Lingon Togutil eps 12
Posted on 16 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 12
Karin teriak. “Toooolooong .... Lai .... toloooooong…”
Batang pohon bergoyang-goyang.
Tanah yang dipijak bergetar serasa gempa, Karin jatuh terjengkang.
Matanya membelalak menatap raksasa hitam. Dia memejam mata. Tak ada daya, pasrah. Lupa pisau yang masih bergantung di pinggangnya. Membayang sedetik lagi, tubuhnya akan dikoyak. Dia gemetar ketakutan.
Kalai mendekat, kini terpisah sepuluh meter, tak mungkin menjangkau si gadis. Apalagi posisi Berebere berada antara dirinya dengan Karin. Tombaknya bergetar siap dilontar, refleks dia membidik leher. Tetapi leher tersembunyi dibalik rambut gimbal macam ijuk. Tak mungkin membidik jantung, raksasa itu membelakanginya.
Pertimbangan sesaat, detik berikut tombaknya melayang dengan kecepatan dahsyat. Dia lari sambil melempar tombak kedua. Lalu tangannya mencabut pedang panjang dan golok.
Tombak pertama nancap di punggung kanan dekat tulang belikat, Berebere mengerang. “Ughhh… huaaahhh…” Suaranya parau.
Tombak kedua nancap di tulang belikat sebelah kiri. Berebere yang hampir menjangkau Karin, memutar balik badan berupaya mencabut tombak. Sia-sia, tombak jauh dari jangkauan menyebabkan manusia kanibal itu menggerung marah.
“Huuuaaahhh …”
Detik itu Karin membuka mata, melihat apa yang terjadi, melihat raksasa membalik badan. Tampak dua batang tombak nancap dipunggungnya. Dia tahu itulah tombak Kalai. Lalu dia melihat Kalai menyerang Berebere dengan pedang terhunus.
Terdengar gerungan marah Berebere bersamaan seruan Kalai.
“Karin lari …. cepat!”
Tapi Karin tidak lari. Saat itu dia memutuskan membantu Kalai.
“Kalau perlu kita mati bersama.” Karin berlari mengarah Berebere dengan pisaunya di tangan. Tak ada lagi rasa gentar. Keputusannya mantap.
Semua berlangsung dalam hitungan detik.
Pada saat Berebere membalik badan, Kalai sudah tiba dihadapannya. Kalai menyabet, cepat sepenuh tenaga. Berebere belum siap. Seketika perutnya kena sabetan melintang. Dagingnya terkuak, darah muncrat. Tapi pada saat yang sama tangan Berebere melayang. Memukul.
Kalai yang datang dengan kecepatan tak sempat mengelak, hanya bisa melempar badan ke samping. Tamparan Berebere begitu kerasnya sehingga pedang Kalai terpental.
Tangan lain Berebere mencakar.
Gerak Berebere itu sangat cepat karena tenaganya besar. Cakarnya mengena sasaran, Kalai merasa perih di bagian dada. Kuku tangan raksasa itu merobek dada.
Kalai jatuh berguling tetapi cepat bangkit pada saat Berebere menerkamnya. Saat bersamaan Karin menghambur kencang, melompat memeluk punggung manusia buas itu sambil membenam pisaunya ke leher manusia raksasa itu.
Berebere mengeluh, menggeram marah. “Huuuaaaahhhh....” Lehernya robek, darah menyembur dari luka yang menganga, tetapi dia tetap menerkam Kalai. Geraknya tak terhenti, hendak memeluk dan melumat badan Kalai. Jika kesampaian maka badan Kalai akan remuk dipeluk kekuatan raksasa.
Kalai tak bisa menghindar. Tetapi dia harus menahan tabrakan musuhnya. Naluri tarungnya bekerja, dua tangan menggenggam gagang golok menusuk ke depan. Sasaran jantung. Tangan dan lengannya bagai terlepas dari engsel ketika tubuh Berebere menubruk ujung golok.
“Caaassss..." Suara golok menembus daging.
“Huuuaaaahhhh...” Suara geram kesakitan si Berebere.
Kalai bisa merasa getaran goloknya menerobos daging diantara tulang rusuk dan menghunjam menembus jantung Berebere yang mati seketika. Tetapi tabrakan membuat Kalai terjengkang. Sedetik kemudian tubuh Berebere jatuh menimpanya.
