Namaku Retno 1.26

Posted on 11 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.26

“Kamu suka ketawain aku?” Retno berkata manja.

“Habisnya lucu, kangen koq ikut-ikutan.”

Retno ikut tertawa, lalu mengalih pembicaraan. “Kamu pasti hari Sabtu datang?”

“Mungkin pesawat pagi, nanti aku kabarin lagi.” Arya diam sesaat. “Dik Retno, kita bisa ketemu? Ajak ipar dan saudara-saudaramu. Kita makan siang sea-food. Tapi aku ndak perlu ke rumahmu, nanti kusuruh mobil jemput kalian di rumah.”

“Ada yang penting, selain makan siang?”

“Yah ada yang penting, sangat penting.” Tegas Arya.

“Apa Mas?” Retno berdebar-debar.

“Nanti saja kuberi tahu.”

Mereka masih ngobrol lama sampai akhirnya Arya memutus kontak.

Malam itu Retno sulit memejam mata. Pikirannya melamun masa depannya. “Aku ingin kepastian dari Mas Arya, hubungan ini mau dibawa ke mana? Apakah hanya pacaran begini-begini saja atau serius menuju perkawinan. Tapi aku belum tahu latar belakang kehidupannya, siapa Arya yang sebenarnya dan siapa keluarganya. Sampai hari ini dia belum pernah bercerita tentang keluarganya.”

Mendadak muncul rencana dalam benaknya. “Minggu depan aku ke Jakarta tapi harus diam-diam tanpa setahu Mas Arya. Aku ke restorannya di Jatiwaringin. Pergi pagi, pulang sore, dan pada hari kerja supaya keluargaku tidak tahu.”

***

      Setelah komunikasi dengan Retno, hape Arya berbunyi lagi. Dia membaca layar, nama “Mas Koco” muncul. Arya bersyukur nomor Mas Koco yang diberikan Dimas sudah dia simpan. Tapi dia pura-pura tidak tahu. “Hallo siapa yah?”

      “Hallo aku Joko Santoso.”

      “Iyah, siapa yah?”

      “Aku Mas Koco, kakaknya Retno.”

      “Oh sorry Mas, sebabnya aku lupa nama Joko Santoso, yang kuingat nama Mas Koco, maaf yah Mas. Ada perlu apa?” Arya bertanya ramah.

      “Mas Arya mau ke Surabaya kapan?”

      “Rencanaku hari Sabtu pagi dari Jakarta. Pulangnya Minggu pagi atau siang.”

      “Mau ketemu Retno? Jam berapa janjiannya?” Mas Koco mendesak. Dia menahan diri. “Lebih baik  ketemu langsung, bicara empat mata. Urusan begini ndak bisa lewat telpon.” Katanya dalam hati.

      “Aku mau ketemu sebelum siang, mungkin Retno mengajak saudara-saudaranya. Kebetulan Mas Koco nelpon, bagaimana jika Mas Koco ikutan bersama, kita makan sea-food.  Tapi mungkin Mas ada perlu dengan aku, ada yang bisa aku bantu Mas?”

      “Aku mau bicara empat mata. Sebaiknya setelah kamu ketemu Retno.”

      “Kebetulan. Aku juga ingin bicara empat mata dengan Mas Koco. Sesuatu yang mungkin berguna dan bermanfaat bagi kita berdua.”

      “Urusan apa?” Desak Mas Koco.

      “Bisnis Mas. Aku ingin membangun bisnis berdua kangmas, tetapi ceritanya panjang. Nanti saja saat kita bertemu Sabtu besok.”

      “Begitu juga bagus. Kita bisa terus-terang tentang beberapa hal. Jadi hari Sabtu kita ketemu? Jam berapa enaknya?”

      “Kalau begitu kita atur malam hari jam sembilan di hotel, kita makan malam berdua sambil ngobrol rileks. Bagaimana setuju?”

      “Baiklah, Sabtu malam jam sembilan. Aku datang ke hotelmu.” Tegas Mas Koco.

      “Kamu perlu bicara sesuatu yang penting dengan aku, feelingku pasti soal Retno. aku juga punya proposal bisnis untukmu, tawaran yang sulit kamu tolak.” Berpikir demikian Arya tersenyum.        ***

Bab Sembilan

Jadikan Bisnis

Arya Priambodo sangat menyayangi Sarika. Hubungan emosionalnya dengan Ibu-susuannya itu terjalin sejak masih kecil. Dia memanggilnya Ibu dan memanggil Mama kepada Sri Dewi, ibu kandungnya. Dia bahagia, mengetahui memiliki dua Ibu yang begitu tulus menyayanginya.

Sejak kecil dia tahu status Ibu-susuan, yang statusnya sama dengan Ibu kandung. Ibu itu harus dipilih dari golongan wanita yang ibadahnya baik, moral dan ahlaknya terjaga. Arya menyayangi Sarika karena wanita itu memperlihatkan kasih sayang dan perhatian kepadanya.

Sri Dewi mengenal Sarika sejak dia bersama Sumantri pindah ke Jakarta dan tinggal di Pondok Bambu. Mereka bertetangga, meski terpisah agak jauh. Sama-sama anggota pengajian ibu-ibu di pesantren Kiyai Haji Mustafa. Mereka bersahabat sering bicara tentang hak-hak wanita, tentang ibadah, tentang cinta dan tentang lelaki.

Sarika adalah prototipe wanita Jawa konvensional yang manda, sabar dan tahan menghadapi cobaan hidup betapa pun beratnya. Pribadinya teguh bagai batu karang yang tidak goyah dihantam ombak dan angin ribut.

Jarang mengeluh, meskipun derita menderanya tanpa kasihan. Garis-garis di keningnya tampak makin jelas di hari tua, malah mempercantik keningnya yang halus mulus.

