Namaku Retno 1.38
Posted on 07 Maret 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.38
“Sebaiknya berangkat hari Selasa pagi, biar Retno dengan saya yang mengurus tiketnya. Di Jakarta ada yang akan menjemput.” Kata Murni.
Sepuluh Tahun
Ada ruang kosong yang misterius tetapi indah, aku ingin masuk ruangan itu berdua denganmu, kita mengisi ruang itu dengan kesamaan, perbedaan kita tinggalkan di luar ruangan. Itulah rumah tangga yang kuidamkan. Retno masih ingat kata-kata suaminya sepuluh tahun lalu di malam pertama pernikahan mereka.
Retno berpegang pada motto sederhana suaminya itu. Jarang terjadi perdebatan apalagi pertengkaran dengan suaminya. Dia tahu pada saat menjadi isteri maka sejak itu dia menyerahkan nasib dan pemeliharaan atas dirinya kepada sang suami.
Dia patuh pada suami, menjauhi apa-apa yang tidak disukai suami, melaksanakan perintah suami. Jika ada yang tidak cocok dengan pikirannya, dia akan menunggu waktu yang tepat untuk mempertanyakan.
Dia melayani mertuanya dengan baik, termasuk Ibu Sarika. Dia menaruh hormat dan respek pada Murni dan Sulis. Juga Kakek dan Nenek Murni serta keluarga Sulis.
Jika hendak memberi sesuatu kepada orangtuanya di Surabaya, apakah kiriman uang atau bingkisan, maka dia akan memberitahu suaminya terlebih dahulu.
Dia melayani Arya dengan telaten. Jika suaminya bekerja hingga tengah malam di rumah, dia akan menemaninya, menyediakan makanan kecil. Tidak jarang saking penat dan kantuknya dia tertidur di kursi dekat meja kerja suaminya.
Dia tidak memaksa ikut ke luar negeri, tetapi akan manut jika diajak. Dan di luar negeri itu dia akan setia melayani suaminya, tidak tergiur kemewahan atau shopping.
Dia bisa tampil sebagai isteri Arya yang memesona semua tamu dalam suatu pesta, tidak jarang dia tampil membawakan beberapa lagu keroncong. Tetapi dia bisa tampil seperti pelayan yang bekerja keras. Dalam kondisi sehat, dia tidak membolehkan pelayan memasuki kamarnya, dia sendiri yang merapikan tempat tidur, membersihkan lantai dan perabotan kamarnya. Dia mencuci sendiri semua pakaian-dalam mereka suami-isteri, itu privasi tak boleh orang lain mencucinya.
Dia sering memasak untuk keluarganya. Dia siapkan semua keperluan yang akan dibawa suaminya ke kantor, mengantar ke mobil dan memandang hingga mobil menghilang di balik pagar. Dia akan menyambut suaminya yang pulang dari kantor, membawakan tas laptopnya dan menyiapkan air panas untuk mandi, lalu menemaninya makan.
Sehari-hari dia memperlihatkan paras yang ceria, itulah bentuk syukur atas rahmat Tuhan kepadanya dan keluarganya. Dia ibu yang lincah melayani anak. Dia menyusui anak di kamarnya, menyembunyikan payudaranya dari pandangan orang. Ketika anak pertamanya mulai bersekolah, dia mendampingi anaknya belajar, mengantar jemput sekolah. Dia menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anaknya.
Ketika hamil anak pertama, dia sangat bahagia. Tercapai keinginannya memberi keturunan kepada suami dan mertuanya. Dalam waktu sepuluh tahun perkawinan, dia enam kali melahirkan, lima putra dua putri, dua diantaranya anak kembar. Berat badannya hanya bertambah lima kilo dalam kurun waktu sepuluh tahun itu.
Dia cerdas, tahu bahwa bentuk tubuhnya adalah modal seorang isteri untuk memelihara keharmonisan hubungan dengan sang suami. Dia rajin fitnes mengikuti program kebugaran baik di rumah maupun di fitnes-centre. Seperti kebanyakan wanita Jawa, dia rajin mengonsumsi jamu.
Dia mengawasi restoran, sebagai pemilik dan atasan dari Ningsih dan Susi, memeriksa keuangan dan operasional. Tidak setiap hari dia berkunjung. Tetapi setiap kunjungan selalu bermanfaat.
Arya mempercayakan urusan keuangan keluarga padanya, income dari restoran Kali Malang, pembagian keuntungan dari restoran Jatiwaringin dan sewa kontrak serta maintenance ruko-ruko di Kali Malang. Tahun pertama perkawinan dia menambah kesibukan dengan kursus privat administrasi keuangan.
Sekali atau dua kali dalam seminggu dia minta diantar Mas Koco ke bank, menyetor uang. Arya memberinya kebebasan membelanjakan uang, dan dia hanya melapor saldo bank.
Belanja rumahtangga Pondok Bambu, biaya anak-anaknya, pengeluaran lain-lain diambil dari gaji Arya dan masuk pembukuan yang terpisah. Untuk memudahkan Retno mengurus anak-anak dan keluarganya, Arya membelikan mobil minibus terbaru lengkap dengan seorang supir.
