Lingon Togutil eps 3

Posted on 07 Juli 2017 ( 0 comments )


Lingon Togutil Episode 3

Di rumah miliknya Lana tinggal bersama Karin putri kandungnya, putri bungsu Jakudu. “Ibu senang ayahmu berencana menetap lebih lama, biar bisa mengurus kamu.” Ujar Lana.

            Karin merangkul ibunya. “Tadinya aku marah pada ayah karena rencana menetap hanya beberapa hari. Kini tidak lagi. Karena ayah mengatakan padaku akan tinggal sampai satu purnama.” Dia mencium pipi ibunya.

            “Ibu, tadi malam aku mimpi buruk. Kulihat kampung kita terbakar dan aku sendirian berlari kesana kemari, minta tolong tetapi tak ada seorang pun menolong. Ibu, kampung kita akan dilanda bencana!” Tutur Karin.

            “Benarkah kamu mimpi demikian?” Bisik Lana menatap putrinya.

            “Kebakaran besar. Kampung jadi lautan api. Semua terbakar. Warga berlarian, berteriak dan menangis, banyak yang mati. Mimpi mengerikan, ibu!”

            Lana tahu Karin punya kelebihan supernatural. Firasatnya tajam. Dia jarang mimpi tetapi hampir semua mimpinya mengandung arti yang dalam. Menurut dukun Titam, adik kandung Jakudu, itulah warisan keturunan dari datuknya.

            Lana memandang putrinya dengan paras pucat. “Kamu mimpi kampung kita dilanda bencana? Ceritakan!”

            “Benar ibu. Kebakaran hebat. Rumah-rumah terbakar. Warga kampung berlarian, berteriak histeris. Banyak orang mati terbakar. Sebagian lain berdarah-darah. Ada pembunuhan tetapi aku tidak mengenal wajah-wajah pembunuh dan yang dibunuh. Hanya banyak orang berdarah-darah. Keadaan kacau, hiruk pikuk. Aku sendirian di tengah kekacauan, tidak ada orang lain, ibu, ayah, kepala suku, para tetua kampung, semuanya tidak ada. Aku bingung tidak tahu harus lari kemana, tidak tahu bagaimana cara menyelamatkan diri. Dimana-mana api berkobar, udara panas, mayat-mayat bergelimpangan, sebagian sekarat dan menjerit-jerit, mengerikan ibu…” Suara Karin bergetar, menguar rasa takut.

            Ada yang disembunyikan perawan ini, yang tidak dia ceritakan kepada ibunya. Dalam mimpinya dia melihat seorang lelaki asing berdiri tegar di tengah kobaran api. Anehnya lelaki itu tidak terbakar. Lelaki itu menghampiri, memegang tangannya dan menariknya keluar dari keganasan si jago merah. Hanya Karin tidak sanggup mengingat paras wajah asing itu, tetapi pasti dia orang Pesisir karena rambutnya hitam.           

 

Basam pulang ke rumah. Beruntung tidak ada saksi mata melihat kejadian itu sehingga dia tak perlu hilang muka. Dipecundangi gadis remaja adalah aib besar bagi seorang petarung. Tidak hanya marah karena dipecundangi si gadis, Basam murka karena nafsu binatangnya ingin memerkosa tubuh seksi itu gagal.

            Memerkosa Karin adalah bagian dari skenario pemberontakan, awal dari gerakan makar yang telah disusun matang. Basam memimpin puluhan petarung muda berencana melakukan pemberontakan pada malam hari.

            Mereka mulai mempersiapkan makar lima pekan lalu setelah gagal mengeroyok membunuh Sousoulol Tutumole dan Bido. Pada malam itu mereka kalah cepat, Tutumole yang orang pesisir melarikan Bido perawan cantik cucu Jakudu. Membawanya ke desa pesisir, Waijoi.

            Persiapan Basam dan kawan-kawannya matang dan sangat rinci. Tujuannya sekali bergerak langsung sukses.

            Dalam kemelut pertarungan malam nanti, Basam memastikan Karin akan menjadi rebutan teman-temannya. Karenanya dia berinisiatif lebih dahulu mendapatkan si gadis cantik. Dia ingin memiliki Karin untuk diri sendiri, tidak mau disaingi teman-temannya. Dengan memerkosa, mutlak si gadis menjadi miliknya.

            Karin adalah kembang kampung. Berdua Bido, mereka sepasang bidadari muda yang molek dan jadi incaran para petarung muda. Kepergian Bido dalam pelukan Tutumole, sousoulol Pesisir itu, maka Karin adalah bintang utama tanpa saingan.

            Basam masuk rumah disambut istrinya.

