Lingon Togutil eps 6
Posted on 08 Juli 2017 ( 0 comments )
Lingon Togutil eps 6
“Aku tak punya pilihan.” Dia mengikuti suara hatinya.
Lelaki itu berbisik, lirih dan mendesis. “Kamu sendiri?”
Itu bahasa Pesisir.
“Dia orang Pesisir?” Kata hati Karin.
Karin menyahut, lirih. Dalam bahasa Pesisir. “Sendiri.”
Semua orang Lingon sejak usia dini belajar menguasai bahasa Pesisir dan bahasa Togutil. Alasannya, dua suku itu merupakan musuh bebuyutan. Agar bisa menghindar atau melawan musuh, perlu mengerti dan menguasai bahasa mereka.
“Kamu Lingon, mereka juga Lingon.”
“Mereka akan memerkosa dan membunuhku, mereka telah membunuh ibuku.”
“Kamu selamat dan aman asalkan percaya dan ikuti kata-kataku.”
Sesaat Karin berpikir, kemudian menjawab tegas. “Aku percaya.” Bisik Karin. Ada harapan dalam suaranya.
Terdengar suara langkah kaki memijak tanah yang penuh dedaunan jatuh yang basah. Langkah petarung Lingon!
Detik berikut Karin terkesiap. Lelaki Pesisir bergerak pesat ke balik pohon.
Pada saat yang sama dua petarung Lingon muncul. Terpaut sepuluh meter.
Tubuh Karin kejang. Kakinya terpaku di tanah. Tak mampu bergerak saking takutnya. “Kemana dia pergi?” Karin bertanya-tanya keberadaan lelaki Pesisir.
Dua petarung itu maju serentak. Keduanya menggenggam pedang.
“Tangkap, jangan bunuh!”
“Karin menyerahlah.” Tegas prajurit yang lain.
Karin tak sempat berpikir apa yang harus dilakukan. Mendadak lelaki Pesisir itu muncul dari kegelapan, dari balik pohon boulamo. Dia menyerang dengan pedang panjang. Gerakannya pesat, trengginas.
Dua kali tebas. Dua petarung itu berteriak kaget, tak sempat mengelak. Tebasan nyaris melepas kepala dari leher.
“Aaaakkhhh…..”
Teriakan sekarat melengking di belantara hutan. Tubuh dua petarung itu jatuh tersungkur. Mati.
Karin terkesiap. Tidak sempat bereaksi. Badannya kejang lantaran tegang. Juga ngeri melihat kepala dua petarung kampungnya nyaris terpental lepas dari leher.
Lelaki itu bergerak cepat, menjambret pergelangan tangan Karin dan menyeretnya pergi. “Lari, tidak mungkin melawan, musuh lebih banyak.”
Sesaat ragu, sambil menarik tangannya melepas pegangan, Karin ikut berlari. “Apakah kamu bisa kupercaya?” Suaranya masih menyimpan rasa takut.
“Kamu tak punya pilihan. Diam di sini kamu mati, ikut aku kamu selamat.” Lelaki Pesisir berlari dengan menenteng pedang dan tombak. Sebuah buntalan terikat di punggung. Di pinggangnya tergantung sebilah golok dan tiga tombak.
Tidak ragu lagi. Karin berlari. “Baik aku ikut kamu!”
Keduanya berlari, lelaki berlari cepat, gerakannya ringan. Karin membuntuti, tidak jauh di belakangnya. Lelaki itu kagum lantaran Karin mampu menjaga jarak.
Terdengar teriakan para pengejar. Bersahut-sahutan.
“Kita lari lurus ke depan.” Kata lelaki itu.
“Kamu tahu arah?” Karin bertanya.
“Ini jalan turunan menuju Ake[1] Fumalanga.”
Karin tidak tahu arah menuju sungai Fumalanga, tetapi dia ingat cerita di kampungnya. “Sungai Ake Fumalanga batas wilayah supernatural kaum Lingon. Tradisi kuat yang sangat dipercaya, semua petarung Lingon tidak akan kalah tarung sepanjang berada dalam wilayah keramat itu. Jika melewati sungai atau menyeberang sungai Fumalanga kekuatan magis akan lenyap dan mereka bisa dikalahkan.”
Malam semakin tua mendekati fajar. Meskipun demikian cahaya rembulan masih bersinar. Lelaki Pesisir dan Karin tetap berlari.
Beberapa waktu berlalu. Lelaki itu berhenti. Karin mendekat, terpaut setengah meter, begitu dekatnya sehingga lagi-lagi dia bisa mencium aroma keringat lelaki.
Tampak lelaki itu menggerak kepala, berusaha menangkap suara para pengejar. Detik berikut dia jongkok merunduk, menempel telinga di tanah. Saat berikut dia berdiri.
“Musuhmu lebih cepat, dua orang menanti di depan sebelah kanan, satu lainnya menghadang di depan kiri.” Kata petarung asing itu.
