Namaku Retno 1.32
Posted on 18 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.32
Endang Pratiwi memeluk putri semata wayangnya dengan dekapan kasih sayang yang teduh dan nyaman.
“Sekarang apa yang harus kulakukan, Ibu?”
Dua tangan Endang Pratiwi memegang pipi putrinya. Matanya menatap mata Retno. Empat mata yang bening berkaca-kaca oleh airmata saling menatap.
“Retno kamu harus kuat, tabah hadapi cobaan ini. Semuanya belum pasti. Kita tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu. Makanya harus gunakan otakmu yang cerdas, jangan menghukum seseorang karena perkiraan. Belum pasti itu isterinya.” Tutur Endang Pratiwi dengan suara lembut namun jelas menusuk telinga dan benak Retno.
“Jadi harus bagaimana Bu, aku ndak bisa berpikir jernih sekarang ini.”
“Begini Nak. Tunggu telpon dari Arya, dengarkan apa maunya.”
“Bu, aku ndak mau terima telponnya, biar saja dia telpon, tidak kuangkat. Tapi kalau dia datang, apakah aku harus menemuinya?” Retno menatap mata ibunya.
“Terima telponnya, kalau dia datang kamu temui dia. Bersikap seperti biasa, seperti tak ada apa-apa.”
“Ndak bisa Bu, aku ndak bisa berpura-pura. Kalau aku marah yah marah, ndak bisa pura-pura bersikap ramah.”
Endang Pratiwi tertawa melihat mimik cemberut putrinya. “Jangan cemberut. Ingat Retno, dalam keadaan apa pun, kita tetap wanita, artinya kita berada di pihak yang menunggu aksi dari pihak lelaki. Lagipula belum pasti wanita itu isterinya, bisa siapa saja, kamu kan tidak kenal dan tidak tahu namanya.” Dia menatap putrinya yang mulai reda marah dan dukanya. “Sekarang seandainya Arya berterus-terang dan melamar kamu menjadi isteri keduanya, benar-benar kamu mau seperti katamu tadi?”
“Aku mau.” Tegas Retno.
“Sudah kamu pikir matang?”
“Dalam pesawat, aku sudah memikirkan itu. Daripada hidup nelangsa kehilangan cinta, lebih baik terima nasib sebagai isteri kedua.” Tegas Retno.
“Mengapa kamu tidak beralih ke Yudistira?”
Sepasang mata Retno memancar tajam. “Emoh, sekali tidak, tetap tidak.”
“Ada berita baru, besok malam mbakyunya Yudistira mau ke sini, ketemu Bapak dan Ibu. Mau menanyakan lamaran Yudistira.”
“Lho aku ndak diajak? Memangnya aku mau dijual?” Kata Retno sengit.
“Malah lebih baik kamu hadir dan menjawab langsung. Tetapi harus dengan bahasa yang sopan. Sebaiknya kamu pulang lebih sorean supaya ketemu langsung.”
“Iya Bu, aku pasti hadir. Jam berapa janjiannya?”
“Katanya sih habis Isya, jadi mungkin sekitar jam tujuh delapan begitu.”
“Aku pulang jam enam, sebelum magrib. Nanti biar Dimas jemput aku.”
***
Joko Santoso telah menetapkan keputusan, pikirannya mantap. Menyelesaikan urusan dengan Bapaknya, kemudian Retno.
Kemarin hari Minggu seharian dia bersama Arya. Melihat kapling yang akan dibangun ruko. Ada bedeng rumah darurat untuk para tukang istirahat. Dua lelaki menghampiri, memanggil Arya. “Boss.”
Arya memperkenalkan Mas Koco sebagai wakilnya yang akan menangani semua urusan pembangunan.
Dari situ mereka menuju restoran di Kali Malang. “Ini resto yang baru. Cukup laris meskipun belum dua minggu operasionalnya. Ningsih aku calonkan sebagai manajer di sini. Kamu bantu soal keamanan, terutama waktu dia atau Retno bawa uang ke bank untuk setoran. Belanja rempah-rempah waktu dini hari, ada mobil khusus. Seperti kataku kemarin, kamu bakal sibuk.”