Keberuntungan masih berpihak pada Kalai, pada saat kritis dia menggeser tubuh menghindari gagang goloknya. Jika gagang itu mengena badannya, dengan bobot Berebere itu maka tekanan akan berlipatganda dan merusak dadanya. Dia bisa mengelak dari gagang golok namun tak bisa menghindari tubuh Berebere yang menimpanya. Bobot raksasa seratus limapuluh kilo berikut badan Karin yang masih melekat di punggung Berebere memaksa udara dalam paru-parunya tersembur keluar. Pandangannya gelap. Segalanya gelap gulita.
Manusia raksasa dari suku terasing itu mati. Tidak tahu apakah tikaman Karin di leher atau tusukan golok Kalai di jantung yang merenggut nyawanya.
Karin berdiri dengan lutut gemetaran dan nafas terengah. Mulutnya terbuka dengan wajah pucat. Seakan tidak sadar dia memandang pisau di tangannya, darah segar masih menetes dari ujung pisau. Dia terlibat pertarungan mati hidup yang berlangsung cepat. Bagaikan mimpi dia melihat tubuh Berebere menindih badan Kalai.
Keduanya tidak bergerak.
Mati! Dia pasti Berebere itu mati.
Kalai? Apakah Kalai mati?
Karin berteriak histeris. “Laaai… Laaaiiiiii…”
Dia tak mau Kalai mati. Apa jadinya dia sendirian di tengah hutan belantara. Dia juga tidak percaya Kalai mati. Kekasihnya itu terlalu perkasa untuk mati. Susah payah dia mendorong badan Berebere, lalu menarik satu tangan raksasa itu. Perlahan-lahan badan Berebere mulai bergeser.
Karin makin bersemangat memerhatikan dada Kalai yang bergerak perlahan, tanda lelaki itu masih hidup. Dia meraba nadi di leher. Ada denyut.
“Lai kamu masih hidup…. Bangun… sadar…!” Dia mengguncang wajah Kalai.
Perlahan-lahan mata Kalai membuka. Dia menatap Karin.
“Kamu selamat… apakah kamu luka?” Kalai bertanya.
Karin terharu bahwa pertama-tama Kalai menanyakan keselamatan dirinya. Dia mengangguk dan senyum. “Aku selamat. Kamu telah membunuh Berebere.”
Lelaki itu mendorong badan Berebere, Karin membantunya.
Kalai berdiri. Dadanya penuh bercak darah. Darah si raksasa dan juga darahnya dari luka cakar di dadanya.
“Lai.. kamu luka..” Karin meraba, memeriksa dada Kalai. “Harus cepat dibersihkan.”
Karin memandang keliling dan menemukan rimbunan rotan. Dengan pisau dia memotong tiga potong rotan pece[1]. Cekatan dia memotong ujung rotan dan menuang air dari rongga rotan ke dada dan perut Kalai.
Hati-hati dia membersihkan luka dan darah sekitarnya. Ada empat goresan melintang di dada. Dua di tengah mengoyak daging. Tampak mengerikan dan masih mengeluarkan darah. Karin bingung.
Selama beberapa saat Kalai menikmati paras cantik dan elusan lembut di dadanya.
“Lukamu parah.” Karin berbisik lembut. Tadi Karin sempat memeriksa kuku tangan Berebere, panjang keras dan warnanya hitam kehijauan.
“Kamu luka dicakar. Tangan dan kuku Berebere itu kotor dan hitam, kukunya pasti beracun.” Tuturnya serius.
“Sesungguhnya bukan racun kalaupun racun pasti racun ringan, aku punya ramuan anti racun.” Suara Kalai lirih.
Ketika bergerak hendak bangkit, lukanya berdarah lagi.
Karin mencegah. “Jangan bergerak, lukamu berdarah lagi….”
“Aku mau ambil ramuan dari buntalanku.” Kata Kalai.
Dibantu Karin, susah payah Kalai berdiri. Dia lalu mencabut goloknya dari tubuh Berebere, dua tombaknya tak perlu dicabut sebab mata tombak terlalu dalam masuknya. Dia membuka buntalan, mengeluarkan tabung bambu ukuran kecil. Menuang bubuk ke tapak tangan, lalu menabur di luka.
Karin memungut pedang lalu mendekati Kalai, berbisik lirih. “Mengapa nekat menyerang Berebere, kamu bisa mati.”
