Lingon Togutil eps 16
Posted on 22 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 16
Selama itu hanya Bido tempatnya mengeluh menangisi nasib buruknya. “Jangan cerita kepada siapa pun, aku percayakan rahasia ini kepadamu.” Pesannya waktu itu. “Sekarang semua keluargaku harus tahu perbuatannya menganiaya aku....”
Ina masih menggeletak di tanah yang dingin. Dia belum berani bergerak. Dia menanti Bido, biasanya Bido mampir, mengajaknya ke masjid.
Perlahan-lahan Ina beringsut dan menyandar ke dinding. Dia tahu Gorango kabur. Dia merenung masa lalu, menyesal tidak mengikuti anjuran ayahnya kawin dengan Tutumole yang waktu itu masih bujang. Memilih kawin dengan Gorango adalah kesalahan besar. Dia menangis.
Terdengar bunyi pintu dibuka. “Ina… Ina kamu sudah siap..?” Suara Bido.
“Aku di sini. Masuklah, tak ada orang, hanya aku sendiri.”
Bido menghampiri, kaget melihat kondisi sahabatnya. “Kamu berkelahi dengan Gorango, mana dia?”
”Dia pergi. Bido aku keguguran, dia menendang perut dan dada, mukaku ditampar berulang-ulang. Sakit Bido, tapi hatiku lebih sakit, aku terhina... dia bilang aku pelacur, laki-laki itu bajingan, tukang fitnah dan perampok, uang dan perhiasanku habis dirampok ... dia lari ke Kao ke bini mudanya...”
Bido kaget. “Aku panggil ibu dan kak Dullah.”
“Jangan. Biarkan mereka sembahyang dulu, aku baik-baik saja, habis sembahyang ajak mereka, ajak juga Tutu.”
Bido tersenyum, memandang mesra. “Tentu saja aku ajak Tutu, dia akan menyembuhkan kamu. Baiklah, aku ke masjid dulu. Kamu tunggu dan jangan banyak bergerak.” Bido melangkah keluar.
Sembahyang magrib belum lama berlalu. Ina masih duduk di lantai bersandar dinding. Antara sadar dan tidak sadar telinganya mendengar suara kaki banyak orang. Lalu pintu rumah di dorong. Ina tahu Bido datang bersama keluarganya.
Ibu Dijah berteriak. “Ina.. oh anakku... apa yang terjadi..?“ Wanita tua itu memeluk anaknya, detik berikutnya menangis bersamaan isak tangis Ina.
“Siapa yang berbuat? Gorango? Mana dia? Kubunuh dia!“ Suara berat Dullah memecah kesunyian, memutus isak tangis Ina.
Ina berseru. “Jangan ! Jangan kotori tanganmu dengan darah binatang itu“.
“Ceritakan! Semuanya!“ Desak Dullah.
Ina bercerita, sejak kematian ayahnya sampai penganiayaan di hari naas tadi.
“Mengapa kamu tidak menceritakan kepada Ibu?“ Dijah bertanya.
“Aku berharap dia sadar. Aku hanya berkeluh-kesah kepada Bido, aku paksa Bido bersumpah tidak menceritakan kepada siapa pun. Gorango jahat, dia iblis! Dia menyiksa dan memerlakukan aku seperti binatang.” Ina menangis
Ibu Dijah memerhatikan lebih seksama, terkejut melihat tubuh dan wajah putrinya memar biru kemerahan.
“Aku keguguran. Mungkin hamil dua bulan.” Ina memeluk ibunya, menangis lagi. “Ibu nasibku buruk, aku keguguran.”
“Kamu harus diobati. Mana Tutu,” Dijah menoleh mencari-cari Sousoulol.
Tutumole yang berdiri dekat Dullah, menyahut. “Tunggu, kuambil ramuan.” Sousoulol melangkah keluar.
Ina menangis. “Laki-laki pengecut. Memukul dan menganiaya istri, itu tindakan pengecut. Dia juga memaki ayah dengan kata-kata kotor. Aku membencinya, kusumpah biar dia mati dicincang orang.”
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki. Tutumole datang membawa kotak kecil terbuat dari kayu besi. Isinya bermacam ramuan.
