Lingon Togutil eps 7
Posted on 11 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 7
Lelaki itu diam.
“Kamu tidak kenal aku, mengapa menolong aku?”
Lelaki itu menggeleng. “Tidak tahu. Kamu ketakutan dan perlu ditolong.”
Karin menatap tajam, tiba-tiba timbul curiganya. “Kamu akan menjual aku?”
Lelaki itu terkejut. “Tidak. Cuma menolong kamu.”
Karin mendesak. “Mau memerkosa aku?”
Lelaki itu melotot. “Kamu gila!” Badannya meregang, marah.
Karin menghunus pisaunya. “Kamu mau memerkosa aku?” Karin undur dua langkah, memasang kuda-kuda siap tarung. Pengalaman nyaris diperkosa Basam, membuatnya tidak bisa mempercayai lelaki Pesisir itu. Dia takut karena kekuatan dan fisik lelaki itu jauh diatasnya tetapi jika keadaan terpaksa maka dia akan melawan.
Suara geram keluar dari mulut lelaki itu. “Tidak. Aku tidak akan memaksa kamu, kamu boleh pergi kemana kamu mau, aku tidak akan mengejar. Kita berpisah baik-baik.”
“Benarkah kamu tidak akan berbuat jahat kepadaku, kamu tidak akan memaksa aku? Memerkosa aku?”
“Aku bukan orang jahat, bukan pemerkosa.” Air muka lelaki itu mengendur. “Aku benci pemerkosa, pertama kali aku membunuh orang, dia pemerkosa.”
“Maaf. Aku salah sangka. Kemarin aku lolos dari laki-laki yang hendak memerkosa, mungkin itu sebab aku bertanya.” Karin memandang dengan menyesal. “Aku minta maaf.”
Lelaki itu menjawab. “Kita harus menyeberang sungai, khawatir musuhmu yang lain masih akan memburu kamu.”
“Baik. Aku ikut dari belakang.” Kata Karin.
Tidak lama kemudian, saat fajar menyingsing keduanya tiba di bibir tebing.
Karin memandang tebing turunan yang kemiringannya sekitar tigapuluh derajat. Panjang turunan sekitar limapuluh meter diwarnai rembesan air yang membawa pasir dan kerikil. Di bawah, tampak sungai yang arusnya deras. Percikan air mewarnai derasnya arus menghantam bebatuan besar.
“Pemandangan indah tetapi mematikan. Mandi dan berenang di sungai pasti segar, tetapi menuruni tebing curam akan mati sia-sia.” Suara Karin perlahan.
Sungai bagaikan ular raksasa meliuk, lebar dan panjang. Air tampak mengilat oleh sinar matahari pagi. Arus air menghantam bebatuan hitam besar menimbulkan riak dan busa. Timbul ketakutan Karin melihat angkernya sungai.
“Tidak mungkin menuruni tebing, terlalu curam lagipula licin. Kemana kita lari?” Karin menoleh ingin mencari jawaban dari lelaki Pesisir. “Sungai apa itu?”
“Itu sungai Fumalanga. Asal dari gunung Watowato lalu memecah dua anak sungai. Satu ke Timur, satunya lagi ke Utara.” Dia menjelaskan kepada Karin yang tampak bingung. “Katakan sekarang kamu hendak kemana?” Katanya.
“Itulah Ake Fumalanga yang dibicarakan orang-orang kampungku.” Desis Karin. “Itu batas perburuan petarung kampungku. Tapi bukan berarti mereka tidak mengejar.”
“Kalau mau menghindar dari kejaran mereka, kita harus lari.”
“Tak mungkin bisa menuruni tebing. Terlalu curam.”
“Harus bisa.” Tegas si lelaki “Hei kamu belum menjawab pertanyaanku, kemana tujuanmu?”
“Aku tak punya tujuan. Aku hanya lari meninggalkan kampungku. Aku ingin hidup di kampung Pesisir.” Karin menatap teman barunya, lalu menggeleng. “Tujuanku tidak penting lagi. Kamu pergilah. Kita berpisah di sini. Aku tak mungkin menuruni tebing curam ini. Aku akan mencari jalan lain. Terimakasih telah menolong aku.”
Petarung Pesisir itu berpikir sesaat. Satu tangan menggenggam golok, tangan lain menghunus pedang, dia mendekati pohon boulamo yang besar. Dia menebas dan mengiris. Selembar kulit pohon terkelupas. Dia melempar kulit pohon itu ke tanah dekat bibir tebing.
“Kita pergi bersama.” Tegas si lelaki.
“Tidak. Kamu pergilah. Aku takut. Terjun ke bawah pasti mati.” Bisik Karin.
Mendadak lelaki Pesisir itu meraih pinggang Karin.
