Lingon Togutil eps 18

Posted on 23 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 18

Bab Enam

Kepala Kampung Waijoi

Lima hari setelah perceraian Ina, sebuah perahu memantai saat fajar menyingsing. Sinar matahari yang kuning kemerahan menerangi pantai kampung Kao. Empat lelaki turun dari perahu. Tutumole dan tiga bersaudara Dullah, Ahmad dan Ali.

            Mudah mengetahui keberadaan Gorango. Sebelumnya Dullah bertanya kepada anak buahnya yang sering mengawal Gorango berdagang. Dia tahu persis letak rumah judi milik bapak mertua Gorango.

            “Rencanamu tidak berubah?” Dullah membenahi pedang panjang dalam sarung kulit yang menggantung di pinggangnya.

            Sousoulol menggeleng kepala. “Rencana tetap. Aku sendiri menemui Matua. Jika dia berpikir waras maka tak akan ada pertumpahan darah.”

            “Aku bertiga kak Dullah dan Ali tetap siap-siap.” Suara Ahmad terdengar tegang. “Berapa banyak anak buah Matua yang akan kita hadapi jika terjadi tarung?”

            Dullah menyahut datar. “Mungkin sepuluh, mungkin duapuluh.”

            Terdengar hembusan nafas dua bersaudara, Ahmad dan Ali. Tanda tegang dan cemas. Keduanya memandang Tutumole.

            “Kalian waspada, jaga diri jangan terluka. Aku akan selesaikan urusan ini dengan Matua. Sehebat apa pun seorang petarung, dia punya rasa takut kehilangan nyawa ketika dia memiliki keluarga dan banyak harta. Dia berani adu jiwa kalau dia tak punya apa-apa. Itu sifat manusia.” Tutur Sousoulol sambil tertawa.

            Ucapan Tutumole menurunkan ketegangan Ahmad dan Ali.

            Mereka tiba di depan rumah judi yang jendela dan pintunya tertutup rapat. Dua penjaga menghadang. Tubuh keduanya tinggi kekar dengan wajah angker.

            Masih tutup, belum buka.” Tegas salah seorang pengawal.

            “Kami ingin menemui Matua.” Dullah menatap tajam.

            “Barangkali masih tidur.”

            Tutumole membaca ayat pampelemtou[1] lalu menerobos pintu yang tertutup rapat. Saat berikut dua pengawal terkejut. Tiba-tiba saja lelaki tinggi langsing berjubah hitam lenyap dari pandangan.

            “Hei mana temanmu?” Pengawal bertanya sambil memandang keliling.

            “Teman? Teman siapa?” Dullah balik bertanya.

            “Temanmu yang pakai jubah hitam. Mana dia?”

            “Ah kamu mimpi, kami hanya bertiga. Tidak ada teman yang berjubah hitam.”

            Dua pengawal saling pandang. Parasnya penuh tanda tanya.

            “Tidak mungkin aku salah lihat.” Tukas pengawal, suaranya mulai ragu.

            “Sudahlah. Rumah judi buka siang hari?”

            “Buka sore sampai menjelang fajar. Kalau mau berjudi, kembali sore hari.”

            “Kami datang dari jauh. Ijinkan kami masuk dan istirahat dalam rumah.”

            Dua pengawal menggeleng. “Pintu tertutup rapat. Hanya bisa dibuka dari dalam.”

            “Kalian bisa istirahat di sabua[2] itu. Duduk atau tiduran, gratis tidak bayar.” Ujar salah seorang pengawal.

            Saat itu lima lelaki muncul dari sisi rumah. Tampaknya petarung, mereka menggenggam pedang dalam sarung.

            “Ada apa? Siapa mereka?” Salah seorang diantaranya bertanya.

            Dullah melangkah mundur. “Baiklah. Sore nanti kami datang lagi. Kami istirahat sejenak di sini.” Dullah dan dua adiknya melangkah menuju bangku panjang di bawah pohon nyiur di luar pekarangan rumah.

            Tujuh pengawal berunding. Dua orang menghampiri Dullah bersaudara. “Mana temanmu yang berjubah hitam?”

            Dullah tertawa. “Sejak tadi dua temanmu menanyakan orang berjubah hitam, kami datang bertiga. Tidak ada orang lain.”

            “Kamu jangan main-main dengan kami, mana temanmu si jubah hitam?”

            “Teman yang mana? Kami datang hanya bertiga.” Sahut Ahmad tegas.”Kami tidak main-main dengan kalian, kami datang hanya untuk main judi.”

Tutumole merapal ayat boyemekgiyon[3] seketika tahu letak kamar Matua. Pikirannya menembus halangan dan menemukan apa yang dia cari. Itulah kekuatan supernatural yang hanya dimiliki seorang Sousoulol. Apalagi dalam ruangan luas itu hanya ada satu kamar besar, dua kamar lainnya ukuran kecil.

