Lingon Togutil eps 8
Posted on 11 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 8
Paras Karin merona merah saking malu.
“Di kampung Togutil dan Pesisir banyak gadis cantik, lebih cantik dari aku.”
Lelaki itu memotong. “Tidak benar. Kamu lebih cantik.”
Hati Karin berbunga-bunga, senang dipuji cantik. Jantungnya berdegup kencang, mukanya terasa panas. Matanya berkedip-kedip. Dia mengalih pembicaraan menghindar dari rasa malu. Tetapi dia tetap dalam pelukan si lelaki.
“Namaku Karin.” Katanya lirih.
“Karin … nama bagus…”
“Kamu siapa?”
“Namaku Kalai… “
“Biasanya orang Togutil atau Pesisir memusuhi kami orang Lingon.”
Kalai tersenyum malu. “Aku tidak memusuhi Lingon, ayah ibuku Togutil tetapi mereka sudah menetap di Pesisir, aku dibesarkan di Pesisir. Jadi … aku asli Togutil tetapi besar dan menetap di Pesisir.”
“Ibumu Togutil mana?”
“Ayah dan ibuku lahir di gunung Gogolomo, tapi aku dibesarkan di pulau Togalaya. Mereka Togutil Gogolomo....”
“Togalaya itu dimana?”
“Di tengah laut. Tanah daratan yang dikelilingi laut.”
“Pemandangan pasti indah, kata orang, laut itu luas, lebih besar dari sungai, aku belum pernah melihat laut. Aku ingin melihat laut.”
“Dalam perjalanan ke kampung Pesisir, kita akan bertemu laut.”
Karin gembira. “Aku senang bisa melihat laut.” Karin melepas pelukan.
Kalai mengambil kemejanya, mengemasnya dalam buntalan. . “Kita jalan...”
Mereka berjalan berendeng, menyusur tepian sungai.
Karin menoleh menatap ragu, mengulang pertanyaan. “Kemana kita pergi?”
“Menjauh dari musuh-musuhmu yang mungkin mengejar, kita ke Utara menuju sungai Akelamo. Selanjutnya ke Watam, kampung Pesisir pinggir laut.”
“Perjalanan jauh. Berapa hari?”
Kalai berpikir sesaat. “Sekitar lima hari jalan kaki, mungkin juga enam hari, siang kita jalan, malam istirahat.”
“Kamu tahu jalan?”
Kalai tertawa. Suaranya parau. “Aku pejalan hutan, menjelajah hutan dari Utara sampai Selatan, dari Barat ke Timur.”
Karin menatap mata Kalai. “Namamu Kalai, aku akan memanggilmu Lai…”
“Mengapa?”
“Lebih mudah menyebut Lai …”
“Boleh saja....”
“Kamu menolong aku yang nyaris mati … lagipula namamu Kalai… jadi jika kupanggil Lai … cocok dan pantas…”
“Kamu pintar…”
“Katamu aku cantik…?”
“Benar… kamu cantik dan pintar.”
Karin menatap lekat mata Kalai. “Lai apakah kamu akan memerkosa aku…?” Suara Karin bergetar tetapi tak ada rasa takut. Jantungnya berdebar kencang. Dia ingin kepastian. Baginya masalah besar jika diperkosa, dia masih perawan.
Kalai melihat Karin tegang. Perlahan dia menjauhi Karin. Dia menggeleng. “Tidak. Aku tidak akan memaksa kamu. Aku benci pemerkosa wanita, aku pernah melihat tiga lelaki memerkosa wanita, aku tak bisa menolong karena masih kecil dan ketakutan …”
Mata si gadis membelalak. Cerita itu mengerikan. “Si wanita mati?”
“Setelah puas memerkosa, mereka membunuhnya.”
“Kamu tidak akan memerkosa aku?”
Kalai tersenyum. “Tidak. Aku berjanji tidak akan memerkosa kamu.”
“Aku percaya kamu, sejak awal bertemu aku percaya.” Bisik Karin malu-malu.
Kalai menoleh keliling. “Mengapa orang-orang sukumu ingin membunuhmu?”
Mereka berhenti berjalan, menghampiri batu besar. Duduk berdekatan.
“Mengapa mereka ingin membunuhmu?” Kalai bertanya sekali lagi.
Hanya sesaat ragu, Karin lantas menceritakan asal-usulnya. “Laki-laki terakhir yang kamu bunuh.... namanya Basam. Dia pemimpin kaum muda yang memberontak, membunuh para tetua kampung, keluarga dan pendukungnya. Ayahku, ibuku, temanku serta kerabatku, semua mati dibunuh. Aku lolos dari kematian ditolong ayahku, tetapi dia mati membela aku, mati dikeroyok. Tengah malam itu aku lari, keluar dari kampung.”
