Lingon Togutil eps 4

Posted on 07 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil eps 4

Sore hari Jakudu menemui Karin dan Lana.

            Jakudu menegaskan adanya lamaran Basam. “Bagus. Karin mendapat jodoh Basam, dia petarung terkemuka.” Kata Jakudu.

            Karin protes, menceritakan kejadian pagi tadi.

            Jakudu tertawa. “Itu lantaran dia sangat menginginkan kamu. Tak ada salahnya kamu menerima cintanya tadi.”

            Lana dan Karin tidak berdaya.

            Sudah diputuskan Basam menjadi suami Karin. Pernikahan malam nanti. Apa yang ditetapkan Jakudu tidak boleh dibantah.

            Saat-saat terakhir Karin mengungkap perasaan. “Ayah. Kamu tidak sayang aku, kamu sering tidak berada di dekatku, kamu tidak jadi pelindungku, kamu lebih sering bersama Mimi istrimu jauh di hutan, sering menetap di pesisir menemani istri pesisirmu yang lain, kamu tidak sayang aku lagi. Terlebih-lebih sekarang kamu paksa aku jadi istri laki-laki yang tidak kusuka. Aku tidak mengerti ayah memaksakan pernikahan ini. Ayah menghancurkan putrimu sendiri.”

            “Kamu mengidamkan suami petarung hebat yang akan melindungi kamu sepanjang hidupmu. Nah, Basam itu petarung utama, di kampung ini dialah yang paling ditakuti. Banyak petarung Togutil mati di ujung pedangnya. Kamu aman bersuamikan Basam.”

            “Aku tidak suka Basam. Benci, aku benci dia.”

            Jakudu diam. Matanya sayu memandang paras murung putrinya.

            “Benar-benar kamu tidak suka Basam? Mengapa?”

            “Firasatku bicara sejak dia mulai mendekati aku. Hatiku tidak suka, dan aku tidak akan mengkhianati perasaan dan pikiranku. Dia pemukul wanita. Beberapa kali aku melihat wajah Titi merah bengkak, kata Titi sebab terbentur dinding. Aku tidak percaya. Jelas itu bekas pukulan suaminya. Aku juga tidak mau suami yang beristeri banyak, aku mau suamiku hanya milik aku sendiri.

            Jakudu memandang Lana istrinya. “Tetapi aku telah mengucap setuju menerima dia sebagai menantu.”

            “Katakan sekarang hanya lamaran, pernikahan tigapuluh hari lagi. Katakan aku harus mempersiapkan diri untuk menjadi istri seorang petarung utama.” Tukas Karin yang wajahnya gembira, mengetahui pendirian ayahnya melunak.

            “Apa rencanamu?” Desak Jakudu.

            “Ayah membantu aku keluar dari kampung, tinggal di Pesisir. Aku bisa tinggal di rumah Bido atau Katina di Waijoi.

            Baiklah aku ikut maumu, apakah itu bukan tanda sayangku padamu?”

            Karin memeluk ayahnya, mencium pipi Jakudu. “Aku tahu ayah sayang aku.”

            Lana menukas cepat. “Aku ikut. Kemana Karin pergi, aku ikut. Tanpa Karin di sisiku, aku bisa mati merana.”

            Karin memeluk Lana. “Ibu ikut aku, aku tak bisa berpisah dengan kamu, siapa yang akan memeluk aku malam hari?”

            Menjelang malam rombongan utusan Basam datang membawa beberapa nampan berisi buah-buahan hutan. Basa basi diantara kaum wanita terdengar bagai bisikan setan di telinga Karin. Lana berpura-pura gembira.               

 

Malam hari. Pesta minum likur berlangsung di lapangan depan rumah Kepala Kampung.

Lelaki perempuan berbaur, persediaan minuman tidak pernah habis. Likur sebanyak empat tempayan, semuanya telah dicampur racun keras. Tawa berderai dimana-mana. Semua gembira merayakan pertautan cinta Basam dan Karin.

