Namaku Retno 1.35

Posted on 02 Maret 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.35

      “Kamu ngaco.”

      “Ngaco? Apanya yang ngaco. Mobilmu be-em-we warnanya hitam, kamu yang nyetir, harinya hari Selasa kemarin. Rumahmu berdampingan dengan restoranmu, iya kan? Rumahmu cat kuning. Di pekarangan ada pohon belimbing. Nah mau mungkir apa lagi? Aku melihat sendiri. Oh iya isterimu itu montok, pakai jin dan kaos kuning, potongannya seksi. Kamu pake celana hitam dan kemeja putih lengan pendek. Masih berani bilang aku ngaco?”

      Arya terdiam, bingung. Tiba-tiba dia teringat hari Selasa itu. “Tunggu Dik Retno, kamu tahu darimana?”

      “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu mau mungkir?”

      “Tidak mungkin.” Kata Arya, maksudnya tidak mungkin Retno berada di Jakarta tepatnya Jatiwaringin waktu itu.

      Tetapi Retno salah mengartikan kata “tidak mungkin” itu. Suaranya makin tinggi. “Lho apanya yang tidak mungkin, hari Selasa itu aku ke Jakarta langsung ke Jatiwaringin, maunya ketemu kamu di restoranmu, aku duduk di restoranmu, makan nasi pecel dan minum es jeruk. Tahu-tahu aku melihat pemandangan yang menyakitkan hatiku. Kamu gandengan mesra sama isterimu yang seksi montok itu. Kalian naik mobil entah pergi kemana. Sudahlah Mas Arya. Pulsaku habis.” Dia menutup hapenya. Mati. Supaya Arya tak bisa mengontaknya lagi. Dia masih kesal.

      “Kalau mengaku sudah beristeri kan lebih jantan dan lebih fair, biar urusannya jadi gampang. Aku mau koq jadi isteri kedua, kamu bolak-balik Jakarta Surabaya, tapi aku mau rumah sendiri tidak mau campur sama Bapak dan Ibu. Soalnya aku kadung cinta sama kamu Mas Arya.” Itulah jerit hati Retno. Dia tersenyum dan merasa pasti pilihannya tidak salah.

***

Arya merenung. Dia ingat hari Selasa itu dia menjemput Murni dan sama-sama menjemput bibi Hartati di rumah sakit. Benar dia mengendarai BMW hitam dan tidak menggunakan kendaraan kantor. Dia ingat pakaiannya celana hitam dengan kemeja putih lengan pendek. Dan Murni mengenakan jin kombinasi blus kuning. Benarkah Retno berada di restoran waktu itu?

      “Jadi Retno datang ke Jakarta secara diam-diam. Duduk di restoran. Dan dia melihat aku bersama Murni berangkat dari rumah. Dia mengira Murni itu isteriku, ini salah faham. Pantas saja dia marah. Tetapi tiga wanita yang mendatangi kantor Retno, siapa mereka? Mereka mengeroyok dan memaki-maki Retno, mengatakan aku suaminya. Ini pasti fitnah untuk merusak namaku. Gilanya lagi dua kejadian ini beruntun hari Selasa dan Rabu. Sekarang Retno sakit keras. Keadaan makin kacau.”

      Arya tahu Retno salah faham dan cemburu. Dia tertawa kecil, Retno cemburu artinya mencintainya. Tak mungkin cemburu kalau tidak cinta.

      “Dan aku sendiri telah jatuh cinta. Tidak mungkin aku melepas Retno. Dimana lagi bisa ketemu gadis tandingan Retno.” Arya memijit keningnya.

      “Aku harus mengajak mbakyu dan Mas Sulis ke Surabaya, biar persoalannya jelas. Sekalian menegaskan akan melamar dia secepatnya.” Arya tersenyum puas.

