Namaku Retno 1.27

Posted on 13 Februari 2017 ( 0 comments )


 

Namaku Retno 1.27

“Lupakan masa lalu, melangkah maju jangan menoleh ke belakang. Isterimu dulu itu masa lalu, di depan ada Retno dia masa depanmu.” Sulis memberi dukungan.

Dorongan Sulis terutama kata-kata Ibu susuannya makin menyemangati Arya melamar Retno. Sesuai janjinya dia datang hari Sabtu pagi. Dimas menemuinya di lobby Hotel.

      “Hari ini aku ndak ada kegiatan kampus. Jadi bisa ikut. Tapi Mas Tiyo, Mas Damar dan Mas Koco sibuk, mereka titip salam untukmu.” Kata Dimas.

      Arya mengangguk. Dia menelpon Retno yang ternyata bersama dua iparnya telah siap-siap di rumah. “Dim, aku mandi dulu. Sementara itu kamu jemput mereka. Kita bertemu di lobby sekitar jam sebelas.”

      “Mau kemana?”

      “Makan siang seafood.”

      Mobil mengarah daerah Darmo. Ningsih yang duduk di jok tengah berdua Susi menoleh ke belakang dimana Arya dan Retno duduk berdempet. “Mas Arya pernah ke Tanggulangin?” Tanya Susilowati.

      “Tempat apa, sea-food?” Tanya Arya pura-pura tidak pernah mendengar nama itu.

      “Banyak gerai kerajinan kulit asli, macam home-industri, jualan tas, ikat pinggang, sepatu, dompet semuanya dari kulit, jaket kulit juga ada.” Tutur Ningsih.

      “Belum pernah. Tapi kita kan mau makan siang.”

      “Sekarang baru jam duabelas, selesai makan siang paling lama jam satu. Bisa langsung ke Tanggulangin. Lihat-lihat.” Kata Ningsih.

      “Hanya lihat-lihat?” Arya mengerti arah pembicaraan.

      Retno berbisik pada Arya. “Jangan dilayani Mas.”

      “Tuh denger ndak? Retno sudah bisik-bisik mau beli tas tangan dan sepatu.”

      Ningsih menyambung ucapan Susi. “Kita sih jadi penasehat, memberi saran pada Retno, mana yang bagus mana yang kurang bagus.”

      “Lho jadi kalian ndak belanja.” Tukas Arya.

      Retno menyenggol lengan Arya, sambil melotot dan menggeleng kepala.

      Ningsih melanjutkan. “Mau belanja apa, wong duitnya ndak ada.”

      “Nanti aku bekali duit, mau?” Arya tersenyum kepada Retno.

      Spontan Susi dan Ningsih berseru girang. “Nah itu baru adil, bukan hanya Retno saja yang dibekali duit.”

      Retno memotong. “Aku ndak belanja koq!” Dalam hati dia kesal dan malu. “Susi dan Ningsih keterlaluan, ndak ada malunya.”

      Arya berkata kepada Dimas yang duduk di jok depan. “Dim, kamu tahu ndak restoran dekat Tanggulangin? Kita ke sana, makan dulu terus belanja.”

      “Urusan restoran aku ndak tahu, tapi Pak Supir tahu, iyo Pak?” Dimas berkata kepada supir. “Pak cari yang dekat, restoran sea-food atau ikan gurame, bandeng. Kita makan siang dulu.”

      Selesai makan mereka menuju Tanggulangin. Dalam perjalanan Arya berhenti di bank kantor cabang BCA. Agak lama kemudian dia keluar.

      Didalam mobil dia menyodor amplop berisi uang kepada Dimas, Ningsih dan Susi. “Untuk Dimas seadanya, dia laki-laki ndak butuh tas tangan.” Kata Arya.

      Ningsih yang polos dan suka blak-blakan membuka amplop, seketika berseru girang. “Aduh dua juta, rejeki nomplok, ini buat apa? Buat aku semua?”

      “Itu peluru untuk belanja.” Sahut Arya.

      Susi juga membuka amplop, menghitung uang. “Aku juga dua juta, aduh terimakasih Mas Arya, sering-sering saja begini.” Dia tertawa senang.

      Dimas tidak membuka amplopnya. Dia tahu jumlahnya tidak sebesar itu. Namun tetap saja dia mengucap terimakasih dengan sukacita.

      Ningsih berterimakasih.

      “Retno koq ndak dikasih amplop?” Susi menggoda.

      Ningsih menyahut. “Retno ndak perlu amplop, kan Mas Arya sebagai boss yang akan membayar semua pilihannya.”

      “Kamu suka godain aku, awas, nanti kubalas.” Retno tersenyum malu.

      Tiba di pusat perbelanjaan yang terdiri dari puluhan rumah rakyat yang disulap jadi semacam toko, sekitar jam setengah tiga sore. Retno menarik tangan Arya, memisah.

      Para pemilik gerai yang berderet sepanjang jalan, membujuk-rayu menarik pembeli. Ningsih dan Susi masuk salah satu toko, dikawal Dimas.

      Retno menarik tangan Arya masuk kedai jual minuman ringan. “Aku haus,” lalu kepada pramusaji dia pesan dua es campur.

      Mereka minum sambil berdiam.

      “Mas, katamu ada yang penting yang akan kaukatakan.”

      Arya merogoh sakunya. Mengeluarkan kotak kecil. Dia membukanya, tampak kalung emas gemerlap. “Untuk kamu. Didalam kotak ada kuitansi pembeliannya.”