            Dia melangkah lebar menuju kamar Matua. Pintu kamar terkunci dari dalam. Tapi tak bisa menghalangi Tutumole yang masih dalam selimut ilmu pampelemtou.

            Kamar itu luas. Tampak seorang lelaki bertubuh langsing kurus sedang duduk di pembaringan. Dialah Matua, pemilik rumah judi, petarung yang terkenal kejam dan ditakuti orang. Di dekatnya terletak meja kecil. Di atas meja bertumpuk keping emas dan keping perak. Ada juga beberapa gelang dan kalung emas.

            Matua bersandar dinding menghadap pintu kamar. Parasnya memucat, matanya melotot melihat sosok Tutumole muncul begitu saja. Tanpa sadar Matua mengucek mata, mengira ada kelainan dalam pandangan. Saat berikut dia sadar tidak salah lihat.

            “Hei siapa kamu?” Dia membentak sambil meraih senjata di samping tempat tidur. Tetapi di tengah jalan gerakannya terhenti.

            Pedang Tutumole mengancam lehernya. Seketika keringat dingin membasahi wajah dan badannya. Belum pernah seumur hidupnya dia berada dalam situasi terancam seperti itu. Ada rasa takut dan gentar di wajahnya.

            Dia tak percaya ada orang bergerak begitu cepat. Jarak tangannya dengan pedang hanya satu raihan, jarak orang berjubah dengan dirinya hampir lima meter. Bagaimana mungkin orang itu bisa mengancam lehernya tanpa dia sempat meraih senjatanya?

            Terbata-bata Matua bertanya. “Ma.. mau.. a.. a..pa kamu..?”

            Tutumole menatap tajam. “Aku Sousoulol Tanjung Lelai, kamu tahu siapa aku?”

            Matua ingat cerita orang, Sousoulol telah membunuh belasan serdadu Walanda serta empat petarung Jaropasugu, Pedamati, Todojaha, Tabacampaka yang paling ditakuti seantero Kao. “Dia sanggup tarung tanpa memperlihatkan wujud. Mau apa dia?”

            Tanpa dibuat-buat dia mengangguk. “Aku tahu. Kamu mau apa?”

            “Aku tidak akan membunuh selama kamu menurut semua kataku. Jangan berteriak memanggil anak buahmu!” Tegas Tutumole.

            Matua mengangguk.

            “Benarkah Gorango anak mantumu?”

            Matua mengangguk. “Benar.”

            Tutumole menceritakan apa yang dilakukan Gorango terhadap Ina.

            Cerita itu mengejutkan Matua. Dia tak pernah menyangka Gorango sekejam itu menyiksa isterinya sampai keguguran. Tindakan memukul perempuan sangat memalukan bagi seorang petarung. Lebih memalukan lagi Gorango telah menguras harta isterinya untuk berdagang, dan sewaktu bercerai melarikan semua perhiasan milik Ina.

            “Itu sama dengan merampok.” Pikiran Matua menyumpah tindakan Gorango.

            Matua menatap mata Tutumole, setakut-takutnya terhadap reputasi Sousoulol namun dia adalah petarung yang dimalui orang-orang kawasan Kao. Dia masih memiliki keberanian. Dia bertanya. “Katakan apa maumu.” Suaranya lirih namun tegas.

            “Aku mewakili Ina, putri guruku. Aku harus mendengar ucapan talak Gorango di hadapan beberapa saksi, kamu dan anak buahmu atau keluargamu. Aku juga meminta kembali semua perhiasan dan keping emas yang dicuri Gorango. Tidak kurang sedikit pun, kekurangan berarti Gorango siap mati.” Tegas Tutumole.

            Matua khawatir nasib Gorango, anak mantunya, suami dari putri kesayangannya dan ayah dari bakal cucunya. “Kumohon jangan bunuh Gorango, ampuni dia. Semua permintaanmu akan kulaksanakan.”

            Tutumole tertawa lirih, sinis. “Aku ampuni karena adikku Ina mengampuninya. Tanganku kotor jika membunuh seorang pengecut seperti Gorango.”

            Matua berdiri. “Baik Sousoulol, kita berjanji sebagaimana orang terhormat.”

            Pagi itu juga Matua mengumpulkan isterinya, putrinya Puni dan Gorango.

            Tutumole memanggil Dullah dan dua adiknya. Gorango minta maaf atas perbuatannya kemudian mengucap talak terhadap Ina. Tanpa rasa menyesal Puni menyerahkan perhiasan emas dan keping emas milik Ina.

