Namaku Retno 1.33
Posted on 19 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.33
“Menurut apa yang dikatakan Arya, pilihan siapa isterinya adalah pilihannya sendiri, orangtuanya akan setuju asalkan calon datang dari keluarga baik-baik. Kita kan keluarga baik-baik Pak.” Kata Mas Koco. ***
Pertemuannya dengan Santoso sore itu memancing cemburu dan iri hatinya. Dia merasa dikalahkan seorang wanita. Dan selama ini Maya hanya tahu menang dalam persaingan, tak pernah mau kalah dari wanita lain.
Dia tipe penjajah, suka mendikte dan mengendalikan teman-temannya. Teman yang tak mau tunduk padanya, dibuang. Dan dia punya alat untuk menguasai kawan-kawannya, yakni uang. Tanpa sadar besarnya rasa ego dan keinginan menguasai temannya dia terapkan terhadap Arya. Inilah yang menjauhkan Arya darinya.
“Jadi kamu melihat Arya dansa dengan gadis itu?” Maya bertanya serius.
“Mereka mesra. Seperti telah lama kenalan, padahal aku tahu baru malam itu mereka kenalan, bossku datang bersama Ronggo. Nama gadis itu Retno datang bersama dua alumnus. Jadi pertemuan itu kebetulan. Ternyata kemudian berlanjut, beberapa kali bossku itu pergi pulang Jakarta Surabaya, tujuannya apalagi kalau bukan menemui Retno.”
Maya jadi sengit. “Retno itu cantik?”
“Kamu lebih cantik, kamu lebih seksi.” Pujian Santoso tepat waktu.
“Apanya yang membuat Arya kasmaran sama dia?”
“Tidak tahu, selera lelaki beda-beda, tak bisa diukur. Kalau Arya sudah memutus hubungan dengan kamu, buat apa kamu urusin dia, lupakan saja, cari gantinya.”
“Aku bisa melupakan dia, mudah. Karena aku tidak cinta sungguh-sungguh, hanya dijodohin orangtua, tapi aku malu pada teman-temanku, mereka mengira aku sudah akan kawin dengan Arya. Dasar brengsek!”
“Namanya Retno Wulandari Setianingrum, cantik dan seksi. Orangnya sederhana dari keluarga biasa-biasa, tak suka make-up, busananya sederhana. Tetapi terus terang saja, dia tipe wanita yang tidak mudah dilupakan laki-laki.” Diskripsi Santoso tentang sosok Retno membangkitkan amarah Maya.
“Gadis kampungan!” Seru Maya sengit.
“Tidak juga. Dia intelek, sarjana sastra Inggeris. Pintar bergaul. Banyak lelaki yang naksir tetapi dia tak mau pacaran apalagi terikat.”
“Kamu juga naksir?” Maya menyelidik.
“Tidak. Dia cantik tetapi bukan tipe aku.” Kata Santoso datar. Jawaban itu menyenangkan Maya.
“Dia bekerja?”
“Yah dia karyawati internasional travel FlyMe.”
“Mantan pramugari?”
“Aku rasa bukan. Menurut temanku, kerjanya di office bagian ticketing.”
“Gadis kampung begitu mana bisa jadi pramugari, kantornya di mana?”
Santoso memandang curiga. “Mau apa tahu alamat kantornya?”
“Mau tahu saja.” Sahut Maya datar.
“Maya, aku tidak ikut campur urusanmu dengan Retno atau dengan Arya. Dan aku juga tidak tahu alamat kantornya.” Santoso melihat tanda-tanda murka di mata bening gadis cantik itu.
“Tak ada urusan apapun. Aku dan Arya sudah putus. Retno di Surabaya, aku di Jakarta, mana bisa ketemu.” Maya berusaha menetralisir kecurigaan Santoso.
Santoso kemudian mengalih pembicaraan. Mereka ngobrol lama sambil makan dan minum.
Informasi bahwa Retno adalah karyawati internasional travel FlyMe berikut nama lengkapnya cukup bagi Maya untuk menemukan alamat kantor Retno. Malam itu juga dia menelpon dua kawan yang selalu menjadi pengikut setianya.
“Retno itu teman lamaku, cari tahu alamat kantornya, kita ke Surabaya bertiga.” Tegas Maya yang membuat temannya manggut-manggut.
***
Jam dua siang. Masa istirahat sudah berlalu. Semua karyawan yang hampir semuanya wanita sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tiga gadis muda memasuki ruangan, seorang Satpam mempersilahkan duduk di sofa.
Salah seorang gadis yang mengenakan celana jin dan baju abu-abu dibalut jaket kulit hitam bertanya pada satpam. “Yang mana yang namanya Mbak Retno?”
Pertanyaan itu diucapkan dengan ramah dan halus, Satpam tidak curiga. “Itu yang duduk di tengah, yang paling cantik.” sambil menunjuk dengan ibujarinya.
Maya mengucap terimakasih.
Satpam itu lengah ketika Maya bersama dua temannya melangkah maju. Saat berikut kata-kata Maya meluncur deras macam senapan-mesin memuntahkan peluru. “Retno, berani-beraninya kamu memelet suamiku Arya Priambodo. Tidak tahu malu, apakah kamu sudah gatal, kekurangan lelaki. Cari lelaki di tempat lain, di pasar atau di terminal, jangan merebut suami orang. Aku tahu kamu mengumpulkan banyak pacar, semua mereka yang punya duit. Kamu pake guna-guna. Dasar wanita mata duitan, tukang pelet.”
Semua di dalam ruangan kaget dan terpaku di tempat.
