Lingon Togutil eps 15
Posted on 20 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 15
“Aku belum beruntung bertemu Kayampuni. Aku keluarga istri Sousoulol, namaku Karin. Kami menuju kampung Waijoi. Suamiku ini Togutil Gogolomo.”
Tiga lelaki itu meneliti sosok Kalai. “Siapa namamu?”
“Kalai. Kamu tidak kenal aku, tapi mungkin kenal Salako?”
“Apa hubunganmu dengan Salako?”
“Ibuku Nini, putri Salako.”
“Aku kenal Salako. Namaku Taras. Aku jamin kalian aman tiba di Waijoi, kami akan mengawal kalian. Jika bertemu Sousoulol katakan kami mengantar kalian, katakan kami menghormatinya karena dia menghormati Kayampuni.” Ujar lelaki bertubuh pendek gempal, di tangannya sebuah kapak dan pedang.
“Kamu jalan sendiri, kami sendiri. Kita bertemu di pintu masuk Waijoi.” Kata Taras.
“Mengapa demikian?” Tanya Karin.
“Jika ada musuh, mereka tidak tahu kita berteman. Tapi tak usah khawatir kami tetap mengawasi kalian.” Tegas Taras.
Dalam perjalanan Karin menutur hubungannya dengan Bido serta kedatangan Tutumole dan istrinya ke kampung Lingon. “Waktu itu Bido menutur pengalamannya, termasuk perjanjian Tutumole dengan Kayampuni. Dia yang mengajari siul untuk komunikasi dengan Togutil. Tadi aku teringat siulan itu.”
“Katamu, ada wanita bernama Katina adik ibumu.”
“Katina dan suaminya Mikala adalah pengawal setia Bido. Waktu itu Bido pewaris kepala suku, Katina dan Mikala memanggilnya tuan putri. Mereka berdua ikut Bido kemana pun Bido pergi. Mereka semua menetap di Waijoi.” Tutur Karin.
Malamnya, mereka menginap di gubuk bekas peninggalan pejalan hutan. Karin memanggang ayam hutan hasil buruan teman Togutil.
Sambil makan Karin berkata. “Lai kita akan menetap di Waijoi.”
Sesaat Kalai terdiam. “Aku ingin membawa kamu ke rumah ayahku di kampung Utara. Kukenalkan dengan ayah, ibu tiriku, saudaraku ......”
“Aku ingin kita menetap di Waijoi. Bekerja dan membina keluarga.”
Kalai menjawab polos. “Aku hanya petarung miskin, tidak punya sesuatu untuk ditawarkan kepada istriku yang cantik.”
“Benarkah aku cantik?”
“Cantik. Kamu cantik. Aku umpamakan kamu rembulan, aku hanya kurakura. Kamu jauh tinggi di atas langit sedangkan aku jauh di bawah, merayap di tanah.” Kalai tertawa. “Benar, kita berdua ibarat kurakura dan rembulan.”
Karin tersenyum kecut. “Tetapi kura-kura itu hebat bisa menarik rembulan jatuh dalam pelukannya.... hi ..hi... hi...” Karin tertawa senang. Dia senang Kalai selalu memuja kecantikannya, dalam keseharian maupun saat bercinta.
“Kamu mau menemui ayah ibuku?”
“Mau...!!!” Karin antusias. “Dimana?”
“Kampung Tutua di Utara. Ini rahasia, orang lain tak boleh tahu.”
“Di sana ada laut?”
“Ada. Ayah punya perahu. Kita naik perahu ke pulau Togalaya.”
Karin tersenyum. “Aku ingat, Togalaya itu pulau tempat kamu dibesarkan.”
Bab Lima
Putri Sousoulol Masinga
Satu bulan setelah pemakaman Sousoulol Masinga, rumah tangga Ina putri bungsu Masinga yang tadinya harmonis, sarat aroma cinta berubah menjadi ajang pertengkaran. Gorango monsternya, Ina korbannya. Perangai Gorango berubah drastis, makin beringas dan pemarah. Tidak jarang dia membentak, mengancam dan menampar.
