Namaku Retno 1.28

Posted on 14 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.28

      “Buat kamu jajan. Belanjanya nanti aku bayar dengan uangku.” Arya tersenyum merogoh jaketnya dan mengeluarkan kotak parfum, “ini parfum untukmu, asli.”

      Retno tersenyum. “Kamu manjain aku, terimakasih Mas.” Dia membuka kotak dan menimang-timang botol parfum, menyemprot ke bajunya. “Wanginya lembut, aku suka Mas.” Lalu dia memasukkan parfum ke dalam tasnya.

      Arya memanggil pelayan, “tolong dihitung Mbak.” Lalu menoleh kepada Retno. “Sekarang giliran kamu yang jadi kasir.”

      Retno tertawa lirih. “Aku traktir kamu yo Mas.”

      “Ayo kita beli keperluanmu.” Kata Arya.

      “Aku ndak perlu Mas, sudah banyak uangmu yang keluar.”

      Sebagai calon istriku kamu harus memakai yang pantas, nanti di Jakarta kita beli lagi pakaian dan keperluan yang lain.”

      “Aku mau sederhana saja.”

      “Ingat ndak, kata-katamu sendiri, kalau suamiku bisnisnya maju yah aku harus menyesuaikan diri supaya suamiku ndak malu. Ingat?”

      Retno melangkah sambil merunduk malu. Dia menggandeng lengan Arya, erat  menempel sisi payudaranya. “Beli apa aku yo?” Suaranya manja.

      “Sepatu, tas, dompet, ikat pinggang, jaket  terserah kamu.”

      Retno mengapit erat lengan kekasihnya. “Itu toko besar, pasti lengkap.” Dia menunjuk dengan tangannya yang bebas.

      “Aku ingin menciummu.”

      Retno tersenyum, masih memeluk erat lengan kekasihnya. “Jangan sekarang. Nanti setelah nikah boleh cium, boleh apa saja. Aku juga ingin belajar ciuman dari kamu. Belajar dari suami.”

      “Kamu belum pernah ciuman? Dicium?”

      “Kalau dicium sih sudah pernah.”

      Arya berhenti melangkah. Menatap tajam Retno.

      Dicium bapak, Ibu, waktu aku masih kecil .. hi hi hi….”. Retno tertawa menggoda. Tangan yang memeluk lengan dilepas, kini dia memeluk pinggang Arya.

      Arya tertawa, suaranya parau. Ada rangsangan birahi.

      Mereka belanja cepat. Hanya di satu toko itu. Semua tersedia di situ, termasuk travelling-bag ukuran sedang, tas tangan, sabuk, dompet, jaket kulit.

      Retno tampak sangat gembira.

      Pemilik toko dan para pelayan sibuk melayani. “Pengantin baru?” Tanya pemilik.

      Retno mengangguk. “Iya…” Lalu tertawa geli ketika Arya memeluknya erat.

Selesai belanja, mereka duduk lagi di kedai minuman tadi. Memesan mi goreng. Mereka ngobrol ringan.

      “Nanti malam aku bertemu Mas Koco, dia ngajak bicara empat mata. Besok pagi aku pulang Jakarta. Hari Rabu Kamis aku ke Bangkok, rencananya hari Jumat kembali Jakarta.” Tutur Arya.

      Retno tegang memegang tangan Arya. “Katamu tadi mau ketemu Mas Koco, yang ngajak bertemu siapa? Mas Koco?”

      “Iya, katanya penting. Jadi yah kupikir malam ini saja, mumpung aku di sini.”

      “Kapan dia ngajaknya? Via telpon?” Desak Retno.

      “Beberapa hari lalu, aku lupa? Mengapa, koq kamu kelihatannya tegang?”

      “Mau bicara apa?”

      “Mungkin tentang hubungan kita?” Nada suara Arya terdengar santai.

      Wajah Retno tampak tegang. “Dia mau maksa kamu tinggalkan aku, dia tak mau aku jadi isterimu, dia …. dia…” 

      “Tenang Ret. Kamu tenang saja. Aku ndak akan mundur sejengkal pun, begitu kamu mau dan bersedia jadi isteriku, maka semua rintangan akan kuhadapi. Aku ndak akan mundur.”

      “Mas, jangan tinggalkan aku.” Suara Retno terdengar sedih.

      “Tidak. Aku tidak akan tinggalkan kamu. Percayalah.” Tegas Arya.

      Retno melihat Dimas bertiga Ningsih dan Susi melangkah menghampiri mereka. “Nah itu mereka datang, rupanya sudah selesai belanja.” Kata Retno.

      “Sekarang kamu bahagia.”

      “Iya aku bahagia, kamu Mas?”

      “Aku senang kamu mau jadi isteriku. Kamu cantik, seksi, pintar, nyanyinya merdu, cinta sama aku, suka cemburu, doyan ngambek……”

      “Sudah ah, koq yang cemburu dan ngambek ikut-ikutan dinilai.” Retno berkata lirih karena Ningsih bertiga telah mengambil tempat duduk.

      Mereka juga memesan mi goreng dan es campur.

      “Kalian makin mesra, kulihat jalannya gandengan dan pelukan.” Sapa Ningsih.

      “Waduh Retno ngeborong, lihat satu koper, apa saja isinya?” Kata Susi.

      “Nah mulai lagi godain aku, awas kubalas nanti.” Retno tersenyum malu.

