kamu menolak, mungkin aku harus mencari orang lain.” Suara Bai lirih tetapi dingin.
“Silahkan cari orang lain. Aku tanya kamu Bai si bodoh, apakah ada pembunuh lebih jago dari Panus? Enambelas harga mati.”
Bai diam, berpikir. “Enambelas, artinya aku hanya dapat satu keping emas. Lumayan, kapan lagi ada rejeki seperti ini.”
“Baik, kita sepakat enambelas. Kubayar sekarang sembilan, sisanya tujuh emas setelah tugasmu selesai. Berapa hari waktumu?” Bai menyodor sembilan keping emas.
“Aku akan ke Waijoi melihat sendiri wajah mereka, kamu tahu desa mana yang sering mereka kunjungi?”
“Konon mereka berempat sering membeli barang dagang di Dodaga.”
“Aku butuh waktu sepuluh mungkin limabelas hari.”
“Baik. Limabelas hari lagi kita bertemu di Subaim. Ingat Subaim bukan Dodaga. Kau bunuh mereka di Dodaga tapi bertemu aku di Subaim, mengerti?”
Panus menimang emas dengan senyum licik. “Baiklah Bai, keping emas kubawa.”
Pada jaman itu perjanjian antar petarung sangat dijunjung tinggi, tidak ada yang berani menciderai janji menyangkut pembayaran. Konon perjanjian antara para petarung jauh lebih penting dibanding jiwa. Kehormatan sebagai petarung di atas segala-galanya.
Bai hendak beranjak, Panus menahan tangannya. “Kalau boleh aku bertanya, siapa orang yang menghendaki kematian empat orang itu.”
“Aku menerima tugas dari seorang wanita, semua serba misterius, wanita itu juga tidak tahu nama lelaki yang membayarnya. Mungkin urusan dendam.” Bisik Bai.
Dua hari kemudian Panus bersama lima temannya mendayung perahu menuju Waijoi. Dia merasa bergairah. Hampir satu bulan tidak memperoleh order.
Pengalaman selama ini dia tak pernah menghitung kekuatan orang yang akan dia bunuh, dia bahkan tidak mau tahu apakah orang itu pernah dikenal atau tidak dikenal. Juga tak mau tahu apakah orang itu pernah atau tidak pernah berbuat salah kepadanya.
Baginya hanya menyelesaikan pesanan dan menerima bayaran dari tugasnya. Urusannya hanya menanamkan pisau atau pedang tajam ke dada, merobek daging menghentikan detak jantung orang tak bersalah. Terkadang dia menggunakan panah.
Panus tak pernah gagal. Reputasi sebagai pembunuh bayaran sangat disegani.
Dia bersama temannya mengunjungi Waijoi, nginap satu malam di warung Sasupu. Mempelajari sosok korbannya. Setelah itu mereka kembali ke Dodaga dan menyusun rencana.
Pagi hari Dullah, Tutumole, Ahmad dan Ali berlayar menuju Dodaga. Seperti biasa, Dullah mengambil barang dagangan yang dia pesan sebelumnya. Siang hari itu dia menyelesaikan urusan, membayar dan mengumpulkan barang dagangan di perahu.
Mereka masuk warung makan Kalawako. Di dalam warung beberapa orang sedang makan. Sebuah meja di tempati empat lelaki sedang main judi dan minum saguer. Meja lain diisi enam lelaki yang menikmati saguer.
Panus duduk menikmati saguer. “Matako tugasmu membunuh Dullah. Kamu yang memimpin empat temanmu, aku mengintai Sousoulol, begitu ada kesempatan kubunuh dia.” Panus meninggalkan lima temannya.
Seorang kuli melapor kepada Dullah. “Barang-barang sudah naik semua.”
“Kita siap-siap pulang.” Kata Ahmad.
“Aku ke perahu dulu.” Kata Ali sambil melangkah keluar.
“Tunggu, aku ke kamar mandi.” Tukas Dullah sambil berdiri. Dia melangkah ke pintu belakang.
Hampir bersamaan Matako dan empat temannya melangkah keluar warung. Mereka berpencar di luar. Matako memutari warung dan muncul di belakang dekat kamar mandi. Dia mengintai.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Dullah melangkah keluar. Matako melangkah bergegas, tindakannya seperti orang yang sakit perut dan ingin cepat masuk kamar mandi.
Dullah memandang selintas, tidak curiga.
Begitu berpapasan, Matako membalik tangannya. Pisau terhunus.
Matako menusuk, cepat dan bertenaga. Dullah tidak sempat menghindar. Pisau itu menghunjam ke dada kiri masuk sampai setengah badan pisau. Matako berupaya menikam lebih dalam, mendorong sekuat tenaga.