Tiga bulan kemudian Gorango memaksa Ina memberinya modal berdagang. Ina memberi perhiasan dan keping emas simpanannya. Bukannya berdagang, malahan modal dipertaruhkan di rumah judi kampung Kao. Uangnya ludes.
Pada sisi lain nasibnya mujur, Puni anak Matua petarung dan pemilik rumah judi Kao jatuh cinta. Tanpa pikir panjang Gorango menikahi Puni. Sejak itu Gorango jarang pulang ke Waijoi, lebih sering menemani Puni.
Beda dengan Ina yang lemah lembut. Puni, perawan enambelas tahun itu pemarah dan manja, semua anak buah sang ayah takluk dan takut padanya. Tak seorang berani membantah perintahnya. Matua sangat memanja putrinya memerintah semua anak buah memanggilnya tuan putri .
Gorango yang miskin menjadi budak keluarga Puni. “Aku ingin cucu. Jangan coba-coba lari atau menyakiti anakku, kuburu kamu, kupotong kaki dan tanganmu,” ancam Matua.
Hari itu Gorango pulang ke Waijoi meminta paksa perhiasan emas. Ina menolak.
“Emas dan perhiasanku habis. Semua telah kuberikan kepadamu untuk modal dagang, mana uangnya? Kamu habiskan di meja judi, aku tahu……”
Ina tidak sempat menyelesaikan ucapan “aku tahu kamu sudah kawin di Kao”. Tamparan keras melanda sisi kepalanya. Ina terhuyung-huyung jatuh.
Ina protes, suaranya bercampur isak, “Ayah tak pernah menampar aku.”
Gorango tertawa. ”Betul, ayahmu itu Masinga. Aku suamimu, bukan ayahmu. Dan aku kuasa atas dirimu. Berikan perhiasan dan kamu selamat, atau aku tampar lagi sampai kepalamu lepas dari leher. Panggil Masinga, suruh dia keluar dari kubur.... akan kutebas lehernya... Masinga... binatang tua, kakek tua... mampus kamu...”
“Jangan maki ayahku....!”
“Aku maki Masinga, mau apa kamu...? Berikan emas dan perhiasan....!”
Ina bersikeras menolak.
Gorango naik pitam. Dia memaksa. Ina menolak. Ina hendak lari, Gorango menangkap lengan istrinya sembari memukul keras.
Tamparan pertama membuat Ina pusing, kepalanya berdenyut-denyut. Tamparan kedua melempar tubuhnya ke dinding rumah. Ina kalap, sempoyongan dia berlari menuju dapur. Pikiran gelap, amarah menutup akal sehatnya. Dia kembali dengan pisau pemotong ikan di tangan.
Dia menggenggam erat pisau, tampak buku-buku jari tangannya memutih. Dia gemetar, dibalik amarah dan kekalapan tersembunyi rasa takut terhadap suaminya. Tubuh Gorango kekar. Wajah angker dengan kumis tebal dan berewokan. Dada telanjang dengan mulut berbau saguer.
“Berani mengancam aku dengan pisau? Kubunuh kau perempuan sundal!”
Mendengar kata sundal, Ina kalap. Takutnya lenyap. Dia menyerang suaminya dengan tusukan. Gorango mengelak. Ina menyabet. Gorango mengelak, menangkap tangan Ina dan merebut pisau.
Gorango melempar pisau ke dinding, nancap menggetarkan dinding kayu. Lalu dia melangkah dan memukul, tamparan mengenai sisi kepala. Ina merasa ledakan keras dalam kepalanya. Tubuhnya oleng tersandar di dinding, kemudian roboh di tanah. Darah meleleh dari mulutnya.
“Kamu perempuan sial. Kamu tidak perawan waktu nikah, sebut siapa laki-laki yang sudah merampok perawanmu!” Suara Gorango keras, wajahnya bengis.