Sumantri dan Sri Dewi juga Ibu Sarika puas melihat perilaku Retno. Dari hari ke hari mereka makin menyayangi anak mantunya itu.
Tanpa terasa sepuluh tahun berlalu. Retno berusia tigapuluh lima dan Arya empatpuluh satu. Tujuh anak lahir dalam kurun waktu itu. Putra sulungnya, Adam berusia sembilan tahun bersama adik-adiknya bersekolah SD di Jatiwaringin. Supir pribadi mengantar jemput. Retno sering ikut serta mengantar untuk menanam motivasi belajar pada anak-anaknya.
Kehidupan yang teratur dan harmonis membuat Sumantri dan Sri Dewi sungguh bisa menikmati hidup hari tua.
Sepuluh tahun yang bahagia bagi keluarga Sumantri. Hari itu, Minggu pagi yang cerah. Di pekarangan belakang tampak kesibukan. Beberapa pelayan mempersiapkan meja dan kursi untuk makan siang.
Hari itu Sumantri memperingati sepuluh tahun pernikahan Arya dan Retno, tetapi terbatas hanya pada keluarganya. Anak cucunya, termasuk juga anak-anak Murni dan Bambang Sulis serta Ibu Sarika. Juga pihak keluarga Sulis, bapak dan ibunya.
Para tamu undangan belum datang.
Sumantri duduk berdua Sri Dewi di bawah pohon mangga yang rindang. Dua meter terpisah, Arya yang hanya mengenakan celana training duduk membaca koran sambil berjemur matahari pagi. Tubuh atasnya yang telanjang basah keringatan masih tampak bugar.
Retno menghampiri mertuanya, sambil menggendong putri kecilnya.
“Tidur?” Kata Sri Dewi.
“Mulai tidur, kalau kenyang menyusu, begini gayanya Shallina, tidak perduli lagi dan maunya tidur.” Kata Retno sambil duduk di dekat Sri Dewi.
“Sepuluh tahun lalu, hari Senin pagi, Arya menyebut namamu, Retno, sebagai calon menantuku. Padahal dia baru berkenalan dengan kamu dua hari sebelumnya, hari Sabtu di lantai dansa. Ternyata maunya Arya kesampaian. Kamu jadi menantuku. Waktu itu Papa mengultimatum dia harus kawin dalam waktu satu bulan ternyata kesampaian.” Tutur Sumantri dengan wajah ceria.
“Ceritakan juga tentang bisnis anak dan calon Papa dari pesantren.” Potong Arya.
“Aku sudah dengar dari cerita Mas Arya, kalau tidak bisa mendapatkan calon pilihan sendiri dalam waktu satu bulan maka Papa dan Mama akan mencari gadis-gadis pesantren untuk jadi isterimu. Begitu kan ultimatum Papa?” Retno tertawa.
“Masih ada lagi sambungannya, kata Papa : Tak perlu ada cinta, pokoke kawin punya anak supaya aku cepet gendong cucu. Ketika Mas Arya cerita, jantungku debar kencang, deg-degan, selama dua bulan aku stress menunggu hamil.” Kata Retno. “Aku disiplin minum jamu bikinan Ibu.”
“Untung stressmu tidak berpengaruh pada kehamilanmu.” Komentar Sri Dewi.
“Ceritakan tentang kemarahanmu.” Potong Arya tertawa.
“Kamu marah, marah sama siapa?” Sri Dewi bertanya.
“Marah sama Mas Arya. Dia cerita sama aku. Rini itu tidak keguguran, tetapi sengaja menggugurkan kandungannya.”
Sumantri dan Sri Dewi sudah mendengar cerita itu.
Retno berdiri dan membuai putrinya dengan ciuman dan bisikan. Lalu dia melanjutkan. “Aku masih ingat omongan Mas Arya, waktu itu baru dua minggu kami kawin, jadi kamu tahu Retno, aku ini tidak mandul. Aku diam meskipun sangat tersinggung. Kata-kata Mas Arya seperti juga mengatakan kalau kamu tidak hamil aku akan kawin lagi untuk mencari anak, mencari cucu buat Papaku.”
“Jadi kamu marah? Marahmu bagaimana?” Sri Dewi ingin tahu, ini bagian cerita yang tak pernah dia dengar dibicarakan putra dan menantunya.
Arya memotong. “Katamu, aku ingin bunting tiap tahun sampe punya selusin anak, sampe kamu ngemis minta aku berhenti bunting.”
Retno tertawa. “Ha ha ha iya … aku ngomongnya begitu. Koq kamu ingat Mas?”
Arya melangkah mendekati Retno. “Tujuh anak, tapi kamu masih saja cantik dan seksi. Bagiku, kamu wanita yang tidak ada duanya di dunia ini.”
“Berkat jamu bikinan Ibu, jamu khusus setelah melahirkan, bikin tubuhku pulih jadi langsing dan singset.” Tutur Retno. Ibu yang dimaksud adalah Ibu Sarika.
( Bersambung 1.39 )
Comments







