Namaku Retno 1.25
Posted on 10 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.25
Retno gadis penurut, tetapi kali ini dia akan melawan karena menyangkut masa depan dan kebahagiaannya.
Joko Santoso memandang lembut adik perempuan satu-satunya. “Aku tak punya kepentingan untuk diri sendiri, tetapi ingin menyaksikan adikku Retno bahagia.”
Semua diam, bagaimanapun juga Joko Santoso sebagai anak tertua cukup disegani.
“Apa alasanmu menolaknya?” Desak Mas Koco.
Retno menunda makannya, memandang kakaknya dengan tatapan tajam. “Tidak cocok, aku menganggapnya teman biasa. Dia marah, bicaranya keras dan mengatai aku. Beberapa teman kantor berada di situ, aku malu.”
“Kamu ini goblok, sarjana tapi bodoh. Kamu menolak seorang lelaki yang jelas mencintai kamu, laki-laki yang mapan, punya rumah punya mobil punya pekerjaan yang bagus. Semua itu jaminan bagi masa depanmu. Tetapi kamu justru menolak dan mengharap mimpi yang ditiup si Arya playboy itu.” Suara Mas Koco tinggi dan tajam. “Arya itu tidak jelas, jangan-jangan dia telah beristeri.”
Retno menenggak air minum, berusaha menekan amarahnya. “Tidak ada hubungan dengan Arya Priambodo. Sejak pertama kali bertemu, tiga bulan lalu, aku sudah katakan kepada kangmas Koco bahwa aku tak mau dijodohkan dengan Yudi. Jadi dari dulu aku tidak suka, mau dibilang apa lagi, ketemu ndak ketemu sama Arya, aku tetap saja tidak suka dan tak mungkin kawin dengan Yudistira.”
Purwanto menengahi. “Retno anakku, kakangmasmu memikirkan kamu, umurmu sudah duapuluh lima, sekarang ada pria yang mencintaimu, pria yang sudah mapan ekonominya, sebaiknya kamu terima. Jangan pikirkan perasaanmu suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok. Nantinya setelah jadi suami isteri, akan timbul suka dan kecocokan satu sama lain.”
“Bapak koq ikut-ikutan mendesak aku. Pokoknya aku emoh. Ndak mau dipaksa.”
“Arya itu tidak jelas. Mau dibawa kemana kamu? Hanya pacaran begitu saja? Dia punya duit banyak, sengaja pamer, tetapi apa benar dia serius mau jadikan kamu isterinya? Pikirkan itu baik-baik.” Desak Mas Koco.
“Yang kawin ini siapa? Aku atau Bapak atau Mas Koco?” Potong Retno.
“Sudahlah ndak perlu mbalelo, suka atau tidak suka kamu harus kawin dengan Yudi.” Tegas Purwanto.
“Aku jadi heran. Bapak dan kangmas mendesak aku, memaksa aku kawin dengan lelaki itu, ada apa ini? Ada kerjasama, bisnis?” Retno tak mau mengalah, suaranya bergetar menahan amarah. Nalurinya mengatakan ada sesuatu dibalik desakan itu.
“Jangan kurangajar, kutempeleng kamu!” Seru Mas Koco yang berdiri dari kursinya, namun tangannya dipegang Ningsih, isterinya.
“Mau pukul, pukul saja. Aku lemah tetapi aku akan melawan. Kangmas keras, apakah aku juga tidak keras?” Sepasang mata Retno melotot.
“Lho lho lho koq jadi rame, janjinya bicara baik-baik.” Kata Bambang Susetiyo yang memandang ayahnya dengan lembut. “Kita pernah sepakat, kita saudara laki-laki tak akan berkelahi sesama kita dan akan melindungi Retno adik wadon satu-satunya, mengapa jadi rame begini.”
“Oh jadi malam ini sudah direncanakan, keluarga sepakat akan mengadili aku? Mendesak aku menerima lamaran Yudi? Tidak heran kalau aku curiga, ada udang di balik batu. Terus terang saja, kalau memang mau bisnis, jangan tanggung-tanggung carikan saja aku putra konglomerat yang kaya raya.” Retno tak mau mengalah. “Satu bulan kawin lalu cerai, pokoknya dapat uang pesangon. Hitung-hitung aku jual perawanku, tapi aku mau hargaku mahal, tidak murahan.”
Endang Pratiwi yang duduk disamping putrinya, memegang tangan Retno. “Jangan bicara kasar begitu, bisnis apa, tak ada yang bisnis dengan perkawinanmu, sekarang begini saja, kamu pikirkan usulan kangmas dan Bapak, mudah-mudahan pikiranmu bisa berubah dalam satu dua hari ini.”
Retno menangis. Suaranya terputus-putus. “Aku akan minggat. Bapak tak perlu susah, aku tak akan kawin sembarangan, pasti aku minta restu dan ijin Bapak. Tapi aku tak mau menerima lamaran Yudistira, maafkan Retno, Bapak, Ibu, Kangmas.”
“Oh oh rupanya kamu sudah kena pelet si Arya, jangan-jangan dia sudah beristeri.” Tukas Mas Koco tak kalah kerasnya.
