Lingon Togutil eps 11

Posted on 16 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 10

 “Terimakasih kamu mau menahan diri…”

Mereka tidur. Tengah malam Karin terjaga mendengar suara tenggorokan Kalai seperti orang yang dicekik dan kehabisan nafas.

            “Uuuughh …uuughhh… uuuugghhh….”

            Di tengah malam yang sunyi lengang, suara Kalai terdengar menakutkan. Mirip orang sekarat. Suara kesakitan dicekik orang.

            Karin tahu lelaki itu dicekam mimpi buruk yang mengerikan. Dia bertindak cepat mengguncang bahu Kalai. “Lai… Lai…. Bangun… bangun.”

            Berulangkali dia menggoyang keras badan Kalai. Dan lelaki itu masih saja tidak sadar bahkan mengerang kesakitan. Seketika Karin tahu Kalai kena sihir kuat, semacam teluh. Wajah Kalai merah. Tidak tahan berlama-lama Karin memukul wajah Kalai. Keras. Dua kali dia menampar. Belum juga sadar, Karin memukul lebih keras.

            Lelaki itu terjaga, gerakan spontan dua tangan bergerak nyaris menyakiti Karin. “Apa? Ada apa? Mana musuh?”

            Kalai duduk, matanya menatap Karin yang tersenyum.

            “Bagus kamu bangun, tadi kamu seperti dicekik orang. Pasti mimpi buruk!” Karin duduk memandang si lelaki. “Maaf aku terpaksa memukul supaya kamu sadar. Kamu mimpi apa? Lihat mukamu berkeringat padahal udara sangat dingin.”

            “Setan mencekik aku, niatnya membunuh. Tangannya banyak, mukanya banyak, mulutnya berdarah-darah, giginya tajam. Aku melawan tetapi kalah tenaga.” Kalai menatap Karin dengan pandangan terimakasih.  “Kamu selamatkan aku, terimakasih Karin. Jika tidak terjaga aku pasti mati.”

            “Pasti itu sihir dari dukun Lingon. Aku pasti. dukun Cucuru, dia belajar ilmu dari Jou Guwo[1], ilmu sihirnya tinggi.” Tutur Karin.

            “Aku pernah mendengar ilmu sihir itu, tetapi mungkinkah dia bisa melakukan dari jarak jauh. Lagipula dia tak mengenal aku.” Tukas Kalai.

            “Dia sanggup melakukan itu. Ilmu sihirnya tinggi. Tetapi kali ini sihirnya gagal, pasti kamu punya pampele[2], tanpa pampele tadi kamu pasti mati.” Kata Karin.

            “Mengapa sihirnya tidak mengganggu kamu.”

            “Hanya kamu yang disihir, jika kamu mati, aku akan kehilangan pelindung sehingga mudah ditawan.”

            “Ilmu sihirnya hebat.”

            “Cucuru memang hebat, dia juga petarung kuat, dia orang nomor satu di kampung, seharusnya menjadi kepala suku, tetapi dia tidak bersedia.”

            “Aku harus hati-hati, barangkali dia akan mengulang sihirnya.”

            “Kurasa tidak. Cucuru punya kehormatan, sekali gagal, dia tidak mengulang kedua kalinya.”

            Kalai menatap tajam Karin. “Dia akan menyihir kamu!”

            Dia tidak memusuhi aku.”

            “Aku senang, artinya kamu aman dari sihirnya.” 

            “Sudahlah, tidak perlu membicarakan Cucuru. Malam masih panjang. Sebaiknya lanjutkan tidur.” Tegas Karin.

            Keduanya siap-siap tidur.

            “Lai peluk aku … dingin..”

            Kalai memeluk erat. Karin merapat.

            “Kamu terangsang?” Bisik Karin.

            “Benar. Sangat terangsang.”

            Karin tertawa kecil, menggoda. “Ingat janjimu.”

Hari 2

Kalai dan Karin melanjutkan perjalanan menyusur sungai Ake Fumalanga, menuju ke arah matahari terbit. Keduanya berjalan di tepi sungai, kaki memijak air untuk menghilangkan jejak.

            Sore hari mereka berhenti.

