Lingon Togutil eps 17

Posted on 22 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 17

Hari masih pagi, Embun masih bergayut. Bido membersihkan halaman rumahnya. Ia merapikan kebun kecil yang ditanami berbagai macam tumbuhan langka. Tanaman yang sangat bermanfaat bagi tugas Sousoulol membuat racikan penyembuh penyakit.

Tutumole duduk di undakan rumah memandang istrinya.

“Hamil membuat badanmu makin berisi, paras makin cantik.”         

“Aku tidak gemuk.” Bido menegakkan badan memperlihatkan potongan tubuhnya sambil memandang suaminya menantang jawaban.

“Benar. Kamu tidak gemuk.”

“Aku juga tidak kurus.” Bido tersenyum.

“Benar. Kamu tidak kurus.”

“Tutu, kamu suka aku begini atau kurus langsing seperti pertama kita bertemu?”

“Dulu langsing. Sekarang tetap langsing. Makin berisi dan makin cantik.”

Bido tertawa. Suaranya renyah. “H... hi.. hi.. Aku tahu kamu suka badanku yang sekarang. Buktinya tadi malam kamu hampir menghancurkan aku... hi.. hi..

“Kamu suka menggoda.”

“Dan kamu suka digoda, mencari alasan memeluk aku.”

Bido menyelesaikan pekerjaan lalu menuju kolam kecil mencuci tangan. Beberapa waktu lalu ia bersusah-payah menyiram tanaman. Dia harus menjinjing air dengan gantang kayu dari sumur di halaman belakang.

Suaminya menggali selokan kecil yang mengalirkan air dari sumur ke kolam kecil dekat kebun. Dia tidak perlu lagi mengangkat gantang berisi air. Cukup  menimba dan menuang air ke selokan yang akan mengalir masuk kolam kecil.

Bido duduk di tangga rumah di sisi suaminya. “Mau tambah minum?”

Tutumole memandang gelas di tangannya. “Air goraka[1] ini lezat dan segar, cocok di pagi atau malam hari.”

“Lezat? Bagaimana dibanding bikinan ibu Dijah?”

“Buatanmu lebih lezat.”

“Sungguh? Kamu hanya menyenangkan aku, sesungguhnya bikinan ibu Dijah lebih lezat, mengakulah Tutu.”

“Tanganmu yang meremas goraka, itu yang membuat bikinanmu lebih lezat.”

Bido memandang mesra suaminya. “Karena tangan ini, adalah tangan wanita yang sangat mencintaimu, begitu?”

“Benarkah, kau mencintaiku?”

Bido mencubit pinggang suaminya. “Jangan pernah ragukan cintaku.”

            Sambil menghirup minuman, Tutumole memandang Bido. Paras cantik, kulit putihnya agak kemerahan karena keringat. Mukanya bulat agak lonjong, hidungnya besar dan mancung. Mulutnya lebar dengan bibir tebal, itu bagian paling cantik dari parasnya. Matanya biru bening, Rambutnya kuning terurai sebatas bahu. Dia tinggi langsing.

“Bido sangat cantik. Masih muda dan segar.” Gumam Tutumole dalam hati.

Bido kini berbusana wanita Waijoi, sarung sebatas betis dengan kebaya panjang sebatas dengkul. Tidak lagi busana minim seperti jaman dia masih bertualang dengan Tutumole di hutan.

“Kamu bahagia hidup bersamaku, lelaki miskin ini?”

            Bido tertawa. “Kamu tidak miskin. Kamu memberiku nafas kehidupan yang manis yang tak pernah habis kuhirup.

 

            Kamu bahagia?

            Bido mengangguk. “Aku bahagia hidup disisimu.” Dia menyandar ke lengan suaminya. “Aku akan lebih bahagia jika kamu bahagia.”

            “Aku bahagia. Punya istri putri kepala suku Lingon yang cantik. Pasti bahagia. Apalagi sekarang kamu hamil, aku lebih bahagia.”

            Bido menatap mata suaminya. Pandangan penuh selidik.

            “Tutu kamu berjanji padaku, tidak akan pernah meninggalkan aku, selalu melindungi aku, kamu senantiasa berada dimana aku berada. Benar begitu?”

            Tutumole belum bisa menebak arah pembicaraan, mengangguk. “Benar.”

