Namaku Retno 1.34

Posted on 25 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.34

Setelah basa-basi yang sopan dan ramah juru bicara tamu yakni Kusumadewi yang seorang pengacara mengungkap maksud tujuannya. Mereka  menanyakan kesediaan Retno menerima uluran tangan Yudistira.

Sepasang mata Retno yang masih membekas tanda-tanda air mata, dipaksakan memandang tamunya. Pandangannya berhenti pada paras ayu Kusumadewi. Suara Retno lirih dan sengau tetapi jelas didengar. “Saya mohon maaf dan semoga Mas Yudi tidak marah kepada saya. Saya merasa tidak cocok menjadi isterinya, tolong sampaikan kepada Mas Yudi, permintaan maaf saya.”

Tidak terlihat ketersinggungan di wajah Kusumadewi karena sejak mula Yudistira telah menjelaskan bahwa hampir seratus persen Retno akan menolak. Tetapi sebagai lelaki yang telah waktunya beristeri, Yudistira ingin suatu kepastian dan yang resmi, jika Retno menolak agar dia bisa melirik wanita lain.

***

“Yah sudah begitu juga bagus. Kawin itu kan urusannya panjang, bukannya satu dua bulan tetapi tahunan.” Kata Ningsih dalam percakapan telepon dengan Mas Koco. “Aku mendukung maunya Retno.” Kata Mas Koco.

Ningsih tersenyum memberi isyarat kepada Ibu mertua, Susi dan Retno dengan jari telunjuk di keningnya. “Mas, aku nginap disini, boleh iya? Mau kelonin Retno yang nangis terus-terusan, aku takut rumah ini kebanjiran.”

Tak lama hape Susi berdering. Bambang Susetiyo nelpon isterinya. Sama juga dengan Mas Koco, menanyakan kabar. “Mas Tiyo senang Retno bisa membuat pilihan berani dan yang begitu sulit.” Kata Bambang yang ditirukan Susi kepada Retno.

Malam itu Ningsih dan Susi menemani Retno di kamarnya. Mereka mendengarkan keluh kesah adik iparnya itu, peristiwa di Jatiwaringin dan juga di kantornya, Retno berterus-terang, tak ada yang dia sembunyikan.

Susilowati berkata serius. “Kita tidak tahu siapa wanita di Jatiwaringin itu, siapa namanya, mungkin sanak familinya. Belum pasti dia itu isterinya Arya.”

“Dari cara dan gayanya, kelihatan rumah itu tidak asing baginya, jadi besar kemungkinan dia isteri Mas Arya.” Retno membantah.

“Tapi kan belum pasti.” Kata Ningsih. “Begini Retno, sebelum tahu pasti siapa wanita itu, jangan kamu berkata kasar dan yang tidak patut kepada Arya.”

“Jadi aku harus diam, nerimo saja?” Retno menyahut cepat. Suranya bernada menantang. Tampaknya Retno akan menantang siapa saja di pihak Arya.

“Bukan begitu maksudku. Kamu boleh marah tetapi jangan memaki dengan kasar yang membuat Arya patah arang.” Kata Susi.

“Wanita yang dikantormu, kita juga tidak tahu siapa dia, bisa saja orang suruhan yang mau merusak hubunganmu dengan Arya atau suruhan orang untuk memfitnah Arya. Semua tidak pasti. Jadi hati-hati, jangan berkata kasar kepada Arya.”

Tampaknya Retno mau mengerti.

Dua ipar itu menghibur adiknya dengan cerita-cerita masa lalu yang lucu.

Pelahan-lahan kesedihan Retno mulai sirna. Ketika itulah hapenya berbunyi. Dia membaca teks dilayar. Lalu menoleh kepada dua iparnya, berbisik “Arya…”

Ningsih dan Susi memberi isyarat menggunakan loudspeaker. Retno tertawa dan memencet tuts. “Halloooo…”

“Dik Retno belum tidur?”

“Yah belum dong, kalau sudah tidur mana bisa jawab telpon.”

“Bener juga. Aku mau beritahu, sekarang ini aku sudah di Bangkok, berangkatnya dipercepat tapi pulangnya tetap hari Jumat.”

Retno teriak. “Aduh mati aku, pulsaku habis kena roming.”

“Jangan diputus, nanti pulsamu kuganti. Aku mau ngobrol sama kamu Dik.”

“Ngobrol apa? Aku sekarang ini sakit, sudah mau mati di tempat tidur.”

“Sakit apa? Sakit beneran?” Suara Arya terdengar khawatir.

Ningsih dan Susi tersenyum sambil manggut-manggut.

Retno makin bersemangat. “Aku sakit beneran, sudah mau mati, koq pake tanya sakit beneran.”

“Sakit apa? Sudah ke dokter?”

“Sudah. Tapi obatnya tidak ada yang jual. Sakitnya sakit hati. Hatiku sakit sampai berdarah. Tadi siang wanita cantik tidak dikenal muncul di kantor, memaki-maki aku, katanya aku gatal, merebut suaminya, Arya Priambodo itu suaminya, katanya aku pake pelet, pake guna-guna, aku perempuan gatal.”

“Benarkah? Siapa wanita itu?”

