Lingon Togutil eps 5

Posted on 07 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 5

Bab Dua

Lari Untuk Hidup

Bentuk gunung Watowato  tidak mengerucut ke atas melainkan membentang dari Timur ke Barat. Bagaikan manusia raksasa telentang menatap langit. Kakinya di Barat, bagian kepala di Timur. Bentuknya lengkap dari ujung jari kaki sampai kepala. Profil wajah memperlihatkan dagu, hidung sampai rambut panjang yang menjuntai ke belakang.

            Kampung suku Lingon terletak di lamping gunung Watowato di bagian kepala tepatnya di bagian rambut, kawasan Timur yang tak pernah didatangi orang. Suku Lingon terpencil dan populasi kian menyusut. Perempuan-perempuan Lingon yang cantik-liar dengan potongan tubuh seksi, menjadi buruan petarung Togutil dan petarung Pesisir. Mereka dijadikan istri atau dijual ke kapal asing Belanda, Portugal dan Spanyol. Kondisi ini tercipta dari generasi ke generasi berikut dan populasi suku Lingon makin menyusut.

Dalam pelarian Karin berada di bagian kepala gunung Watowato. Dia hanya tahu di ujung jalan setapak, akan memasuki hutan lebat. Dia tidak tahu apa yang menghadang di depan. Tetapi dia tahu di belakangnya para pemburu yang haus darah mengejarnya. Jika tertangkap dia pasti diperkosa dan dibunuh,

      Kabut dan embun menghalangi pandangan tetapi  Karin tidak menemui hambatan. Keberanian yang dipicu ancaman para pengejar memaksanya setengah berlari menuruni jalanan hutan. Cahaya remang bulan membantu Karin mengenali jalanan, menghindar dari hadangan pohon dan semak.

            Karin bergerak terus. Dia tahu di ujung hutan ada dunia lain. Dia tidak pernah tahu dunia luar itu. Sejak lahir dia ibarat gadis pingitan, terkunci dalam perkampungan, tak pernah melangkah ke dunia luar.

            Kini dia terdesak keluar kampung, dipaksa memasuki dunia asing. Itupun kalau dia selamat, tidak tertangkap para pengejar.

            Tetapi Karin tidak perduli, kakinya tak henti berlari.  

            Berpuluh kali Karin berlatih mendaki dan menuruni jalanan berbukit di bagian belakang perkampungan. Meskipun medan lapangan berbeda, namun kekuatan fisik Karin terlatih. Dia pemegang gelar juara lari di kampung bertahun-tahun sejak usia sepuluh sampai belasan tahun. Dia memenangkan gelar juara lari mengalahkan para pemuda.

            Karin dikaruniai bakat alam. Fisiknya sempurna untuk seorang pelari cepat. Tungkai kakinya panjang, kekuatan pinggul dan kakinya sanggup berlari sepanjang malam tanpa lelah. Staminanya tangguh. Dia memang pelari alam.

            Ketika para pengejar yang jumlahnya lima orang tiba di ujung jalan setapak yang berbatas dengan hutan, sosok Karin telah hilang ditelan malam dan kerimbunan hutan. Karin berada lebih dari seratus meter di depan.

            “Kurang ajar dia lenyap.”

            “Kejar terus, tidak boleh lolos.”

            “Dia tidak tahu arah tujuan, pasti dia akan berputar-putar kehilangan arah.”

            “Kita menyebar tiga kelompok. Aku sendirian kalian dua dua. Perintah Basam.

Karin menapak hutan belantara di lereng Utara gunung Watowato. Jalanan menurun licin oleh embun. Karin jatuh terpeleset beberapa kali. Dia berlari terus. Dia tak punya tujuan, hanya ingin menjauh dari kampung.

            Tetapi kemana dia harus mengarah? Dari cerita yang didengarnya, kampung Pesisir terdekat dengan gunung Watowato adalah kampung Gurua. Tetapi dia tidak tahu dimana desa Gurua. Arahnya pun dia tidak tahu. Dia tahu Bido tinggal di Waijoi, tetapi dimana Waijoi dia juga tidak tahu. Bido adalah anak Ketiti atau cucu Jakudu, Karin putri Jakudu. Jadi Bido adalah keponakannya namun sama usia dan sepermainan.

            Menjelang dini hari dia tiba di tempat yang padat semak dan kerimbunan pohon boulamo[1]. Pohon-pohon tinggi dan tebal sebesar dua pelukan anak remaja tampak angker di tengah malam sunyi.

            Kegelapan malam masih menggantung. Cahaya rembulan tak mampu menembus padatnya pepohonan yang mengurung Karin. Kabut dan embun masih bergantung. Udara sangat dingin. Karin menggigil kedinginan. Pakaiannya minim, basah air bercampur lumpur. Dua tangannya bersidekap memeluk dada. Dingin dan takut. Samar-samar dia mendengar percakapan yang makin mendekat. Bahasa Lingon.