            “Kita tidur di tanah, mengapa tidak mendirikan gubuk.”

            “Tak boleh ada jejak.”

            “Kemarin kita tidur di gubuk.”

            “Gubuk yang kemarin sengaja untuk menipu, membuat mereka mengira kita ke arah Barat, ke Gurua. Tetapi tadi kita ganti arah, kita menuju Timur. Itu sebabnya kita tidak boleh mendirikan gubuk, tidur di tanah lebih mudah menghapus jejak. Di tengah jalan nanti, kita ganti arah ke Utara ke sungai Akelamo dan seterusnya ke Watam.”  

            Karin memuji. “Kamu pintar. Aku tidak kenal jalanan hutan, tetapi rencanamu itu bagus. Apakah pasti mereka tertipu?”

            “Untuk sementara mereka tertipu, pada saat mereka sadar, mereka telah kehilangan waktu satu hari penuh, mungkin juga dua hari.”

            Kalai mencari tempat strategis diantara dua pohon besar. Mereka gotong-royong membersihkan tanah dan mengalas dengan daun-daun kering.

            Karin merenung, menatap sinar matahari senja yang menerobos kerimbunan hutan. Dia ingat cerita Kalai tentang ibunya yang diperkosa.

Mereka tidur. Ada jarak di antara mereka. Udara dingin. Angin malam mengiris tubuh. Karin menggigil kedinginan. Dia gelisah. Perlahan-lahan dia menggeser badan masuk wilayah tidur Kalai.

“Peluk aku Lai… aku kedinginan.” Sesungguhnya dia juga takut.

Kalai merangkul badan si gadis.

Karin berbisik. “Lai, peluk aku seperti memeluk adikmu. Jangan berbuat lebih dari itu. Jangan merayu aku.”

“Hanya memeluk, tidak boleh lebih?”

Ya.... Tidak boleh lebih.”

“Baiklah.” Kalai mengeluarkan tabung kecil. Dia melepas tutup lalu mencurah sebagian isinya ke mulut. Aroma saguer menyebar.

“Itu saguer?” Karin bertanya.

“Benar. Lebih keras dari biasanya karena kucampur dengan ramuan. Kamu mau?”

Karin menggeleng. “Tidak.”

“Mengapa tidak. Bagus untuk menghangatkan badan.”

Karin tertawa menggoda. “Aku akan mabuk. Dan aku akan mengajak kamu bercinta, itu yang aku tidak mau.”

“Aku tidak layak bercinta dengan kamu.”

“Mengapa tidak layak?”

“Kamu cantik bagaikan bulan, aku miskin dan wajahku buruk. Aku tidak punya rumah, tidak punya perahu. Tetapi aku punya simpanan, suatu hari kelak akan kuberikan semuanya kepadamu.

“Udara dingin, aku ngantuk.” Suara Karin terdengar manja. “Lai… peluk aku…”

Keduanya tidur berpelukan, saling menghangatkan badan. Karin tidak khawatir, dia yakin meskipun Kalai terangsang tetapi lelaki itu tidak bertindak lebih.

 “Lai peluk aku…. dingin… “ Karin merapat. Sesungguhnya tidak hanya dingin tetapi Karin takut kegelapan dalam hutan. Bunyi binatang kecil, kesiuran angin, gelapnya malam dan bayangan diburu para petarung Lingon. Dia takut. Dan hanya nyaman dalam pelukan lelaki kekar itu. Dia tahu Kalai akan melindunginya sebagaimana janjinya, dia percaya Kalai tak akan ingkar janji.

            Kalai merasa birahinya memuncak, tetapi dia harus mengendalikan diri. Dalam hati dia merasa nyaman memeluk badan gadis cantik itu. “Badan Karin sintal dan kenyal, aku harus memiliki dia selama-lamanya. Tetapi apakah dia mau jadi istriku?”

            Dia meneliti wajah Karin yang tidur pulas. “Cepat sekali dia pulas. Aku sulit tidur, mengendalikan rasa birahi, membayang kecantikan wajah dan badannya yang molek, aroma badannya yang khas.”

            Lewat tengah malam Kalai tertidur, pulas. 

