Lingon Togutil eps 1
Posted on 02 Juli 2017 ( 0 comments )
1.1
Kampung Lingon 1914
Di salah satu rumah dalam perkampungan suku Lingon yang terpencil di bagian Timur gunung Watowato, gadis remaja bernama Karin duduk sila di tanah berhadapan dengan Titam wanita usia pertengahan abad. Badan Titam kurus, wajahnya masih menyisakan kecantikan di masa muda.
Wanita tua itu memiliki kekuatan supernatural khusus menyembuhkan penyakit. Punya ilmu meramal dan ilmu sihir. Saat itu tampak dia memejam mata, mimiknya serius. Rambutnya yang kuning dan beruban putih riap-riapan.
“Bibi… urusan apa bibi memanggil aku?” Karin bertanya.
Titam membuka mata. Sinar matanya tajam menatap keponakannya.
“Basam. Kamu suka Basam, mau jadi istrinya?”
Pertanyaan tiba-tiba dan langsung kepada permasalahan, sesaat Karin terkejut tetapi kemudian menyahut tegas. “Tidak! Aku tidak suka Basam!”
“Bodoh! Aku sudah melihat masa depan, Basam akan menjadi kepala suku, jika kamu jadi istrinya, kamu bisa menguasainya. Artinya kamu yang memerintah suku ini, dan dengan kecantikanmu kamu akan melumpuhkan Basam dan mengaturnya.”
Karin diam. Pikirannya menerawang kemungkinan muluk itu. Karin usianya memasuki tujuhbelas, cantik seksi menarik. Dia terbilang satu diantara gadis-gadis suku Lingon yang cantik. Parasnya cantik liar, sepasang matanya tajam dan bening, badannya ramping dengan lekukan yang seksi. Payudaranya mengkal berisi. Pantatnya semok. Tungkai kakinya panjang langsing dengan paha dan betis memadai. Seperti halnya gadis-gadis Lingon, kulit Karin putih bersih dihiasi rambut coklat pirang, sebagian gadis Lingon rambutnya pirang kekuningan.
“Basam tak akan bisa diatur wanita.” Tegas Karin.
“Bukan hanya Basam, dengan wajah dan tubuhmu yang cantik kamu bisa menaklukkan laki-laki siapa pun dia. Ingat itu. Ketika kamu telah jadi istrinya, kamu bisa membuat dia lupa segala-galanya.”
“Aku punya kemampuan seperti itu?”
“Benar. Kamu bisa menaklukkan lelaki siapa pun dia. Itu garis tanganmu.”
“Tetapi aku tidak suka Basam. Setiap melihatnya aku ingin muntah, jijik.”
Titam memotong. “Huh! Jadi siapa laki-laki yang kamu suka?”
“Tidak ada. Tidak satu pun laki-laki kampung ini yang kusuka.”
“Lantas apa maumu? Kamu mau jadi perawan tua? Sendirian dan kesepian sampai tua, sampai ajalmu datang? Tidak punya suami, tidak punya anak?” Suara Titam tinggi, matanya tajam seakan hendak menelan keponakannya.
“Kamu juga tidak punya suami, tidak punya anak.” Potong Karin.
“Aku pernah kawin, punya suami, tapi kubunuh dia karena mencuri emasku.” Titam marah, mukanya merah padam.
Karin yang tahu bibinya menyayangi tidak gentar bahkan menyahut dengan mata melotot. “Bosan, aku bosan tinggal di sini. Aku ingin tinggal di Pesisir[1] seperti Bido. Kawin dengan orang Pesisir, punya rumah sendiri, bermain-main di laut, memancing ikan dan berenang. Seharusnya aku ikut Bido, waktu itu dia mengajak aku. Tetapi aku kasihan ibuku, aku tidak tega meninggalkan dia.”
“Bido beruntung kawin dengan Sousoulol[2] Tutumole.” Suara Titam normal.
Karin mengalih pembicaraan. “Bibi urusan apa kamu memanggil aku?”
“Tadi malam aku mimpi kamu.” Titam menghampiri keponakannya, memegang dua pipinya dan menatap lekat mata biru Karin.
“Benar perkiraanku, ada sihir dalam badanmu.” Kata Titam.
“Apa?” Suara Karin bergetar. Pasti sesuatu yang serius. Dia percaya kata-kata bibinya. Bibinya selalu benar.
“Jawab yang jujur. Satu pekan ini siapa lelaki yang sering kamu pikirkan?”
Karin tercengang. “Bagaimana bibi bisa tahu?”
“Jawab!” Bentak Titam.
“Aku tidak suka dia, aku benci dia, tetapi lima hari berturutan wajahnya sering mengganggu aku terutama waktu malam. Laki-laki itu Basam.”
“Basam telah mengunci jodohmu. Sihirnya kuat, kamu akan jadi istrinya!”