Maya telah menembak seluruh peluru senapan-mesinnya, dia menggamit dua temannya. Ketiganya melangkah keluar ruangan sebelum Satpam mengusir.
Suasana hening. Ibarat di filem eksyen, peluru senapan-mesin telah membunuh semua orang dalam ruangan. Tak ada yang bersuara.
Retno diam terpaku di tempat duduknya. Matanya nanar, rasa pusing melanda benaknya. Tiba-tiba tangan Magdalena yang dingin lembut memegang lengannya. “Kamu kenal tiga cewek gila itu?”
Retno menggeleng kepala, suaranya tersekat di kerongkongan. “Ti… ti ..dak… aku tidak kenal…” Rasa malu telah membekukan suara bahkan sebagian darahnya.
“Mereka itu gila. Mungkin mabuk ganja.” Lalu Magdalena berseru memanggil Satpam. “Pak Kirno!”
Satpam datang menghadap, berdiri tegap dalam posisi siap prajurit. “Siap!”
“Lain kali jangan biarkan sembarang orang masuk seenaknya, amati dulu.”
“Siap Boss, laksanakan.”
“Sudah! Pergi kamu.” Seru Magdalena yang kepala divisi tiketing. Dia memandang Retno yang masih bingung. “Bukan salah kamu Dik Retno kalau ada lelaki siapapun dia, bujangan atau suami orang, kasmaran sama kamu, yah karena kamu itu ayu, seksi, ramah supel dan baik hati.” Dia tersenyum ramah.
Melihat senyum Bossnya yang senior sekuliahan, seketika juga Retno merasa tenang padahal tadinya khawatir Magdalena akan memarahinya.
“Cuma orang buta yang tidak bisa melihat kecantikanmu.” Kata teman yang lain.
Beberapa komentar saling susul, mendukung dan membela Retno. Bahkan teman yang tadinya tidak menyukai Retno, ikut mendukung dan memuji Retno sekadar menjilat Magdalena kepala divisi marketing.
“Orang buta saja bisa koq melihat kecantikan Retno.”
“Terusin saja Dik Retno, jangan dilepas kekasihmu itu. Jaman sekarang banyak gadis mau jadi isteri kedua asalkan duitnya tebal.”
“Aku ndak kenal Arya, tapi gadis tadi itu pasti bukan isterinya. Dia masih gadis ingusan anak orang kaya yang maunya menang sendiri.”
“Kupikir dia habis nge-drug dan sedang high, kalau ndak ngeboat mana berani dia ngeluruk ke sini dan marah-marah macam orang gila.”
Seorang lelaki tua dan isteri mudanya yang sedang menunggu konfirmasi tiketnya ikut nimbrung. “Ah laki-laki kalau berada di luar rumah, bebas diperebutkan. Sekarang ini jaman hukum rimba, siapa kuat dia menang, siapa cantik dia menang. Di bidang politik juga demikian, main hajar sana hajar sini, adu otot adu licik hi hi hi...” Laki-laki tua itu tertawa geli dengan komentarnya sendiri.
Istri mudanya yang masih segar dan cantik ikut tertawa. “Adik ini lebih luwes, lebih ramah. Kalau gadis tadi itu, waaaoooo sungguh gawat, dia tipe penyerang, jadi pantas saja suaminya memilih adik ini.”
Suasana berubah riuh tapi menyenangkan. Retno merasa terhibur meski jantung masih berdebar-debar. Tetapi pengalaman itu sangatlah buruk. Diam-diam dia makin kesal terhadap Arya Priambodo. Pertama, pemandangan di Jatiwaringin Jakarta dan yang kedua dilabrak habis wanita yang mengaku isteri Arya. “Masih adakah kejadian mengerikan yang ketiga? Semua gara-gara pacaran dengan Arya Priambodo.” Bisiknya dalam hati.
***
Retno dan Dimas tiba di rumah sebelum magrib.
Sejak pulang kantor paras Retno murung. Kejadian dimaki-maki dan dipermalukan tiga gadis muda di kantornya membuat Retno seakan limbung. Endang Pratiwi yang tahu persis kejadian di Jatiwaringin Jakarta itu setia mendampingi putrinya.
“Katakan apa pilihanmu, Ibu mendukungmu, Ibu sudah bicara dengan Bapak dan Mas Koco. Ibu tegaskan tidak rela jika kamu dipaksa kawin dengan lelaki bukan pilihanmu. Ternyata pendapat mereka kini berubah, kata Bapak silahkan kamu memilih sendiri jodohmu. Begitu juga Mas Koco. Ibu akan selalu membelamu. Tetapi Ibu pesan hati-hati dengan pilihanmu, sekali kamu telah menetapkan pilihan jangan menyesal kemudian hari.” Endang memeluk putrinya, mengelus-elus rambutnya.
Setelah sholat Isya, Purwanto dan Mas Koco meninggalkan rumah. Begitu juga Bambang Susetiyo dan Darma. Acara pertemuan hanya diwakili para wanita. Dari pihak tamu, tiga wanita dipimpin kakak perempuan Yudistira. Di pihak tuan rumah, Endang Pratiwi bersama dua menantunya Ningsih dan Susilowati mendampingi Retno.
Malam itu Retno mengenakan kerudung. Dia sering merunduk tidak berani menengadah memandang wajah tamu-tamunya. Tetapi mata jeli tiga tamunya terutama Kusumadewi, kakak tertua Yudistira menangkap wajah Retno yang murung.
( Bersambung 1.34 )
Comments







