Namaku Retno 1.24
Posted on 09 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.24
Kontras dan berlawanan pola hidup. Begitu banyak benturan yang makin hari makin memuncak dan semakin sengit. Arya harus bersabar menahan diri, mengekang dua tangannya.
Arya tak pernah memukul isterinya, tetapi kemarahannya dilampiaskan dengan memukul dinding atau melempar gelas ke dinding. Jika itu terjadi istrinya pun ikut melempar piring ke dinding.
Ketika menikah di Jakarta dan tinggal di Sydney, warna cinta birahi yang polos dan romantis menguasai kedua pengantin. Ketika Arya ditempatkan di Jakarta, tak ada lagi cinta. Keduanya membawa luka dalam hati. Di Jakarta, setelah Susmorini menemu cinta dalam diri lelaki lain, bekas pacarnya dulu, maka pertengkaran makin sengit. Wanita itu seakan menantang memancing pertengkaran.
Kata-kata Susmorini semakin tajam dan sengaja menyakiti hati Arya.
“Barangkali kamu yang harus memeriksa diri ke dokter, aku pastikan kamu yang mandul, bukan aku.” Kata Susmorini dalam pertengkaran ketika Arya menyebut Murni sudah punya anak meskipun menikah belakangan. Ucapan itu sangat kasar dan telah menyinggung harga dirinya sebagai lelaki dan suami.
Belakangan Rini mengakui kejahatannya. “Waktu itu aku tidak keguguran tetapi sengaja menggugurkan kandungan.” Pengakuannya itu hampir membuat Arya kalap.
Beberapa waktu kemudian ketika pertengkaran mencuat kembali. Susmorini dengan tertawa sinis berkata. “Sorry, telah kuputuskan aku tak mau punya anak. Aku masih mau senang-senang.” Pengakuan yang menyakitkan itu bagi Arya adalah pengkhianatan terhadap dirinya sebagai suami.
Puncaknya terjadi di suatu malam. Arya bekerja di rumah dan Susmorini baru saja pulang dari shoping. Arya tak sanggup menahan diri melihat tubuh isterinya. Seks tanpa cinta dan romantika terjadi begitu saja.
Saat itulah Arya menemukan sesuatu yang mengguncang sanubari dan akal sehatnya. Susmorini selingkuh! Aroma tubuh lelaki selingkuhan itu masih melekat di tubuh isterinya. Rini tidak shoping tetapi bercinta dengan lelaki lain. Gosip isterinya sering jalan bersama lelaki lain, ternyata benar.
Dan Susmorini mengakuinya, tanpa rasa malu atau bersalah. “Ceraikan aku, untuk keselamatan kita berdua. Kamu bisa cari isteri lain, aku bisa kawin dengan dia.”
Malam itu kesabaran Arya mendapat tantangan dan ujian yang paling hebat, sedikit saja dia kalap, mungkin kepalannya akan menghantam wajah cantik isterinya. Dan urusan polisi akan berkepanjangan. Apalagi jika sampai isterinya mati terbunuh. Arya hanya bisa membekap wajahnya dengan dua tangannya yang gemetar. Tubuhnya ikut gemetaran. “Pergilah kamu, sembunyi di mana saja, sebelum aku kalap.”
Dan Susmorini lari pontang-panting keluar rumah dan nginap di rumah mertuanya di Pondok Bambu. Dan Arya duduk termenung di kamarnya seorang diri di rumah Ibu Sarika di samping restoran Jatiwaringin itu.
Proses cerai berbelit-belit. Talak secara hukum Islam telah resmi jatuh. Tetapi urusan kantor agama untuk secarik kertas memakan waktu empat bulan. Lambatnya proses karena negosiasi Arya yang diwakili Murni dengan Susmorini. Tawar-menawar dan akhirnya Susmorini mau menandatangani surat cerai dengan kompensasi uang duaratus limapuluh juta rupiah serta mobil sedan milik Arya. Total seluruhnya hampir setengah milyar rupiah.