“Bido minumkan ramuannya. Akan kuraci ramuan khusus untuk luka dalam.”
“Aku akan mencari laki-laki itu, pasti belum jauh.” Teriak Ahmad.
“Jangan. Biarkan dia bersama dosa-dosanya. Dia telah ceraikan aku, dua kali dia mengucap cerai dengan keras. Talak tiga! Malah dengan sombongnya dia teriak talak seratus, dasar orang jahat.” Tukas Ina. “Tetapi aku senang dicerai.”
“Kalau ceritamu seperti itu maka cerai itu sah.” Tukas Ahmad.
“Kita harus mencari Gorango, meminta kembali emas perhiasan Ina dan mendengar ucapan talaknya.” Dullah menoleh kepada Tutumole. “Tutu kamu ikut.”
Tutumole menolak. “Jangan sekarang. Hal itu bisa menunggu. Sekarang aku perlu merawat perut dan dada Ina. Sepakan itu sangat bertenaga. Terlambat ditolong, Ina akan cacat selamanya.”
Tutumole keluar kamar. Dia mengajak Dullah dan Ahmad ke hutan. Mereka membawa obor, beberapa lama kemudian Tutumole menemukan apa yang dicari. Dalam perjalanan pulang, Tutumole berkata kepada Dullah dan Ahmad. “Aku belum melihat jelas karena tertutup kebaya, tetapi tulang iga Ina terkena sepakan telak. Otot dan saraf di bagian dada luka parah. Ina bisa cacat selamanya. Bernafas sakit, bergerak juga sakit.”
“Kamu bisa menyembuhkan, kamu sousoulol.” Bisik Ahmad.
“Masalahnya, Ina harus diurut. Harus aku sendiri yang mengurut.......”
Dullah tertawa. “Urusan gampang, kamu akan mengawini Ina. Setelah itu kamu bebas mengurut dada dan perutnya.... apa menurutmu Mad?”
Ahmad tertawa. “Ohhh .. setuju, hanya itu satu-satunya jalan. Sesuai pesan ayah, akhirnya Tutu menjadi suami Ina.”
Malam belum larut. Bido dan Tutumole duduk bersanding di bale-bale di serambi rumah sambil memandang rembulan.
Tutumole meraba perut istrinya. “Hamil dua bulan, kamu tak boleh bekerja berat, tidak boleh mengangkat yang berat-berat.”
“Aku kuat Tutu. Jangan terlalu khawatir.”
“Kamu suka bayimu perempuan atau laki-laki?”
“Jika perempuan bagaimana?”
“Namai dia Kamuning. Bunga kamuning, harum dan cantik. Pasti cantik mirip ibunya, rambut kuning, mata biru, kulitnya putih kekuningan. Hidung mancung,”
“Kalau laki-laki bagaimana?”
“Namai Daud. Pasti dia mirip Samonema. Dan jagoan macam kakekmu Jakudu. Dia separuh Lingon separuh Pesisir.”
“Jika bayi perempuan kamu namai Kamuning. Supaya adil kalau lahir laki-laki, aku yang memberi nama.”
“Siapa namanya? Karas?”
Sepasang mata biru Bido melotot. Tangannya mencubit pinggang suaminya. “Kamu masih suka menggoda aku. Kalau bukan aku yang memberitahu titik lemahnya mungkin Karas mengalahkan kamu ….”
“Jadinya aku yang mati dan kamu jadi istrinya, istri paksa.”
“Aku memilih kamu, kusuruh kamu membunuh Karas karena aku sudah jadi istrimu.” Bido tersenyum. “Tutu jangan ungkit lagi nama itu.”
“Jadi siapa nama anakmu?”
“Soleman .... nama nabi.” Bido menatap suaminya. “Setuju?”
“Nama bagus, setuju. Aku suka nama Soleman.”
“Baiklah kunamai Soleman. Kamu suka anak laki-laki atau perempuan?”
“Sama saja. Anak laki-laki atau perempuan tetap akan kusayang.”