            Titi, wanita Lingon usia duapuluhan menyapa ramah. “Suamiku, kamu pergi buru-buru, lupa sarapan. Aku siapkan makanan kesukaanmu.”

            “Taaaaarrrrrr….” Tangan Basam menerpa pipi istrinya.

            Wanita itu terpelanting ke dinding. Sakit tetapi tidak berani teriak. Bahkan mengeluh pun tidak.

            “Apa salahku…?” Titi berbisik kesakitan sambil meraba pipinya yeng berbekas merah dihantam tapak tangan.

            “Kamu tidak bersalah. Hanya aku sedang kesal.”

            “Ada kejadian apa membuatmu kesal?”

            “Gagal. Sihir pamanmu gagal. Karin melawan, dia memberontak dan lolos dari sergapanku.” Tukas Basam penuh emosi.

            “Seharusnya sihir paman bekerja. Rupanya Titam ikut campur tangan.”

            “Kurangajar! Titam masuk daftar yang harus kubunuh!” Diam sesaat kemudian Basam melanjutkan. “Bagaimana persiapan lamaran sore nanti? Kamu tak boleh gagal!”

            “Semua temanku sudah siap. Sore nanti kita melamar Karin.” Istrinya menghampiri dan memeluk.

            Cumbu rayu wanita itu membuat amarah Basam sirna. Keduanya bergelut. Tetapi sekali lagi nafsu birahi Basam tidak tuntas, terdengar suara di pintu.

            “Basam, aku ingin bicara. Penting. Amat penting!” Suara Korak, salah seorang pentolan kaum muda yang menjadi motor pergerakan makar.

            Basam mendorong pergi istrinya. “Aku pergi dulu ….”

            Korak berdiri di ambang pintu. “Mereka menunggu di pinggir hutan.”

            “Moori mana? Panggil juga istriku itu.”

            “Dia sudah berada di sana, tapi .....” Korak tidak melanjutkan, mimiknya tegang dia hanya menatap Basam.

            “Mengapa? Ada apa dengan Moori?”

            “Istrimu itu mukanya cemberut, katanya padaku, panggil Basam katakan aku sedang marah.”

Menjelang siang. Sembilanbelas petarung muda berkelompok duduk di pinggir hutan, membentuk lingkaran kecil. Hutan sepi. Lokasi strategis. Dari tempatnya mereka bisa memantau orang yang mendekat. Tak boleh orang tahu pertemuan itu.

            Moori satu-satunya wanita dalam pertemuan itu duduk di sisi Basam. Wajahnya berseri membias kecantikan. Basam hanya perlu satu menit meluruhkan amarah cemburu Moori mendengar Basam akan melamar Karin. Didepan para pemuda, Basam mencium mulut Moori, lalu berbisik. “Karin hanya mainan, dia akan jadi budakmu, kamu tetap nomor satu.”

            Moori tertawa senang.

            Roberakus, pemuda tinggi kekar berdiri dan bersuara lantang.

“Basam, adikmu Karas mati dibunuh Sousoulol Pesisir itu. Kini saatnya menumpas keluarga Tamako yang telah membiarkan Sousoulol itu masuk kampung.”

            “Tidak cuma Tamako, tiga tetua ikut bertanggungjawab.” Seru Basam.                                           “Bunuh semua, biar tak ada lagi tokoh tua. Kita yang muda yang memimpin kampung, kita adakan perubahan.” Tukas Roberakus.

            “Aku akan bertindak tegas sehingga tidak ada lagi kejadian wanita-wanita kita kabur keluar kampung, masuk hutan dan menyediakan diri ditangkap orang Pesisir atau orang Togutil. Aku akan menghadang niat para wanita bodoh itu.” Tukas Moori bersemangat.

            “Moori bagaimana cara kamu mencegah, hal itu sudah menjadi niat hampir semua gadis, bahkan ada kejadian seorang istri kabur. Dia, Sumin istri Mase. Tidak banyak orang tahu kejadiannya karena Mase merahasiakan karena malu. Sampai saat ini Mase belum pulang, mungkin dia mati di hutan luar.” Kata Kukutu.

            “Aku punya cara, bicara kepada mereka semua, memberi contoh dan ancaman bahwa mereka justru menderita menjadi istri orang Pesisir atau Togutil. Mereka dijual di kapal asing dan menjadi mainan orang asing, setiap hari lima sampai sepuluh orang meniduri. Gadis-gadis kita tidak tahu cerita itu. Nah aku akan menasehati dan membujuk mereka. Tetapi jika perlu aku bertindak tegas dan kejam. Wanita-wanita kita tak boleh keluar kampung dan mereka harus bersedia menjadi istri para lelaki kita dan melahirkan anak. Pintu keluar harus dijaga ketat.”

