Lingon Togutil eps 9

Posted on 13 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 9

Bab Tiga

“Sekarang Aku Istrimu...”

Kalai lahir di kampung Togutil wilayah Gogolomo, ayahnya Kipatoma petarung paling mumpuni dan kejam, ibunya Nini, gadis cantik yang jadi kembang sukunya. Usia lima tahun dia ikut orangtuanya pindah ke pulau Togalaya, pulau terpencil di  Timur Tobelo.

            Kalai berusia duabelas tahun ketika suatu malam tiga lelaki menyerbu rumahnya, membunuh kakaknya. Mereka bergantian memerkosa ibunya, lalu membunuh wanita itu.

            Mereka menyiksa Kalai tapi membiarkan tetap hidup. “Ceritakan pada ayahmu, namaku Ragamanota. Dia tahu kemana harus mencari kami tiga bersaudara. Katakan, kami puas memerkosa ibumu. Cerita orang tentang wanita Togutil yang cantik menawan ternyata bukan omong kosong.

            Dua hari kemudian Kipatoma pulang. Kalai menceritakan semuanya. Tak ada yang ditutupinya. Kipatoma diam seribu bahasa, gemetar menahan amarah.

            Dia menyuruh putranya bebenah, “kita pergi sekarang

            Berdua pergi ke Utara, kampung Tutua. Kalai heran, ayahnya yang petarung ulung, tidak menuntut balas kematian keluarganya. Malah melarikan diri. Tetapi dia tak punya keberanian bertanya.

            Kalai menetap di Tutua bersama ibu tirinya, Maisani. Dari Maisani, Kipatoma dikaruniai 3 anak, Getenpiri, Khalid dan Ayati. Sejak hari itu Kalai berlatih keras. Tak ada waktu istirahat. Latihan spartan itu menjadikan Kalai mahir bertarung dengan tangan kosong dan berbagai macam senjata khususnya tombak dan pedang.

            Tidak hanya di Tutua, Kipatoma juga sering membawa Kalai berlatih dan menjelajah hutan. Dalam waktu tertentu Kalai juga mendapat latihan dari dua kakak Maisani yakni Gamcako dan Korako.

            Tigabelas tahun berlalu. Sosok Kalai tegap dan kekar, melebihi sang ayah. Dia menjadi petarung handal. Suatu hari Kipatoma berkata, suara dingin tanpa emosi. “Besok kita berangkat, mencari pembunuh ibu dan kakakmu, masih ingat namanya?”

            “Ragamanota! Aku tidak pernah lupa wajahnya.”

            “Kamu sangat membencinya?” Kipatoma menatap putranya.

            “Biarkan aku yang membunuhnya. Tetapi  mengapa baru sekarang ayah balas dendam? Bukankah tigabelas tahun lalu seorang diri ayah bisa melakukannya?”

            “Dulu, kami bertarung mati hidup, aku sendiri menghadapi Ragamanota dan dua adiknya. Dua adiknya mati kubunuh, Ragamanota luka parah tapi sempat meloloskan diri. Dia menyimpan dendam. Dia bersama dua kakaknya yang membunuh ibumu. Mereka licik, menyerang saat aku tak ada di rumah.”

            “Camkan Kalai, kamu harus bisa mengendalikan diri pada saat marah. Meski amarah tidak tertahankan lagi, tetap harus dikendalikan. Waktu itu aku marah, ingin mengejar dan membunuh mereka. Tapi aku tahu, mereka menyusun rencana, sengaja memancing dan menunggu. Mereka siapkan jebakan maut. Jika mengejar ke sana, pasti aku terbunuh.”

            Diam sejenak, menatap putranya dengan bangga kemudian melanjutkan.

            “Dia ingin aku datang, tapi aku tidak datang. Selama itu dia gelisah, berpikir mengapa aku tidak muncul, hari ini setelah tigabelas tahun berlalu aku datang mencarinya. Dia tak mengira aku datang.” Kipatoma berhenti sesaat, menengadah memandang langit. “Selama tigabelas tahun aku selalu mengingatmu, Ragamanota.”

            Kalai diam, memandang ayahnya dengan kagum. Ayahnya tidak hanya melatih ilmu tarung juga mengajar falsafah hidup dan cara berpikir sebagai petarung.