            Karin berkumpul bersama teman-teman sebaya. Gadis-gadis itu menggoda, tidak tahu apa yang dirasakan Karin. Bahkan diantaranya ada yang iri, karena meski pun Basam sudah beristri dan punya lima anak, tetapi dia petarung Lingon paling menonjol. Menjadi istri Basam adalah kebanggaan seorang wanita.

            Jakudu bersama beberapa tokoh tua berkumpul, minum sepuasnya sambil tertawa. Mereka gembira. Jakudu hanya minum beberapa teguk tetapi tetua lainnya satu demi satu mulai mabuk atau setengah mabuk.

            Basam berkumpul bersama para petarung muda.  Petarung komplotan Basam menyebar, masing-masing mendekati calon korban yang sudah disepakati.

            Karin tidak pernah mengenal likur. Malam itu dia tidak minum setetes pun. Jika teman-temannya mulai mabuk, Karin masih bugar. Dia memandang ke arah Basam, sinar matanya penuh kebencian. “Mengapa aku membencinya, aku tidak tahu?”

            Tiba-tiba Karin mendengar teriak. “Sekarang!”

            Dia menoleh ke sumber datangnya suara. Basam. Laki-laki itu mencabut pedang dan mengacung senjata.

            Lalu terdengar serempak suara bersahutan. “Serang! Bunuh!”

            Kali ini Karin tidak hanya terkejut tetapi ketakutan. Dia melihat kelompok petarung dimana Basam duduk bersama, bangkit dan menyerang kelompok Jakudu. Pedang berbenturan. Terdengar teriak kesakitan bercampur jerit histeria para wanita. Hingar bingar. Pesta minum berubah menjadi ajang tarung.

            Pertarungan berat sebelah. Sepertinya tidak ada perlawanan dari kelompok yang diserang. Basam dan kawan-kawannya beringas menebas dan membantai. Satu demi satu korban berjatuhan. Mati berdarah-darah.

            Kepala kampung Tamako dan istrinya Ketiti mati setelah memberi perlawanan yang tidak berarti. Lana dan Mimi, keduanya istri Jakudu jatuh ditebas Moori. Para pendukung dan pembantu serta kerabat Tamako ikut jadi korban. Kelompok Basam tidak menyisakan satu pun dari keluarga para tetua kampung.   

            Lana dengan dada berlumur darah berlari mencari putrinya.

            Istri Jakudu itu jatuh dalam pelukan Karin. “Karin..... lari, tak ada yang bisa mengejarmu, selamatkan dirimu, lari ke hutan…” Nafasnya tersengal-sengal. Sekarat.

            Tangis Karin meledak bercampur histeria dan ketakutan.  

            “Karin pergi … ke Waijoi, temui Bido dan Katina … menetap di sana …. jangan kembali ke kampung ini. Temui Katina adikku, dia akan menolongmu.” Mata Lana mendelik. Nafasnya putus-putus. “Per… gi, .. Ki.. rin.. .. cepat.. pergi..” Sesaat kemudian Lana mati dalam pelukan putrinya.

            Karin merasa lemas. Tenaganya mendadak lenyap. Pikirannya buntu, dia berpikir akan mengikuti ibunya. “Aku mati bersama ibu…”

            Saat itulah tangan kekar menggenggam lengannya.

            “Berdiri… Karin… ikut ayah…” Suara Jakudu.

            Timbul semangat Karin. Ketakutannya sirna.

            Jakudu membuka jalan. Pedangnya menebas kiri kanan. Para pemberontak tidak ungkulan mencegah terpaksa membuka jalan.

            Jakudu teriak memanggil Samonema dan Marita, dua anak Ketiti.

            Marita... Samo ... Ikut aku…. ke hutan!”

            Sambil bertarung mereka berlari memasuki terowongan menuju jalan setapak yang menghubungkan kampung dengan hutan. Jalan setapak selebar satu meter diapit tebing cadas dan jurang yang tidak terlihat dasarnya.

            Duapuluh lebih pemberontak memburu menghujani tombak dan anak panah. Marita kena dua anak panah dan dua tombak, jatuh terguling ke dalam jurang.

            “Marita….” Teriak Samonema. Saat berikut Samonenama terkena panah tepat menembus jantung.

            Samonema teriak. “Akhhh..” Dia terguling ke jurang.