Ina terkejut. Sesaat dia bingung. Pikirannya masih nanar. Tetapi matanya melotot, dia teriak lantang. “Itu fitnah, kamu sendiri tahu aku masih perawan!”
“Mengakulah perempuan sundal, Tutumole meniduri kamu. Berapa kali?”
“Kamu gila, itu fitnah jahat.” Protes keras Ina terputus.
Tamparan melanda kepalanya, lagi. Ina melihat pijar cahaya, kunang-kunang beterbangan di depan matanya. Ina roboh di tanah.
“Gara-gara kamu hartaku ludes. Kamu membawa sial. Dasar wanita bejat! Seharusnya sejak dulu kucerai.” Suara Gorango makin tinggi.
“Kamu jahat, laki-laki bangsat!”
“Kamu pelacur. Aku ceraikan kamu. talak tiga!” Seru Gorango keras.
Betina dalam diri Ina mengamuk, keberaniannya muncul. “Kamu sudah kawin di Kao, aku tahu tetapi aku diam saja. Kamu culas, penipu!”
“Memang benar aku kawin, dia lebih cantik dibanding kamu. Dan dia perawan, tidak seperti kamu pelacur murahan.” Suara Gorango tajam.
Ina sangat tersinggung. Kehormatannya terinjak-injak. “Aku masih perawan, justru kamu laki-laki lemah, kamu tidak jantan … milikmu lemah…”
Ucapan tidak jantan dan milikmu lemah sangat mengena dalam benak Gorango, selama ini dalam bercinta dia sering gagal memuaskan istrinya. Kelemahannya yang disindir membuat dia ngamuk, amarahnya meledak di ubun-ubun.
Gorango menyepak Ina yang jongkok berusaha bangkit. Tendangan keras melanda dada Ina. “Aaaakhhhhh.......” Ina terpental ke dinding.
“Mampus kamu! Rasakan kejantananku!” Belum puas laki-laki itu menendang lagi, tendangan keras Gorango melanda perut istrinya.
Ina menjerit tangis.... ”Aaaddduuuhhhh....”
Ina tergeletak di lantai, Gorango menendang lagi. Ina berada dalam keadaan sadar dan tidak sadar merasa ada cairan meleleh di selangkangan paha. Dia meraba lalu melihat tangannya. Cairan kental. Darah!
Gorango menyepak lagi, Ina menekuk badannya. Sepakan yang mengarah perut karenanya melanda dada Ina. Perempuan itu menjerit kesakitan.
“Aaaakhhh.....”
Gorango tak perduli, tak punya belas kasihan. Tangan Gorango mencekik lehernya. “Katakan dimana perhiasan kamu sembunyikan. Katakan atau kusepak lagi badanmu, kupatah lehermu.”
Ina ketakutan, tak sanggup berpikir lagi. Rasa sakit menerjang perut dan dada.
“Katakan cepat atau kamu mati!” Bentakan keras mengguncang akal sehat Ina.
“Di bawah tempat tidur. Kaki kiri dekat dinding.” Ina gemetar. Takut akan sepakan lelaki itu.
Gorango lari masuk kamar. Sekejap kemudian dia berlari keluar, sakunya penuh dengan perhiasan dan keping emas.
Ina melihat saku Gorango penuh perhiasan. Semangatnya terbang, amarahnya memuncak. “Penjahat, perampok, laki-laki pengecut. Coba hadapi Tutumole kalau kamu memang jantan.” Suara Ina tinggi. Tidak sadar Ina menyebut nama Tutumole bukan Dullah atau Ahmad kakaknya.
Nama Tutumole membuat Gorango makin beringas. Dia menendang perut Ina, dua kali lagi dengan tenaga penuh. Ina menekuk badannya tetapi sepakan tetap mengena perut dan dada.
Ina berteriak kesakitan. “Aaaddduuuhhhhhh…..”
“Ingat. Aku cerai kamu, talak tiga, talak seratus!” seru Gorango.