Karin berteriak, kaget. “Heeeiiii… ooohhh…”
Lelaki menarik Karin dalam pelukan lalu menjatuhkan badan telentang di atas lembar kayu.
“Buuukkk…” Bokong dan punggung lelaki itu menghantam lembaran kayu berbarengan kakinya menjejak tanah. Seketika tubuhnya meluncur turun dengan punggung nempel di lembar kayu dan Karin berada di atas tubuhnya.
Dia memeluk si gadis, satu tangan memegang pedang panjang, tangan lain menggenggam golok sambil memeluk badan Karin.
Karin berteriak. “Ooohhh kita akan mati….”
Namun gadis itu tak mampu berbuat sesuatu kecuali dua tangannya memegang dada si lelaki, meletakkan mukanya di lekuk leher.
Karin memejam mata merasa tubuhnya yang nempel di atas tubuh si lelaki meluncur turun dengan deras. Karin gadis pemberani tetapi saat itu dia ketakutan. Semangatnya terasa melayang seiring tubuhnya meluncur turun dengan deras. Dia membayang tubuhnya terantuk batu atau pohon, kepala pecah dan mati.
“Kita akan mati……” Bisiknya ketakutan.
“Tidak. Kita pasti selamat.” Tukas si lelaki.
Tebing turunan yang basah air dan lumpur, sangat licin. Lelaki Pesisir dan Karin meluncur deras ke bawah.
Tidak ada batu besar, yang ada hanya bebatuan kecil dan tonjolan akar kayu. Itu bukan hambatan. Juga tidak melukai tubuh si lelaki, karena lembar kayu cukup tebal dan lebar melindungi punggungnya.
Selang beberapa detik keduanya tiba di akhir turunan.
Mereka berhenti beberapa meter di batas pinggiran sungai.
Tangan lelaki masih memeluk tubuh si gadis.
Karin tidak memberontak.
Dia menghela nafas lega, merasa bebas dari kematian. Sesaat dia merasa aman dalam pelukan tangan kekar, nyaman telungkup di dada bidang si lelaki. Kepalanya merebah di lekuk lehernya. Dia merasakan keringat si lelaki, mencium aroma tubuhnya.
“Terimakasih, kau telah selamatkan aku.” Bisiknya lirih.
Lelaki itu masih memeluknya, Karin membiarkan. Tidak sadar dia balas memeluk merapatkan badannya, kemudian sadar, merasa malu. Dia berbisik lagi. “Kamu pertaruhkan nyawa menolong aku, padahal kamu orang Pesisir biasanya memusuhi Lingon, sekarang malah menolong aku?”
“Tidak tahu. Kamu butuh pertolongan, jadi aku menolongmu.”
“Kamu membunuh lima petarung kampungku. Gerakanmu pesat, pasti kamu petarung ulung.” Tanpa sadar Karin mengungkap rasa kagum.
Lelaki Pesisir tertawa. “Barangkali musuhmu masih mengejar. Kita berenang ke seberang, kamu bisa berenang? Arusnya besar, ganas.”
Timbul kegembiraan Karin.
“Aku mahir berenang dan menyelam.” Tegasnya yakin.
Sungai itu jernih, airnya dalam, arusnya deras. Keduanya berenang memotong badan sungai yang lebar sekitar limapuluh meter. Untuk itu keduanya harus mengerahkan tenaga melawan arus, agar tidak terbawa arus ke arah yang salah.
Laki-laki itu menunjuk arah, Karin mengikuti.
Mereka berenang menyeberang badan sungai.
“Ikuti arus, kita menuju Utara, arus ini menjauh dari lereng Watowato.” Suara lelaki Pesisir itu keras mengatasi gemuruh arus sungai. Karin mengikuti.
Keduanya tiba di seberang tepat sinar kuning matahari mulai terbit dari Timur.
Hari 1
Gemericik air sungai mengalir deras membentur batu-batu hitam berbaur kicau burung menimbulkan suara alam di pagi yang indah. Sinar kuning matahari pagi menerobos pepohonan lebat sekitar sungai Fumalanga. Karin mentas, melangkah keluar air.
Badannya yang putih mengilap basah kuyup. Butiran air menetes dari tubuhnya. Sesaat dia berhenti melangkah karena melihat mata lelaki Pesisir itu bersinar tajam.
Mata lelaki itu memandang takjub keindahan di hadapannya.
Pemandangan alam yang indah terkalahkan sosok kecantikan Karin. Gadis muda yang cantik jelita, separuh telanjang dengan sekujur badan basah kuyup. Butiran air menghiasi muka oval, sepasang alis coklat tebal, mata biru bening dihiasi bulu mata coklat lentik, hidung mancung, mulut lebar dengan bibir atas tebal berbentuk gandewa, bibir bawah juga tebal melipat kebawah dengan dagu lancip. Rambut pirang kecoklatan tebal halus basah tergerai sebatas bahu.