      Dia menelpon Murni. Menceritakan tentang Retno yang sakit keras dan ngambek serius. “Dia datang diam-diam ke Jatiwaringin hari Selasa kemarin tepat ketika aku dan kamu naik mobil dan berangkat ke rumah sakit. Dia mengira kita suami isteri, mengatakan aku berbohong sebagai duda.”

      Arya juga menceritakan tiga wanita yang datang ke kantor Retno dan memaki-maki Retno sebagai perempuan merebut suami menggunakan pelet, guna-guna dan seterusnya. Bahkan kata-kata kasar.

      “Aku tidak tahu siapa tiga wanita itu.”

      Murni merespons dengan guyonan. “Kalau dia cemburu begitu, artinya dia cinta sama kamu. Persoalan selanjutnya mudah. Kalau kamu sudah serius benar mau ambil dia sebagai isterimu, maka cepat-cepat melamar dia.”

      “Begini aku minta tolong kamu berdua Mas Bambang, bertamu ke rumahnya. Perkenalkan kamu sebagai Mbakyu-susuan, dia pasti terkejut. Sekaligus juga kamu jelaskan aku tidak main-main dan bersungguh-sungguh akan melamarnya, sekalian kamu menanyakan kesediaannya. Begitu dia bersedia, maka proses resminya bisa berlangsung cepat setelah Papa dan Mama pulang umroh.” Arya membujuk Murni. “Tolong aku Mbak.”

      Murni tertawa. “Oke setuju, aku bisa saja ke Surabaya hari Sabtu. Tetapi aku mesti bicara dulu dengan Mas Bambang, membujuk dia ikut ke Surabaya, sebab kalau dia ndak ikut, kurang mantap.”

      “Iya tolong kamu bujuk suamimu.” Desak Arya.

      “Okay Arya, nanti Mas Bambang urusanku, kebetulan hari Sabtu dia libur hanya mungkin ada acara lain. Aku juga bisa berangkat hari Sabtu pagi. Siang atau sore kami ke rumahnya. Kamu ikut ndak? Sebaiknya kamu jangan ikut. Jangan lupa Arya,  semua ongkos kamu ganti nanti.”

      “Beres Mbak, ongkosnya kuganti. Kamu nginap di hotel mana saja terserah kamu. Dua hari atau tiga hari, boleh saja. Hitung-hitung kamu bersama Mas Bambang berbulan madu lagi.”

      Arya kemudian menelpon Mas Koco. “Mas, tolong kamu datang Jakarta jemput aku di bandara Soekarno Hatta, nanti kuganti ongkosmu. Ada yang perlu aku bicarakan tentang Retno selain itu kamu juga perlu cari kosan atau rumah kontrakan sebab kamu sudah harus bekerja minggu depan.”

***

Murni bergerak cepat. Hari Sabtu dan Minggu suaminya libur, tetapi bisa saja ada acara penting.  Dia pun menelpon suaminya.

      Bambang Sulis mendengarkan detil urusan Arya. “Anak-anak bagaimana?”

      “Titip di Cawang, Bapak dan Ibu pasti senang, mereka sudah kangen cucunya.”

      “Oke sayang, kita rekreasi berdua, nginap di hotel five star, mandi sauna, jalan-jalan, makan malam dan bercinta.”

      “Iya Mas, semua ongkos ditanggung Arya. Kerjaan kita hanya bertamu di rumah Retno, memperkenalkan diriku sebagai mbakyu susuannya Arya dan kamu suamiku tercinta, lalu kita tanya dia mau ndak jadi isteri Arya sebab kita mau ngelamar. Yah itu saja, setelah itu kita bebas kemana-mana.”

      “Dua malam?”

      “Iya Mas, berangkat Sabtu pagi, pulangnya Senin pagi.”

      “Sabtu siang kita ke rumah Retno, kemudian jalan-jalan, besok Minggu acara  jalan-jalan ke luar kota. Kita pulang Senin siang. Kebetulan aku masuk sore.”

***

( Bersambung 1.36 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com