      “Lagaknya mengancam tapi dia senyum malu.” Komentar Susi.

***

Jam sembilan kurang sepuluh menit, Arya telah berada di lobby. Duduk di sofa sambil membaca majalah newsweek yang tadi sempat dia beli.

      Selang beberapa saat, Mas Koco muncul. Sendirian. Mengenakan celana hitam dan kemeja batik lengan pendek.

      “Ayo kita ke restoran, ngobrol sambil makan.”

      “Aku sudah makan.” Kata Mas Koco.

      “Aku lapar. Temanin aku makan.”

      Mereka duduk berhadapan. Pelayan datang dan mencatat pesanan minum. Arya meletakkan kunci kamar di atas meja, tanda meja sudah ada yang punya. Lalu mengajak Mas Koco mengambil makanan.

      “Sebaiknya aku bicara blak-blakan, supaya tak ada penyesalan di kemudian hari.” Tegas Mas Koco dengan suaranya yang berat. 

      “Yah, aku suka semua yang terus-terang.” Sahut Arya ramah. “Ayo makan.”

      “Aku bawa pesan dari Bapaknya Retno. Tapi sebelum sampai ke sana, boleh aku menanyakan hal yang pribadi, seberapa penting Retno bagi Mas Arya?”

      “Sangat penting artinya, aku mencintainya. Mungkin sama penting arti Ningsih bagi Mas Koco.” Kata Arya.

      Laki-laki itu tersenyum. “Ningsih memang sangat penting artinya bagiku. Dulu aku berjuang keras mendapatkan dia, Bapaknya marah sama aku, katanya aku preman bonek, bondo nekat. Dan aku memang nekat, maju terus sampe bapaknya menyerah.”

      Mas Koco tertawa. Arya ikut tawa.

      “Aku akan segera melamar Retno. Tadi siang, aku memberinya kalung emas dan janjiku akan segera melamarnya jadi isteriku. Aku tanya dia, dan jawabnya dia mau dan bersedia jadi isteriku.” Arya menatap Mas Koco dengan tatapan yang ramah. Arya ingin merebut hati lelaki yang sangat berperan dalam keluarga Retno.

      Mendengar cerita Arya telah melamar lisan Retno, seketika itu kekerasan Mas Koco jadi lumer. “Aku pribadi setuju apa yang disukai adikku Retno. Kalau dia telah memilih kamu, aku akan menerima kamu dengan tangan terbuka. Tetapi masalahnya ada pada Bapak. Aku membawa amanatnya untuk disampaikan kepadamu.”

      Arya bisa menebak. Namun dia mendengar dengan sabar. “Apa itu Mas?”

      “Kata Bapak, sebaiknya Mas Arya mundur dan tidak lagi mendekati Retno, karena Retno akan dinikahkan dengan Yudistira.” Mas Koco merasa lega seakan telah melepas beban beratnya.

      “Maaf. Aku tidak akan mundur. Kecuali jika Retno sendiri yang mengatakan kepadaku agar aku mundur.” Jantung Arya berdebar-debar, tegang. Tiba-tiba dia ingat ayahnya. “Apa kata Papa kalau urusan Retno ini gagal.”

      “Aku khawatir, Bapak akan memaksa Retno menerima lamaran Yudistira.”

      Arya tiba-tiba merasa kenyang. Dia mendorong piring yang masih berisi separuh makanannya.

      Arya menghabiskan fresh-orange. Memanggil pelayan dan minta lagi satu gelas. “Kamu mau tambah minum?”

      Mas Koco mengangguk. “Aku juga haus.”

      “Tadi katamu mau bicara blak-blakan, nah ceritakan latar belakang mengapa Bapak begitu keras memaksa Retno?” Desak Arya.

      Mas Koco menatap tajam. “Sebelum aku menjawab, aku tanya dulu, harap jawab dengan jujur, apakah Mas Arya sudah beristeri sekarang ini?”

      “Aku duda, sendirian, sekarang ini tidak punya isteri.”

      Rasa senang memancar dari wajah angker Mas Koco. “Mas Arya laki-laki terhormat, edukatif. Aku minta pembicaraan ini habis di sini, tidak dibicarakan dengan orang lain. Ini rahasia keluargaku.”

      “Okay, aku janji.” Tegas Arya. “Tapi kamu juga sebaiknya tahu tekadku untuk mendapatkan Retno, membawanya ke pelaminan.”

      “Tadi telah kamu ucapkan tidak akan mundur untuk mendapatkan adikku itu.” Sesaat diam lalu dia melanjutkan. “Ini aib bapakku, sebenarnya aku tak akan menceritakan jikalau aku mampu mengatasinya. Tetapi kamu tahu sendiri, kerjaku serabutan, kadang mendapat uang, kadang pulang ke rumah dengan kantong kosong.” Tutur Mas Koco.

      Arya diam, mendengarkan.

      Mas Koco melanjutkan. “Bapak punya isteri muda, sudah tiga tahun. Enam bulan lalu Ibu tahu, tetapi merahasiakan. Satu bulan lalu, Ibu mengajukan gugat cerai. Dia menanyakan surat rumah. Ternyata surat rumah yang atas nama Bapak digadaikan ke Bank alasannya untuk memperluas usaha bengkel.”

      “Ibu juga punya andil memiliki rumah itu?” Tanya Arya.

( Bersambung 1.29 )   
Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com