Namaku Retno 1.31
Posted on 17 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.31
Meskipun pertama kali mengunjungi Jakarta namun Retno tidak tersesat. Tepat sebagaimana rencananya, jam sebelas siang taksinya berhenti di depan restoran aneka masakan Jawa Timur “Mbok Sari” di Jatiwaringin.
Restoran tidak besar. Tapi cukup luas, sepuluh meja masing-masing empat kursi, ada yang enam kursi. Di bagian belakang sebuah dapur bersih. Lampu-lampunya terang. Ruangan terbuka, tidak menggunakan AC hanya fan di beberapa tempat. Retno mengambil tempat duduk yang strategis dimana dia bisa melihat rumah mungil bercat kuning seperti cerita Arya.
Rumah dan restoran berdempetan hanya dipisahkan tembok bata yang tingginya satu meter. Rumah itu memang mungil tetapi bangunannya tampak mode sekarang, dua lantai dan bergaya minimalis Eropa.
Di pekarangan rumah ada sebuah mobil BMW hitam.
Pelayan datang menyodorkan daftar menu. Retno membaca sekilas, lalu memesan nasi pecel dan es jeruk. Pelayan lain hilir mudik melayani beberapa tamu.
Sepuluh menit kemudian pesanannya diantar ke meja. Retno menenggak es jeruk dan mulai menyantap nasi pecel. Sekali-sekali dia menoleh melayang-pandang ke rumah mungil, mengharap lelaki pujaannya muncul.
Tiba-tiba matanya melihat sosok wanita cantik dengan rambut terurai sebatas bahu keluar dari rumah. Tak lama kemudian Arya Priambodo keluar. Laki-laki itu mengunci pintu kemudian bergegas ke mobil.
Jantung Retno seakan berhenti berdetak. Wajahnya pucat.
Wanita itu menoleh ke restoran lalu masuk mobil di jok depan. Arya duduk di jok depan di belakang setir. Beberapa saat kemudian, mobil itu menderu keluar pagar yang dibuka tutup juru parkir pinggir jalan.
Paras wanita itu tercetak dibenak ingatan Retno. Cantik jelita, paras Jawa asli. Tubuhnya seksi tampak dari celana jin ketat dan blus kaosnya. “Ohh mati aku, Mas Arya nyatanya telah beristeri. Ya Tuhan…. Cobaan apa lagi ini?” Bisiknya.
Mendadak saja tubuhnya lemas. Kepalanya pusing. Dia memejam mata, memaksa konsentrasi pada piring nasi pecel. Saat berikut rasa pusingnya berkurang.
Namun pertanyaan “mengapa mas Arya tidak berkata jujur bahwa dia telah beristeri, atau mungkin dia tidak pernah bercerai?” bergayut di benaknya.
Dia menegaskan kepada diri sendiri, apa pun yang terjadi dia tak boleh sakit atau pingsan. “Aku tak boleh nangis, mau nangis, nangisnya di Surabaya saja.”
Dia memaksa makan, menghabiskan nasi pecelnya, menenggak es jeruk kemudian membayar ke kasir. Detik berikutnya dia bergegas mencegat taksi. “Terminal damri bandara di kalimalang, pak.” Katanya pada supir. Dia melihat arloji tangannya. Jam duabelas kurang lima.
Retno sangat tabah dan keras hati. Sungguh keberanian seorang wanita teruji ketika berita paling buruk datang menimpa. Berani menahan derita. Berani bersabar.
Dalam pesawat menuju pulang, apa yang dia rasa dan pikirkan bertolakbelakang dengan lamunan saat berangkat tadi pagi. Berangkat dengan sejuta harapan dan mimpi indah tetapi pulang membawa sejuta derita.
Ingin dia menangis. Tetapi seperi janjinya pada diri sendiri. Menangis di rumah.
