Namaku Retno 1.30

Posted on 16 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.30

Cemburu Buta

Jika kamu sudah setuju bekerja dengan gaji yang sama kita sepakati,  silahkan beritahu Ningsih berikut tawaranku untuk dia sebagai manajer di restoran. Katakan pada isterimu untuk merahasiakan pembicaraan ini. Dan jangan beritahu Retno. Belum saatnya dia tahu.”

      Dalam penerbangan ke Jakarta, Retno yang duduk dekat jendela merasa tegang memikirkan petualangannya. Dia beruntung permohonan cuti satu hari yang diajukan hari Senin kemarin disetujui pimpinannya. Biasanya cuti harus diajukan beberapa hari sebelumnya. Alasan cutinya, ke Jakarta untuk urusan keluarga.

Hari Selasa pagi seperti biasa dia berangkat kerja. Pura-pura ke kantor. Dimas mengantar ke bandara Juanda dan memesan agar hati-hati. Dia tak mau keluarganya tahu, cukup Dimas. Dia tidak ingin Mas Koco atau ayahnya mengeritik dan mendesaknya. Dia memberanikan diri pergi sendirian ke Jakarta karena uangnya terbatas sehingga memutuskan tidak mengajak Dimas.

Ini perjalanan pertamanya ke ibukota. Tak ada siapapun kerabat tempatnya nginap dan dia pun tak berniat menginap. Berangkat pagi, tiba Soekarno-Hatta jam sepuluh pagi langsung ke restoran Jatiwaringin. Dia sudah tahu letaknya dari keterangan Arya beberapa waktu lalu dan peta kota Jakarta yang berada di tangannya. Bahkan dia sudah hapal rute yang harus ditempuhnya.

Dari bandara naik bus damri transportasi airport ke Bekasi. Lalu naik taksi melalui jalan Kalimalang terus belok ke Jatiwaringin. Mudah. Dia juga akan berhati-hati seperti pesan Dimas. Dia tak menyandang tas kulit ular pemberian Arya, mencolok, takut menarik minat pencopet.

Dia mengenakan jins dan blus hitam, diluarnya hoodie merah pemberian Arya. Dompet kecil berisi ktp, tiket pulang, sepuluh lembar limapuluh-ribuan diselip di saku-dalam hoodie. Dua lembar limapuluhan serta beberapa lembar sepuluh dan lima ribuan dilipat di kantong celana. Untuk membayar taksi atau angkutan kota.

Aman. Semua orang harus cari aman. Tujuannya ke Jakarta juga mencari aman. Ingin tahu restoran yang bersebelahan dengan rumah mungil di Jatiwaringin. Juga rumah orangtua Arya di Pondok Bambu, dan terakhir jika masih ada waktu ke kantor Arya di Jalan Thamrin. Dia ingin tahu kebenaran cerita Arya Priambodo.

Tanpa disadarinya dia telah terpengaruh omongan Yudistira dan Mas Koco yang mempertanyakan kebenaran cerita Arya tentang dirinya. Tak dimungkiri bahwa dia mencintai Arya dan percaya sepenuhnya, apalagi Arya telah memberinya kalung emas dan janji akan menikah, namun tetap saja ucapan dua orang itu membuatnya ingin mengetahui jelas perihal Arya.

Mengapa Arya tak pernah melibatkan keluarganya, orangtua atau kerabat? Juga belum mengajak dia menemui orangtuanya. Meskipun orangtuanya berada di Umroh, bisa saja lewat komunikasi telpon.

“Sampai kapan, baru ada kepastian dari Mas Arya? Memang dia telah melamar secara lisan, tetapi aku ingin lebih dari itu, ingin berkenalan dengan keluarganya. Kapan aku diperkenalkan dengan keluarganya? Aku ingin secepatnya, karena aku sudah terdesak di pojok, Mas Koco dan Bapak siap menerkam aku.” Gumamnya. “Mungkin aku akan diperkenalkan dengan orangtuanya sepulang mereka dari Umroh, seharusnya dia memberitahu aku.”