Karin diam. Dia menatap tajam, pikirannya bertanya-tanya.
“Apa rencanamu?”
“Membunuh atau dibunuh. Tak ada jalan lain. Kita lari mengarah ke depan kanan. Kamu tetap di belakang.” Dia mengeratkan ikatan buntalan di punggung. Di tangannya dia menggenggam pedang panjang dan golok.
“Lari!” Tegas lelaki Pesisir. “Lari cepat, matahari akan terbit.”
“Itu lebih baik.” Karin menyahut.
“Tidak. Matahari pagi akan membantu mereka menemukan kita.”
Karin membuntuti. Dalam hati dia mengagumi teman barunya. “Dia mengenal seluk beluk hutan dan arah tujuan.”
Baru berlari duapuluhan meter, lelaki itu berhenti. Dia melihat dedaunan bergerak. Pasti bukan angin. Ada dua musuh sembunyi di balik semak. Keduanya akan menyerang begitu dia maju sepuluh langkah.
Dia pura-pura tidak tahu.
Dia mencabut tombak dari ikatan di pinggang lalu menyodor ke tangan Karin. “Pegang ini.”
Karin tak mengerti namun tidak membantah. Dia menggenggam erat batang tombak. Matanya menatap ke depan. “Akan terjadi tarung!” Dalam hati Karin mengharap lelaki Pesisir menang seperti tadi saat membunuh dua petarung Lingon.
Saat berikut lelaki asing itu bersiap-siap dengan golok dan pedang panjang.
“Lari!” Teriaknya.
Dia berlari cepat, sambil menggenggam erat pedang dan goloknya. Dugaannya benar, dua musuh keluar dari semak dengan kecepatan fantastis. Keduanya menyerang dengan pedang panjang mengarah pinggang, satu lainnya mengarah leher.
Laki-laki Pesisir merunduk, pedang lewat di atas kepala. Saat yang sama tangan kirinya menangkis pedang yang mengarah pinggangnya.
Pedang musuh telak mengena tangan lelaki Pesisir.
Karin teriak, suaranya tersedak di tenggorokan. “Akhhhh…. “ Pikirannya membayang tangan temannya putus dan pedang berlanjut merobek badannya.
Tetapi aneh, tangan itu tetap utuh meski ditebas begitu kerasnya. Detik berikut lelaki Pesisir bergerak lebih cepat dan trengginas. Pedangnya menyabet leher musuh yang menyerang lehernya, golok pendek di tangan kiri naik menusuk jantung musuh lainnya.
Terdengar teriakan sekarat.
“Aaaaakhhh …..”
Dua musuh itu tumbang dan mati sebelum tubuhnya menghantam tanah. Lelaki Pesisir terus lari tanpa melihat dua musuhnya mati atau hidup, tampaknya dia yakin musuhnya mati.
Karin terkesiap. Tetapi tak sempat berpikir, karena harus mengikuti lelaki itu. Keduanya berlari.
Duapuluhan meter.
Mendadak seorang musuh keluar dari semak belukar sambil memanah, sebatang panah melesat deras ke arah lelaki Pesisir. Lelaki Pesisir sempat melihat datangnya anak panah. Dia memiring tubuh. Gerakan itu membuat tubuhnya berputar ke kanan dan panah meleset tipis, hanya menggores sisi luar lengan dekat pundak.
Petarung Lingon itu berdiri dengan pedang panjang terhunus. Matanya melotot merah saga, tanda amarah yang amat sangat. Empat temannya mati ditebas lelaki Pesisir itu. Dia berdiri dengan dua kaki ngangkang memijak tanah bagai paku bumi.
Tanpa sadar Karin berbisik. “Ba…ba... sam…” Suara ketakutan.
Karin melihat darah meleleh dari luka di pundak penolongnya. Tidak lama lagi Basam akan membunuh lelaki Pesisir. Dia akan sendirian, Basam akan memerkosanya. Membayang itu badannya gemetaran. Tombak di tangannya bergetar. Ketakutan menjalar sekujur tubuhnya.
“Siapa kamu, mengapa menculik gadis Lingon?” Suaranya mengandung amarah. Sepasang mata Basam melotot. “Karin! Ikut aku!”
“Tak perlu tahu siapa aku karena kamu akan mati!” Kata lelaki Pesisir dingin.
“Tidak sudi ikut kamu!” Teriak Karin, dalam hatinya dia bersiap menyerang Basam membantu lelaki Pesisir. Dia tahu jika Basam menang dan membunuh lelaki Pesisir maka keselamatannya dalam bahaya.
Dua petarung saling tatap dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Rupanya keduanya sama sependapat, pertarungan harus cepat selesai. Basam maju menyerang dengan tebasan, lelaki Pesisir juga maju dengan tebasan.
