Namaku Retno 1.39
Posted on 08 Maret 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.39
“Berkat jamu bikinan Ibu, jamu khusus setelah melahirkan, bikin tubuhku pulih jadi langsing dan singset.” Tutur Retno. Ibu yang dimaksud adalah Ibu Sarika.
“Kamu cantik dan seksi yang diciptakan khusus untuk kucintai.” Kata Arya.
“Terimakasih pujianmu Mas.” Retno tersenyum melihat sinar mata suaminya. Dia mengerti arti makna tatapan Arya.
“Ketika Shallina lahir, Mas Arya berbisik ditelingaku. Sudah cukup tujuh anak Retno. Jadi pabrik anak sudah tutup dan Shallina dapat predikat si bontot.” Retno menghampiri Sri Dewi menyodorkan Shallina. “Ini Mam, Shallina kangen Omanya.”
Sri Dewi menyambut cucunya yang mungil. Menciumi dengan gemas. “Ina, kamu tanya dong sama Mamamu yang bernama Retno itu, mau kemana Mam?”
“Aku mau ngurusin suami dulu, Mama dan Papa disini saja ngurusin cucu-cucu. Itu baby-sitternya diawasi Mam.” Kata Retno sambil melenggang menggandeng tangan suaminya.
Belum juga melangkah jauh. Kakak-kakak Shallina berlarian mendekat. “Mama mau ke mana? Aku ikut!” Kata Adam yang sulung.
Adik-adik Adam serempak berseru. “Ikut …. Ikut … ikut…”
Retno memandang suaminya dengan tertawa. “Enaknya punya anak tujuh, begini yah Mas. Kemana kita pergi mereka mau ikut.”
“Papa mau berdua sama Mama di kamar, jangan ganggu yah. Tadi malam papa dan Mama tidak tidur karena jagain Shallina. Kalian main sama Opa dan Oma.” Kata Arya kepada anak-anaknya. “Atau terusin main bola.”
Arya merangkul isterinya. “Jeng, kamu temanin aku kerja.”
“Kerja beneran?” Retno menggoda.
“Ndak ah, ini hari libur, kita istirahat di kamar saja, berdua, yah?”
“Masih ada waktu empat jam sebelum keluarga Jatiwaringin dan Cawang datang.” Kata Retno yang berhenti di ambang pintu kamar, memegang tangan suaminya. “Mas, seberapa besar kamu mencintai aku?”
Arya menatap mesra kekasihnya. “Sebesar gunung dan sedalam lautan.”
“Ah itu kan sudah berulang kali kamu ucapkan, cari yang lain dong, yang romantis yang membuat Retno makin kasmaran sama Arya.” Retno menggoda.
Arya menggeleng. “Ndak ada yang lebih hebat dan lebih romantis dibanding ungkapan sebesar gunung sedalam lautan.”
“Iya Mas, itu sudah menjawab permintaanku, cinta yang permanen. Gunung dan lautan itu permanen, tak akan pernah hilang dari planet bumi. Katakan Mas, apa yang kamu sukai dari Retno isterimu, yang membuat kamu kasmaran?”
“Retno itu pandai masak, kalau bicara, suara, mimik dan gerak mulutnya yang tidak dibuat-buat menebar pesona. Mulutnya seksi yang sering membuat Arya ingin mencium. Penampilannya membuat aku dicemburui banyak lelaki, apalagi kalau Retnoku itu nyanyi keroncong dengan suaranya yang merdu, medok Jawa dan gayanya yang anggun. Retnoku itu kalau jalan koyok macan luweh, lenggok dan getar bokongnya memancing selera birahi Arya.
Retnoku itu, cerdas, rajin, bekerja keras, manut suami, ibu yang super bagi tujuh anaknya, wanita yang membuat Arya selalu haus akan cintanya. Dia sekretaris dan bendahara yang telaten, pemegang keuangan suaminya yang njelimet dan amanah.
Begitu banyak kelebihannya sehingga kekurangannya yang suka ngambek, medok Jawa, suka bingung jika didesak, suka nangis kalau ingat Ibunya, suka nangis kalau suaminya ke luar negeri ndak ngajak dia, suka nangis kalau diomelin suaminya, Retno memang cengeng, tapi kalau nangis justru makin cantik. Bagaimana Arya tidak kasmaran terhadap wanita yang cuma satu di planet bumi ini.”
Sepasang mata Retno berkaca-kaca. Parasnya ceria, memancarkan sejuta bahagia dan mengungkap sejuta cintanya pada Arya. “Mas, kamu memberiku arti dalam hidup ini. Kamu panutan, suami yang ngemong, suami yang hangat penuh cinta dan nafsu. .Aku mencintaimu. Mas, itu tadi rayuanmu yang paling memukau, apa saja akan kulakukan untukmu asalkan hidup bersamamu selamanya.”
“Aku mencintaimu Retno.”
“Mas, aku ingin mendengar janjimu pada malam pertama di kamar ini.”
Arya tertawa, tetapi dia mengakui kenangan indah malam pertama selalu digali Retno dalam setiap kesempatan. Ternyata itulah tali baja yang menjerat mereka berdua dalam ikatan yang mesra dan harmonis dari tahun ke tahun.
“Retno kekasihku, kamu memikat aku sejak di lantai dansa. Makin hari aku makin tenggelam dalam pesona keindahanmu. Kamu cantik dan seksi juga memiliki ahlak yang terjaga. Sebelum malam pertama ini, aku bahkan tak bisa menciummu. Berada dekatmu, gairah nafsuku bangkit dan membuat kepalaku pening. Ijinkan aku memasuki tubuhmu dengan ikhlas, wahai dewiku.” Kata Arya.
Retno tertawa lirih. “Tidak persis. Tetapi artinya sama saja. Dan aku menjawab dengan suara parau, tubuhku bergetar, darah mengalir deras di tubuhku. Iya kangmas Arya Priambodo, sekarang ini aku milikmu, ambil apa yang kamu mimpikan selama ini, aku ikhlas tubuhku menjadi milikmu. Lalu aku memelukmu dan menangis. Lalu kamu tanya, mengapa menangis kekasihku? Kujawab, aku bahagia.”
“Kamu suka mengulang-ulang episode ini.” Bisik Arya.
“Ini episode paling puncak dari kebahagiaan Retno isterimu, dan aku ingin mengulang episode itu setiap kesempatan yang ada. Coz I love you so much dear.”
“Bukannya ketika Adam lahir?” Tanya Arya.
“Ketika hamil, itu episode puncak begitu juga ketika Adam lahir. Tetapi episode puncak dan paling romantis adalah malam pertama di kamar ini.” Tutur Retno.
Mereka pelukan. Masuk kamar. Saat berikut terdengar bunyi anak kunci diputar.
Tamat
Comments