Dia memandang awan putih tebal di luar pesawat. Indah. Seakan dia melihat Gatotkaca sedang memeluk Pergiwa, kekasihnya yang putri Arjuna. Dua sejoli itu duduk di atas tumpukan awan. Begitu kisah dalam pewayangan.

Gatotkaca membawa kabur kekasihnya yang akan dikawin-paksa dengan pangeran Hastinapura, Lesmana. Tetapi Pergiwa telah memilih, hanya mau kawin dengan Gatotkaca pangeran Pringgandani, putra Bima itu.

Retno memejam matanya membayang sederet wanita utama, yang cantik, punya karakter dan berani memilih lelaki pilihannya meskipun harus menentang orangtua dan keluarganya. Pergiwa menentang kemauan ayahnya, Arjuna, yang telah menerima pinangan pangeran Lesmana, putra raja Hastinapura, Duryudana. Perkawinan demi ikatan politik dan keamanan kerajaan.

Dia menyukai cerita wayang, ini juga yang mendorong dia memilih jurusan sastra Inggris. Dia selalu terpesona akan love-story. Kisah cinta seorang wanita, totalitas cintanya yang sanggup menggerak emosi lelaki pujaannya.

Cinta Rukmini kepada Kresna. Cinta Ksiti Sundari kepada Abimanyu. Cinta putri Shakuntala kepada Raja Dushmanta. Cinta Satyawati yang tulus kepada Prabu Salya. Cinta Juliet kepada Romeo.

Cinta Rukmini begitu besarnya sehingga berani menentang kakak kandungnya Rukma yang menjodohkannya dengan Cediraja kemenakan raja besar Jarasandha. Ayah Rukmini yakni Raja Bhismaka dan kakangmas Rukma memaksa Rukmini untuk menerima lamaran Cediraja.

Tetapi Rukmini membangkang demi cinta.

Ibunya, Purthikirti, mendukung pilihan Rukmini. Ternyata cinta suci yang begitu besar dari Rukmini telah membuat Kresna sang kekasih tak mampu berkutik. Kresna terpaksa menghunus senjata cakranya dan menggelar pasukan yang dipimpin kakaknya Baladewa, mempersiapkan perang besar demi merebut Rukmini.

Kisah Wara Subadra yang berani pasang badan membela kekasihnya Arjuna menghadapi kemarahan kakangmas Baladewa. “Kangmas harus langkahi mayatku baru bisa menyentuh tubuh kekasihku.” Teriak Subadra. Amarah Baladewa pun luluh.

“Aku ingin seperti Subadra, Rukmini, Csiti Sundari, Shakuntala, Satyawati, Juliet. Aku juga senasib dengan mereka. Bapak dan kangmas Koco, kukuh menjodohkan aku dengan Yudi, pasti ada bisnis atau mungkin hutang? Tapi akan kulawan, aku ndak mau jadi tumbal, aku tak mau dikawinkan secara paksa.” Bisiknya dalam hati.

“Seandainya tidak mengenal Mas Arya, aku juga akan menolak Yudistira, apalagi sekarang dimana seluruh hatiku telah jadi milik Arya Priambodo. Tak akan kubiarkan kebahagiaanku direnggut Bapak dan Mas Koco.”

Retno merasa senang sebab ibunya mendukung keputusannya. Usai perdebatan di ruang makan, ketika dia lari masuk kamar dan menangis, ibunya datang. Sambil mengelus kepalanya, Endang Pratiwi berkata. “Ibu tak mau menentang ayahmu di depan anak-anaknya, tidak pantas perilaku isteri yang demikian. Tetapi ibu tidak setuju dengan cara Bapak dan  kangmas Koco. Karenanya ibu akan bicara dengan Bapak, empat mata. Tidak pantas mereka memaksa kamu kawin dengan Yudistira padahal kamu tidak suka. Apalagi sekarang ini kamu sudah kasmaran pada Arya si duda itu. Tapi hati-hati anakku, benarkah Arya mencintaimu?”