Tidak terelakkan dua pedang berbenturan di udara. Saat berikut keduanya saling menebas lagi. Benturan lagi. Lagi dan lagi. Basam unggul tenaga, membuat lelaki Pesisir terhuyung mundur. Basam menerkam dan mengirim tebasan ke leher.
Pada saat yang tepat, lelaki Pesisir menangkis dengan tangan kiri sambil pedang di tangan kanannya menusuk dada Basam.
Dalam tarung tidak hanya tenaga besar yang dibutuhkan, siasat dan tipuan justru lebih berperan. Lelaki Pesisir berpura-pura kalah tenaga dan terhuyung mundur, hitungannya tepat. Basam menyerang dengan tebasan pamungkas. Niatnya sekali tebas leher musuh putus.
Ketika tangan kiri lelaki Pesisir itu naik menangkis, Basam tidak perduli. Dia yakin pedangnya akan memotong tangan dan berlanjut memenggal leher.
Tetapi dia terkejut ketika merasa pedangnya menetak semacam logam yang tersembunyi di sarung kulit yang melilit tangan musuhnya. Tebasannya tertahan tangkisan itu.
Detik berikutnya pedang panjang lelaki Pesisir menerobos daging bagian dada sekaligus merobek jantungnya.
Basam teriak. “Aaaakkkhhhhh…” Matanya melotot menatap Karin.
Lelaki Pesisir melanjutkan aksinya, mencabut pedang. Bersamaan golok di tangan kirinya naik menebas leher Basam.
“Aaaakkkhhh.....”
Lelaki itu tak perlu lagi menggunakan pedang panjangnya.
Basam jatuh, mati sebelum badannya menyentuh tanah. Lehernya nyaris putus, menguak luka lebar yang berdarah-darah.
Lelaki Pesisir menatap Karin lalu jongkok menempel telinganya di tanah. Dia menoleh menatap Karin. “Tak ada lagi yang mengejar.”
“Tanganmu luka. Senjatanya pasti beracun.” Kata Karin, suaranya bergetar, khawatir temannya mati dan dia akan sendirian.
Lelaki Pesisir membenahi tali yang mengikat kulit pembungkus tangannya.
Karin mencegah. “Jangan! Biar aku periksa…”
“Tidak. Aku tidak luka.”
“Tetapi … aku lihat …. dua kali tanganmu ditebas pedang…”
Melihat sinar mata yang ragu, Karin menambahkan. “Aku tahu caranya.” Lalu dia merih pisau dari ikatan di pahanya.
“Mau apa kamu dengan pisau?”
“Membuka ikatan kulit di tanganmu, memeriksa lukamu.”
“Tanganku tidak luka. Hanya pundak luka tergores, barangkali panahnya mengandung racun.”
Karin menyarung pisaunya ke paha. Lalu menguak kemeja yang robek di bagian pundak. “Hanya luka tergores.” Kata Karin.
Mendadak Karin menjinjit dan mulutnya nempel di luka.
Lelaki itu berteriak. “Jangan. Kamu bisa keracunan…”
Karin menyembur darah merah kehitaman berbisik. “Diam…” Lalu mengisap lagi. Tiga kali dia melakukan dan berhenti setelah darah merah yang keluar.
Gadis itu memandang keliling kemudian melangkah dua tindak, merunduk dan menghirup air bening yang tergenang di tanah berlubang. Dia berkumur beberapa kali.
“Hanya luka tergores, racunnya telah kubersihkan.”
Lelaki itu melepas buntalan di pinggang, membuka dan mengambil satu tabung bambu ukuran kecil. Mengais isi tabung dengan jarinya lalu mengoles ke lukanya. “Ini ramuan anti racun, lagipula racunnya biasa saja, karena lukaku tidak gatal.”
“Sekarang kamu aman, tak ada racun lagi.” Kata Karin sambil mengunyah daun anti racun yang dia petik tadi. Dia memandang lelaki itu dan menemukan pancaran sinar mata misterius.
“Mengapa kamu memandang aku seperti itu?” Kata Karin.
Lelaki itu tersipu malu. Sejak tadi dia memerhatikan gadis cantik itu. Parasnya cantik dan badannya molek. Dia mengagumi kecantikan Karin.
“Tidak… aku bukan orang jahat.”
“Aku tidak menuduh kamu jahat, tapi bertanya mengapa melihat aku seperti itu?”
“Aku berterimakasih… kamu mengisap lukaku, kamu bisa keracunan.”
Karin senyum ramah. Matanya menatap paras angker si lelaki. “Yang kulakukan tidak sebanding dengan pertolonganmu. Kamu membahayakan dirimu menolong aku, bertarung hidup mati.”
Lelaki itu diam.
( bersambung )
Side Menu
Image Gallery
Service Overview
Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.
Contact Us
E-mail: info@johnhalmahera.com
|
Copyright 2014 © JohnHalmahera All rights reserved. | Developed by KedaiWebsite |