“Aku tidak kenal, tidak tahu namanya, dia ngaku isterimu. Dandanannya norak, separuh payudaranya menonjol dari belahan bajunya, isterimu itu kayak bintang film porno. Tapi ucapannya kasar, aku malu, semua teman kantor menertawakan aku. Ini beneran, kalau ndak percaya tanya sendiri pada isterimu. Ehh Mas Arya… kamu kan sudah beristeri koq tega-teganya membohongi aku mengatakan kamu itu duda. Sudah yah aku lagi sakit perut…” Retno tidak memberi kesempatan Arya memotong bicaranya.

Retno memutus hubungan. Memandang dua iparnya. Ketiganya tertawa. 

Tak lama telpon berdering lagi.

Retno menyodor hapenya ke Ningsih. “Mbakyu, jawab aku pingsan, sedang dipijitan Mbak Susi sama Ibu.”

Ningsih tertawa. Lalu memencet tuts hape. “Hallo siapa ini? Mas Arya?”

Terdengar jawaban Arya. “Ini siapa? Mana Dik Retno?”

“Aku Ningsih. Retno semaput, pingsan! Sekarang sedang dipijitin Ibu dan Susi. Kasihan Retno, dia sakit gara-gara dilabrak isterimu tadi siang. Sudah yah.” Dia memutus kontak, memandang Retno dan Susi, lalu tertawa.

Di Bangkok, Arya menatap hapenya dengan pikiran tak menentu. Dia berupaya menghubungi lagi, tapi sia-sia. Hape Retno mati! ”Ada apa dengan Retno? Siapa wanita yang mengaku isteriku dan mendatangi serta memaki-maki Retno di kantornya? Jelas ada orang yang memfitnah aku.”

***

Malam itu Arya kesal. Tak bisa menghubungi Retno, telponnya mati. Dimas juga tak bisa dihubungi. Arya tidak tahu bahwa usai pembicaraan di telpon, Retno menelpon Dimas, mewanti-wanti keras. “Jika Mas Arya menelpon kamu, katakan aku sakit keras dan masih di tempat tidur. Tidak masuk kerja.”

      Kamis siang itu, Arya bisa menghubungi Dimas.

      “Hallo Dimas.”

      “Mas, kamu jadi ke Bangkok?”

      “Iyah aku di Bangkok sekarang.”

      “Ada apa Mas, aduh gawat, pulsaku habis kena roming.”

      “Jangan dimatiin, nanti aku bayar pulsamu. Retno sakit apa?”

      “Sakitnya aneh. Dari semalam ndak mau makan. Makan bubur, dia muntah. Minum obat juga muntah. Mau dibawa ke rumah sakit, dia ndak mau. Jadi rencananya panggil dokter ke rumah saja.”

      “Sekarang di mana dia, bagaimana kondisinya?” Kata Arya khawatir.

      “Di tempat tidur, sakit, mukanya pucat.”

      “Bawa ke rumah sakit.”

      “Mbak Retno ndak pernah sakit selama ini. Katanya gara-gara dimaki-maki tiga tamu wanita dikantornya, wanita yang satunya mengaku sebagai isterimu, yah tentu saja mbakyuku shok, malu dan sakit hati.” Dalam hati Dimas gembira menjadi bagian dari permainan sandiwara mbakyunya.

      Sepanjang hari Kamis itu Arya tidak bisa menghubungi Retno dan Dimas. Telpon mereka mati. Kontan dia panik. Tetapi tak bisa berbuat sesuatu pun, karena dia baru bisa meninggalkan Bangkok hari Jumat. Saking panik dan bingung dia lupa menelpon Mas Koco.

      Hari Jumat pagi, dia coba menelpon Retno, harapannya hape gadis itu hidup.

      “Halloooo….” Terdengar suara Retno.

      Seketika itu Arya gembira. “Dik Retno sudah sembuh?”

      “Mas Arya mau apa? Mau nyelidik apakah aku mati atau masih hidup?”

      “Dik jangan marah-marah begitu, kemarin seharian aku nelpon tapi hapemu mati.”

      “Untungnya aku belum mati. Kalau sampai aku mati, keluargaku akan nuntut kamu dan isterimu yang kayak gangster itu.”

      “Dia bukan isteriku, aku ndak punya isteri!” Tegas Arya, suaranya pelan. Dia berusaha menekan amarah. Dia tidak marah terhadap Retno, tapi kesal menghadapi kemelut suasana yang tak bisa dia kendalikan.

      “Tanya sama isterimu, darimana dia tahu kantorku dan apa alasannya memaki aku di depan umum. Setahuku alamat kantorku cuma kamu saja yang tahu. Aku curiga kamu yang jadi dalang perbuatan isterimu.”

      “Bohong! Itu fitnah. Aku tidak punya isteri!”

      “Mana buktinya, bisa kamu buktikan kamu tidak punya isteri?” Retno semakin marah.             “Sudahlah Mas Arya, jangan pura-pura tidak bersalah. Aku sudah tahu semuanya. Aku melihat sendiri kamu sama wanita itu gandengan dan pelukan, naik mobil berdua.”

      “Kamu ngaco.”

( Bersambung 1.35 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com