      Retno tercengang sehingga tak bisa berkata-kata. Kalung emas itu pasti mahal, gemerlap kena sinar mentari sore. “Untuk aku? Buat apa Mas?”

      “Yah dipake dong. Harus diterima.”

      Retno mulai normal kembali, debar jantungnya mereda. “Kenapa harus?”

      “Itu ikatan batin antara aku dan kamu. Kalung itu tanda aku akan segera melamar kamu jadi isteriku. Mau kamu jadi isteriku?” Pertanyaan tiba-tiba.

      Selama ini Retno bertanya-tanya apakah Arya serius dalam hubungan dengannya. Ketika momentum itu tiba berupa kenyataan, lamaran lisan, dia tak sanggup menahan haru. Matanya berkaca-kaca. Dia gugup. Jantungnya berdebar kencang.

      “Dik Retno, mau kamu jadi isteriku?” Arya mengulang tanya.

      Retno memberanikan diri menatap mata Arya. “Mau Mas.” Lalu merunduk dan berkata lirih. “Mas, kamu lihat sendiri rumahku kecil, keluargaku miskin. Lihat Ningsih dan Susi dapat hadiah dua juta sudah begitu girangnya. Pergaulan jaman sekarang kan biasanya terjalin jika tatanan ekonominya sama kelas. Kamu ndak menyesal memilih aku?”

      Arya menatap sepasang mata indah yang mulai basah berkaca-kaca. “Itu pernah kita bicarakan, kenapa diungkit lagi? Aku tidak menyesal, malah aku bersyukur kamu mau jadi isteriku?”

      “Pertama ketemu aku kira kamu biasa-biasa saja. Kalau tahu kamu kaya, mungkin aku tak berani mendekat.” Diam sesaat memandang Arya dengan mesra. “Lama-lama timbul kecurigaanku, melihat kamu nginap di Sheraton, kupikir kamu pengusaha yang punya bisnis di Sydney, lalu kamu jelaskan hanya karyawan biasa. Tapi aku tahu kamu kaya ketika kamu mengundang kami makan di hotel. Aku takut dan minder berhubungan dengan orang kaya, tapi aku tak bisa menarik diri lagi, kadung cinta padamu, aku berdoa semoga perbedaan kelas ini bukan jadi hambatan.”

      “Sudahlah itu ndak perlu dibicarakan lagi.”

      “Bagaimana pandangan Papa dan Mama, apakah mereka tahu aku dari keluarga miskin? Aku takut memikirkan pertemuan dengan orangtuamu.”

      Arya memegang tangan kekasihnya. “Aku kenal orangtuaku, malah aku belajar dari mereka untuk menghargai manusia tanpa melihat status ekonomi. Kami juga bukan orang kaya, hanya biasa-biasa. Khusus kamu Dik Retno, sebelum mereka umroh, aku sudah menyebut namamu sebagai calon isteri. Tak ada pertanyaan, Papa malah memerintah lakukan pendekatan. Semua terserah aku, kalau cocok yah menikah. Mereka mengharap pulang umroh sudah punya calon mantu.”

      “Kapan kamu menyebut namaku kepada Papa Mama?” Desak Retno.

      “Hari Sabtu kita melantai. Hari Senin pagi aku sebut namamu ketika aku bicara dengan mereka.”

      Retno memandang Arya dengan tatapan mesra. “Waktu itu kamu hanya mengenal aku di lantai dansa, tidak banyak yang kamu tahu tentang diriku.”

      “Aku didesak cepat kawin, mereka khawatir aku tak mau kawin setelah peristiwa perceraianku. Tiba-tiba saja aku menyebut namamu sebagai calonku.” Tutur Arya. “Beberapa jam kemudian aku menelpon kamu.”

      “Terus Mas?” Mata Retno memancar sinar cinta dan haru.

       “Makin hari, aku makin mencintai kamu. Hanya waktu itu aku masih bimbang.”   Arya memegang tangan Retno. “Sekarang hatiku mantap mencintaimu.”

      “Mas, aku mencintai kamu sejak di lantai dansa. Waktu itu aku nunggu telponmu, janjimu segera nelpon begitu tiba di Jakarta. Dan Senin itu aku senang dan bahagia menerima telponmu. Sekarang aku lebih bahagia lagi.”

      “Kamu nangis, mengapa?” Arya melihat sepasang mata indah itu berkaca-kaca.

      “Iya Mas, aku gadis Jawa yang bodoh dan kolot, kalau sudah berani mengeluarkan isi hati, itu hal luar biasa.” Kata Retno.

      Mereka menikmati es campur dan kue.    

      “Mana tasmu? Aku mau lihat.” Desak Arya.

      “Buat apa?” Tetapi Retno menyodorkan tas kulit buaya hadiah Arya.

      Arya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan segebok uang, membuka tas Retno dan memasukkan uang kedalamnya.

      “Uang itu buat apa?” Retno berseru.

      “Kamu calon isteriku, harus pegang duit.”

      “Berapa itu?”

      “Lima juta.”

      “Aduh Mas, koq banyak begitu buat apa, buat belanja?”

      “Buat kamu jajan. Belanjanya nanti aku bayar dengan uangku.” Arya tersenyum merogoh jaketnya dan mengeluarkan kotak parfum, “ini parfum untukmu, asli.”

( bersambung 1.28 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com