Kalai memandangnya dengan rasa kasihan.
“Aku lari sampai berjumpa dengan kamu.” Dia menatap tajam. “Terimakasih, kamu menyelamatkan aku. Jika tertangkap, mereka akan memerkosa aku.”
Kalai menatap mata bening Karin. Sinar mata yang tajam. Di dalamnya Kalai menemukan tekad dan semangat besar.
Karin menarik nafas duka, teringat ibunya yang mati mengenaskan.
“Pantas kamu cantik, ayah ibumu Lingon...... kamu Lingon murni.”
“Dan kamu Togutil murni...
“Kita pasangan aneh .... Togutil dan Lingon ....”
“Lai ...aku sebatangkara, tak punya siapa-siapa.”
Kalai diam sesaat. “Menurutku orang-orang kampungmu akan mengejar kamu, mungkin saja perburuan sudah dimulai, bagaimana pendapatmu?”
“Mungkin saja mereka mengejar.” Karin tidak memperlihatkan rasa takut.
Kalai diam, tampak berpikir.
“Aku telah membunuh lima petarung sukumu. Jika mereka temukan mayat lima Lingon itu, mereka tahu bukan kamu yang membunuh, pasti ada orang luar yang membantumu. Itu jadi alasan mereka memburu kita. Dendam dan marah. Malu karena perempuan mereka dibawa lari orang luar”
“Mungkinkah mereka bisa mengejar kita?”
“Semua kemungkinan bisa terjadi.”
“Kau akan melindungi aku?”
Kalai menatap mata biru yang indah bening itu. “Kamu aman bersamaku.”
“Terimakasih.”
“Di hutan ini musuhmu banyak, selain orang-orang Lingon, jika bertemu petarung Pesisir atau Togutil mereka akan menyerang kita, berusaha menangkap kamu, menjadikan kamu istrinya atau menjual kamu ke kapal asing.”
“Kamu Togutil pasti kenal petarung sukumu. Kamu bisa bicara Togutil.”
“Aku bisa bicara Togutil, tapi aku tidak kenal mereka, aku masih kecil ketika pergi dari kampung ikut ayahku. Tapi mungkin mereka kenal ayah dan ibuku....”
“Lai ... kamu akan bertarung melindungi aku?” Karin menatap matanya.
Kalai mengangguk.
“Aku sebatangkara, tidak punya tujuan, aku ikut kamu ke kampung Pesisir.”
“Kita menuju kampung Watam.”
“Tolong antar aku ke kampung Waijoi.”
“Mengapa Waijoi? Kamu pernah ke sana?”
Karin menggeleng. “Aku belum pernah keluar kampung. Kata ibu, di Waijoi aku bisa tinggal di rumah Katina adik ibuku atau di rumah Bido putri kakak perempuanku.”
“Aku pernah ke Waijoi, jadi tahu jalannya.” Kalai menatap wajah cantik Karin, menduga-duga mungkinkah Karin selalu bersamanya? Jadi istrinya? Tapi kemudian dia membantah, mustahil Karin bersedia jadi istrinya. Karin cantik sementara dia lelaki kasar yang miskin dan buruk rupa.
“Jadi kamu mau mengantar aku ke Waijoi?” Karin ingin tahu.
Kalai diam,
“Lai, kamu punya keluarga atau teman di Waijoi?” Desak Karin.
“Tidak. Aku tak punya keluarga, tidak kenal orang di Waijoi. Keluargaku hanya ayah dan ibuku. Aku tak punya tujuan, tadinya berniat mencari ayahku.”
“Dimana ayahmu?”
“Aku mencari ayahku di rumahnya di Utara, tapi dia telah pergi. Satu bulan lalu aku mendengar cerita dari seseorang bahwa ayahku luka-luka dalam tarung tinju di Tobelo. Tidak seorang pun tahu kemana dia pergi. Dari rumah ayahku, aku ke Watowato, di situ aku bertemu kamu.”
“Berapa hari perjalanan ke Waijoi?”
“Perjalanan bisa lima hari lagipula banyak halangan. Petarung Togutil dan Pesisir akan menghadang. Mereka akan menyerang dan menangkap kamu. Mungkin petarung Lingon juga memburu kita.”
“Jadi baiknya bagaimana? Kita tak punya pilihan.”