“Berebere akan membunuhmu. Aku tak mau kamu terluka.”
“Kamu bisa mati!”
“Mati pun aku sedia, diriku adalah milikmu. Aku harus menolong kamu, itu janjiku selalu melindungi kamu.” Kali ini dia memberanikan diri menatap lama-lama mata biru si gadis. Mata itu begitu bening sehingga Kalai bisa melihat bayangan wajahnya dalam mata si gadis.
Sepasang mata biru bening menatap tajam. Jantung Karin berdegup kencang. “Dia sangat mencintai aku.” Tiba-tiba kilatan cahaya menerobos pikiran Karin. “A... aku ... aku juga mencintainya.... oh ..oh.. aku mencintai Kalai...”
Karin menatap Kalai menemukan kesungguhan dan kejujuran dalam mata penolongnya. Kini dia yakin cintanya kepada Kalai dan cinta lelaki itu kepadanya. Gadis Lingon itu merasa bahagia.
Karin tersenyum sambil mengelus dada Kalai.
“Tadi aku bangun pagi, kamu masih tidur, aku pergi ke sungai. Usai mandi aku merasa ada orang ngintip, aku lari ketakutan tapi tak menemukan jalan kembali, aku mencari-cari dimana tempat kita tidur.”
“Bagian yang kamu lewati termasuk angker, itu wilayah pemukiman hantu. Tidak heran kamu tersesat.” Tutur Kalai.
“Anak sungai tidak jauh dari tempat kita bermalam.” Karin penasaran. “Seharusnya aku tidak akan tersesat.”
“Hutan penuh misteri, di beberapa bagian dihuni hantu, semacam perkampungan kecil yang dihuni keluarga hantu, tanpa dibekali mantra seseorang akan tersesat.”
“Kamu tidak tersesat, kamu punya mantranya?”
“Semua pejalan hutan punya mantranya, itu sekadar minta ijin lewat dan berjanji tidak akan mengganggu mereka.” Tutur Kalai sambil menatap paras cantik Karin.
“Kalau tidak kamu tolong, pasti aku tidak bisa keluar dari wilayah ini.”
“Banyak orang tersesat selama-lamanya.” Tutur Kalai.
Paras Karin memucat.
“Ayo kita jalan.” Kalai meringis, lukanya terasa perih, ramuan mulai bekerja.
Paras Karin tampak khawatir. “Lukamu sakit?”
“Tidak sakit.” Kalai menatap paras cantik si gadis.
“Mengapa menatap aku?”
“Kamu cantik.”
Pipi Karin bersemu merah, disanjung cantik. “Berulangkali kamu memuji aku cantik. Benarkah aku cantik?”
“Kalau kamu jadi istriku, setiap pagi aku akan memuji kecantikanmu.” Kalai memegang tangan Karin yang terasa dingin dan gemetar.
Karin terdiam.
“Mengapa tanganmu gemetar?” Kalai berbisik.
“Aku tidak tahu.”
“Mau kamu jadi istriku?”
“Lai jangan desak aku… ada waktunya aku akan menjawab…..”
“Aku sangat menginginkan dirimu Karin… dan aku menunggu jawaban.”
“Selama menunggu kamu tidak meniduri aku, tidak memaksa aku?” Karin membayang milik Kalai yang ereksi tadi pagi. “Aku tahu kamu sangat terangsang ketika memeluk aku.”
“Janjiku padamu, aku tidak akan memaksa…” Kalai merasakan dusta dalam kalimatnya. Sesungguhnya dia sangat berhasrat memaksa. Dia menghela nafas panjang dan melepasnya dengan hembusan keras.
“Kamu marah?” Bisik Karin sambil menatap tajam.
( Bersambung eps 13 )
Kalai menggeleng. “Tidak mungkin aku marah. Aku sangat mencintaimu.” Dia meraih tangan Karin. “Kita lanjutkan perjalanan.”
Karin masih ketakutan. “Jangan tinggalkan aku, aku takut.” Dia merapat dan memeluk lengan Kalai tanpa bermaksud menggoda. Lengan Kalai menggencet dadanya. Badannya masih gemetar dan berkeringat dingin.