            “Moori benar. Penduduk kampung semakin berkurang. Kita harus mengubah cara hidup dan memaksa para wanita melahirkan anak-anak kita.” Tukas Kukutu. “Kalau perlu perkosa dulu baru umumkan dia istri kita.”

            “Perkosa? Aturan apa itu, aku menentang. Umumkan aturan, perempuan yang menggugurkan kandungan akan dihukum. Itu lebih manusiawi. Dan para wanita harus berusaha untuk hamil dan melahirkan anak.” Tegas Moori.

            Sesaat suasana hening. Semua yang hadir menatap Basam.

            “Kalian percaya aku sebagai ketua. Nah aku tetapkan kita sembilanbelas orang adalah Dewan Adat, aku ketua, Roberakus wakil, Moori urusan wanita, semua kebijakan akan diputuskan setelah disetujui Dewan Adat. Nah apakah ada bantahan, kalau tidak ada bantahan maka keputusan itu jadi pasti.” Kata Basam.

            Semua yang hadir diam, artinya setuju.

            “Sekarang kita bicarakan rencana merebut kekuasaan. Kita bagi-bagi tugas malam nanti.” Kata Basam.

            “Jakudu pasti membela Ketiti putrinya. Siapa yang menantang Jakudu?” Korak yang sibuk mengasah pedang, ikut bicara. “Jakudu tidak terkalahkan!”

            “Jakudu sudah tua, saatnya dia dikalahkan.” Tegas Basam pasti. “Kita keroyok.”

            “Kapan kita bergerak?” Tanya Moori.

            Kita bergerak malam nanti. Istriku Titi dan teman-temannya akan melamar Karin sore hari, malamnya Jakudu adakan pesta makan, saat itulah kita serang dadakan.” Tegas Basam. “Kita harus kejam, tak boleh beriba hati.”

            Mereka mengatur rencana matang membunuh keluarga Tamako beserta pembantu dan pendukungnya. Sebagian menghabisi tiga tetua. Basam dan Roberakus termasuk dua diantara tujuh petarung akan mengeroyok Jakudu.

            “Kita serang serentak di tengah pesta. Jakudu kita keroyok rame-rame. Ingat dia petarung ulung.” Tegas Basam. “Tapi racun akan melemahkan daya tarungnya.”

            “Benar. Kita sangat bergantung pada Kukutu.” Tegas Roberakus.

            Laki-laki itu, Kukutu duduk tenang, dia dukun saingan Titam. Tidak hanya dukun dia juga petarung dan pembunuh. Sejak tadi dia mengaduk ramuan cair dalam tempayan besar. Ramuan racun.

            “Racun telah siap. Berapa tempayan likur[1] yang kita siapkan?” Kukutu bertanya.

            “Berapa tempayan? Empat? Atau lima?” Basam menatap sang dukun.

            “Duapuluh orang untuk satu tempayan, jadi empat tempayan kurasa cukup. Campurkan ramuan ini ke semua tempayan likur.

            “Baik, empat tempayan!” Tegas Basam. “Bagaimana kalau mereka curiga?”

            Kukutu tersinggung. Parasnya merah bagai kepiting direbus.

            “Tidak mungkin. Racun ini menyatu dengan likur, rasanya juga rasa likur, mabuknya juga mabuk likur. Racun keras, mereka akan lemas sehingga mudah bagi kita membunuhnya.”

            “Mereka akan curiga kalau kita tidak ikut-ikutan minum.” Tegas Roberakus.

            “Kuberi bubuk penawar. Kalian minum sepuasnya, tidak akan keracunan.”

            “Bagaimana dengan teman-teman kita yang lain?” 

            Setelah perang usai, akan kuberi ramuan penawar.”

            “Bagaimana persiapan lamaranmu?” Yakomo menatap Basam.

            “Istriku sudah siap. Sore ini dia bersama beberapa temannya membawa barang antaran sekaligus lamaran.” Ujar Basam.

            “Bagaimana kalau Karin menolak?” Suara Roberakus agak parau. Sebenarnya dia juga menginginkan Karin tetapi tidak punya nyali bersaing dengan Basam.

            “Aku sudah bicara dengan Jakudu. Dan Jakudu setuju. Lamaran pada sore hari dilanjutkan pernikahan dan pesta minum pada malam hari. Kita serang saat mereka sudah mabuk. Jadi tak ada hubungan dengan penolakan Karin.” Basam tertawa. “Karin itu milik aku, awas jangan sentuh.”

( bersambung )



[1] Likur : Saguer yang dicampur ramuan semacam alkohol, minuman keras memabukkan.

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com