            “Semua yang pernah diambil Gorango sejak menikah dengan Ina, tak boleh kurang sepeser. Kepala Gorango jadi jaminan.” Tutumole menatap tajam mantan suami Ina itu. “Kamu bisa sembunyi sehari dua hari. Tetapi bisakah kamu sembunyi selama satu bulan, dua bulan, satu tahun?  Kamu tidak akan pernah tahu kapan aku akan datang mencari kamu. Jadi jangan main-main, sebaiknya kembalikan harta Ina, semuanya.”

            “Sousoulol, sampaikan pemohonan maafku kepada Ina. Semua miliknya kukembalikan, lengkap tidak kurang satu keping pun.” Ujar Puni.

            Dullah menghampiri Gorango. Tiba-tiba dia memukul. Tiga kali. Tamparan keras membuat Gorango terpental jatuh. Mulut dan hidungnya mengeluarkan darah.

            “Kalian sudah berjanji tidak menyentuh Gorango.” Teriak Puni.

            “Tutumole berjanji tidak menyentuh Gorango, aku tidak. Tiga tamparan imbalan kamu memukul dan menendang adikku. Seharusnya kubunuh kamu, tapi Ina melarang aku membunuh kamu. Bukan sebab cinta tapi Ina tak mau tanganku kotor. Tapi tamparan tadi akan membuat kamu sering sakit  kepala, tidak ada obatnya. Itu ilmu dari ayahku, kamu telah menantang ayahku, sekarang coba sembuhkan dirimu. Kamu tidak akan pernah sembuh dari sakit kepala. Rasakan ilmu dari Sousoulol Masinga.”

            Pertemuan bubar.

            “Aku membawa emas dan perhiasan, jika ada petarung yang menghadang, aku tak segan membunuh. Jika terjadi,  aku kembali membunuh kamu.  Atau memotong kaki dan tanganmu. Aku tak ingin membunuh, kecuali terpaksa. Bagiku, bersahabat lebih nyaman daripada bermusuhan.” Tutumole mengucap salam sembari melangkah pergi diikuti Dullah dan dua adiknya.

            “Ina akan gembira mendapatkan kembali perhiasan dan uangnya.” Ujar Ahmad.

            “Kejutan gembira bagi Ina.” Kata Tutumole.

            “Ina akan berterimakasih kepadamu Tutu, jika bukan engkau dia tak akan mendapatkan kembali harta miliknya.” Ali menambahkan.

            “Wajar kalau suami menolong istrinya .... ha.. ha.. ha...” Dullah tertawa senang.

“Kamu mempermalukan aku dan ayah. Seharian ayah tak mau bicara.” Tegas Puni.

“Aku sudah minta maaf, minta ampunan ayah.” Kata Gorango lirih.

“Suatu waktu kamu juga akan menyiksa dan merampok aku?” Puni melotot.

Gorango terkejut. “Tidak. Aku tidak akan lakukan itu, aku mencintai kamu.”

Puni melotot. “Berani kamu memukul aku, kubunuh kamu, badanmu kucincang, kutebas tanganmu dan kuberikan kepada anjingku.”

“Aku bersumpah tidak akan memukul kamu.” Gorango merayu isterinya.

“Laki-laki pendusta. Mengaku pedagang, punya uang, ternyata semuanya harta isterimu. Berani kamu membohongi aku lagi, kubunuh kamu!”

“Tidak. Aku tak akan membohongi kamu.”  

            “Bunuh Sousoulol Tutumole!” Desis Puni, suaranya penuh dendam.

            “Apa?” Gorango terkejut. “Sama artinya aku bunuh diri.”

            “Bukan kamu, kita bayar pembunuh bayaran.”

            “Tidak ada yang berani. Semua orang tahu Sousoulol berilmu tinggi.”

            Puni diam sesaat. “Kamu panggil Bai, sekarang juga suruh dia temui aku.”

            “Apa rencanamu?”

            Puni tersenyum licik. “Nanti kamu dengar sendiri.”

            Gorango pergi mencari Bai, petarung ulung pengawal setia Matua. Laki-laki itu sedang tiduran di kamar para pegawai.

            “Bai, ini rahasia, ayah tak boleh tahu. Kamu cari petarung bayaran, tugasnya membunuh Dullah kepala kampung Waijoi, dua adik laki-lakinya dan Sousoulol Tutumole. Katakan kamu mendapat perintah dari seorang kaya yang punya dendam terhadap mereka. Jadi kita semua bebas, tidak terlibat jika seandainya si pembunuh tertangkap.”

            “Pembunuh akan minta bayaran mahal.”

            “Aku tahu harga pasaran. Siapa pembunuh paling hebat yang kamu kenal?”

            “Panus! Dia tak pernah gagal.”

            Puni tertawa. “Aku punya banyak uang.

            “Membunuh empat orang harganya mahal, apalagi Sousoulol. Setahuku, sejak upaya perampokan barang dagangannya, sejak itu jika  mengurus dagangan ke Dodaga Dullah ditemani dua adiknya dan Sousoulol. Mungkin akan terjadi pertarungan massal.”