“Kamu sudah lengkap sebagai petarung, tetapi itu saja tidak cukup. Harus punya naluri membunuh. Ada kisah petarung yang memukul jatuh musuhnya, tetapi dia tidak membunuhnya karena rasa kasihan. Ketika dia berbalik badan, musuh itu menikamnya dari belakang. Sebelum mati dia menyesali kebodohannya. Tetapi terlambat.”

Kalai mengingat cerita ayahnya.

            Kipatoma menatap putranya. “Kita bagi tugas, kamu bunuh Ragamanota, aku bunuh dua saudaranya. Ini pertarunganmu yang pertama, jangan mengasihani musuh, bayangkan kembali kematian ibumu, agar  timbul  kebencian terhadapnya.”

            “Akan kutombak dan membiarkan dia mati perlahan. Aku ingin melihat dia kesakitan di ujung hidupnya, ayah.” Suara anak muda itu dingin.

            Hari masih siang ketika mereka tiba di desa kecil dan terpencil di tepi pantai dimana Ragamanota hidup bersama keluarganya.  Kipatoma dan Kalai memakai caping yang biasa dipakai para nelayan untuk menangkal sengatan matahari.

            Kipatoma menjinjing bungkusan kecil berisi sagu, tangan lainnya menjinjing  tiga ekor ikan cakalang. Gagang pedang mengintip dari pundaknya. Satu tangan Kalai  membawa buntalan, tangan lainnya mencekal lima batang tombak. 

Kipatoma berseru. “Bapak Ragamanota, kami mengantar ikan dan sagu.”

            Ragamanota dan istrinya keluar. Si laki-laki bersandar di tiang serambi. Dia tak mengenali Kipatoma yang separuh wajahnya tertutup caping. Dia tersenyum,  tak ada curiga sedikitpun, karena itu kebiasaan seseorang memberi bingkisan kepada orang yang dihormati. Ragamonata memang dihormati di desanya.

            Dua anaknya, usia dua puluhan, ikut  mendampingi. Dua kakak Ragamanota yang tinggal di rumah sebelah, juga  mendekat.

            Kipatoma senang melihat tiga musuhnya berkumpul.

            “Ragamanota, sudah lama kamu menunggu aku.” Suara Kipatoma tidak keras, tetapi dingin menusuk.

            Bagi Ragamanota, suara itu bagai halilintar. Dia terkejut, hendak siaga, tapi tak punya waktu lagi karena bersamaan Kalai melepas empat tombak ke tanah, melontar satu tombak lainnya. Tombak melayang dalam kecepatan tinggi. Saat yang sama Kipatoma menyerbu istri berikut dua putra musuhnya.

            Gerakan ayah dan anak sangat cepat, seketika tiga nyawa melayang.

            Ragamanota belum mati, masih berdiri dengan tangan memegang tombak yang nancap di tenggorokannya. Tembus hingga belakang leher. Serangan tidak berhenti. Kalai membungkuk meraih tombaknya yang tadi dijatuhkan di tanah.

            Dua saudara Ragamanota mengenal musuh lama. “Kipatoma pengecut, kubunuh  kamu!” Keduanya menyerang dengan senjata golok. Tetapi hanya beberapa langkah saja, satu roboh kena tombak Kalai. Satu lainnya mati ditebas Kipatoma.

            Dua pemuda berusaha membantu. Tetapi kecepatan Kipatoma dan Kalai tak bisa ditandingi. Keduanya rubuh bersimbah darah.

            Pertarungan selesai dalam sekejap. Tujuh jiwa melayang.

Desa itu tidak banyak penghuni. Tadinya mereka berhamburan mendekati tempat kejadian, ingin membantu Ragamanota. Tetapi  mundur teratur ketika mendengar nama Kipatoma disebut. Nama Kipatoma sudah cukup untuk mengusir orang-orang itu kembali ke rumah masing-masing.

            Ragamanota sekarat, mata membelalak, tangannya memegang tombak yang menembus lehernya. Terdengar suara ngorok seiring mengucurnya darah tanpa henti.

Kalai menghampiri musuhnya, “kamu ingat apa yang kamu ucapkan padaku, tigabelas tahun lalu? ‘Ceritakan pada ayahmu, namaku Ragamanota. Dia tahu kemana harus mencari aku. Katakan, aku puas memerkosa ibumu.’ Masih ingat? Mungkin kamu lupa, tapi aku tidak pernah lupa perbuatan kamu dan dua saudaramu. Kalian memerkosa ibuku dan membunuhnya dengan keji.