“Kita ke Watam. Perjalanan lima hari, kita nginap, aku bekerja dan hasilnya untuk membeli pakaian dan selimut. Setelah itu kita ke Waijoi. Dari Watam ke Waijoi hanya lima atau enam hari, perjalanan lebih aman.”
Karin mengangguk. “Baik ke Watam. Setelah itu ke Waijoi. Awas kamu dusta.”
Matahari mulai tinggi.
“Lai… aku lapar…” Bisik Karin agak malu-malu.
“Aku juga lapar. Kita tangkap ikan.”
Kalai sigap meruncing tempuling.
Keduanya berlomba menombak ikan. Karin gembira.
“Biar aku yang panggang.” Karin memanggang ikan.
Sambil melahap ikan bakar Karin berkata. “Katamu kamu pejalan hutan. Kamu punya keluarga, istri, anak? Di mana mereka?”
“Aku tak punya istri, tak punya anak.” Tutur Kalai. “Kamu sudah kawin?”
Sepasang mata biru Karin yang jernih bak bintang menyelidik paras Kalai. Dia tersenyum. “Belum. Aku masih perawan dan belum mau kawin, kelak ingin kawin dan hidup di kampung Pesisir, punya rumah, punya perahu.”
“Kamu mencari suami orang Pesisir yang punya rumah dan perahu?”
“Iya. Itu mimpiku.” Karin menyantap ikan bakar.
Setelah makan mereka melanjutkan perjalanan.
Mata biru bening yang indah menatap Kalai penuh selidik. “Lai aku ingin tahu tentang dirimu.” Suara Karin terdengar merdu.
Kalai menyahut sembarangan. “Aku Togutil miskin, pengelana, kasar, tak punya aturan, buruk rupa, tidak perlu tahu tentang aku. Tidak ada gunanya untukmu.” Sesungguhnya Kalai cemburu karena Karin mengimpikan suami lelaki Pesisir yang punya rumah dan perahu. Sedangkan dia orang Togutil dan tidak punya apa-apa.
Sepasang mata biru bening melotot. “Aku perlu tahu!” Tegas Karin.
“Mengapa perlu tahu?”
Karin terdesak. Gugup. “Apakah aku harus terus terang mengatakan menyukainya, menyukai kejantanannya?” Saat berikut dia membantah kata hatinya. “Tidak benar aku menyukainya, mungkin karena aku berhutang budi.”
“Aku telah menceritakan keluargaku, pengalamanku di perkampungan.” Karin membujuk. “Kini giliranmu, ceritakan tentang dirimu.”
“Malam nanti saat istirahat akan kuceritakan, tetapi sekarang kita lanjutkan perjalanan, aku khawatir musuh Lingon telah memulai perburuan.” Kata Kalai.
Mereka melanjutkan perjalanan cepat dan istirahat sore hari. Kalai mendirikan gubuk kecil. Gubuk hanya empat tiang dengan dedaunan pohon kayu sebagai atap. Alas berupa dipan setengah meter dari tanah, terbuat dari bambu yang dilapis daun. Ukurannya cukup untuk tiga orang dewasa tidur sehingga Kalai dan Karin tidak perlu berdesakan.
Mereka siap-siap tidur setelah sebelumnya Kalai memastikan lingkungan aman.
Angin malam bertiup membawa hawa dingin. Karin kedinginan. Dia merapat ke tubuh Kalai.
“Dingin.” Karin berbisik.
Kalai memeluk erat Karin. “Kupeluk biar hangat.”
“Kamu juga dingin?”
“Udara memang dingin, jika berpelukan mengurangi rasa dingin.”
Karin merapatkan selimut yang dipinjamkan Kalai. “Lai hanya berpelukan, jangan melebihi batas, kamu sudah berjanji tidak akan meniduri aku.” Bisiknya.
“Aku ingat janjiku. Masih dingin?”
Karin menggeleng. “Hangat.” Bisiknya. “Besok kita lanjutkan perjalanan.”
“Benar. Sebelum fajar.”
“Kita tak boleh sering istirahat. Mereka akan menyusul kita.” Kata Karin.
“Kamu takut?”
Karin mengangguk. “Kamu tidak takut?”
“Tidak. Seorang petarung harus siap mati, kapan saja.”
“Lai kamu berjanji akan bercerita tentang dirimu.”
“Untuk apa? Tidak ada yang istimewa dalam hidupku.”
“Aku ingin tahu, kamu harus tepati janjimu.”
( bersambung Eps 9 Bab Tiga)
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