“Tidak ada pelet-peletan, sekarang juga aku bisa putuskan hubungan dengan Arya sebesar apapun cintaku padanya. Tapi aku bilang sama Kangmas dan Bapak, kalau Arya sudah beristeri, aku akan minta dijadikan isteri kedua, asalkan tidak kawin dengan Yudi. Aku serius, tidak sembarang bicara.” Suara Retno tegas, mimiknya tegang. Sesungguhnya watak gadis itu keras tapi juga lembut dan rasional.
“Edan.. kamu ngomong apa? Pokoknya kamu mesti kawin sama Yudi.” Potong Mas Koco serius.
“Aku minggat. Besok aku minggat, pokoknya minggat!” Teriak Retno.
“Oh tidak perlu begitu Mbakyu. Kamu tetap tinggal di rumah. Mas Koco dan Bapak tak boleh memaksa kehendak begitu saja.” Kata Darma Susilo, suaranya datar tetapi tegas. “Retno punya hak pribadi untuk menentukan nasib dan masa depannya. Dengan siapa dia mau kawin, dan dengan siapa dia tak mau kawin, itu pilihannya. Kita tak boleh memaksa, karena yang kawin itu dia, bukan kita.”
“Aku setuju dengan Mas Darma.” Seru Dimas.
“Aku setuju, biarkan Retno yang memilih.” Tegas Bambang Susetiyo.
Joko Santoso memandang Purwanto. “Begini saja Pak, kita kasih waktu Retno satu minggu untuk pikir-pikir, setelah itu kita terima lamaran Yudi.”
“Yah begitu saja, keputusan itu untuk kebaikan Retno. Bapak tidak memaksa kehendak tetapi memberi yang terbaik untuk Retno yang mungkin saat ini belum bisa berpikir jernih.” Kata Purwanto.
“Aku ndak main-main. Minggat, aku minggat.” Seru Retno sambil berdiri dari kursi dan berlari masuk kamarnya. Terdengar daun pintu dibanting.
Didalam kamar Retno melempar diri ke pembaringan. Menangis keras. “Mas Koco dan Bapak pasti punya kerjasama bisnis dengan Yudi. Enak saja aku mau dijual. Kalau memang aku dijual, katakan hargaku berapa? Aku harus tahu. Kita blak-blakan, jangan main sembunyi-sembunyian.” Suaranya keras dan terdengar oleh keluarganya yang masih melanjutkan diskusi di ruang makan.
Endang Pratiwi masuk kamar, menghampiri putrinya. Mengelus-elus kepalanya.
“Tenang, kamu harus tenang, jangan emosional. Ibu mendukung apa keputusanmu. Ibu akan bicara dengan Bapak, empat mata. Ibu tidak setuju pendapat Bapakmu tetapi Ibu tidak mau membantah Bapakmu di depan anak-anak.”
Di teras rumah Purwanto bicara berdua putra tertuanya. “Joko, hubungi Arya, kamu bicara blak-blakan saja sama dia, katakan ndak usah dekatin Retno. Karena Retno akan dikawinkan dengan Yudistira, suruh dia mundur secara jantan.”
“Baik akan kuatur pertemuan dengan Arya. Urusan Arya gampang, yang susah itu ngurus si Retno. Retno orangnya keras, sekali ndak mau, dia akan ngotot tidak mau.”
“Yah dipaksa harus kawin, koq susah-susah. Pokoke Retno harus kawin dengan Yudistira, tak ada laki-laki lain.” Tegas Purwanto.
***
Retno sedang menangis ketika hapenya berdering. Dia membaca layar. Seketika dia tersenyum, lalu menghapus air matanya. “Hallo Mas…..”
Terdengar suara Arya. “Dik Retno kamu nangis?”
“Ndak tapi aku sakit Mas.” Suaranya bindeng tapi tak mengurangi nada manja.
“Sakit apa? Koq bisa sakit?” Arya bergurau.
“Aku sakit koq diketawain.”
“Sakit apa? Serius sakitnya?”
“Sakit biasa, perut mules, hari pertama kedatangan tamu…” Retno berbohong.
“Ohhh tamu itu….”
Retno ingin bertanya kapan Arya datang menjenguknya, tapi dia malu. Ingin tanya kapan kamu melamar aku, pertanyaan itu tak mungkin dia tanyakan, malunya besar. Sesaat diam. “Kamu di mana Mas, Jakarta?”
“Iya aku ndak bisa kemana-mana, besok Kamis dan Jumat, ada rapat penting, jadi yah terpaksa kerja keras.”
“Rapat di mana, Sydney?” Tanya Retno, suaranya mulai normal. Kegembiraannya muncul lagi, sesaat dia lupa akan pertengkaran dengan Mas Koco.
“Rapatnya di kantor sini. Hari Sabtu kamu masuk kantor ndak?”
“Libur Mas, jatah liburku masih Sabtu Minggu.”
“Kalau jadi aku ke Surabaya hari Sabtu.”
“Memang ada bisnis?”
“Bisnisku di Surabaya, cuma mau ketemu kamu. Kangen.” Kata Arya.
Jantung Retno berdebar, dia senang. “Aku juga Mas.” Retno mulai berani menyatakan persaaannya.
“Kamu juga kangen?”
Retno tertawa lirih. “Kalau kamu kangen, yah aku ikut kangen.”
Arya tertawa geli.
“Kamu suka ketawain aku?” Retno berkata manja.
“Habisnya lucu, kangen koq ikut-ikutan.”
( Bersambung 1.26 )
Comments