Karin menepuk pahanya sendiri. Setengah teriak dia menyahut. “Tidak mau! Bibi, tolong aku. Keluarkan sihirnya. Aku mau pergi dari kampung, pergi ke Pesisir .”
“Bagaimana dengan Lana? Kamu biarkan ibumu sendirian?”
“Ibu ikut aku!”
Titam tertawa. “Kamu memang keras kepala. Lebih keras dari Bido. Sihir Basam sangat keras, aku hanya sanggup mengurangi, selebihnya tergantung kamu, jika memang kamu tidak suka maka sihirnya akan punah. Tetapi ingat, kamu harus waspada terhadap Basam, dia akan memaksa kamu. Hindari berada berdua dengannya. Laki-laki itu sangat tergila-gila padamu dan akan memaksa dengan segala cara. Dia niat memerkosa kamu supaya kamu menjadi miliknya. ”
“Basam sudah punya tiga istri. Bahkan Moori yang liar dan memiliki ilmu tarung tinggi sudah jadi istrinya. Konon Moori sudah hamil anak Basam. Masih kurangkah tiga wanita untuk pelampiasan nafsunya dan ingin menambah aku sebagai istri keempat.”
Titam tertawa. “Basam itu lelaki sejati, petarung ulung, kuat dan perkasa, dia masih akan menambah tiga empat istri lagi. Barangkali semua gadis kampung ini akan dia jadikan istrinya. Sungguh laki-laki sejati.”
“Gila! Basam itu gila. Dan kamu justru mengaguminya menyebut dia lelaki sejati. Kemana akal sehatmu?”
Titam tertawa geli. “Sekarang ini kamu membencinya, tidak suka. Tetapi aku jamin satu malam saja bersama Basam kamu akan menggilainya.”
“Kamu gila Bik...” Karin merasa mukanya memerah malu. Sesaat dia membayang menjadi istri Basam, membayang percintaanya dengan lelaki tinggi gempal itu. Cepat dia mengusir bayangan itu. “Aku membencinya...!”
“Moori juga membencinya. Tetapi begitu Basam menaklukkan dia, dan memerkosanya, Moori jadi jinak. Lihat sekarang Moori mendampingi Basam sebagai wakil panglima pemuda.” Titam tertawa geli melihat mimik Karin yang semakin merah.
“Aku tidak mau dia. Benci, aku membencinya.” Teriak Karin.
Pagi hari itu udara dingin, kabut dan embun masih bergayut, Karin dan teman-temannya melangkah menuju pemandian. Acara para gadis seperti biasa, setiap pagi berenang dan bercanda. Satu hari pun Karin tidak pernah absen, bagi perawan Lingon ini berenang adalah olahraga wajib selain berlatih lari.
Di Selatan kampung mengalir sungai kecil, semacam selokan dengan lebar dua meter. Sungai sodetan dari sungai besar yang menyambung ke air terjun. Di tepi kampung berbatas dengan hutan, sungai membentuk kolam besar yang airnya dalam dan jernih. Kolam tempat para gadis bahkan wanita yang telah bersuami mandi dan berenang.
Gadis-gadis bersuka-ria, bercanda, berenang dan menyelam. Itu pemandian para gadis yang tidak boleh didatangi kaum pria. Tidak heran sebagian gadis berenang tanpa penutup dada bahkan bugil.
Karin remaja usia tujuhbelas, paling menonjol. Parasnya cantik jelita dan potongan badan yang molek tidak tertandingi teman-temannya. Karin juga sangat mahir berenang dan menyelam. Gerakannya bertenaga.
Satu demi satu temannya mentas dan pulang. Karin hendak pulang tetapi dicegah temannya, Lisi, wanita beranak satu yang lima tahun lebih tua. Setelah puas berenang kian kemari Karin memaksa pulang.
“Ibuku akan khawatir.” Kata Karin.
“Kamu memang anak manja, ibumu sangat menyayangi kamu.” Kata Lisi.
Keduanya mentas melangkah menuju batu besar tempat mereka menumpuk pakaian. Karin sibuk mengenakan celana panjang ketat sebatas betis dan baju tanpa lengan. Dia mencari keliling tetapi Lisi tidak kelihatan.
“Kemana Lisi? Kurangajar dia tinggalkan aku sendirian.” Gerutunya. “Aku harus cepat pulang.”
Dekat batas kampung langkahnya terhenti. Seorang lelaki menghadang di depan. Basam, salah seorang petarung yang jadi pemimpin kaum muda.
“Karin aku ingin bicara.” Basam berusaha ramah.
[1] Pesisir : Perkampungan di sepanjang pantai.
[2] Sousoulol : Gelar seseorang yang berilmu tinggi dalam tarung dan spiritual, khususnya suka menolong orang tanpa pamrih dan tidak menerima bayaran. Pada masa itu hanya ada seorang Sousoulol, dialah Tutumole.
Comments







