Lingon Togutil eps 14
Posted on 20 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 14
“Aku tidak bisa baca.” Karin menatap surat dengan bingung dan malu. Lalu dia menyodor ke tangan Kalai.
Lelaki ini menggeleng kepala, “aku tidak bisa membaca.”
Haji Mansur mengambil surat nikah. “Kalian harus belajar membaca, tidak sulit asal ada kemauan.” Dia membaca isi surat.
Karin tertawa senang. “Terimakasih. Aku simpan.”
“Mulai sekarang kalian berdua bisa tinggal serumah dan tidur berdua.” Kepala Kampung tertawa sambil menatap Kalai. “Besok pagi kamu mulai bekerja.”
Di dalam kamar Karin mengingatkan Kalai tidak boleh meninggalkan dia. Bahkan tidak boleh pergi jauh. “Aku tidak mau dipukul. Kamu tak boleh memukul aku!”
Dini hari udara dingin, embun dan kabut masih bergayut. Terdengar beduk dipukul disusul suara azan.
Karin terjaga. Dia merasakan tangan Kalai memeluknya. Dia tersenyum. Ini hari pertama dia menjalani kehidupan di kampung pesisir. Terasa berbeda dengan suasana kampung Lingon atau di hutan.
Dia menoleh memandang wajah Kalai. Bekas luka di mata kirinya menambah kesan kejam. Kalai tidak tergolong tampan tetapi mengenal dia berhari-hari Karin mengakui laki-laki itu sosok jantan. Tinggi langsing dan gempal, hampir semua anggota badannya berotot. Kuat dan bertenaga.
Dia ingat suatu saat di tengah hutan, dia jatuh terpeleset. Untuk sesaat dia tak mampu bangkit. Matahari senja hampir tenggelam. Malam akan segera tiba. “Kita harus cepat menemukan tempat istirahat yang nyaman dan aman.”
Berkata demikian, tanpa memberitahu Kalai meraih tubuh Karin, mengangkat dan membopong di pundaknya. Dia mengangkat tubuh Karin seperti barang yang tak punya bobot. Beberapa puluh langkah Karin berbisik. “Lai posisi begini aku sulit bernafas, sebaiknya gendong aku di punggungmu.”
Kalai melangkah lebar dengan menggendong Karin di punggung. Karin melingkar kakinya ke badan Kalai, tangannya memeluk leher. Cukup lama baru mereka menemukan tempat menginap.
Tangan Karin mengelus dan menepuk pipi Kalai. “Lai… bangun Lai.. itu suara beduk dan azan.”
Kalai bergerak perlahan, tirai bulu matanya tetap rapat. Dia diam tidak bersuara.
“Lai aku ingin melihat laut, kata orang, matahari terbit dari dasar laut. Cahayanya kuning merah. Lai, antar aku.” Karin turun dari pembaringan.
Tak lama kemudian Kalai menggandeng tangan Karin melangkah menuju pantai.
Karin terpesona indahnya laut. Tak pernah sebelumnya melihat lautan seluas Samudera Pasifik. Selama ini hanya mengenal sungai dan air terjun. Matahari tampak bulat besar dan anggun. Sinarnya berpendar ke segala arah.
Matahari bergerak naik, muncul seutuhnya, sinarnya merah kekuningan. “Lai, lihat indahnya matahari, setiap pagi dia bangun tidur dan mulai menjalankan tugasnya.”
“Apa tugasnya?” Kalai bertanya sinis.
“Memberi kehidupan kepada manusia, binatang, tanaman. Dari pagi sampai malam, jika malam tiba dia tidur, tugasnya diberikan kepada bulan istrinya.”
“Dia tidur? Dasar pemalas, maunya tidur.”
“Lai jangan memaki tuhanku, aku marah.” Karin merengut.
Kalai menghampiri, memeluknya dari belakang. “Jangan marah istriku.”
Karin membalik badan balas memeluk. “Lai, aku bahagia menjadi istrimu.”
“Aku juga bahagia.” Bisik Kalai.
Selama menetap di Watam pasangan itu punya aktifitas rutin. Setiap subuh bermain di laut. Pulang, mereka sarapan kemudian bekerja memperbaiki rumah putri kepala kampung. Karin membantu. Dia cukup tangkas dan cekatan karena terbiasa bekerja di kampung. Siang mereka bekerja, malam istirahat dalam rumah.
Suatu malam Karin minta diajari jurus tarung. “Lai ajari aku tarung.”