            Ragamanota memandang mayat istri dan dua anaknya yang berlumur darah. Dua saudara dan dua keponakannya juga mati. Tangannya memegang tombak yang nancap di leher, tangan lain memegang tiang rumah, menahan tubuh agar tetap berdiri. Darah membasahi dadanya. Matanya melotot memandang Kalai dan Kipatoma.

            Pandangan Ragamanota mulai kabur. Tubuhnya melemah. Kakinya gemetar. Dia menekuk lutut, pelan-pelan menurunkan tubuhnya duduk menyandar tiang rumah.

            “Sekarang rasakan gelapnya kematian. Kami tidak memerkosa wanita karena itu perbuatan hina. Aku hanya membunuh kamu dan sekarang ini aku menikmati saat-saat kematianmu.” Suara Kalai datar serta dingin.

Ayah dan anak meninggalkan desa setelah memastikan Ragamanota mati.

            Sejak hari itu Kalai mengikuti ayahnya berkelana. Kipatoma mengajak Kalai dan Getenpiri menjelajah hutan dan mengarungi laut. Dia melatih dua putranya menjadi petarung ulung yang mengenal seluk beluk dan jalanan hutan. Mengajarinya falsafah tarung dan berbagai mantra untuk menjelajah hutan.  

            Kalai juga menangguk ilmu tarung dari dua kakak Maisani yakni Gamcako dan Korako. Selain ilmu tarung Kipatoma mengajari cara membangun rumah. “Kau bisa cari nafkah dengan keahlian ini, tidak perlu selamanya jadi petarung yang bergelut dengan maut. Saatnya nanti kamu kawin punya anak istri dan menetap di rumahmu sendiri. Ibumu akan senang jika kamu dan istrimu menetap di Tutua, ada tanah kosong dekat rumahku.

Karin mengelus dada Kalai. Menatap dengan rasa iba.

            “Ibumu cantik?”

            “Namanya Nini, putri petarung Salako, kata ayahku, ibuku wanita paling cantik di Gogolomo.”

“Kasihan ibumu… tapi kamu berhasil membunuh pemerkosa ibumu. Tentang penjahat Ragatota, dia memang pantas mati….”

Kalai tertawa. “Namanya Ragamanota…”

“Ragamanota … dia pantas mati, itu pengalaman pertama kamu membunuh?”

Kalai mengangguk.

“Sampai sekarang berapa banyak musuh yang kamu bunuh?”

Kalai terkesiap. Dia tak pernah memikirkan. Baginya tidak penting. Dia membunuh demi menyelamatkan diri. Tidak pernah membunuh orang tidak berdaya, tidak pernah membunuh orang yang tidak mengancamnya. Dia membunuh siapa saja yang mengancam dirinya. Dan dia bukan pembunuh bayaran sebagaimana sekian banyak petarung ulung di tanah Kao.

Malu-malu Kalai menggeleng. “Tidak banyak, tapi aku tidak menghitung.”

 “Semua petarung pernah membunuh. Kata ayahku, pertarungan harus diakhiri kematian. Jika tidak membunuh kita yang dibunuh, itulah kehidupan petarung. Orang Lingon banyak yang terbunuh dalam tarung dengan orang Pesisir dan Togutil. Tetapi  juga banyak membunuh musuh.” Tutur Karin.

Ayahmu benar. Pertarungan harus ada yang mati. Itu sebab jumlah lelaki makin berkurang dibanding perempuan.”

“Di kampungku satu lelaki memiliki banyak istri. Katanya. agar wanita melahirkan banyak anak. Kaum wanita tidak suka tetapi tidak berdaya. Belakangan para wanita lari keluar kampung  membiarkan diri tertangkap orang Pesisir. Para gadis gembira jika dijual ke desa Pesisir. Lebih baik jadi istri di negeri asing daripada tertindas di kampung sendiri.” Tutur Karin bersemangat.

            Kalai diam, memerhatikan wajah Karin yang cantik.

            Aku ingin secepatnya tinggal di Pesisir, kawin dan punya anak.” Matanya menatap Kalai dengan tatapan misterius.

            “Lelaki bagaimana yang kamu pilih menjadi suamimu?”