            “Aku tidak mengikat kamu dengan janji hanya beristri aku saja.”

            “Apa maksudmu, aku tidak mengerti.”

            “Artinya kamu boleh menikah lagi, beristri dua. Tetapi harus wanita yang kusetujui, wanita yang bersahabat dengan aku.”

            Tutumole memotong. “Mengapa kamu bicara begitu?”

            “Ina.” Bido mengucap nama itu dengan senyum menggoda.

            “Ada apa dengan Ina?”

            “Kawinlah dengan Ina, aku yang akan melamar.” Bido tersenyum. “Hari ini aku dan Katina akan melamar Ina untuk kamu.”

            Sesaat Tutumole tak sanggup menyahut. Mulutnya terkunci.           

            “Aku mendengar usulan kak Dullah tadi malam. Kalian bicara di sini, aku mendengar dari balik dinding.” Bido tersenyum menggoda. “Tidak biasanya aku ingin tahu pembicaraanmu dengan Kak Dullah. Tadi malam ada yang mendorong aku memasang telinga mencuri dengar.”

            Tutumole diam. Parasnya memucat membayang Bido akan marah.

            “Aku bersungguh-sungguh akan melamar Ina untuk jadi istrimu.”

            “Tiba-tiba kamu membicarakan melamar Ina, mengapa?”

            “Dia sahabatku. Sejak guru meninggal Ina menderita dianiaya suaminya, dia layak hidup bahagia. Dia tinggal bersama kita, menjadi istrimu, istri nomor dua, sebab aku tetap nomor satu. Jika Ina bahagia guru akan bahagia di alam baka. Kamu hutang budi bahkan hutang nyawa kepada guru.  Aku juga. Meskipun tidak pernah jumpa guru, tetapi ilmu yang diajarkan guru kepada kamu telah menyelamatkan nyawaku. Aku layak membalas jasa guru, terlebih-lebih kamu Tutu. Jasa guru kepadamu tidak mungkin mampu kamu balas, kecuali menikahi putri kesayangannya. Kasihan Ina, janda pada usia muda.” Bido memandang mesra. 

            “Apakah kamu bersungguh-sungguh?” Tutumole menanti jawaban.

            “Iya aku bersungguh-sungguh dan ikhlas.”

            Tutumole diam, pikirannya bercabang.

            “Apa yang kamu pikirkan?” Desak Bido.

            “Aku khawatir kamu terlalu memaksa diri, menganggap aku bahagia jika menikahi Ina. Sekarang aku bahagia. Apalagi kamu hamil. Tak lama lagi aku akan punya anak, apalagi yang kucari? Aku sudah bahagia.”

            Ina memotong. “Menurutmu Ina cantik?”

            “Laki-laki normal akan menganggap Ina cantik.”

            “Kamu suka dia?”

            Tutumole mengelus perut istrinya. “Enam bulan lagi aku akan jadi ayah.”

            “Tutu jangan mengalih pembicaraan. Aku tanya, apakah kamu suka Ina?”

            “Aku tidak menyukai wanita lain, aku hanya mencintai kamu seorang, sungguh demi Allah, hanya kamu seorang.” Tegas Tutumole.

            Mata Bido berkaca-kaca. Dia menatap suaminya, menembus sampai ke sanubari dan menemukan hati yang penuh cinta. “Kamu sangat mencintai aku?”

            Benar. Aku sangat mencintai kamu. Aku ingin berada di sisimu setiap saat wahai putri Lingon.”

            Bido menangis. “Aku tahu, aku mengerti cintamu, aku juga sangat mencintaimu, aku tak bisa hidup tanpa kamu di sisiku.”

            “Lantas mengapa kamu menyuruh aku menikahi Ina?”

            “Aku tak akan mau membagi suamiku dengan wanita lain. Khusus Ina aku justru menganjurkan. Kita berdua berhutang nyawa, hutang sebesar gunung kepada guru Masinga. Kini saatnya kita membalas budi. Kasihan Ina, setelah kejadian dengan Gorango, sering dianiaya suami, aku yakin dia tidak akan berani kawin lagi. Mungkin dia akan menjanda seumur hidupnya, hidup sendiri, tak punya anak. Dia baru saja keguguran. Apakah tega aku membiarkan putri kesayangan guru hidup dalam kesendirian sementara aku sahabatnya bahagia bersama suami yang sangat mencintai aku? Tutu, aku tidak tega melihat Ina menderita.”