Teringat pertarungan tadi Karin merasa takut. Dia merasa tidak perlu beritahu Kalai bahwa dia terlibat dalam pertarungan dan menikam leher Berebere itu. Dan Kalai tidak pernah tahu bahwa Karin telah mengadu jiwa ikut dalam tarung.
“Lai aku tak bisa melihat jelas… kabut tebal dan udara dingin.”
Kalai tahu mereka masih dalam wilayah angker. Dia bisa melihat dan tidak merasa dingin karena mantra yang dirapalnya. Tetapi Karin sangat terpengaruh. Jika tidak dituntun Kalai dipastikan Karin tak mungkin bisa keluar dari wilayah angker itu.
“Kamu akan melihat jelas jika telah keluar dari wilayah angker ini.”
Karin tak mau melepas himpitannya, dia memeluk lengan Kalai dan merapatkan ke dadanya. Keduanya jalan berimpitan, Kalai merasakan goncangan payudara Karin yang kenyal menghimpit lengannya.
Keluar dari wilayah angker, penglihatan Karin normal kembali. Dia bisa melihat jelas. “Kabutnya hilang.” Serunya gembira.
“Kita telah keluar dari wilayah angker.” Kalai berbisik.
Karin memutar badan, kini berhadapan. Dia lalu merangkul Kalai, menghimpit badannya ke tubuh Kalai yang keras. “Kamu benar-benar melindungi aku…” Desisnya.
Dua tangan kekar itu memeluk erat tetapi tidak sepenuh tenaga. Dia merasakan badan Karin yang kenyal. Ketika pertama kali memeluk Karin saat menuruni lereng Watowato perasaan Kalai tidak bergejolak. Kini lain, rangsangan birahi terasa sampai ke ubun-ubun.
“Tadi kamu katakan mencintaiku, sangat mencintaiku. Benarkah demikian?” Karin berbisik.
“Benar. Aku sangat mencintaimu.” Kalai mencium rambut Karin. “Dalam keadaan biasa aku tak akan berani menantang Berebere, tetapi saat jiwamu terancam, aku tidak lagi memikirkan mati atau hidup.”
“Apakah cintamu itu murni atau karena nafsu ingin meniduri aku?”
Kalai diam. Tersinggung.
Tahu lelaki itu tersinggung, Karin mendesak. “Jangan marah, aku bertanya karena ingin kepastian.” Dia memeluk lebih erat, menghimpit dadanya ke dada Kalai.
Kalai berkata lirih. “Cintaku murni, aku ingin hidup bersamamu selama-lamanya sampai di hari tua, tetapi sejujurnya aku sangat berhasrat meniduri kamu.”
“Aku suka kejujuranmu.”
“Apakah kamu juga mencintaiku?”
Karin tertawa lirih, tawa menggoda. “Itu rahasia. Kamu tunggu jawabanku.”
“Sampai kapan?”
Karin tertawa lagi. “Sabar menanti jawabanku, kamu pahlawanku, pelindungku, aku pasti tidak akan mengecewakan kamu.”
Tiba-tiba Kalai merasa pusing, malu-malu dia berkata. “Karin, aku lelah, ingin tidur.” Dia melangkah ke pohon besar dan rindang. Sempoyongan dia menahan bobot badannya dengan berpegangan batang pohon.
Karin memapah lelaki itu duduk yang kemudian berbaring telentang.
“Kamu sakit?” Karin berbisik.
“Hanya mengantuk, ingin tidur.” Kalai berkata lirih. “Tidak lama.”
Karin mengatur posisi duduk lalu mengangkat kepala Kalai. “Rebah di pangkuanku Lai…” Tangannya mengelus kepala dan rambut Kalai, elusan yang penuh rasa cinta. “Oh ibu... akhirnya aku menemukan cintaku. Aku mencintai lelaki ini.”
Saat berikut Kalai memejam mata.
Tangan Karin meraba dada sekitar luka, terasa panas. Kening dan lehernya juga panas. Ingat akan ajaran bibi Titam, itulah tanda demam disebabkan keracunan. Benar dugaannya kuku jari tangan Berebere mengandung racun. Kuku yang kotor tidak pernah dibersihkan menyimpan kotoran yang berubah menjadi racun ganas.
( Bersambung eps 13 )
[1] Rotan pece : rotan hijau masih muda yang menyimpan air rembesan hujan. Rotan liar hanya ada di hutan.
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