            Karin merunduk. “Lelaki yang mencintai aku dan kucintai, setiap saat melindungi aku dan anak-anakku, aku ingin banyak anak, aku ingin pesiar ke kampung-kampung Pesisir, suamiku harus punya perahu dan rumah.” Suara Karin lirih.

Kalai diam. “Kalau dia mau jadi istriku, aku akan bekerja keras, memberinya kesenangan, mencukupi apa yang dia mau.” Tetapi dia tidak berani mengucap apa yang ada dalam pikirannya. “Apakah dia mau jadi istriku?”

“Kau berjanji akan melindungi aku…” Bisik Karin.

“Aku berjanji.” Kalai tersenyum ramah. “Aku ingat derita ibuku, diperkosa lalu dibunuh, aku tak mau wanita lain atau kamu mengalami derita seperti itu.”

Dalam temaram sinar rembulan Karin membayang wajah Kalai yang memeluknya. Kalai tidak tampan. Berewoknya tipis. Ada luka bekas golok di tepi mata kiri memanjang ke bawah sampai di tulang pipi. Luka codet itu membuat mata kirinya agak menyipit. Hidung besar. Mulut lebar, bibir tebal. Rambut ikal panjang, wajah oval  agak bulat. Matanya bening tajam.

Karin tahu meskipun badannya tinggi semampai, tetapi sosok Kalai lebih tinggi. Dia hanya setinggi dagu Kalai. Dia membayang tubuhnya yang kekar, bahu dan dada bidang berotot. Perutnya rata dan berpetak. Tak ada lemak di bagian perutnya.

“Waktu melihat aku telanjang, kamu terangsang?” Karin bertanya dadakan.

Aku laki-laki normal sudah tentu terangsang. Tidak ada wanita cantik sepadan kamu.” Kalai menatap mesra. Pipi Karin memerah malu karena sanjungan akan kecantikannya. Dia senang dipuji.

Kalai melanjutkan. “Aku minta maaf telah melihat kamu telanjang.” Lalu dia memberanikan diri bertanya. “Karin, maukah kamu jadi istriku?”

Karin terkejut, sesaat diam. Dia memikir jawaban yang tidak membuat Kalai malu atau tersinggung. “Kamu belum mengenal aku, kelakuanku buruk, aku jahat, aku sanggup dan tega membunuh orang meskipun telah menjadi suamiku …”

Kalai diam, matanya menikmati kecantikan si gadis.

“Ibu memanjakan aku, semua permintaanku tak pernah ditolak.” Karin tersenyum. “Sifatku buruk, suka mengatur, suka memerintah. Aku tidak mau dibohongi, aku tidak mau ada wanita lain, aku mau hanya aku sendiri yang dicintai suamiku.”

“Orang yang suka bohong itu pengecut.” Kalai berkomentar singkat.

Mata biru Karin berkaca-kaca. “Lai kamu telah menolong aku, menyelamatkan aku dari perkosaan dan kematian. Aku berhutang nyawa padamu. Seharusnya aku bersedia jadi istrimu, tetapi aku belum bisa menjawab sekarang …”

Kalai mengerut kening. “Jangan menganggap hutang nyawa, aku bisa menolong maka aku wajib menolong.”

“Jika tak bisa menolong, kamu tidak menolong aku, begitu?”

“Aku tidak mengerti ucapanmu.” Kalai menggeleng kepala.

“Sudahlah, kamu memang bodoh.” Karin terkejut dengan kata-katanya sendiri. Mengapa tega mengatai lelaki itu bodoh?

Kalai tersenyum. “Benar aku memang bodoh, aku hanya seorang petarung.”

Karin merunduk malu. “Lai maafkan aku, ucapanku kasar, maafkan, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu.”

            Kalai menggerutu. “Kamu licik.”

“Mengapa licik?”

“Kamu menjebak aku, mengikat aku dengan perjanjian yang teramat sulit.”

“Sulit? Bagian mana yang sulit?”

“Aku harus menahan diri, tidak meniduri kamu, itu yang sulit.”

“Mengapa sulit.”

“Setiap memeluk kamu, aku terangsang birahi dan sepanjang malam aku harus mengekang hasrat, itu yang kukatakan sulit…”

            “Terimakasih kamu mau menahan diri…”

( Bersambung eps 10 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com