Ina berteriak. “Gorango pengecut ...... lemah di ranjang, kamu menantang ayahku, coba tarung awan Tutumole. Aku berani tarohan, Tutumole akan menghajar kamu sampai merayap di tanah.”
Gorango marah tetapi tak berani berlama-lama berdebat, khawatir keluarga Ina datang. “Lebih baik lari.” Gumamnya sambil berlari keluar rumah.
“Gorango pengecut, penipu.... perampok .... kusumpah kamu mati masuk neraka, di dunia kamu jadi budak orang.... “ teriak Ina diikuti tangis kesakitan. Hati Ina sakit lebih parah dibanding sakit fisiknya. Hanya dalam waktu lima bulan setelah kematian ayahnya, Ina harus kehilangan mimpinya. Semula mimpi indah bersuamikan Gorango, kemudian mimpi itu menjadi puing reruntuhan rumahtangganya. “Kamu akan mendapat balasan setimpal di dunia, setiap hari dalam salat aku akan mendoa bencana dan keburukan menimpa kamu.” Bisik Ina dengan bibir bergetar.
Gorango mengayuh perahu menyeberang laut Teluk Kao menuju desa Kao. Saat itu laut kebetulan tenang tak ada ombak.
“Ini semua gara-gara Masinga! Masiiiiiinga!... Maaaasinga! Maaaasinga, Sousoulol busuk, sekarang kau membusuk di kubur, badanmu dimakan cacing. Semasa hidup kau dipuja orang. Tetapi kau tidak pernah menyukai aku, tidak pernah senyum kepadaku, kamu menghina kehormatanku, di depan keluargamu kau tidak pernah menyapa aku... kau malah sering mengancam aku.“ Gerutunya sambil dia meniru suara Masinga. “Awas Gorango, jangan sakiti putriku... Ingat itu.“
Tiba-tiba dia berteriak. “Masinga ... aku tidak takut kamu... lihat apa yang terjadi pada putrimu... kutendang... kupukul... aku tidak takut... keluar kamu dari kubur hadapi aku secara jantan... Masinga pengecut..!“
Gorango mendayung membabi-buta, ingin secepatnya tiba di kampung Kao. Terbayang paras Puni istrinya, membuatnya semakin cepat mendayung. Dia juga takut saudara-saudara Ina menyusul.
Gorango sangat membenci Masinga. Dia mengawini Ina selain memang kepincut kecantikan, mengharap perhatian istimewa dari Masinga. Ingin mertua membanggakan dia di hadapan semua orang. Dia ingin Masinga mengajarinya menjadi sousou. Justru sebaliknya, Masinga tak pernah peduli kehadirannya. Sousoulol memperlihatkan tidak menyukai menantunya.
Semua kebencian menumpuk dalam sanubarinya. Ketika Masinga mati, dia menjadikan Ina sebagai tong sampah tempatnya membuang kotoran. Pelampiasan sakit hati dan dendam ditimpakan kepada istrinya yang tak berdaya.
Beduk magrib menyadarkan Ina dari pingsan. Sesaat dia tidak tahu apa yang terjadi. Pikirannya bekerja, teringat Gorango memukul dan menendang perut dan dadanya. Beberapa saat diam membeku, dia menyesuaikan kondisi pikiran dan tubuhnya.
Kepala, dada, perutnya masih terasa sakit. Dia meraba selangkangan, menemukan darah masih meleleh. Sebagian darah kental melekat di pangkal paha. Dia meraba dada, terasa sakit sampai ke ubun-ubun. Kepalanya masih berdenyut, pusing.
“Aku keguguran.” Dia mengeluh kemudian menangis. Teringat ayahnya. “Jika ayah masih hidup, Gorango tak akan berani memukul aku.”
Selama itu hanya Bido tempatnya mengeluh menangisi nasib buruknya. “Jangan cerita kepada siapa pun, aku percayakan rahasia ini kepadamu.&rdqu
Comments