Kemudian mereka menuju restoran Jati Waringin. “Ini juga milikku, ada orang kepercayaanku yang kelola, kita bagi keuntungan. Itu rumahnya. Kamu juga akan terlibat di sini jika diperlukan.”
Malamnya Mas Koco nginap di rumah Pondok Bambu. “Kamu kaya Mas.”
“Ini rumah bapakku.”
“Ah sama saja, rumah bapak juga rumahmu.”
“Kamu telah melihat semuanya, gaji sudah kusetujui. Kita juga sepakat peraturan dan tata kerja, hubungan sebagai pegawai dan majikan. Nanti kita tandatangan kontrak kerja. Setelah itu semuanya akan beres.”
“Apa perlu pakai surat kontrak?”
“Yah perlu supaya tidak ada gugat menggugat di belakang hari.”
“Kapan mulai kerja?”
Arya tertawa. “Ini bisnis gila, Mas Koco. Aku mau menikahi Retno secepatnya. Kepastiannya hari Senin minggu depan orangtuaku pulang umroh. Pestanya belakangan tidak apa. Tapi kamu mulai kerja selepas aku nikah. Juga uang yang enampuluh juta kuserahkan padamu pada saat itu. Jangan lupa harus kamu bayarkan hutang Bapak.”
“Aku benar-benar gila jika mau ngantongi uang itu. Pasti kuselesaikan hutang Bapak itu. Lagipula aku bisa kasbon padamu untuk sewa rumah dan lain lain.”
Mas Koco pulang Surabaya dengan semangat baru. Dia menceritakan semuanya kepada Ningsih yang begitu senangnya hingga melompat dari duduknya. “Garis tangan Retno memang jalur emas, dia dicintai Arya begitu rupa sehingga apa saja akan dilakoni Arya untuk mendapatkan Retno. Adikmu itu bawa keberuntungan buat kita semua.” Ningsih memeluk suaminya. “Ayo Mas, urus yang bener si Retno itu.”
“Ingat Ning, rahasiakan semuanya. Retno juga belum saatnya diberitahu.”
***
Selasa malam itu Mas Koco makan di rumah bini-muda ayahnya. Seorang guru ngaji bernama Maimunah asal Madura, yang kini aktif berbisnis di rumah. Tadinya hanya berdua tapi akhirnya isteri muda Purwanto ikut bicara.
“Aku kawin dengan Bapak, ndak nuntut sesuatupun. Bapak yang bawa duit untuk perbaikan rumah ini, dan untuk modal dagang. Katanya tabungan dana pensiun, dana bagi hasil keuntungan koperasi. Kalau tahu semuanya dari ngutang, aku ndak mau.”
Maimunah menangis. “Aku jadi malu, dikirain aku yang mata duitan.”
Mas Koco menetralisir keadaan. “Aku mau bantu melunasi semua utang Bapak tapi syaratnya biarkan Retno memilih jodohnya sendiri. Kalau Bapak berkeras paksa Retno kawin dengan Yudistira, semua anak Bapak tidak setuju, dan silahkan Bapak bayar sendiri utang-utangnya. Belum tentu Yudi mau melunasi hutang Bapak.”
“Cara apa kamu bayar hutang Bapak?” Tanya Purwanto, curiga.
“Aku dapat kerjaan di Jakarta, mengurus bisnis Arya.”
“Kamu ketemu si Arya? Kamu jual adikmu ke playboy itu.” Desak Purwanto.
“Jual Retno, apanya yang dijual? Ketika Bapak membuat kesepakatan dengan Yudi tentang Retno, aku tidak mengatakan Retno dijual. Tidak ada jual beli. Aku sepakat dengan Arya, dia majikan aku pegawainya, mewakili dia mengurus semua bisnisnya. Aku digaji. Ningsih ditawarin jadi manajer di restorannya, juga digaji.”