Bido yang menghadap jalanan lebih dahulu melihat kedatangan Dullah. “Tutu, lihat kepala kampung datang. Aku masuk.” Bido melangkah masuk rumah.
Dullah menyapa ramah lalu duduk di kursi dekat bale-bale. Dia memandang kagum kebun kecil di pekarangan.
“Istrimu rajin merawat kebun. Kebun kecil tetapi banyak jenis tumbuhan.”
“Semua punya khasiat menyembuhkan luka dan penyakit.”
“Kita bersahabat cukup lama, kita selalu berterusterang satu sama lain. Aku ingin tahu pandanganmu tentang Ina adikku, apakah dia masih cantik.”
Pertanyaan mendadak. Tutumole menjawab polos. “Yah dia masih cantik.”
Dullah menatap Sousoulol yang bagaikan adiknya. “Kamu masih menyukainya?”
Tutumole tak bisa menyembunyikan perasaannya. Dalam hati masih menyukai Ina, dia juga prihatin nasib putri kesayangan gurunya. Tetapi dia tidak menjawab.
Dullah mendesak lebih lanjut. “Dulu gurumu pernah menjodohkan kamu dengan Ina, usahanya gagal dan Ina menikah dengan lelaki bejat itu.”
“Ina menolak aku.” Paras Tutumole tampak murung mengingat kejadian dulu.
“Kau masih marah pada Ina?”
“Tidak pernah. Dulu tidak marah, sekarang pun tidak marah.”
Sejak tadi Tutumole menduga-duga maksud Dullah menemuinya.
“Kita tidak perlu bicarakan luka Ina dan kewajibanmu mengurut Ina, kita bicara terus terang. Maksudku, aku ingin kamu menikahi Ina, sekarang. Dia janda, jadi tidak perlu pesta, kita lakukan dengan cara sederhana.”
Tutumole terkejut, tidak pernah menduga. “Aku sudah beristri, Dullah.”
“Banyak laki-laki Waijoi berpoligami, itu soal biasa.”
“Tidak semudah itu Dullah. Aku sudah beristri, apakah Bido mau aku beristri lagi? Apalagi Ina dan Bido bersahabat. Belum tentu juga Ina bersedia, pasti dia khawatir menyakiti Bido. Persoalan sangat rumit.”
“Rumit jika kau anggap rumit. Gampang dan ringan jika kau anggap gampang. Dua wanita itu akan menurut padamu. Tetapkan hatimu. Jika kamu jadi suami Ina, kamu senangkan hati gurumu dan hatiku. Ibu pasti akan gembira. Dan paling penting Ina senang memiliki suami yang melindungi dan menyayangi dia. Dia tidak lagi sendirian.”
Tutumole diam.
“Jangan ragu Tutu.”
“Apakah Ina mau? Dulu dia menolak.”
“Aku jamin dia akan senang.”
“Dia harus menjalani iddah.”
“Katamu Ina bisa cacat jika tidak segera ditolong. Keadaan darurat, kalian menikah supaya kamu bebas mengurut dan menyembuhkan dia, hanya menikah, tidak berhubungan badan.”
“Akan kubicarakan dengan Bido.”
Mereka masih ngobrol. Tidak lama kemudian Dullah pamitan.
Tanpa setahu Tutumole dan Dullah, dari balik dinding kamar tidurnya Bido mendengar pembicaraan dua lelaki itu. Jantung Bido berdegup kencang.
Malam itu baik Tutumole maupun Bido tidak membicarakan perihal Ina. Keduanya memadu cinta sampai kemudian pulas.
Dullah menyelesaikan sarapan. Hari masih pagi, matahari belum sepenuhnya muncul. Kabut dan embun masih menaungi kampung Waijoi.
Milcem mengawasi suaminya yang duduk dengan wajah kusut.
“Mengapa kamu muram, ada persoalan mengganggumu?”
Dullah memandang mesra istrinya yang rambutnya dibiarkan terurai, rambut masih basah. Milcem sama usia dengan suaminya, tigapuluh enam tahun, masih tampak muda. Tak ada keriput di wajahnya yang manis keibuan. Badannya masih langsing berisi meskipun telah melahirkan empat anak.
