Namaku Retno 1.37
Posted on 05 Maret 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.37
“Kalau benar tidak beristeri, siapa wanita yang kulihat naik mobil bersamamu? Dan siapa gadis yang mengaku isterimu dan memaki-maki aku di kantorku?”
Arya tertawa. “Kamu mau kenalan sama wanita yang kamu kira isteriku? Sekarang ini dia berada di hotel bersama suaminya, mereka utusanku.”
“Siapa dia?” Desak Retno.
“Nah sekarang kamu mulai waras, tidak lagi cemburu buta, marah ndak karuan.” Kata Arya.
“Siapa dia, kerabatmu?” Suara Retno melemah, kembali normal, merdu.
“Mbakyuku.”
Retno kaget. “Lho katamu kamu anak tunggal, sekarang ada Mbakyu, mana yang harus kupercaya?” Suara Retno mengandung curiga.
“Dia Mbakyu-susuanku. Dia lebih tua tiga bulan. Aku menyusu pada Ibunya, Ibu Sarika. Tahu ndak kamu apa itu saudara-susuan?”
Bukan alang kepalang senangnya Retno, namun berbarengan juga dia malu. Dia menyahut lirih. “Statusnya sama dengan saudara kandung. Lalu wanita yang memaki-maki aku di kantorku?” Suara Retno agak bergetar.
. “Coba kamu ingat-ingat, wanita yang kamu lihat di Jatiwaringin apakah dia juga yang memaki kamu di kantormu?” Desak Arya.
“Sudah beberapa kali kureka ulang, tampaknya bukan wanita yang sama.”
“Aku tidak tahu siapa tiga wanita yang datang ke kantormu. Sampai kapan pun aku tidak akan tahu karena tidak melihatnya sendiri.”
Ketika Retno menjelaskan diskripsi wajah dan badan tiga wanita itu terutama yang marah-marah dan memakinya, seketika Arya tahu gadis itu adalah Maya. Tetapi Arya berpura-pura tidak kenal. “Tidak kenal. Nah sekarang cemburumu sudah hilang?” Arya bertanya, nadanya menggoda.
“Iya maafkan aku, Mas.” Jantung Retno berdegup kencang. “Suaranya datar tegas. Apakah dia marah karena aku menuduhnya beristeri? Jadi wanita itu Mbakyu Susuan, aduh untung juga bukan sainganku, dia cantik montok dan seksi.”
***
Sabtu sore sesuai rencana Dimas menjemput Murniati dan Bambang Sulis, lalu bersama-sama ke Gang Peneleh.
Mereka mengucap salam kemudian masuk dan bersalaman.
“Rumah kami kecil jadi yah beginilah, berdesakan.” Endang Pratiwi memecah kebisuan yang sempat terjadi beberapa saat.
“Begini juga nyaman. Ini saya membawa buah-buahan segar.” Kata Murni sambil menyerahkan sekeranjang buah isinya apel, pir, anggur.
Susi menerimanya dan membawa ke belakang. Tak lama kemudian dia keluar lagi dengan beberapa piring berisi buah anggur, pir dan apel. Buah-buahan itu masih basah bekas dicuci. Dia dan Ningsih mengupas beberapa buah apel dan pir.
“Makan siang sudah siap, apakah kita makan dulu?” Kata Endang Pratiwi.
Murni tersenyum. “Tidak apa Bu. Mungkin sebaiknya kami utarakan maksud kedatangan kami.” Dia menoleh pada suaminya. “Ayo Mas, kamu yang omong.”
Pria tampan berkumis usia hampir mendekati empatpuluh, tidak canggung ketika memulai pembicaraan. “Saya Bambang Sulis, isteri saya Murniati adalah Mbakyu-susuan dari Arya Priambodo. Saya mewakili adik Arya, menyatakan keinginan Arya untuk melamar adik Retno, putri Bapak dan Ibu. Semoga Allah membuka rahmat dan rizqi buat kita semua pada hari baik ini. Sekiranya keluarga Bapak setuju bukan alang kepalang gembiranya kami.” Tutur katanya sopan, ramah dan teratur. “Lamaran resmi berikut barang antaran akan kami haturkan secepatnya setelah orangtua Arya kembali dari umroh rencananya hari Senin siang sudah tiba.”
Purwanto tersenyum ramah. Parasnya gembira. “Terimakasih atas kunjungan tamu dari Jakarta, pertanyaan atau maksud baik dari Nak Arya ini, kami serahkan kepada putri kami untuk menjawabnya.”
Retno yang dari tadi duduk diam tiba-tiba berdiri dan melangkah cepat ke ruang dalam. Karuan semua terkejut. Ada apa dengan Retno? Mengapa lari ke dalam?
Endang Pratiwi tersenyum. “Dia malu.” Dia kemudian menyusul putrinya.
Retno berdiri di tengah ruangan dekat meja prasmanan. “Mosok aku ditanyain di depan banyak orang, malu Bu.”
“Apa jawabmu, menerima lamaran Arya?” Desak Endang.
“Mau. Tapi aku mau ngomong sama Mbak Murni saja.” Kata Retno.
Endang Pratiwi melangkah ke batas ruangan. “Nak Murni bisa kemari, Retno mau ngomong, tapi ndak mau didengar orang.”
Murni melangkah menghampiri Retno.
Gadis lugu itu memeluk erat Murni.
“Bagaimana? Kamu mau jadi isteri Arya? Iparan sama aku?”
“Mau Mbak, aku seneng.”
“Bagus, urusan beres.”
Murni melangkah ke ruang tamu diikuti Endang Pratiwi dan Retno. “Jawabannya, Retno mau dan senang.”
Murniati berhenti sejenak kemudian melanjutkan. “Bu, ada yang perlu saya mohon pertolongan Ibu.” Kata Murni kepada Endang Pratiwi.
“Begini Bu, hari Senin lusa, orangtua kami pulang umroh. Kami datang ke sini juga setelah telpon dan bicara dengan orangtua kami. Papa dan Mama setuju dengan lamaran lisan hari ini. Papa titip permohonan pada Bapak dan Ibu untuk mengijinkan Dik Retno mungkin dengan mbak Ningsih dan mbak Susi pesiar ke Jakarta kenalan sama orangtua kami.”
Endang Pratiwi agak ragu-ragu menjawab, memandang suaminya. Tiba-tiba terdengar suara bariton Purwanto. “Ibu ndak usah mikir-mikir lagi, itu maksud baik, lagipula aturan dan kultur Jawa seorang calon menantu wajib kenalan dan sungkem kepada calon mertua sebelum proses menuju pernikahan.”
Endang Pratiwi menambahkan. “Kami setuju Retno pergi menemui calon mertuanya, bagus juga dia didampingi Ningsih dan Susi.”
Semua orang gembira.
“Sebaiknya berangkat hari Selasa pagi, biar Retno dengan saya yang mengurus tiketnya. Di Jakarta ada yang akan menjemput.” Kata Murni. ***
( Bersambung 1.38 )
Comments







