Namaku Retno 1.23
Posted on 08 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.23
Bab 8 Konflik Keluarga
“Kutelpon kamu sekitar jam enam atau setengah tujuh.” Santoso balik badan dan melangkah cepat. Tanpa sadar mulutnya bersiul, lagu mars “maju tak gentar.” Langkah kakinya diatur seperti serdadu baris menuju medan perang.
Arya Priambodo seorang pimpinan yang disukai bawahannya. Dia pekerja keras sehingga membuat semua karyawannya termotivasi bekerja lebih keras. Hal ini membuat managing director, Mathilda Watson, perempuan usia limapuluhan sangat mengandalkannya. Perempuan ini sering berada di luar kantor atau mewakili cabang Jakarta meeting di Sydney, dan mengontrol aktifitas kantor lewat handphone. Hanya sekali-sekali dia memimpin rapat-rapat di Jakarta.
Hari itu Mathilda yang sedang liburan di Bali menelpon Estanti. “Kemana bossmu pak Arya, seharian aku ndak bisa kontak, dia telah pulang dari Singapura?” Bahasa Indonesianya yang fasih tak bisa menyembunyikan rasa tegangnya.
“Skedulnya sore ini tiba di Jakarta, mungkin dia pulang ke rumah dulu.” Kata Estanti yang masih menekuni laptop dimejanya.
“Ooohhh iya mungkin dia sudah di rumah, coba kamu hubungi dia, katakan aku mencarinya, sebisanya dia hubungi aku hari ini juga.” Kata Mathilda.
“Ohhh oohh hold on, hold on, ini dia pak Arya baru masuk.” Potong Estanti cepat sebelum Mathilda memutus hubungan.
“Okay, aku mau bicara dengan bossmu.”
Estanti berdiri dari kursinya. “Boss telpon dari Ibu Mathilda.”
Arya meletakkan tas jinjing berisi laptop di meja Estanti, menerima gagang telpon. “Yes Mam, bagaimana Bali?” Suara Arya riang, tak ada tanda-tanda kelelahan.
“Aku senang di sini. Besok tidak jadi pulang, hari Minggu aku pulang Jakarta, Senin aku di kantor. Ada berita penting yang mulai hari ini harus dipersiapkan semuanya. Kamu belum pulang ke rumah?”
“Ada yang harus kuselesaikan di kantor, why?”
“Itu yang membuat aku sayang sama kamu Arya.”
“Come on madam, to the point saja, whats up?”
“Sydney menang proyek besar di Bangkok, perintahnya aku di pindah ke sana dan kamu diangkat jadi managing director di Jakarta. Bagaimana senang?”
Arya kaget bercampur senang. “Waooh, surprise dan tentu saja aku happy, salary tunjangan ikut naik?”
“Sudah pasti dong. Cuma kamu punya tugas sebelumnya. Promosimu satu atau dua bulan ke depan. Tepatnya at the same time dengan pindahnya aku. Sebelum itu, kamu ke Bangkok tugas membereskan organisasi, sistem, reposisi dan lain lain. Aku datang semuanya sudah beres.”
“Kita perlu rapat tentunya.” Potong Arya.
“Pasti. Di Bali ini aku siap-siap, kamu juga persiapkan dengan beberapa staff supaya dalam meeting kita berdua bisa cepat dan beres. Setelah kita berdua membuat proposal organisasi Bangkok, kita rapat pleno di kantor lalu rapat dengan Sydney, aku usulkan rapatnya di Jakarta, sekali-sekali mereka yang datang, begitu baru fair. Setelah itu kamu berangkat, pelaksanaan di Bangkok. Kamu di sana mungkin satu atau dua bulan, tergantung pekerjaanmu. Lebih cepat rampung, lebih cepat balik Jakarta. Kamu boleh membawa satu orang staff.”
“Okay madam, anggap saja semua beres. Kita ketemu hari Senin depan.”
Arya menyodorkan gagang telpon ke Estanti. Lalu memandang sekretarisnya. “Aku bawa hadiah parfum buat kamu, juga tiga buah dasi buat suamimu.”
