Namaku Retno 1.29
Posted on 16 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.29
“Ibu juga punya andil memiliki rumah itu?” Tanya Arya.
“Rumah itu dibeli Bapak dengan uang tabungan, tetapi sebagian besar uangnya dari warisan Ibu. Jadi maunya rumah dijual saja, dan uangnya dibagi. Ibu mau tinggal bersama aku atau Tiyo. Mau beli rumah di pinggiran. Katanya malu kalau orang kampung tahu skandal itu.”
“Berapa hutangnya?”
“Empat puluh juta, masih tetap sebesar itu, karena cicilan bunga dibayar terus, aku yang bayar atau Bapak. Adik-adikku tidak tahu. Tiga bulan lalu, aku jadi perantara Bapak pinjam uang pada Yudi duapuluh juta untuk bayar hutang bank biar separuh asalkan bunganya berkurang. Sedangkan pinjaman pada Yudi tidak dikenakan bunga, hanya secarik kuitansi. Yudi menjanjikan akan menghapus hutang duapuluh juta jika Retno jadi isterinya. Mungkin ada janjinya yang lain, yang aku tidak tahu.”
“Solusinya bagus.” Komentar Arya.
“Ternyata tidak bagus. Bapak menggunakan uang itu untuk modal usaha isteri mudanya. Jadi sekarang hutangnya enampuluh juta.”
Arya teringat kata-kata Papanya beberapa waktu lalu. “Kita bikin perkawinanmu sebagai bisnis mencari keturunan, setahu Papa, ini juga tidak menyalahi moral dan aturan agama. Asalkan dikerjakan dengan suka sama suka, artinya perjanjian itu disepakati dua pihak.”
Arya berkata dengan sangat hati-hati. “Mas, aku punya proposal bisnis untuk menolong masalahmu. Sebagai anak tertua kamu wajib menolong ayahmu. Apakah Retno tahu masalah ini?”
“Tidak. Semua adikku tidak tahu urusan hutang itu. Tapi mereka tahu tentang bini muda dan gugat cerai Ibu. Apakah Retno tidak cerita padamu?”
Arya menggeleng. “Tidak. Begitu lebih baik. Biarkan Retno dan semua adikmu tidak tahu masalah hutang itu. Begini Mas. Jika Retno jadi isteriku, semua hutang Bapak akan kamu lunasi, uangnya dari aku. Ini janjiku. Kalau Retno tidak jadi isteriku maka perjanjian bayar hutang itu menjadi tidak ada. Buat aku Retno lebih penting dari uang sebesar apapun. Jadi kuncinya, kamu harus bantu mengawinkan aku dan Retno.”
Mas Koco diam.
Arya menegaskan. “Kalau kamu setuju aku tawarkan proposal lanjutan.”
“Jadi aku berhutang padamu?”
“Enampuluh juta itu bantuanku. Ikhlas.”
“Aku setuju.” Tegas Mas Koco yang tak sanggup menyembunyikan rasa kagetnya. “Terusnya apa?”
“Kamu bekerja sebagai asistenku. Kerja profesional, salah yah dipecat, gajimu nanti kita nego. Kamu pindah Jakarta. Isterimu juga bisa kerja di restoranku sebagai manajer, kerja profesional dan dapat gaji.”
“Aku kerja di kantormu? Ijazahku hanya es-em-a, apakah kerja sebagai supir?”
Arya menggeleng. “Aku punya dua restoran. Punya tanah kosong sembilan ratusan meter yang akan kudirikan ruko, semua surat administrasi pemerintah sudah siap. Ruko akan kusewakan. Kamu yang ngurus semuanya, mengambil dan setor uang di bank, bayar kuli, membantu Ningsih mengawasi restoran. Kamu bakal sibuk!”
Arya memandang Mas Koco yang tampak bingung. “Mengapa memilih aku?”
“Aku majikan yang baik, biasanya cocok dengan pegawainya yang juga baik. Kau atlet karateka, pasti punya sikap berani, jujur dan setia. Apalagi kini kamu pelatih karate. Aku beruntung dapat kamu, dan kamu beruntung dapat aku sebagai majikan, sama-sama diuntungkan.”
“Karena Retno?”
“Tentu saja karena Retno, tidak kenal Retno maka aku tidak kenal kamu. Juga sebab cintaku terhadap adikmu.”
“Aku setuju. Terimakasih kamu membantuku.”
“Rabu Kamis aku di Bangkok. Jumat kembali Jakarta. Setelah itu aku tugas di Bangkok sebulan atau dua bulan. Jadi waktuku sempit. Besok pagi, kamu ketemu aku di lobi sini jam tujuh pagi. Kita sarapan dulu, lalu ke Juanda, sama-sama berangkat Jakarta. Kamu nginap di rumahku dua atau tiga malam, Selasa kamu pulang Surabaya. Nanti kita keliling melihat-lihat kapling buat ruko itu, dan dua restoranku. Aku juga punya rumah di Depok yang dikontrak orang dan villa di Bogor.”
Mas Koco hanya diam. “Tidak kusangka Arya benar-benar jutawan.” Pikirannya melayang jauh ke depan seakan semua kesulitan yang selalu menggerayangi benaknya sirna begitu saja. Mendapatkan pekerjaan tetap dengan imbalan gaji memuaskan sangat dia dambakan selama ini. Tak disangka, tawaran justru datang dari Arya, orang yang tadinya dia musuhi.
Sebelum berpisah, Arya berpesan. “Mas Koco rahasiakan kamu ke Jakarta bersama aku. Jika kamu sudah setuju bekerja dengan gaji yang sama kita sepakati, silahkan beritahu Ningsih berikut tawaranku untuk dia sebagai manajer di restoran. Katakan pada isterimu untuk merahasiakan pembicaraan ini. Dan jangan beritahu Retno. Belum saatnya dia tahu.” ***
( Bersambung 1.30 )
Comments