“Siapa dia? Isterinya? Pacar, teman kumpul kebo? Koq gaya wanita itu seperti rumah itu miliknya.” Api cemburu membakar dirinya. “Benar juga, tak mungkin lelaki sehat dan normal bisa sendirian selama dua tahun tanpa berhubungan seks dengan wanita. Duda selama dua tahun? Benar-benar dia telah membohongi aku. Tega benar kamu Mas Arya. Apa salahku padamu, apa dosaku padamu? Aku menyerahkan seisi hatiku, mencintaimu habis-habisan. Apa yang kudapat?”
Retno menatap awan putih, dia melihat Gatotkaca terbang pergi membiarkan Pergiwa sendirian duduk menangis di awan putih itu. ”Kasihan Pergiwa, bagaimana cara dia bisa turun ke bumi, melompat dan jatuh ke tanah, tubuh remuk dan mati? Aku juga mengalami nasib yang sama, apa yang harus kulakukan? Aku hancur! Nasib Pergiwa tidaklah buruk. Gatotkaca tidak pernah pergi menjauh apalagi meninggalkan putri Arjuna itu, tidak demikian dengan Arya, dia membohongi aku.”
Retno benar-benar nelangsa. Tetapi dia sungguh wanita yang tegar, tak seorang pun bisa mengira bahwa di dalam tubuh yang lenggang lenggoknya menawan memesona, gadis cantik itu menyimpan luka berdarah dalam hatinya.
Dia tiba di bandara Juanda jam tujuh limabelas menit, dia sudah pesan pada Dimas, sekitar jam tujuh menjemputnya di Juanda. Dia keluar dari bandara, melihat-lihat di mana adiknya berada.
Dimas memegang lengan kakaknya yang agak limbung. “Mbak kenapa kamu?”
“Ndak tahu koq aku mendadak sakit, pusing. Mungkin masuk angin.” Retno tak mau menceritakan apa yang dia alami.
“Kita duduk di kios itu, makan soto. Kamu masih punya uang, Mbak.” Dimas menawarkan jasa.
Retno mengangguk.
Mereka makan soto. Keduanya membisu.
Retno menyuap nasi, sambil mengerang dalam hati. “Mas Arya tega nian kamu berbuat sejahat itu. Apa salahku? Kamu datang membawa harapan, memberi aku mimpi indah. Lalu sekarang mimpi itu kamu renggut dengan kasar.“
Dia berkeras menahan tangisnya, tak mau Dimas tahu. “Kamu membohongi aku. Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Aku hancur. Kamu permainkan aku yang begitu memercayaimu, mencintaimu, aku tulus mencintaimu. Aduh, apa salahku, mengapa nasibku begini buruk? Katamu kamu duda ternyata bohong. Kamu masih punya isteri dan kamu tampaknya bahagia. Bisa-bisanya kamu mengatakan akan membawa aku ke pelaminan, menjadikan aku isterimu.”
“Mbakyu ketemu Mas Arya?” Suara Dimas mengejutkan Retno.
“Tidak ketemu, tapi aku memang tidak niat bertemu dengannya, hanya ingin tahu restorannya. Sudahlah di rumah saja kita ngobrol.”
“Kamu bisa bonceng di belakang?”
Retno tertawa, pahit. “Bisa Dim, aku kan belum jompo.”
Dia memeluk erat adiknya, takut jatuh, karena pikirannya sering melamun akibat kejadian tak disangka-sangka itu. Tiba di rumah dia mencium tangan ibunya.
“Kamu lembur?”
“Iya Bu, Ibu sendirian?”
“Iya, sendiri. Bapak tidak pulang, nginap. Darma belum pulang.” Kata Endang Pratiwi. Sang Ibu melihat perubahan dalam diri putrinya. Tampak wajah yang biasanya ceria kini diselimuti mendung.
“Sudah makan?”
“Sudah Bu, tadi sama Dimas.” Retno bergegas masuk kamar mandi. “Aku mau sholat dulu, terus istirahat Bu, capek.”
Tak lama kemudian dia masuk kamar tidurnya.
“Jangan dikunci Nak,” Seru Endang.
Retno menutup pintu tetapi tidak dikunci.