Hari 3

Menjelang pagi, remang-remang sinar fajar membayang di balik pepohonan. Udara sangat dingin, angin berembus sepoi. Dua anak manusia itu tidak lagi berpelukan. Karin terjaga. Selimut tidak lagi menyelimuti dirinya. Bulu-bulu halus di lengan dan badannya tegak merinding, dingin. Dua tangan memeluk dada sambil merapatkan dua kaki.

            Matanya melirik lelaki penolongnya yang tidur lelap di sampingnya. Tanpa sengaja dia memandang milik Kalai yang sembunyi dibalik celana, milik lelaki itu ereksi.   Mulutnya terbuka, antara kagum dan heran. Birahi menggugah dirinya, Karin memaling mukanya namun bayangan itu melekat di benaknya.

            “Tidak heran sebab badannya tegap.” Karin tersenyum.

            Karin bergerak perlahan. Tanpa suara. Dia menjauh dari lelaki itu yang masih pulas. “Heran. Dia masih pulas.”

            Karin melangkah perlahan. Dia masih ingat letak anak sungai kecil yang hanya terpisah duapuluh meter dari tempat mereka tidur. Dia ingin mandi, menyegarkan badan, membuang bayangan kelaki-lakian Kalai ke dalam air mengalir. Milik Kalai seperti memeta dalam benaknya.

            Tiba di sungai kecil yang merupakan anak sungai  Fumalanga tanpa ragu sedikit pun Karin membuka kemeja dan berendam di air dingin. Dia merasa segar, pikirannya jernih kembali. Dia memandang keliling, hutan lengang hanya suara kodok dan kicau burung. Tidak ada orang.

            “Benarkah tidak ada orang?” Karin bergumam. Angin semilir menggoyang dedaunan pohon kayu dan semak-semak menimbulkan suara asing. Saat berikut firasatnya berkata ada orang mengintai.  Agak panik Karin mentas dan mengenakan kemeja terburu-buru. Bulu kuduknya merinding.

            Dia melangkah cepat, setengah berlari sambil berpaling ke belakang. Tak ada siapa pun. Tetapi firasatnya berkata lain. “Ada orang!”

            Memang dia merasa seseorang berada di belakangnya. Saking takutnya dia berlari, saat yang sama dia mendengar langkah seseorang mengejarnya. Dia berpaling ke arah suara, tidak ada orang. Dalam keadaan panik dia tidak memerhatikan arah. Dia semakin panik mengetahui kehilangan arah. Tidak tahu posisi tempatnya bermalam.  

            Spontan Karin berteriak. “Lai…! Kalai…!! Tolong … tolong…!!”

            Karin tersesat. Tanpa sadar dia masuk wilayah angker yang menyimpan misteri hutan. Tanpa dibekali ilmu pampele seseorang akan tersesat di wilayah itu. Karin panik dan berlari terus.

 Kalai terjaga dari tidur lelapnya. “Mengapa tidurku begitu pulas, tidak biasanya.” Dia duduk merenung, saat berikut sadar Karin tidak berada di sampingnya.

            “Kemana Karin…?”

            Dia merapikan bekas tidur, menghapus jejak, memasukkan selimut dalam buntalan dan mengikatnya di punggung. Dia siap-siap melanjutkan perjalanan.

            “Mana Karin…?” Kalai bertanya-tanya.

            Saat itulah dia mendengar teriakan Karin, sayup-sayup.

            “Lai…! Kalai…!! Tolong … tolong…!!”

            Suara itu sayup dan terdengar jauh. Kalai curiga. “Tidak mungkin Karin berada jauh dari tempat bermalam.” Spontan dia merapal mantra, seketika tahu bahwa Karin tersesat masuk wilayah hutan angker. Wilayah yang dihuni keluarga hantu.

            Firasat mengatakan Karin dalam bahaya, dia berlari cepat mengarah asal teriakan Karin. Setahunya jika terlalu lama berada di wilayah angker itu seseorang bisa menghilang selamanya, artinya jasadnya tak akan ditemukan oleh manusia lain.

            “Karin … tunggu …  aku menjemputmu…” Suara Kalai keras namun Karin mendengarnya sayup-sayup.