Karin telanjang bagian atas memperlihatkan dada yang indah segar. Rupanya baju lengan pendek yang compang camping dan kutang penutup dada copot tergerus arus sungai. Bagian bawah hanya tersisa celana panjang hitam sebatas lutut. Celana ketat dan basah itu memeta paha, pinggul dan pantatnya.
“Gadis tercantik yang pernah kutemui di daratan Kao, tidak ada duanya…” Laki-laki itu bergumam dalam hati.
Mendadak Karin sadar dirinya telanjang.
“Oh … aku telanjang.” Suaranya gagap, dia gugup dan malu.
Dia berteriak sambil dua tangannya menutupi dada. “Jangan lihat…!”
“Kamu cantik.” Laki-laki Pesisir mendesis sambil menatap mata Karin. “Matamu biru bening, sungguh cantik.”
“Jangan lihat aku..!”
“Maaf, tetapi kamu cantik … tidak mungkin aku tidak memandang kamu..…”
Karin menatap teman barunya. “Mana … bajuku? Mana penutup … dadaku?” Suaranya masih gagap dan parau.
“Pasti lepas dan hanyut ketika berenang, arusnya deras. Untung celanamu tidak ikut terhanyut....” Lelaki itu tertawa membayang jika temannya bugil.
Karin tersipu malu.
Lelaki itu memerhatikan pisau dalam sarung yang diikat di paha si gadis. “Pisaumu bagus, pasti tajam. Hati-hati, pahamu bisa tergores.” Ujarnya.
Tiba-tiba badan Karin menggigil. “Dingin…” Bisiknya. Giginya gemeletuk, bibirnya yang merah ranum bergetar.
Petarung Pesisir melepas pedangnya ke tanah, menghampiri si gadis.
“Aku punya pakaian dan selimut, barangkali kamu mau memakainya.”
Karin berbisik. “Mau. Berikan bajumu, aku malu telanjang.”
Lelaki itu membuka buntalan yang juga basah kuyup, memperlihatkan isinya. Hanya selimut, sarung dan dua kemeja. “Boleh pilih, tetapi bajunya pasti longgar.”
Karin jongkok dan memilih. Dia memilih lengan pendek dari kain belacu warna putih kumal.
Dia menengadah menatap si lelaki. “Kamu memandang dadaku, aku malu.” Karin tersenyum ramah. Dia berdiri tanpa menutupi dadanya lagi. “Apakah aku cantik?”
Lelaki itu gugup sesaat. “Iya…iya.. kamu cantik.. sangat cantik.”
“Aku pinjam bajumu.” Karin mengacung benda itu.
“Baju itu basah, sebaiknya dijemur dulu.”
Karin tertawa, suaranya ramah. Tawa itu renyah, sangat menggoda. “Dan selama itu kamu memandang dadaku?”
“Baju itu perlu dijemur.” Lelaki itu melepas bajunya, memperlihatkan dada yang bidang. Dia meremas bajunya,
“Tidak perlu. Aku pakai saja, nanti kering dengan sendirinya.” Karin mengenakan kemeja dengan cepat. Lelaki itu mengawasi gerakan si gadis.
“Longgar. Tapi bagus juga karena menutupi badanku sampai pantat.” Dia tertawa lagi, tawa yang merdu.
Karin melangkah menjauh memutar badannya bagai penari ronggeng. “Bagaimana menurutmu? Kelihatan aneh?”
“Longgar.” Laki-laki menjawab singkat. Sambil melangkah ke batu besar, menjemur kemejanya
“Memang longgar, badanku lenyap dibungkus pakaian ini.” Celana hitam ketat sepanjang betis. Kemeja lengan pendek menggantung menutupi pantat. Kemeja masih basah sehingga nempel ketat memperlihatkan potongan badan Karin yang molek.
“Masih merasa dingin?”
Karin melirik dengan ujung matanya, tersenyum. “Dingin.”
Lelaki itu menarik tangan Karin. “Kupeluk biar kamu hangat.”
Tidak malu lagi, Karin merapat membiarkan tangan kekar itu memeluknya. Dia suka dipeluk, merasa nyaman, kebiasaan sejak kecil yang selalu ingin dipeluk ibunya.
Beberapa saat kemudian.
“Tidak dingin lagi?” Lelaki Pesisir bertanya.
Karin menggeleng kepala.
“Mengapa diam?” Dia menahan keinginan mengelus rambut pirang coklat yang basah kuyup.
“Aku malu. Kamu melihat dadaku.” Bisiknya.
Lelaki Pesisir tersenyum. “Akan kurahasiakan … aku berjanji… tapi..tapi..”
“Tapi apa?” Desak Karin.
“Dadamu indah… kamu cantik …”
Paras Karin merona merah saking malu.
( bersambung )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