“Kamu percaya semua omongannya?”
“Kemarin seharian aku di Jakarta, nginap di rumahnya yang koyok istana, semua kamar pake ac, pelayannya manggil dia Aden, aku juga melihat tanahnya yang mau dibangun ruko, sembilan ratusan meter harganya pasti milyar-milyaran. Restorannya besar, dua biji, restoran masakan Jawa. Dia boss, semua karyawan menghormatinya. Dan dia kenalkan aku sebagai wakilnya.” Tutur Mas Koco sambil menatap bapaknya dengan senyum. “Dia jutawan muda, hanya lagaknya seperti orang biasa, ndak sombong. Aku yakin Retno pasti juga ndak nyangka kalau Arya itu jutawan.”
Purwanto bersandar di kursi, seperti orang kehilangan tenaga. Dia tak percaya Arya sekaya itu. “Ketika bertamu di rumah, makan lontong mi, tidak ada kesan bahwa dia jutawan muda. Bapaknya jualan batik, pasti juragan batik, punya pabrik batik, lalu Arya sendiri kerja di perusahaan asing pasti gajinya dolar. Jadi yah masuk akal kalau dia jutawan.”
Maimunah tampak gembira. “Laiyo Mas, senangkan hatimu, anakmu dapat jodoh istimewa. Nak Joko, apakah Arya itu cinta beneran? Kamu harus selidiki baik-baik, jangan sampe adikmu jadi korban isengnya laki-laki kaya.”
“Dia duda ndak punya anak. Dia ngomong sama aku, cinta beneran, apa saja mau dia lakoni untuk dapetin si Retno. Adikku itu bener-bener mujur.” Kata Mas Koco. “Begitu selesai nikah dengan Retno, Arya akan memberi aku enampuluh juta rupiah, tunai. Dan aku resmi jadi pegawainya. Jika tidak jadi menikah dengan Retno, maka semua perjanjian itu batal.”
Purwanto tampak kesal. “Jadi begitu syaratnya.”
“Uang enampuluh juta rupiah itu untuk melunasi seluruh hutang Bapak.” Tukas Mas Koco. “Aku sendiri yang mengurus pelunasan hutang.”
Maimunah memotong. “Arya bener. Kalau ndak jadi kawin dengan Retno, yah Kangmas sekeluarga tak ada hubungan dengan dia, bagaimana mungkin dia membantu? Kalau dia jadi kawin dengan Retno, artinya keluarga Retno juga keluarga dia, jadi patut dibantu, semuanya pantes, sesuai aturan.”
Purwanto terdiam.
“Jadi usulku, untuk selanjutnya Bapak jangan paksa Retno, biarkan dia memilih pilihannya sendiri. Bagaimana? Bapak setuju usulku?” Joko Santoso mendesak.
Purwanto mengangguk. “Joko, kamu yang ngurus semuanya.”
“Beres Pak, aku tangani semuanya.” Mas Koco tampak bersemangat. Dia menatap ayahnya lalu melanjutkan.
“Satu hal lagi. Arya mau menikah secepatnya, Senin minggu depan orangtuanya kembali dari umroh. Mungkin mereka datang ke sini kenalan, mungkin juga Retno dan Ibu yang ke Jakarta. Yah bagaimana baiknya, tetapi yang jelas katanya dia mau menikah secepatnya. Paling lama dua minggu setelah orangtuanya pulang Umroh.”
“Apakah orangtuanya setuju besanan dengan keluarga kita yang ekonomi lemah?” Tanya Purwanto sambil menoleh kepada isteri mudanya.
“Menurut apa yang dikatakan Arya, pilihan siapa isterinya adalah pilihannya sendiri, orangtuanya akan setuju asalkan calon datang dari keluarga baik-baik. Kita kan keluarga baik-baik Pak.” Kata Mas Koco. ***
( bersambung 1.33 )
Comments