Dullah mengeluh. Terkejut dan kesakitan. Tangannya mencengkeram tangan Matako, berusaha menahan laju pisau ke dalam tubuhnya.
Bersamaan spontan dia teriak memanggil adiknya. “Ahmadddd….”
Perlawanan Dullah sia-sia, dia roboh di depan kamar mandi.
Matako tidak sempat mencabut pisau. Dia bergerak pesat, menghunus pedang dan sembunyi di balik pintu warung. Menanti. Mengintai.
Teriakan Dullah nyaring dan sangat jelas.
Ahmad mendengar panggilan kakaknya. Sesaat terpaku, kemudian bergerak menghambur ke pintu belakang. Tutumole bangkit dari duduk, berseru. “Matttt awas … di balik pintu..!”
Tidak hanya teriak, Sousoulol juga berlari ke pintu belakang rumah.
Ahmad mendengar seruan Tutumole, menyambar kursi terdekat. Dia tetap berlari keluar, kursi dijadikan tameng. Pedang Matako menebas keras, terdengar suara detak, pedang menghantam kursi bambu.
Ahmad lolos dari tebasan.
Matako tak bisa mencabut pedangnya dari kursi. Kursi yang terbuat dari bambu kuning menolong Ahmad, pedang masih melekat dan Matako menendang kursi sekaligus menghentak pedangnya sehingga terlepas.
Pada saat itu Tutumole dengan pedang terhunus telah berada di sisi pintu, tanpa basa-basi Sousoulol menebas. Tiga kali gerakan menebas melumpuhkan Matako yang terlempar ke tanah. Tebasan Tutumole pertama memotong otot besar antara leher dan bahu kanan, yang kedua melintang dada sedalam tiga senti, yang ketiga memotong kaki kiri Matako.
Saat Matako roboh ke tanah Ahmad sedang tarung lawan penjahat lainnya. Tebasan Ahmad memutus lengan kanan musuh.
“Tutu… lihat Ali..!” Ahmad berteriak.
Mengetahui Ahmad menguasai musuh, Tutumole berlari kencang ke pintu utama warung sambil merapal ayat pampelemtou, seketika tubuhnya tidak terlihat. Dia waspada akan jebakan di balik pintu.
Tak ada jebakan. Tetapi dia melihat pemandangan yang membuat darahnya naik ke ubun-ubun.
Ali sempoyongan berlumuran darah. Luka di perut menganga mengucurkan darah segar. Tiga lelaki mengurungnya. Ali melawan dengan perkasa. Tutumole melepas ilmu pampelemtou, tak boleh terlalu lama saat amarah menguasai diri. Wujudnya bisa lenyap selamanya,
“Ali…!” Tutumole berseru sambil menghambur masuk kancah tarung. Geraknya pesat, tebasan pedang panjangnya trengginas.
Saat itu satu tebasan keras merobohkan Ali, dia menangkis tebasan musuh namun tenaganya tak mampu menahan tenaga lawan. Pedangnya terlepas, dan dia jatuh telentang menunggu ajal.
Musuh memburu akan membabat leher. Tutumole lebih cepat, menebas dengan amarah. Pedangnya mengena leher musuh lebih dahulu. Musuh itu tak sempat menjerit, kepalanya nyaris terlepas dari leher.
Dua musuh berpindah menyerang Tutumole. Mendadak Sousoulol menghilang. Musuh kaget, sedetik bingung, saat itulah pedang Tutumole bekerja. Empat tebasan kuat tanpa mengenal kasihan merobohkan dua musuh itu.
Pertarungan selesai.
Tutumole melepas ilmu pampelemtou, memburu menolong Ali. Tiba-tiba firasatnya mengatakan adanya musuh lain. Dia menoleh ke samping warung, sempat melihat ujung panah dan gandewa serta tangan musuh.
Panus secara sembunyi melepas panah, yakin akan mematikan Tutumole.
Tidak ada waktu mengelak. Sousoulol membaca ayat boyemekgiyon yang telah menyatu dengan diri dan pikirannya. Panah itu melayang kencang ke arahnya.
Ilmu boyemekgiyon membuat jalannya panah yang kencang seakan bergerak lamban, Tutumole berusaha mengelak. Memutar badan. Namun panah lebih cepat, tampaknya menembus dadanya.
Tutumole terhuyung-huyung, lalu roboh. Tapi berdiri lagi, sempoyongan.
Panus belum puas. Sousoulol harus mati oleh pedangnya. Itu lebih mengangkat namanya sebagai petarung terbesar di Kao. Dia memburu dengan pedang terhunus. “Mati kamu Tutumole!”
Pedangnya menebas leher.
Ali berteriak. “Tutu .....!” Dia membayang murid ayahnya itu akan mati berkubang darah dengan leher putus.