Ibarat petinju yang dua kali knock-down kena pukulan keras, begitu juga dialami Sarika. Tetapi wanita asal Ponorogo itu survive keluar dari keterpurukan mental.

Pukulan pertama dialaminya ketika dia hamil enam bulan anak keduanya. Hari itu anak pertamanya meninggal dunia dalam usia tiga tahun. Dua bulan kemudian suaminya kabur bersama wanita sinden mencuri semua perhiasan dan uang miliknya. Juga rumah miliknya di Pondok Bambu raib dijual. Tandatangannya dipalsu. Harta warisnya di Ponorogo dicuri dua kakaknya yang kabur dan tak pernah bertemu lagi.

Sarika bangkrut.

Sri Dewi menolongnya. Untuk sementara dia ditampung di rumah Sri Dewi. Tidak tanggung-tanggung menolong, Sri Dewi kemudian membiayai kedatangan orangtua Sarika dari Ponorogo dan mengontrak rumah untuk Sarika dan orangtuanya.

Tiga bulan setelah kelahiran Murniati, giliran Sri Dewi melahirkan bayi lelaki,  Arya Priambodo. Tragisnya Sri Dewi sakit parah, air susunya pun tidak keluar. Tetapi dia ngotot putranya harus minum asi. Dia minta ijin suaminya, membujuk Sarika jadi Ibu-susuan Arya.

Di rumah kontrakan itu Sarika bersama orangtuanya berjualan masakan Jawa Timur. Dia mondar-mandir ke rumah Sri Dewi untuk menyusui Arya. Dia sering membawa Arya nginap di rumahnya.

Kasih sayang Sarika tumpah atas Arya seakan dia melihat putranya sendiri. Ketika usia Arya dua tahun, masa menyusui pun berakhir. Tetapi Sarika masih sering bertemu anak-susuannya. Sehari tak bertemu Sarika akan murung dan Arya akan rewel memanggil, “Ibu .. Ibu..”

Memasuki usia dewasa Arya memperlihatkan sayang kepada Ibu-susuannya. Tidak pernah dia lupa menjenguk Sarika. Sejak sekolah dasar sampai saat kuliah di Bandung, dia rajin menghubungi Ibunya.

Dan Arya begitu pandai dan bijaksana sehingga tak sekalipun Mamanya cemburu atau iri melihat hubungannya dengan Sarika. Seperti yang diajarkan Sarika, maka Mama adalah Ibu utamanya dan Sarika Ibu kedua.

Hubungan kasih sayang Sarika dengan Arya, bukannya memancing cemburu, sebaliknya menyenangkan Sumantri dan Sri Dewi. Suami isteri ini juga menyayangi Murni, menyekolahkan bersama Arya sampai lulus sarjana. Bahkan juga membiayai perkawinan Murni dengan Bambang Sulis.

Pukulan kedua bagi Sarika terjadi ketika Arya menangis dipangkuannya, mengadu isterinya selingkuh. Sarika mendukung keputusan Sumantri dan Sri Dewi, “iya nak, kamu harus ceraikan dia.”

Pukulan batin yang menerpa Arya, juga menyakiti Sarika. Melihat Arya begitu murung dan nelangsa, Sarika jatuh sakit. Teringat akan suaminya Parto yang mengkhianatinya, kini Arya dikhianati isterinya.

Sejak itulah Sarika menarik diri dari pergaulan.

Dia mengurung diri di rumah Jatiwaringin, sehari-hari kegiatannya ibadah, sholat, mengaji. Urusan restoran ditangani Murni, kakek dan neneknya serta para pembantu.

Yang membahagiakan Sarika, ketaatan dan sayang yang diperlihatkan Arya. Putra susuannya itu selalu menjenguk, mencium tangan dan selalu mengulang-ulang minta rela air-susunya. Jika tidak datang, Arya akan menelpon ke hapenya.

Hari itu Arya membawa album foto karya Dimas memperlihatkan kepada Sarika. Dia tahu tali kasih Sarika sangat kuat terhadapnya, sehingga dia percaya Ibunya itu bisa merasakan hal-hal gaib menyangkut dirinya.

      “Ini foto-foto calon isteriku. Namanya Retno Wulandari Setianingrum. Bu, liatin dia, cocok buat aku ndak?” Paras Arya tampak gembira.

      Hari Jumat malam usai rapat di kantor dia pulang ke Jatiwaringin, setelah menelpon Sarika, mau makan malam dan nginap. Esok paginya berangkat ke Surabaya, bertemu Retno.

      Mereka makan berempat. Arya, Sarika, Murni dan Bambang Sulis.

      “Gadis itu baik hati, masih polos, cerdas tetapi sangat mudah tersinggung. Dia tipe isteri setia yang mau berkorban untuk suami, penurut, kalau dia mengatakan cinta padamu, maka dia benar-benar cinta.”

      Ketika Arya masih bimbang dan ragu, Sarika menegaskan. “Arya, kamu harus kawin, itu perintah Papa dan Mama. Gadis bernama Retno itu cocok buat kamu, bawa dia ke pelaminan, kamu akan bahagia, Papa, Mama dan Ibu juga bahagia.”

      “Sudahlah Arya, jangan maju mundur, tetapkan hatimu. Ingat papa dan mama sudah tegas menganjurkan kamu kawin dalam waktu dekat ini.” Tegas Murni. “Aku mendukung pilihanmu.”

      “Lupakan masa lalu, melangkah maju jangan menoleh ke belakang. Isterimu dulu itu masa lalu, di depan ada Retno dia masa depanmu.” Sulis memberi dukungan.

***

( Bersambung 2.27 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com