            Hutan memang sepi dan hening sehingga seseorang bisa mendengar suara orang yang berada seratusan meter jaraknya.

            Dia tahu para pengejar makin dekat. “Aku akan tetap berlari, kalau perlu mati berlari.” Gumamnya dalam hati.

            Karin meraba gagang pisau dalam sarung yang diikat di pahanya. Hatnya agak tenteram seiring tekad dan semangatnya yang menyala. “Aku akan tarung sampai tetes darah penghabisan.”

            Karin tidak punya pengalaman jalan di hutan bahkan ini kali pertamanya. Tidak heran dia bingung detik ke detik. Namun dia tahu jiwanya terancam, dia harus lari untuk hidup. Tetapi sampai batas mana aku sanggup berlari jika tidak tahu arah tujuan? Pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.

            Para petarung Lingon terbiasa jalan di hutan apalagi wilayah lereng gunung Watowato. Itu wilayah tarung mereka, petarung Togutil dan Pesisir tidak pernah berani berkeliaran di situ. Beberapa kejadian para petarung Lingon tidak terkalahkan di daerahnya. Mereka menguasai seluk-beluk wilayahnya.

            Petarung Lingon terbiasa mencari jejak dengan memerhatikan ujung ranting yang putus, semak  dan rumput yang terkuak terobosan kaki. Mereka sanggup mencium aroma keringat manusia yang berbaur dengan bebauan semak belukar dan akar pohon yang basah embun dan air hujan. Mereka mencium aroma keringat Karin yang melekat di dedaunan, dahan dan ranting semak.

            Karin yang miskin pengalaman benar-benar tersesat. Dia tak tahu arah. Kemana dia memandang hanya pohon-pohon besar selingkar satu pelukan manusia dan semak setinggi tubuhnya.

            Pandangan terhambat embun dan kabut, aroma hutan menyengat hidungnya.

            Dia lapar. Dia makan terakhir dalam pesta tadi malam, sejak itu dia belum makan. Berlari dengan rasa takut sangat menguras tenaga, tak heran rasa lapar menyerangnya. Tetapi dia tak punya sesuatu untuk dimakan. Antara sadar tidak sadar dia menoleh keliling mengharap diantara gelapnya hutan menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Kepergiannya dari kampung tidak direncanakan, tidak ada bekal makanan yang dibawanya. Dia hanya mengenakan pakaian yang melekat di badan,  celana panjang ketat sebatas betis, cawat dan kutang yang ditutupi baju lengan pendek. Hanya itu.

            Di kampungnya dia tinggal bersama ibunya, tidak kekurangan makan dan pangan. Bahkan dia dimanja, apa saja keinginannya akan dipenuhi sang ibu. Tiba-tiba dia merasa rindu ibunya. Tetapi dia tahu tak mungkin bertemu ibunya lagi, Lala sudah mati terbunuh. Tanpa sadar dia menangis tanpa bersuara, matanya berkaca-kaca.

            Karin mulai putus asa. Tetapi dia tetap berlari. Lari menuruni lereng menjauhi para pengejar. Dia tahu kekejaman apa yang dialaminya jika tertangkap.

            Banyak lelaki Lingon tergiur kecantikannya. Terutama Basam yang bahkan telah melamarnya. Baginya Basam tidak beda dengan lelaki lain. Mereka hanya memikirkan pelampiasan nafsu, bukan cinta. Mengingat kejadian  nyaris diperkosa Basam, dia merasa jijik. Jika tertangkap mungkin dia diperkosa kemudian dibunuh.

            Membayangkan itu Karin merasa mual.

            Dia tetap berlari. Dia tak pernah tahu apakah telah menempuh jarak jauh atau kembali lagi ke tempat semula. Mungkin dia berputar-putar dalam radius yang sempit.

            Yang bisa menandai dia berlari menjauh dari para pengejar adalah jalanan turun, dia berlari menuruni lereng. Tetapi dia tahu ruang geraknya mulai terbatas. Dia  menebak para pengejar pasti menyebar berupaya mengepung, memotong jalan larinya.

            Suara itu makin mendekat.

            “Dia tidak jauh lagi.” Teriak seorang petarung.

            “Tangkap! Jangan bunuh!” Teriak yang lain.

            Karin mendengarnya, jantungnya yang sejak tadi bekerja keras memompa darah, berdebar kencang. Paru-parunya yang menghirup dan membuang udara membuat nafasnya tersengal-sengal. Dia harus tetap lari, memaksa diri menjauhi suara itu.

            Kini tenaganya melemah. Sejak awal dia tak pernah berhenti untuk istirahat. Berlari dalam ketakutan tentu saja lebih menguras tenaga.

            Malam makin larut, waktu sedang meniti ke dini hari. Sekuat apa pun tenaga dan staminanya, tetapi berlari hampir sepanjang malam sangat menguras tenaganya.

            Karin memutuskan berhenti berlari. Nafasnya sengal-sengal. Dia berusaha mengatur pernafasan. Tidak sulit. Dalam satu dua menit nafasnya kembali normal.