“Untuk apa? Aku selalu di sisimu, kamu tak perlu tarung, aku yang akan tarung, membunuh siapa saja yang mengusik istriku.”
Karin ngotot minta diajari ilmu tarung. Kalai pun melatih gerakan singkat menangkis, mengelak dan menyerang balik. Setiap malam sebelum tidur mereka berlatih tarung. Waktu senggang Kalai membuat tombak dari kayu besi.
Terkadang Kalai meminjam perahu kepala kampung. Berdua Karin melaut. Dan Karin semakin kagum akan birunya laut, ombak dan betapa luasnya laut tanpa batas. Dia heran air laut rasanya asin.
“Apa itu di sana? Batas laut? Seberapa jauh?” Karin menunjuk ufuk di Timur.
“Itu batasnya, kalau kita kesana kita bisa jatuh ke bawah.” Kata Kalai.
“Dibawah itu jurang?”
“Pasti jurang, tapi barangkali ada laut yang lain.” Ujar Kalai.
Karin sangat bahagia. Hari ke hari dia makin mencintai Kalai. Kemana Kalai pergi, dia selalu mendampingi. Tanpa terasa lebih dari satu bulan mereka berdiam di Watam. Rumah pengantin rampung. Kepala kampung dan keluarganya senang melihat hasil kerja Kalai.
“Sudah saatnya kita pergi, lebih cepat tiba di Waijoi lebih baik.” Kata Karin. Dia ingin secepatnya bertemu Bido dan Katina, memulai hidup baru.
Siang hari Kalai dan Karin menemui Kepala Kampung dan istrinya. Mereka pamitan. Kalai mengatakan Subaim tujuannya. Sengaja menyebut Subaim untuk menyesatkan informasi demi keamanan Karin.
Esok pagi mereka berangkat. Kepala Kampung membayar empat keping perak.
“Kita ke pantai. Perpisahan dengan laut yang indah.” Karin tersenyum manja.
Kalai tak pernah tidak mengabulkan permintaan Karin. Mereka baru satu langkah keluar rumah, Kalai menahan tangan Karin. Matanya yang tajam melihat empat lelaki berjalan menuju warung makan.
Rombongan itu terpisah seratus meter tetapi Kalai melihat jelas. Dia kenal lelaki yang berjalan di depan, lagaknya pemimpin. Dia melihatnya di Dodaga.
Lelaki itu tinggi besar, kulit sawo matang, rambut lurus panjang sebahu. Gagang pedang menonjol dari balik punggung. Namanya, Babatu. Pembunuh bayaran dan penculik wanita untuk dijual ke kapal asing.
“Celaka, kita harus pergi dari sini, sekarang!” Bisik Kalai.
“Pergi? Sekarang?” Tampak Karin, agak bingung. “Mengapa mendadak?” Dia mengikuti pandangan Kalai. “Siapa empat orang itu?”
“Pembunuh, perampok dan penculik wanita.”
Ketika sebagian warga sembahyang magrib di masjid, Kalai dan Karin menyusup keluar kampung, setengah berlari menyusur sungai Ake Onat.
“Keberadaanmu sangat berbahaya, begitu tahu ada wanita Lingon cantik, mereka akan memburumu. Kita harus jalan malam, mendahului mereka setengah hari.”
Empat lelaki masuk warung, memesan makanan dan minuman. Babatu menyapa pemilik warung. “Dimana kami bisa menyewa rumah untuk nginap tiga atau lima malam.”
“Di belakang ada kamar besar, cukup untuk enam orang, apalagi kalian cuma berempat. Satu hari empat keping perak, sudah termasuk biaya makan.”
Pemilik warung bisa menebak tetamunya adalah petarung. Dari tatapan mata dan gerak-geriknya dia tahu Babatu dan tiga temannya bukan orang baik-baik. Namun uang adalah segalanya, dia ingin warungnya laris.
“Kudengar gadis-gadis Watam semuanya cantik, benarkah?”
“Ada gadis Lingon, cantik, muda dan segar.” Kata pemilik warung.
“Lingon? Sendirian, atau sudah bersuami?”
Pemilik warung menggeleng. “Suaminya orang Pesisir mungkin Togutil. Besok siang mereka pulang ke kampungnya di Subaim.”
Kalai membawa Karin menyusur sungai Ake Onat bagian Utara lereng Watowato menuju Barat. Kalai tahu stamina dan fisik Karin yang sanggup berlari jauh. Keduanya setengah berlari diselingi jalan cepat. Karin mengimbangi pergerakan Kalai.