Panus yakin pedangnya akan memenggal leher Sousoulol yang terkenal itu. Tetapi dia terkejut, bagai disambar kilat. Pedangnya menebas angin.
Tutumole hilang. Sedetik bingung. Lalu Panus merasa pedang panjang Sousoulol memotong tangan kanannya.
"Aaaakkkhhhhh......” Teriak Panus.
Matanya menatap Tutumole. Dia tak percaya ketika Tutumole melepas panah dari bawah ketiaknya. Ternyata panah tidak menembus dada, sepertinya menembus dada, tapi dengan kehebatan ilmunya Tutumole menangkap panah dengan kempitan lengan.
Panus tertipu.
“Siapa yang membayar kamu?” Desak Sousoulol.
Panus tidak menjawab. Matanya melotot, mencabut golok dari pinggang.
“Kamu memang pantas mati.” Pedang Tutumole menghunjam dada Panus.
Tutumole memburu ke arah Ali.
Ali berseru, suaranya parau. “Kupikir kamu mati. Mana Ahmad dan Dullah?”
Tutumole teringat akan Ahmad, berseru keras. “Matttttt….”
Saat berikut terdengar sahutan. “Di sini dua musuh mati.”
Lega rasanya, Tutumole menyahut. “Disini empat mati, Ali luka parah..”
Saat setelah menebas mati musuhnya, Ahmad menghampiri Matako yang masih terduduk di tanah, lumpuh. “Katakan siapa membayar kamu..?”
Di ujung hidupnya, Matako tak mau memuaskan musuh. Dia menyahut dengan suara putus-putus tapi jelas. “Ibumu pelacur… tanya dia …”
Saat itulah Ahmad mendengar seruan Tutumole. Tanpa kasihan Ahmad menikam dada Matako dengan pedangnya. Mati.
Dullah yang terluka parah mendengar tanya jawab itu, berbisik lirih tapi jelas. “Bawa aku temui Ali…”
Waktu itu Kalawako pemilik warung datang bersama dua teman.
“Aku tidak ikut campur, kalian seperti saudara bagiku.” Wajah Kalawako pucat.
“Aku tahu…” Kata Ahmad. “Aku butuh tandu.”
Dua teman Kalawako menyahut. “Tunggu.” Mereka berlari masuk warung, saat berikut keluar membawa tandu yang terbuat dari bambu.
Hati-hati mereka berempat mengangkat tubuh Dullah ke atas tandu.
Mereka tiba dekat Tutumole yang sedang menolong Ali. Laki-laki tampan itu luka di dua tempat, perutnya robek dan lengan kena tebasan. “Aku dikeroyok tiga orang.”
Tutumole melabur luka. “Kamu hebat, lukamu tidak parah. Sementara kulabur dengan ramuan anti racun.” Dia membalut luka dengan setagen.
Dullah menyumpah. “Jahanam pengecut menyerang dadakan. Dia menikam dari jarak dekat, aku tak sempat mengelak. Siapa orang-orang itu?”
Tutumole memegang lengan Dullah. “Kita akan cari tahu. Kuperiksa lukamu…”
Terengah-engah Dullah berkata. “Tidak ada harapan, pisau beracun saat ini telah menyerang jantungku, bawa aku pulang segera.”
Mereka mengangkat perlahan tubuh Dullah, tandu dibaringkan di tengah perahu. “Tutu, jaga keluargaku, jadikan putraku lelaki sejati....” Bisik Dullah.
“Jangan khawatir, putramu adalah putraku, keluargamu adalah keluargaku.” Suara Tutumole tersendat oleh tangis yang tertahan. Dia punya firasat Dullah akan kembali kepada Sang Pencipta.
Tidak lama kemudian mereka mendayung ke Selatan. Perahu cukup besar dengan layar. Barang dagangan meskipun banyak tetapi tidak menyita banyak ruang. Tandu diletakkan di tengah perahu.
Di tengah laut dalam perjalanan Dullah meninggal dunia diiring pembacaan ayat-ayat suci oleh Tutumole, Ali dan Ahmad. Suara tiga lelaki itu parau dan terbata-bata sambil menatap wajah kepala kampung Waijoi. Dullah meninggal dengan wajah tersenyum. Tampaknya pasrah dan tenang.
“Siapa yang tega membunuh kakak? Kak Dullah tidak punya musuh, tidak pernah menyakiti orang, kakak banyak menolong orang … “ Ahmad menangis.
“Tadi pagi dia berpesan agar aku menjaga keluarganya… rupanya tanda-tanda kematiannya… aku tidak mengerti tetapi aku mengiyakan…. Aku mencintainya seperti kakak kandung …. Ya Allah betapa berat ujian ini…” Tutumole menangis.
Ali yang perutnya dibalut setagen hanya diam. Air mata membasahi pipinya.
( Bersambung eps 20 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