            Karin berseru lebih keras. “Lai... tolong aku...tolong...”

            Tidak lama berlari Kalai tiba di kerimbunan pohon Boulamo. Dia merasa getaran halus di badannya, bulu roma berdiri. Dia tahu sudah memasuki wilayah angker. Tidak berlama-lama dia langsung membaca mantra diikuti ungkapan merendah kepada sang pemilik wilayah.

            “Aku tidak akan mengganggu, aku mohon ijin masuk wilayahmu untuk menolong calon istriku. Perkenankan aku lewat.” Kalai berkata lirih.

            Beberapa saat Kalai diam, mematung menanti reaksi alam. Tidak ada tanda dan isyarat sesuatu pun. Suasana hening, sunyi dan sepi. Tidak bisa menanti lagi, dia menetapkan keputusan.

            “Terimakasih atas ijinmu…” Serunya.

            Kalai berlari. Dia berhenti sejenak, mencari-cari arah yang benar.

            Mendadak pandangannya menangkap pergerakan. Tidak jelas apa itu karena terhalang pepohonan. Dia bergerak mencari sudut pandang ideal. Bersamaan dia mendengar suara hentakan yang mendatangkan getaran, mirip batu besar jatuh ke tanah.

            Telinganya menangkap suara napas berat macam orang mendengkur. Memasang mata lebih fokus, tampak sosok manusia tinggi besar sedang bergerak ke depan, menjauh dari tempatnya berdiri.

            Agak jauh, terpisah duapuluh meter, tampak punggung dan pantat telanjang orang itu. Tinggi besar, jauh lebih besar dari orang biasa. Timbul rasa takut. Tubuhnya gemetar. Dia yakin, orang itu dari suku Berebere.

            Benar cerita orang yang selama ini dianggapnya sekadar dongeng, tubuh manusia kanibalis itu sangat besar. Kulit hitam, rambut gimbal macam ijuk, tinggi dua meter, berat badan sekitar seratus limapuluh kilo.

            Mata Kalai meneliti sekitar, Berebere hanya sendiri. “Kata orang Berebere selalu berkelana seorang diri,” gumamnya lirih. “Tetapi biasanya  berkeliaran sekitar lereng gunung Isalai, bagaimana mungkin dia berada di sini. Apakah dia tersesat?”

            Kalai tidak bergerak, takut ketahuan. Dia berniat mundur, siap-siap akan lari menghindar. Lantas di kejauhan dia melihat sesuatu yang mengilat kena sinar matahari pagi. Memperhatikan lebih teliti ternyata warna pirang kecoklatan rambut dan kepala seseorang. Lalu sosok itu muncul dari balik pepohonan.  

            Itu gadis pujaannya! Karin!

            Raksasa Berebere sedang menuju ke arah Karin!

            Tubuh Kalai menggeletar, takut dan khawatir. Batal kabur, dia berteriak keras. ”Karin, awas! Berebere dekatmu!” Sambil dia berlari menuju raksasa hitam.

            “Aku harus menolongnya!”Bisiknya. Hilang takutnya, dia bertekad menyabung nyawa menolong gadis pujaannya.

            Teriakan itu mengejutkan Karin yang berpaling dan menoleh arah datangnya suara. Pandangannya terbentur pada sosok Berebere yang lari menghambur ke arahnya. Terkejut, tak pernah terbayang akan bertemu sosok tinggi besar yang ditakuti orang. Dia pastikan itulah Berebere! Selama ini hanya mendengar ciri-ciri raksasa hitam, kini dia melihatnya langsung.

            Ini bukan lagi dongeng, ini nyata. Kakinya gemetar, ketakutan. Tidak hilang akal dia berlindung ke balik pohon besar. Dia teriak histeris saat raksasa memburu ke arahnya dan menabrak pohon.

            Karin teriak. Toooolooong .... Lai .... toloooooong…”

( Bersambung eps 11 )



[1] Jou : Tuanku, junjunganku. Guwo : Deddemit, iblis yang sanggup menampakkan wajahnya yang seram.

[2] Pampele : Pelindung badan, tameng spiritual.

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com