Kemarin hari Sabtu di Tanggulangin Arya telah melamarnya dengan pemberian kalung emas. Setiba di rumah Ningsih dan Susi bertanya hadiah apa yang diberikan Arya. Melihat kalung emas karya Emilio Pucci dan burberry london perfume keduanya mendecak lidah, kagum.

Retno menceritakan lamaran lisan Arya, karuan saja dua iparnya menyatakan kegembiraan. “Rahasia yah Mbak.” Kata Retno.

Sesungguhnya sejak pertemuan pertama di lantai dansa, Retno telah jatuh cinta, hanya dia tidak pernah tahu karena belum pernah mengalaminya. Namun sejak menerima hadiah kalung emas dan parfum itu, Retno Wulandari Setianingrum sadar dia telah menyerahkan seisi hatinya yang putih bening kepada Arya Priambodo.

Sarjana sastra Inggeris itu tak lagi sanggup mencintai lelaki lain dalam hidupnya.

 “Aku gadis bodoh, seorang gadis yang hidup di alam modern yang penuh dengan teknologi canggih tetapi pola hidup dan pola pikirku justru berada jauh di belakang di era tahun limapuluhan.” Katanya dalam hati.

Retno tahu apa yang terjadi dalam dirinya. Sejak masih gadis dia membayang diri bagaikan Ksiti Sundari yang menanti datangnya sang lelaki pujaan, lelaki yang dia serahkan seluruh isi hati, tubuh dan jiwanya. Lelaki yang dia yakin akan melindungi dirinya dalam mengarungi bahtera hidup masa depan.

“Aku tidak perduli dia mencintai aku sepenuh hati atau separuh hati. Yang kuperlukan hanya uluran tangannya mengajak aku ke pelaminan, menjadikan aku isteri sisiannya. Disitulah aku berjanji akan memberinya kebahagiaan, kepuasan dan kenikmatan dunia. Akan kuserahkan cintaku yang sejati dan yang menggunung yang tidak mungkin bisa disamai wanita lain.” Bisiknya seorang diri.

      Sejak hari itu ketika makan malam di hotel, dia sudah jatuh cinta pada Arya. Dia mengisyaratkan perasaan cintanya melalui dua lagu. “I saw her standing there” mengingatkan Arya pandangan mereka bertemu di lantai dansa, saat dia masih melantai dengan Hendrik.

      Lagu “Jenang gulo”, dia ingin Arya tidak melupakannya  karena dia sudah kadung jatuh cinta. “Apa dayaku membendung cintaku ini, perasaan cinta yang tak mungkin bisa dihentikan, membanjir tumpah sejadi-jadinya”. Gumamnya waktu itu.

      Di mobil dalam perjalanan pulang dari Tanggulangin, tangan Arya menggenggam tangannya secara sembunyi, tak ingin diketahui saudara dan ipar-iparnya. Tangannya gemetar seiring gemuruh badai cinta mengamuk dalam dadanya.

Tetapi belakangan ini terngiang selalu kata-kata Yudistira,

“Kamu tidak tahu siapa dia? Apakah kamu sudah kenal keluarganya, sudah ketemu Bapak Ibunya? Apakah dia sudah berjanji akan membahagiakan kamu? Belum kan, dasar perempuan bodoh. Kamu sudah kenal si Arya? Belum kan? Kalau aku? Mas Koco tahu keluargaku. Lain dengan Arya, kamu tidak kenal keluarganya, jangan-jangan dia sudah punya isteri?”

      Pertengkarannya dengan Mas Koco, tak pernah sebelumnya dia membantah dan menentang kangmasnya. Baru sekali itu, dan itu lantaran cintanya pada Arya.

      Ucapan kasar Mas Koco masih terngiang di telinga, suaranya keras mengandung amarah. “Kamu ini goblok, sarjana tapi bodoh. Kamu menolak lelaki yang jelas mencintai kamu, laki-laki yang mapan, punya rumah punya mobil punya pekerjaan yang bagus. Kamu mengharap mimpi yang ditiup si Arya playboy itu. Arya itu tidak jelas, jangan-jangan dia telah beristeri.”

( Bersambung 1.31 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com