Retno telentang di atas kasur wajahnya ditutupi bantal. Dia berkata sendirian, lebih tepatnyavmengeluh. Suaranya lirih tetapi didengar Endang yang masuk diam-diam tanpa suara.
“Mas Arya, cobaan apa ini? Berat. Terlalu berat. Ndak sanggup aku melaluinya. Aku tidak komplain, karena komplain padamu tidak ada gunanya. Tetapi kepada siapa aku harus mengadu? Mas Arya, mengapa kau beri aku cobaan begini berat, rasanya tak mampu aku melanjutkan hidup lagi. Aku malu pada keluargaku. Apa kata Bapak dan Mas Koco. Mereka akan menertawai aku.”
Terdengar isak tangisnya. Retno benar-benar hancur.
“Tidak mungkin kamu membohongi aku. Tidak mungkin. Tetapi buktinya memang begitu, kamu telah membohongi aku. Sekarang aku harus bagaimana?”
Retno menangis.
“Takdir menuntunku ke pesta reuni dan bertemu denganmu. Lalu kamu dekati aku, dan aku jatuh cinta padamu. Habis-habisan, semua cintaku tumplek padamu, tak ada sisanya. Sekarang hatiku kosong, aku hancur, tak tahu apa langkahku selanjutnya.
“Sekarang aku mengerti mengapa dalam cerita novel, pelaku wanita sampai bunuh diri karena patah hati. Aku mengerti episode Satyawati bunuh diri menyusul suaminya Prabu Salya yang gugur dalam perang Bharatayudha.
“Duka nya sudah tak tertahankan lagi, dan sepertinya tidak ada satu hal pun lagi yang ditunggu, Satyawati menarik keris yang dipegangnya sejak tadi, yang kini berpijar kemilau keluar dari sarungnya. Dia kemudian menancapkan diri tanpa rasa takut ke bilah keris, dan darah segar mengalir ke luar seperti cairan mineral merah.”
Retno membisik kembali episode mengharukan itu dengan suara parau. “Satyawati bunuh diri karena patah hati, hatinya hancur. Tetapi aku tidak akan bunuh diri, aku harus melanjutkan hidup.”
Sarjana sastra Inggeris itu menangis tanpa suara, tetapi airmatanya membanjiri pipinya, membasahi bantal.
Tiba-tiba Retno sadar ada orang dalam kamarnya. Dia mendengar isak tertahan. Dia melepas bantal dari wajahnya dan memandang ibunya yang basah airmata. Ibunya berbaring di sampingnya. Retno membalik badan dan menubruk ibunya, kepalanya diseruduk ke dada ibunya.
“Kamu ketemu Arya?” Ibunya bertanya.
“Aku ke Jakarta, pergi pulang.” Kata Retno yang lantas menceritakan semua pengalamannya.
“Mas Arya itu sempurna. Satu-satunya kekurangannya adalah dia berbohong padaku atau dia tidak berterus terang padaku. Jika dia terus terang dan mengatakan sudah punya isteri dan ingin tetap menjadikan aku isterinya, apakah aku mau? Ibu, aku sangat mencintainya, aku mau, aku bersedia menjadi isteri keduanya.
“Hidup hanya satu kali, biar aku jadi isteri kedua, kalaupun nantinya aku diceraikan, akan kuikhlaskan, aku sangat mencintai Arya Priambodo itu. Ibu maafkan aku, ampuni aku wahai Ibu, relakan air susumu, Ibuku. Restui keputusanku ini.”
Endang Pratiwi luluh dalam duka. Hatinya hancur menjadi serpihan yang berdarah-darah. “Kalau itu keputusanmu, Ibu rela, Ibu dukung kamu, anakku. Begitu tulus kamu mengeluh, Ibu yakin Allah akan memberimu kebahagiaan yang kamu idamkan.”
Endang Pratiwi memeluk putri semata wayangnya dengan dekapan kasih sayang yang teduh dan nyaman.
( Bersambung 1.32 )
Comments







