Lingon Togutil 2
Posted on 02 Juli 2017 ( 0 comments )
Episode 2
“Karin aku ingin bicara.” Basam berusaha ramah.
“Aku mencari Lisi, kamu lihat dia?”
“Dia memberi kesempatan kepadaku berdua dengan kamu.”
Timbul curiga, Karin pura-pura tidak tahu. Tetapi dalam hati dia mengutuk Lisi yang telah menjebaknya.
Kini dia hanya berdua dengan Basam. Dia bertanya-tanya apa maunya Basam.
Tidak ada jalan lain, terpaksa Karin berhenti lima meter dari Basam. Jantungnya berdebar kencang, firasat buruk menggelitik benaknya. Sepasang matanya yang biru bening memandang curiga.
Karin ingat peringatan bibinya. “Waspada terhadap Basam, dia akan memaksa kamu. Hindari berada berdua dengannya. Laki-laki itu sangat tergila-gila padamu dan akan memaksa dengan segala cara.”
Basam melangkah mendekat.
Ketika jarak keduanya terpisah dua meter, Karin bertanya. “Mau apa kamu menghadang jalanku.” Suaranya tegas menantang.
Basam, lelaki berusia tigapuluhan, bertubuh tinggi kekar, bercambang dengan rambut kuning sepanjang leher.
“Malam ini aku melamar kepada orangtuamu menjadikan kamu istriku.”
Karin terperangah. Ucapan Basam mengejutkan. Jantung Karin berdebar kencang, bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba dia takut.
Namun mengetahui situasi tidak menguntungkan, hanya berdua Basam di sudut hutan yang terpencil, dia menyahut. “Silahkan temui orangtuaku.”
“Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Jawablah, bahwa kamu bersedia. Kita bercinta di sini, tidak ada orang lain hanya kita berdua.”
“Celaka, benar kata bibi, dia akan memerkosa aku.” Karin bersiap-siap lari. Dia percaya dengan kecepatan larinya, reputasinya sebagai pelari tercepat di kampung, akan mudah meloloskan diri.
Rupanya Basam bisa menebak pikiran si gadis, melihat dari mimik tegang Karin. Maka tanpa aba-aba, laki-laki itu menerjang dengan merentang dua tangan. Serangan mendadak. Karin kaget karenanya terlambat bergerak.
Karin tidak kuasa mengelak. Dua tangan di depan dada menahan dada Basam.
Tabrakan.
Tangan Karin tak mampu menahan dorongan dan berat badan Basam. Dua lengan kekar Basam berhasil memeluk tubuh langsing si gadis. Serangan cepat Basam membuat keduanya hilang keseimbangan jatuh berdebum di tanah gembur bekas hujan dan rembesan air sungai.
Udara dalam paru-paru Karin terhembus keluar saat badan langsingnya jatuh menghantam tanah. Basam berada di atas tubuh si gadis. “Kamu milik aku!” desisnya.
Karin berontak, tenaganya cukup besar. Tetapi tubuh Basam yang menindih lebih besar dan lebih berat. Basam mencium beringas, nafasnya berbau minuman keras.
“Basam bukan begini caranya. Lepaskan aku!”
“Tiap malam kubayangkan badanmu, sekarang kamu jadi milikku.” Tangan Basam merobek baju Karin, begitu kerasnya tenaga Basam, seketika kemeja Karin robek menjadi dua.
Dada Karin telanjang.
Karin kaget, rohnya seakan melayang pergi. Tetapi pikirannya bekerja cepat. Dia teriak, keras. “Ayah….!”
Basam kaget. “Celaka Jakudu datang.” Bisiknya dalam hati.
Ayah Karin, Jakudu petarung tua yang tidak terkalahkan dalam sekian banyak pertarungan dengan orang Pesisir dan suku Togutil. Tidak seorang pun di kampung Lingon berani menantang Jakudu.
Saking kaget, Basam bergerak spontan, menoleh ke belakang. Gerak itu membuat tubuhnya merenggang dari badan Karin.
Karin yang terbiasa berolahraga bergerak refleks. Pikiran dan fisik bekerja secara motorik. Dia menggigit leher Basam, giginya menerkam leher dekat bahu.
Itu bagian berotot sehingga gigitan tidak masuk dalam. Namun ketika gigi atas dan bawah bertaut serta ditarik dengan hentakan keras tidak ayal lagi Basam menjerit kesakitan.
“Aaaakhhhhh…” Basam teriak. Darah mengucur dari lukanya.
Saat berikut dua tangan Karin mendorong dada si lelaki. Lalu dia melepas diri dengan berguling.