            “Hatimu mulia. Aku ingin membalas budi guru dengan menikahi Ina, tetapi aku tidak sanggup mencintai dua wanita sekaligus. Aku sangat mencintaimu, aku tak punya cinta lagi untuk kuberikan kepada Ina. Justru dia akan menderita jika menjadi istriku, hidup bersama kita serumah, melihat betapa aku lebih mencintaimu, melihat betapa aku tergila-gila kepadamu.” Tutur Tutumole.

            “Kamu mencintai aku, aku juga mencintaimu. Keadaan ini tidak berubah. Kita saling mencinta sampai hari tua.” Bido mengelus punggung tangan suaminya. “Menikahi Ina artinya membalas budi guru dan ibu Dijah juga menyenangkan Dullah dan adik-adiknya. Aku akan melamar pada Ibu Dijah dengan demikian kamu bisa mengurut badan Ina sampai dia sembuh. Tidak bisa kita biarkan dia cacat selamanya.

            Tutumole tertawa. “Seorang istri akan marah mengetahui suaminya kawin lagi tetapi istriku malah menyuruh suaminya kawin lagi, aku tidak percaya ada wanita segila kamu Bido.”

            “Kamu mau menikahi Ina?”

            Tampaknya aku tak punya pilihan. Kamu ikhlas aku menikahi Ina?”

            “Tentu saja ikhlas, karena aku yang mengusulkan. Nah pagi ini aku melamar Ina selanjutnya kamu bisa mengurut Ina, sembuhkan dia, kasihan kalau dia cacat, Tutu.”

Bido menjemput Katina. Mikala tak mau melewatkan kisah kegilaan tuan putrinya. “Dia melamar Ina untuk suaminya? Dia sudah gila!” Kata Mikala kepada istrinya.

            Di tengah jalan mereka pisah. Mikala menemani Tutumole. Bido dan Katina ke rumah besar sambil menjemput Milcem. “Aku akan menjemput Ahmad dan Ali.” Kata Milcem.

            Disaksikan Milcem, istri Ahmad, istri Ali serta Tima dan Katina. Bido mengajukan lamaran suaminya menikahi Ina. “Ibu guru yang mulia, tadi aku sudah bicara dengan Ina, kami berdua sepakat akan melayani Tutumole sebagai suami tanpa ada persaingan diantara kami berdua. Ina setuju, dan aku juga setuju.”

            “Bido hatimu bagaikan emas, kamu wanita mulia.” Jawab Ibu Dijah berurai air mata.

            Milcem menyahut. “Sejak aku memandikan Bido untuk menjalani mandi-adat menikah dengan Tutu, saat itu aku tahu Bido adalah mutiara terpendam. Dan aku sangat sayang padanya, sudah seperti adik sendiri. Ketika kak Dullah tanya pendapatku tentang wacana menjodohkan Ina dengan Tutu, aku tegaskan Bido pasti setuju bahkan mendukung.”

            Di luar kamar, Tutumole, Mikala, Dullah, Ahmad dan Ali serta ustad Harun ikut mendengar dari balik dinding.

            Ina mendengar lamaran itu, dia menangis bahagia. Ketika ditanya ibunya dia memejam mata, tidak menjawab, hanya senyum manisnya sebagai isyarat menerima lamaran dan bersedia menjadi istri Sousoulol. Habis derita yang dahsyat dia mendapat kebahagiaan.                                                           Pernikahan dilaksanakan oleh ustad Harun. “Pernikahan ini untuk menghindari persentuhan haram saat Tutumole mengurut Ina, maka sejak detik ini Tutumole boleh mengurut badan Ina. Tetapi hanya sebatas itu, hubungan badan hanya bisa dilakukan saat masa iddah terpenuhi.” Tegas ustad Harun kepada semua yang hadir termasuk Ina dan Tutumole.

            Ina di pembaringan hanya mendengar ijab kabul dengan berurai airmata.

( Bersambung eps 18, Bab Enam )     



[1] Goraka : semacam jahe, air goraka sama dengan wedang jahe


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com