            “Berapa yang harus kusediakan? Awas jangan menipu aku!” Tegas Puni. “Ingat ayah tak boleh tahu, ini rahasia.” Puni bersiasat. Padahal Matua yang menyuruh.

            “Duapuluh keping emas.” Ujar Bai malu-malu.

            “Mahal. Kuingatkan kamu jangan menipu aku!”

            “Tak berani aku menipu tuan Putri, leherku bisa dipenggal ayahmu. Perinciannya kepala Sousoulol tujuh emas, tiga saudara masing-masing tiga emas, aku sendiri sebagai perantara dua emas. Jadi duapuluh emas.” Tutur Bai.

            “Bodoh. Semua itu jumlahnya delapanbelas emas.” Puni tertawa. “Kamu satu emas, jadi jumlah seluruhnya tujuhbelas keping emas.”

            Bai malu. “Aku bodoh, tak bisa berhitung.”

            Puni memerintah suaminya mengambil keping emas dari lemari.

            “Ini sepuluh emas, sisanya dibayar setelah pekerjaan selesai.” Puni sodor uang emas. Bai mengantongi. “Jadi aku hanya satu emas?”

            “Tentu saja satu emas! Berani macam-macam, kutampar kamu, mau?”

            “Aku mau emasnya, tidak mau ditampar.” Bai pergi sambil bersungut-sungut dalam hati.

Panus pembunuh bayaran, parasnya angker dengan kumis dan berewok. Rambutnya pendek keriting melekat di kepala. Tubuh tinggi sekitar  dua meter, berat lebih seratus kilo, kulit hitam legam. Dia mengenakan baju tanpa lengan perlihatkan pundak dan lengan kekar berotot.

Panus asal pulau Miti. Ayahnya Kotu budak Afrika buruh geladak di kapal layar asing. Dia jadi buronan setelah membunuh lima prajurit dan mencuri keping emas, perhiasan, senjata milik kapten. Kotu terjun ke laut Teluk Kao, tak pernah ditemukan.

Belasan tahun domisili di pulau Miti, Kotu mencari nafkah sebagai pembunuh bayaran. Fisiknya yang tinggi hampir dua meter berbadan kekar membuat dia ditakuti. Dia mengawini Sasak, putri petarung asal kampung Daruba pulau Morotai.

Disela-sela kesibukan mencari nafkah, Kotu dan Sasak melatih anaknya menjadi petarung. Panus dengan fisik mirip sang ayah terampil menggunakan senjata khususnya panah dan pedang. Usia delapanbelas orangtuanya mati tenggelam di laut. Usia tigapuluh Panus jadi pembunuh bayaran dengan tarif termahal.

Panus tak punya rasa kasihan. Dia bisa tertawa sambil menebas mati musuhnya yang tidak berdaya. Dia membunuh banyak musuh. Mereka yang tidak bersalah, mereka yang tak pernah menyakitinya, mereka yang tak pernah dia kenal. Panus membunuh siapa saja memenuhi keinginan orang yang membayarnya.

Hari itu Panus duduk di warung makan Kalawako wilayah pelabuhan Dodaga. Kursi rotan tenggelam tertutup ukuran tubuh lelaki itu yang kelewat besar untuk ukuran penduduk Kao.

            Orang yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul.        

Bai menghampiri, duduk di seberang kursi Panus.

“Empat hari aku mencari.” Bisik Bai. “Keesokan hari setelah menerima tawaran membunuh aku mencari kamu, baru sekarang bertemu.” Matanya menatap Panus.

 “Sekarang kita bertemu, apa maumu?” Bisikan Panus terdengar kasar.

            Bai menoleh keliling, tak ada orang. Saat itu warung sedang sepi. “Ada pekerjaan untukmu.” Bisik Bai hati-hati.

Panus menenggak saguer langsung dari bumbung. “Katakan!” Desisnya.

            “Kamu kenal Dullah, petarung Waijoi?” Bai bertanya.

            Panus menggeleng. “Tidak, siapa dia?”

            “Dia kepala kampung Waijoi. Bunuh dia.” Tegas Bai dengan bisikan.

            Sesaat paras Panus ceria. Matanya agak menyipit seiring senyum liciknya.

            “Mengapa? Kamu kenal dia?” Bai memperhatikan perubahan muka Panus.

            Panus menggeleng. “Tidak kenal. Waijoi tempat tinggal Sousoulol Tutumole. Apa hubungan orang itu dengan Tutumole?”

( Bersambung eps 19 )



[1] Pampelemtou : Ilmu andalan Sousoulol, fisik atau wujudnya tidak terlihat mata musuh, menghilang.

[2] Sabua : Rumah ukuran kecil, semacam pendopo di Jawa, atau gubuk.


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com