Luka itu belum sembuh. Torehan pisau tajam Susmorini masih membekas yang membuat Arya Priambodo selalu ragu dan takut kawin. Dua tahun lebih sudah berlalu. Kini ultimatum Papa dan Mamanya untuk segera kawin, bujuk-rayu Ibu-susuannya Sarika dan Mbakyu susuannya Murni, mendesaknya segera kawin.
Dan dia tak bisa mengelak lagi. Hari itu dia menyebut nama Retno, spontan dan di luar pikirannya. Orangtuanya menerima nama itu sebagai calon utama menantu mereka.
Pertemuan Arya dengan Retno Wulandari Setianingrum bagian dari hukum sebab akibat, kausalitas. Hari itu dia mewakili Mathilda yang berhalangan, menyelesaikan kontrak dengan client di Surabaya. Pekerjaan gedung sudah selesai dan pembayaran pun sudah beres. Pertemuan siang itu hanya makan-makan antara dua pihak yang diselenggarakan pihak client. Seandainya Mathilda berkenan datang pasti dia tak akan bertemu Retno.
Ronggo teman semasa kuliahnya di Bandung dan salah seorang staff dari client membujuknya untuk hadir di pesta reuni es-em-a dua. Dia bukan alumnus sekolah itu, tetapi Ronggo dan isterinya adalah alumnus dan panitiya inti reuni. Arya setengah hati menerima ajakan Ronggo. Ternyata di pesta itu dia bertemu Retno. Jika menuruti kata hatinya yang ingin istirahat di kamar hotel katimbang mengikuti ajakan Ronggo, pasti dia tak akan bertemu Retno.
Pertemuan pertama itu sangat berkesan. Retno sarjana sastra Inggris, karyawati travel FlyMe bagian tiketing telah merebut simpatinya. Arya belajar banyak dari Susmorini, seakan tidak mau lagi jatuh cinta. Bahkan takut kawin. Ketakutan wanita akan menyakitinya lagi. Dia lebih enjoy bergaul dengan wanita high-class yang bertukar layanan servis cinta dengan imbalan uang dan perhiasan.
Tetapi Retno telah merebut perhatiannya. Gadis itu lugu, polos. Penampilan fisiknya menarik. Boleh Susmorini atau Maya lebih cantik parasnya, tetapi Retno cukup menarik.
Ukuran dada, pinggang, bokong yang begitu menarik, serta geraknya yang luwes tak dibuat-buat membuat Arya sulit melupakan Retno.
Arya mengupas kertas pembungkus kiriman Dimas. Isinya album dan sebuah cakram disc. Dia tahu semuanya foto-foto mereka ketika di Surabaya, pasti yang terbanyak adalah foto Retno sebagaimana pesannya kepada Dimas.
Dia memperhatikan satu demi satu foto-foto Retno hasil jepretan Dimas. Terkadang dia balik ke halaman sebelumnya. Dia menikmati penampilan gadis sederhana itu. Saat gadis itu makan, bicara bahkan kala menyanyikan dua lagu, seluruhnya cantik alami. Begitu juga di jembatan Suramadu, rambutnya yang bergerak mengombak dibelai angin malam dan matanya yang agak menyipit menghindari terpaan angin. Retno memang cantik.
Retno memiliki karakter yang menyenangkan. Dia punya sense humor, suka bercanda dan tertawa lepas. Namun dia bisa berbicara hal-hal serius, dengan pertimbangan dan argumen yang masuk akal.
Dia cekatan, bisa dilihat ketika dia menyajikan makanan waktu makan siang di rumahnya. Tingkah lakunya polos, tidak dibuat-buat. Dia tidak beraksi untuk diperhatikan, tetapi setiap geraknya enak diperhatikan, halus mulus dan mengalir seadanya.