Lewat tengah malam menjelang fajar mereka istirahat. “Kita harus cepat. Besok siang kita bisa istirahat setelah masuk wilayah Togutil.” Tegas Kalai.
“Kita hadapi dua musuh, petarung Pesisir dan petarung Togutil. Apa rencanamu?” Suara Karin bergetar, ada rasa takut di wajah cantiknya. Terlintas cerita Bido tentang perjanjian sousoulol Tutumole dengan Kayampuni, kepala suku Togutil. Karin tersenyum memikir rencana yang akan dia jalankan.
Fajar menyingsing Kalai dan Karin bergerak lebih cepat. “Firasatku, empat petarung itu mulai mengejar. Kita harus bergerak lebih cepat.” Ujar Kalai.
Menjelang tengah hari keduanya tiba di bagian hutan yang lebih lebat. Banyak pohon kayu dan semak belukar.
Kalai merunduk, telinga menempel di tanah. Dia bebisik kepada Karin. “Empat musuh di belakang, tidak mungkin kita lari terus. Aku akan mencegat mereka. Tugasmu memancing mereka, begitu melihat mereka kamu lari pura-pura pincang, mereka akan mengejar dan saat itu aku akan menyerang.”
Wajah Karin memucat, matanya membelalak takut. “Aku takut Lai… kamu sembunyi dimana?”
“Tidak perlu takut, kalau kamu jalankan tugas dengan baik, aku bisa membunuh dua musuh sekaligus. Dua lainnya tarung terbuka… aku jamin kamu tidak akan terluka.”
Karin melangkah pincang sambil menegok belakang dan sekitar, dia tak perlu pura-pura takut karena memang takut. Bahkan sangat takut. Ketika Kalai membunuh petarung Lingon dia hanya menonton. Kini dia terlibat dalam perencanaan.
Tidak lama kemudian dia melihat empat petarung Pesisir yang berlari dengan pedang terhunus di tangan. Karin melihat bahwa mereka melihatnya. Serentak empat musuh mengejar. Karin berupaya lari dengan menyeret kaki kanannya.
Karin tidak menengok ke belakang, hanya melangkah ke depan. Dia tidak tahu cara Kalai menyerang, hanya mendengar teriak kesakitan musuh.
“Aaaakkkhhhh…”
“Aaakkkhhhh….”
Kalai menyerang dadakan, keluar dari balik pohon, dia menebas dengan pedang panjang. Dua kali tebas. Hanya beda beberapa detik, dua musuh menjerit, kemudian roboh. Mati.
Rencana menyerangnya cukup detil dan sangat cepat. Ketika menyerang dengan pedang, tangan kiri Kalai siap menombak.
Dua musuh lain terkejut, segera pasang kuda-kuda. Selang hanya beberapa detik setelah merobohkan dua musuh, Kalai menombak, kecepatan fantastis. Musuh itu tak sempat mengelak, tombak nancap di lehernya.
“Aaaakkhhh…”
Dia berusaha mencabut tombak, Sia-sia tombak masuk dalam. Dia sempoyongan dan jatuh. Satu musuh lain kalap, menyerang dengan trengginas. Tenaganya besar.
Saat itu Karin menghampiri arena tarung, menggenggam pisau. Dia melihat dua musuh roboh di tanah dan satu lagi agak jauh sedang berkutat memegang tombak yang nancap di leher. Satu lainnya menyerang Kalai dengan ganas.
Serangan itu menghalangi rencana Kalai menombak. Dia melayani dengan pedang. Dua pedang berbenturan.
“Traaannnnnggggg ….”
Tenaga Babatu besar. Pedang juga lebih besar dan lebih berat. Tidak heran Kalai kalah tenaga terhuyung mundur. Babatu bergerak lanjut, menerjang ganas dengan sabetan bertenaga. Dalam posisi itu Kalai terlambat menangkis dengan pedang, hanya bisa mengelak. Pedang Babatu nyaris mengiris dada Kalai yang jatuh terjengkang karena tumitnya terkait akar pohon.
Babatu menerjang lagi.
Karin melihat kejadian Kalai jatuh kena sabetan pedang. Spontan gadis ini yang terpisah dua meter dari Babatu, menghambur ke depan dan melompat. Gerak motorik otot yang terbiasa berolahraga, dua kaki Karin melingkar pinggang Babatu, tangan kiri memeluk dada, tangan kanan mengiris leher.