            Jakudu masih bertahan, tubuhnya yang tinggi besar menutupi jalan setapak menghalangi para pengejar. Terjadi tarung hidup mati, Jakudu mengamuk, marah menyaksikan dua cucunya mati.

            Tetapi apa daya satu orang menghadapi sekian banyak petarung yang dengan liciknya bergantian tarung sambil memanah dan menombak. Beberapa panah nancap di tubuhnya yang kekar namun Jakudu tetap bertahan menghadang musuh di jalan setapak. Dia bertahan untuk melindungi Karin.

            Saat itu dia tahu hanya satu orang yang masih hidup, yakni Karin, putrinya paling bontot, adik Ketiti. Dia sangat menyayangi Karin seperti juga memanjakan Ketiti.

            “Lari untuk hidup! Pergi Karin! Lari! Lari cepat!”

            Karin berdiri punggung nempel di tebing berjarak duapuluh meter dari ayahnya. Badan gemetar ketakutan. “Ayah, aku akan bersamamu, hidup atau mati.”

            “Karin pergi sekarang, temui Bido di desa Waijoi, kamu harus hidup, pergi, lari cepat, tinggalkan  ayah.” Teriak Jakudu yang masih bertahan meski anak panah dan tombak nancap di tubuhnya.

            Tahu bahwa tak ada gunanya bertahan di situ, Karin dengan air mata berlinang menjerit. “Ayah… aku pergi..” Gadis itu membalik badan dan melangkah pergi.

             Jakudu bertahan cukup lama. Dia bertahan demi memberi Karin kesempatan dan waktu melarikan diri. Fisik Jakudu punya limit, racun semakin menggerogoti tenaganya membuat dia semakin lemah. Pada akhirnya Jakudu tumbang jatuh  dalam jurang dengan belasan anak panah nancap di tubuhnya. Jakudu, legenda hidup kaum Lingon mati terbunuh oleh kaumnya sendiri.

            Diterangi sinar bulan yang menerobos kabut yang bergayut Karin berlari melewati jalan setapak dengan berani. Jalanan yang terbentuk alamiah, dasarnya batu cadas. Kaki Karin yang dilapis sandal kulit buaya menjerit perih namun tetap dipaksa berlari.

            Dia tahu di ujung jalan setapak, dia akan menemui hutan seperti cerita para pengembara Lingon. Selanjutnya hanya hutan belantara. Dia tahu peluang hidup baginya sangat kecil, karena dia tak punya pengalaman merambah hutan.

            “Mimpiku menjadi kenyataan kampung dilanda api. Bukan kebakaran besar tetapi pemberontakan. Orang-orang itu serakah, ingin kekuasaan. Bagi mereka membunuh sesama Lingon bahkan diantaranya membantai keluarga sendiri, dianggap sebagai bagian perjuangan. Mereka menyerang dadakan, membunuh para tetua, itu perbuatan pengecut. Basam memang pengecut. Dia nyaris memerkosa aku.”

             Karin bicara sendiri sambil melangkah lebar, setengah berlari, tidak takut  tergelincir jatuh ke dalam jurang. “Lebih baik mati di jurang daripada ditangkap dan diperkosa para pengecut itu. Aku tidak perduli.  Semua yang kusayang mati, ibuku, ayahku, kakak Ketiti dan Tamako. Aku telah kehilangan rumahku, teman-teman dan pakaian.” Karin mengeluh sadar hanya membawa pakaian yang melekat di badan dan  sebilah pisau yang terikat di pahanya.

            Di belakang Karin, Basam dan teman-temannya melangkah hati-hati. Mereka takut tergelincir masuk jurang.

            Moori dan beberapa petarung undur diri. “Kami urus mereka yang di kampung.” Seru Moori.

            Basam berteriak. “Roberakus kamu pimpin mereka semua. Kalian pulang. Bersihkan kampung. Mengejar Karin tidak perlu banyak orang. Cukup aku bersama empat kawan.” Kemudian dia menyebut empat nama. “Kalian ikut aku, memburu Karin calon istriku. Tangkap dia hidup-hidup.” 

( Bersambung )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com