Kecantikannya alamiah. Ketika pertama kali bertemu ada kesan dia bermake-up meskipun tipis, namun dalam pertemuan berikutnya dia bahkan tidak berdandan. Bagi sebagian gadis, justru pertemuan kedua dan seterusnya, dandanan dan make-up pasti akan dipercantik untuk menarik perhatian pasangannya. Retno tidak begitu. Retno masih membungkus dirinya dalam kesederhanaan.
Arya menghirup nafas dalam-dalam kemudian melepasnya perlahan-lahan. Saat itu pun dia memutuskan harus keluar dari masa lalu yang telah membelenggunya selama lebih dua tahun. Dia putuskan akan melamar Retno. “Akan kuperlihatkan foto-foto ini kepada Ibu, minta pendapatnya.” Bisiknya. “Tidak hanya Ibu, Mama dan Papa juga akan setuju, sejak awal mereka memberi kebebasan aku memilih.”
Kemarin di bandara Changi dia membeli tiga botol burberry london perfume untuk Retno, Murni dan Estanti. Khusus Retno dia tambah dengan kalung emas Emilio Pucci kreasi terbaru yang harganya sebelas juta rupiah. Semula hadiah untuk Retno hanya oleh-oleh biasa seperti juga pemberiannya sepulang dari Sydney beberapa waktu lalu. “Sekarang hadiah ini lamaran lisan petanda ikatan janji akan membawa dia ke pelaminan.” Bisiknya. Arya pun puas dengan ketetapan hatinya.
Dia membayang kembali duduk dempetan di mobil dalam perjalanan ke jembatan Suramadu. Berdempet paha dan pantat, serta memegang tangan Retno yang gemetaran, membuat Arya terangsang birahi. Ketika memandang wajah cantik si gadis tanpa terasa jantungnya berdebar, persis pengalaman pertama anak sekolahan jatuh cinta. Arya membayang malam pertama bersama Retno, dia akan memeluk isterinya itu semalam suntuk. Arya tertawa dalam hati.
“Aku akan tanya dia, sanggupkah dia hidup sederhana, jadi isteri rumahan, tidak bekerja, jadi ibu rumahtangga mendampingi mertuanya, melahirkan dan memelihara anak-anaknya, maukah dia?” Arya memutuskan akan menelpon Retno, tidak hanya kangen dan rindu, dia ingin mengatakan akan ke Surabaya.
Tetapi dia harus menunda niatnya karena Estani muncul di ambang pintu. “Boss, semua staff siap di ruang rapat.” Kata Estanti.
***
Tidak seperti biasa malam itu Joko Santoso datang bersama isterinya Ningsih, membicarakan urusan keluarga yang penting dan makan bersama. Semua saudara kumpul, termasuk Bambang Susetiyo dan isterinya Susilowati.
Usai makan Joko Santoso memandang Retno sambil berkata. “Aku dengar dari Yudistira, katanya kamu menolak lamarannya. Benar Dik?”
“Iya Mas, hari Jumat kemarin.” Suara Retno agak bergetar. Firasatnya berbisik dia akan diadili. Dia merasakan itu sejak kedatangan dua kakaknya Mas Koco bersama Bambang Susetiyo. Apalagi ayahnya, tidak berangkat kerja malam, padahal hari Rabu ini bukan hari libur.
Retno sudah tahu, maksud kangmasnya. Ingin memaksakan perjodohan dengan Yudistira. Dalam hati dia telah membulatkan tekad akan melawan habis-habisan, bukan sebab kadung mencintai Arya. Lebih dari itu, dia tak punya feeling apalagi cinta terhadap lelaki itu.
“Aku lebih suka jadi perawan tua daripada kawin dengan dia.” Itu tekadnya. Retno gadis penurut, tetapi kali ini dia akan melawan karena menyangkut masa depan dan kebahagiaannya.
( Bersambung 1.25 )
Comments