            Dia sembunyi di tengah semak belukar, menahan nafas. Agas dan nyamuk menyerang. Dia tak perduli. Diam tak bergerak bagaikan patung. Nafasnya diatur selemah mungkin, namun dia merasa dengusnya terdengar ratusan meter jauhnya.

            Dia ketakutan.

            Tiba-tiba dia merasa ada orang di dekatnya. Firasatnya berbisik ada orang asing di dekatnya. Musuh? Petarung Lingon? Basam?

            Pelan-pelan dia menoleh, celingukan memandang keliling. Kabut dan embun serta panas bumi yang menguap membentuk tirai putih tipis. Matanya berusaha menembus kegelapan malam, kabut serta embun. 

            Karin hampir berteriak saking kagetnya, badannya gemetar. Dia menahan nafas. Samar-samar antara remang cahaya bulan dan kegelapan malam dia melihat sosok manusia bersandar di pohon boulamo berjarak lima meter dari posisinya. Orang itu melekat di batang pohon yang besarnya dua pelukan.

            “Siapa dia? Hantu hutan? Manusia?” Karin berbisik dalam hati.

            Spontan dia meraba pisaunya. Dinginnya gagang pisau memberinya rasa aman. Paling tidak dia akan bertarung daripada menerima kematian begitu saja.

            Karin diam membeku, tidak bergerak, berdiri bagaikan patung. Pikirannya bekerja. Lalu dia melihat gerakan orang itu.

            Sosok itu menutup mulut dengan jari tangan, lalu tangan satunya lagi menggapai ke arah Karin. Isyarat agar Karin mendekat ke arahnya.

            “Apa isyaratnya? Agar aku tidak bersuara? Aku memang bersembunyi tentu saja tidak akan bersuara. Dia memanggil aku agar mendekat kepadanya? Mau apa dia? Siapa dia? Dia Togutil? Atau orang Pesisir? Apakah dia pemburu wanita yang menjual hasil buruannya ke kapal asing?”

            Sosok itu menggerakkan tangan mengaitkan dua jari telunjuk lalu meletakkan tapak tangan di dadanya, lalu tangannya melambai.

            Karin mengerti isyarat itu. “Dia memberi tanda berkawan dan mengatakan bahwa dia jujur. Dia memanggil sekali lagi. Apakah dia bisa dipercaya? Tampaknya aku tak punya pilihan, semoga dia benar-benar niat menolong aku.”

            Selintas dalam benaknya dia ingat mimpinya. “Lelaki tidak dikenal muncul di tengah kobaran api. Lelaki itu tidak terbakar meski berada di tengah kobaran api. Apakah dia  lelaki dalam mimpiku? Apa artinya? Apakah dia penolongku?”

            Sepasang mata Karin menembus gelapnya malam dan halangan kabut. Kini dia melihat lebih jelas, sosok itu ternyata seorang lelaki tinggi tegap. Sekali lagi laki-laki itu memberi isyarat jari di mulut, tanda agar tidak bersuara. Tangannya menggapai.

            Tidak ragu lagi Karin menghampiri. Dia melangkah hati-hati, menginjak tanah dengan lembut tidak ingin menimbulkan suara. Melangkah sambil matanya tetap menatap lelaki asing. Dia waspada.

            Dalam temaramnya sinar bulan dia melihat lelaki asing, tinggi tegap, kulit coklat gelap, rambutnya hitam panjang sebatas leher, celana dan kemejanya hitam.

            Lelaki itu tersenyum, ibujarinya menunjuk punggungnya.

            “Dia minta aku berdiri di belakangnya.” Karin mengikuti jalan pikirannya. Berdiri di belakang lelaki, ikut bersandar di pohon boulamo yang basah embun. Begitu dekatnya sehingga Karin mencium aroma keras lelaki dari tubuh perkasanya.

            “Belum tahu apakah dia musuh atau bukan. Tapi aku tak punya pilihan, pastinya dia bukan kelompok Basam. Semoga dia punya niatan baik menolong. Tapi sungguh aneh, mimpiku menjadi kenyataan. Hanya dalam mimpi aku tak bisa melihat parasnya dengan jelas, terlalu samar. Apakah dia yang dalam mimpiku atau bukan?” Pikiran Karin menerawang arti mimpinya.

            Terdengar suara dalam bahasa Lingon. “Dia di sini.”

            “Tangkap hidup-hidup! Jangan bunuh.” Suara yang lain.

            Karin mendengar suara pengejar makin dekat. Hanya dua orang, mana yang lain? Dia perkirakan jaraknya sekitar tigapuluhan meter. Mengerti posisinya di ujung tanduk dia memilih menyerahkan keselamatan dirinya kepada lelaki itu.

            “Aku tak punya pilihan.” Dia mengikuti suara hatinya.

( bersambung )



[1] Boulamo : salah satu jenis pohon kayu yang banyak tersebar dalam hutan Halmahera

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com