Karin bangkit berdiri pada saat mana Basam juga bangkit dan menerjang maju. Basam benar-benar marah.
“Gadis liar … kamu akan rasakan kejantananku.” Teriaknya.
Karin tidak mengelak malah bergerak maju satu langkah. Tiba-tiba kakinya naik menerpa selangkangan Basam. Laki-laki ini tidak menyangka perlawanan si gadis.
Tendangan Karin tepat mengena buah zakar Basam.
“Aaakhhh..” Basam teriak lagi.
Kali ini teriakan lebih keras, karena sakitnya sampai menerjang otak. Badannya merunduk memegang kemaluannya yang terasa baal. Dia tak bisa berpikir kecuali merasakan sakit yang bukan kepalang.
Kesempatan digunakan Karin. Dia lari sekencangnya sambil memegang baju yang robek. Saking panik, Karin melecut larinya sekencang mungkin.
Selama ini dalam lomba lari di kampung dia selalu juara bahkan mengalahkan para pemuda. Dalam keadaan normal Basam tak mungkin bisa mengejar Karin apalagi dia sedang kesakitan oleh sepakan Karin.
Basam teriak. “Karin…. Gadis liar! Kamu akan jadi milikku!”
Mengira dikejar tidak ayal lagi Karin berlari lebih kencang. Sepanjang jalan dia tidak memerhatikan paras bingung orang kampung yang melihatnya.
Bagaimana tidak?
Karin berlari dengan celana hitam basah berlumur lumpur dan kemeja yang robek bagian depan mempertontonkan dadanya yang ranum.
Karin menabrak pintu rumahnya.
“Braaaakkkk…”
“Ibuuuu…” Teriak Karin, suaranya parau.
Lana, ibunya terkejut, merentang dua tangannya, ingin memeluk putrinya.
Saat berikut Karin menabrak sang ibu, keduanya jatuh terjengkang.
Lana tidak sempat bicara karena putri tunggalnya menangis keras sambil memeluk erat.
Lana tidak bicara, satu tangannya memeluk, tangan lain mengelus kepala yang dihiasi rambut pirang kecoklatan yang masih basah. Dia membiarkan putrinya menangis.
“Ibu…. Ibu..” Isak tangis Karin memelas.
“Diam dulu… jangan bicara, menangis lebih baik dari bicara.” Desis Lana. Dia tahu ada peristiwa serius menimpa putri sematawayangnya.
“Basam…. Basam… dia menyerang aku…Ibu....” Suaranya bercampur isak.
Wajah Lana pucat, badannya gemetar. “Kamu diperkosa…?”
Karin mengangguk. “Hampir… Ibu… hampir … tapi aku lolos…”
“Ceritakan… tapi hentikan tangismu. Kamu selamat dan sekarang dalam pelukan ibu, ibu sayang kamu.” Dia mengambil air dan meminumkan pada putrinya.
Tangan Lana membelai wajah putrinya. “Lihat kamu begini cantik. Mata biru bening dan mulutmu menggemaskan. Tidak heran Basam atau siapa saja tergila-gila padamu….”
“Bukan begitu caranya…” Tukas Karin.
“Kalau dia meminta baik-baik, kamu mau?”
Karin menggeleng. “Aku tak pernah menyukainya, dulu dan sekarang. Apalagi setelah kejadian ini, aku tak mau melihat mukanya lagi.”
Karin menceritakan detil kejadian. Lalu menambahkan. “Sayang pisauku tidak kubawa, kalau tadi kubawa, kutikam dia biar mampus…” Tuturnya sengit.
“Ayahmu sangat menyukai Basam, dia petarung utama di kalangan muda. Ceritakan kejadian tadi kepada ayahmu biar dia tidak lagi menjodohkan kamu dengan Basam.” Kata Lana sengit. Karin permata hatinya, tidak boleh orang menyakiti putrinya. Dia akan membela putrinya dengan mempertaruhkan nyawanya.
“Jangan Ibu. Kalau ayah marah dan memukul Basam, keadaan justru makin merugikan aku. Pasti orang akan menuduh aku yang menggoda Basam. Seorang gadis perawan menggoda laki-laki beristri? Jangan ibu, jangan cerita kepada ayah.”
“Baik tidak perlu lapor kepada Jakudu. Biar aku yang mendatangi Basam.”
“Jangan ibu… Basam jahat. Tadi kuperhatikan sinar matanya, dingin dan kejam. Orang itu pembunuh. Jauhi dia Ibu!"
( bersambung )
Comments