“Bukan hal penting. Kamu jaga anak-anakmu dengan baik, terutama Karim, anak nomor dua tapi laki-laki tertua, harus lebih bertanggungjawab.” Kata Dullah.
“Kamu aneh, selama ini kita berdua menjaga dan mendidik anak-anak. Mengenai Karim kurasa dia baik-baik, rajin mengail dan berkebun, rajin mengaji di rumah ustad Harun dan hampir tiap hari di rumah Tutumole berlatih tarung. Dia baik-baik.” Milcem berdiri dari kursi menghampiri suaminya, mengelus pundaknya yang kekar.
“Usia Karim tigabelas tahun tetapi pikiran dan tanggungjawab bagaikan remaja tujuhbelasan. Kau tidak perlu risau.” Kata Milcem, berbisik.
Dullah menghela nafas dan menghembus perlahan. “Dia harus jadi pemimpin bagi keluarganya. Melindungi kakak perempuannya. Usia Amina enambelas, kau harus mulai mencari calon menantu.”
Milcem membungkuk dan mengecup pipi suaminya. “Tampaknya putra Karapu, si Usman menaruh hati pada Amina.” Bisiknya.
“Berapa umur Usman?”
“Duapuluh dua.”
“Sudah ada lamaran?”
“Dua hari lalu Seruni menyatakan niat melamar Amina untuk Usman. Belum kujawab, aku tunggu pendapatmu, kamu setuju?”
“Amina sudah tahu? Apa tanggapannya?”
“Dia gembira, katanya Usman sangat menyayanginya. Dia memperlihatkan kalung emas pemberian Usman. Hanya dia khawatir kamu tidak setuju. Bukan hanya Amina yang khawatir, aku dan Seruni juga was-was kamu menolak.”
“Aku tak mau mengulang kesalahan perjodohan lagi, aku pernah salah mendesak ayah menjodohkan Gorango untuk Ina. Kini untuk Amina aku ikuti maumu, jika kamu setuju dan Amina juga menyukai Usman, aku setuju.”
“Hubunganmu dengan Karapu tidak begitu baik.” Bisik Milcem.
“Bukan aku dan Karapu yang menikah. Tidak ada hubungannya. Lagipula Karapu kini rajin memperdalam agama dibimbing ustad Harun. Jadi kau tidak perlu ragu lagi, aku setuju dan aku gembira.” Bisik Dullah.
“Akan kukabari Seruni.” Ujar Milcem tersenyum senang.
“Mina dimana, aku tidak melihatnya sejak salat subuh tadi?”
“Di rumah Bido belajar berhias.”
“Berhias?”
“Benar berhias, dia ingin mempercantik diri untuk Usman. Dia sering bermain di rumah Bido, usia mereka tidak beda jauh. Mina enambelas, Bido tujuhbelas. Mina punya kemauan keras.” Milcem tersenyum. “Mina punya rahasia.”
“Rahasia apa?”
“Belakangan dia makin dekat dengan Bido, kata Bido dia sering bertanya tentang hubungan suami istri, bagaimana malam pengantin dan seterusnya. Dia tak pernah bertanya kepadaku, Ina dan Tima, mungkin malu.”
Dullah berdiri. “Mina anak yang cerdas.”
“Kata Seruni, jika tak ada halangan, pernikahan Usman Amina akan dilaksanakan setelah pernikahan Ramebete dengan Ragota.”
“Aku setuju. Kuserahkan kepadamu semua urusannya. Aku mau ke rumah ibu menemui Ina, aku menjodohkan Ina dengan Tutumole, ayo ikutlah.”
“Oh itu bagus, aku setuju, tetapi Ina masih terikat iddah.” Potong Milcem.
“Nikah saja, supaya Tutu bisa mengurut dada dan perut Ina, tidak perlu hubungan badan, ayo ikut aku.....”
“Rambutku basah, nanti aku menyusul. Di rumah ibu mungkin banyak tamu.”
“Mengapa? Kamu malu? Malah itu bagus dilihat ibu mertuamu tanda kita masih saling cinta.” Dullah memegang tangan istrinya. “Ayo.”
( Bersambung eps 17 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