Irisan dengan tenaga menekan seketika merobek tenggorokan Babatu.
“Aaakkkhhh ….” Babatu teriak kesakitan dan terkejut, tidak tahu apa dan siapa menyerangnya.
Karin tidak berhenti, bagai orang kalap dia menikam dan mengiris leher. Tangan Babatu menggapai ke belakang, tapi sia-sia, Karin tidak terjangkau, melekat di badannya ibarat lintah. Darah menyembur bercucuran.
Babatu sempoyongan jatuh ke samping, dua langkah dari badan Kalai.
Karin ikut jatuh tapi tidak melepas pitingannya. Dia masih menikam. Pisaunya menghunjam leher yang nyaris putus. Badan Karin dibasahi darah musuhnya. Karin tersadar manakala Babatu tidak lagi berontak. Teringat akan Kalai, dia cepat mendorong badan Babatu sambil melepaskan diri.
Tidak berpikir adanya musuh lain, Karin menghambur ke sisi Kalai. Suaminya tidak bergerak, darah membasahi dadanya.
“Laaaiiiii…” Karin menjerit. Menubruk dan memeluk Kalai.
“Lai kamu tidak boleh mati, kamu janji mengantar aku ke Waijoi…. Lai bangun Lai… bangun.. jangan mati…” Karin menangis sambil mengoyang badan Kalai.
Kalai pingsan. Pedang Babatu yang seharusnya memotong, karena Kalai jatuh kesandung akar pohon, tebasan itu luput. Tetapi Kalai jatuh dengan kepala terantuk tanah. Itu yang membuat dia pingsan sesaat.
Peluk tangis Karin telah menyadarkan Kalai yang mendorong Karin, melepas dari pelukan dan melompat bangun. Memandang keliling tidak menemukan musuh, Kalai menatap Karin yang berdiri dengan pisau di tangan.
“Lai kamu tidak mati… syukurlah… “ Karin memeluk erat, tangisnya meledak lagi. Kini Kalai mengelus rambutnya.
“Kamu yang membunuh Babatu…?” Kalai menatap wajah cantik, mata biru yang basah air mata.
Karin mengangguk. “Kamu luka Lai…”
“Tidak ....…”
Karin membersihkan darah Babatu yang membasahi dada dan tangannya serta dada Kalai. Sambil bekerja Karin menutur apa yang dia lakukan saat melihat Kalai roboh.
“Ternyata kamu pemberani, tadinya kukira penakut sebab tiap malam ketakutan dan minta kupeluk.”
Karin melotot. “Kalau malam memang aku takut, juga dingin. Kamu tidak mau memeluk aku lagi?”
“Mau.. mau ...…” Tukas Kalai cepat.
“Awas kamu tidak mau..”
Pertarungan menguras tenaga. Mereka istirahat seperlunya. “Kita jalan terus mengarah Barat, malam kita istirahat.”
Siang hari setelah makan mereka melanjutkan perjalanan.
“Kita masuk wilayah Togutil.” Kata Kalai.
“Benarkah ini wilayah Togutil?” Karin tidak menunggu jawaban, dia bersiul.
Kalai terkejut mendengar Karin bersiul, panjang berirama macam kicau burung.
“Karin, apa yang kau lakukan?” Kalai menatap serius. “Kamu mengundang bahaya. Togutil akan tahu tempat kita.”
“Aku tahu yang kulakukan.” Itulah siul Togutil yang diajarkan Bido kepadanya. Siul tanda adanya hubungan pertemanan, dan keinginan bertemu muka.
Tak lama kemudian terdengar suara dalam bahasa pesisir. “Siapa kalian?”
Kalai berbisik. “Itu Togutil, siap-siap tarung.” Air muka Kalai tegang.
“Kami keluarga Tutumole, Sousoulol Tanjung Lelai, kami tersesat dan dikejar musuh, kami mohon pertolongan kepala suku Kayampuni yang masyhur.” Karin berseru dengan ucapan yang jelas. “Ada perjanjian Sousoulol dengan sahabatnya kepala suku Kayampuni bahwa semua prajurit Togutil tidak boleh melukai keluarga Sousoulol.”
Dari kerimbunan pohon tiga lelaki muncul. “Kami tahu perjanjian itu dan akan kami patuhi. Tapi siapa kamu? Kamu kenal Kayampuni?”
( Bersambung eps 15 )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