Estanti memperlihatkan rasa senangnya, ekspresif. “Wooh thankyou, Boss. Ohh ada kiriman dari Surabaya, aku letakkan di mejamu.”
Arya tersenyum. “Dari Surabaya?”
“Dimas Subiyantoro, pengirimnya.”
“Yah aku tahu pasti dia.” Wajahnya berubah serius. “Satu jam lagi, aku mau meeting dengan semua manager, sediakan makan malam bersama. Banyak yang kita bicarakan.”
“Delivery saja Boss, minumnya aqua. Oh iya aku boleh pulang?”
“Kamu ndak tunggu hadiahku? Kamu ikut rapat, nanti biar Sudir ngantar kamu pulang, aku naik taksi saja.”
“Okey Boss, tapi biar aku naik taksi.”
“No way. Kamu diantar Sudir. Sekarang aku mau istirahat, jangan diganggu.” Tegas Arya sambil menyambar tas laptopnya dan masuk ruangannya. Satpam yang sejak tadi berdiri dekat Arya ikut masuk sambil membawa tas pakaiannya.
Estanti ikut masuk. “Boss, mau pesan makan sekarang?”
“Aku makan sama-sama kalian.”
Estanti keluar sambil menutup pintu.
Arya bersandar di kursinya, memejam mata. Tubuhnya rileks tetapi pikirannya mengingat percakapannya dengan Maya. “Lihat aku, Mas Arya, apakah aku kurang cantik, aku masih segar, perawan dan belum terjamah laki-laki.” Dia mendekatkan parasnya yang dioles make-up mengilat dengan bibir basah estee lauder dan sepasang mata yang dihias maskara dan pewarna hitam dan merah menatap tanpa berkedip.
Gerak tubuh Maya yang agak membungkuk di atas meja kerja, mempertontonkan sebagian dadanya yang putih berisi. Dan parfumnya yang sejak mula telah menyebar di ruangan kerjanya semakin menyergap hidung. Untuk sesaat pikiran Arya bimbang karena sebagai lelaki normal aksi Maya itu telah menariknya ke alam birahi.
“Apakah aku kurang cantik?” Kata-kata Maya itu terulang dibenak Arya.
Maya cantik, muda dan masih segar. Usia baru duapuluh. Tetapi semua yang ada dalam diri Maya, penampilan dan kelakuannya mirip Susmorini, wanita yang telah menghancurkan kehormatan dan harga diri Arya sebagai laki-laki dan suami.
Bagaimana mungkin Arya merangkul Maya ke dalam penghidupannya kalau setiap gerak gadis cantik itu mengingatkan dia akan mantan isterinya. Gaya hidup, pola hidup Maya setali tiga uang dengan Susmorini. Sama-sama super-modern, wanita abad milenium yang mengonsumsi serba materi. High-cost living!
Masalahnya bukan pada cost, karena dengan penghasilan serta harta benda yang dia miliki, Arya masih bisa mengongkosi sepakterjang Susmorini. Apalagi bujuk-rayu yang begitu mulus dan penuh nuansa surga-dunia, berapa pun cost yang digaruk dari kantongnya, dia mampu mengatasinya.
Tetapi cara hidup yang bergelimang kebendaan dan kemewahan, sesuatu yang sangat kontras dengan pola hidup Arya yang sejak kecil dibangun ayahnya. Pola hidup Sumantri dan Sri Dewi yang sederhana, pekerja keras dan ketika telah menjadi kaya justru lebih dekat dengan kerendahan rakyat jelata dan penyayang anak-anak yatim.
Sejak kecil Arya melihat kehidupan aman tenteram dan penuh cinta orangtuanya. Sumantri begitu ramah tetapi tegas dan disiplin. Sri Dewi yang melayani suaminya dengan senyum di mulut, wanita rumahan yang selalu melayani keperluan sang suami. Ketika menikah dengan Susmorini, Arya membayang pola hidup yang sama seperti apa yang dicontohkan orangtuanya.
Dia ingin isteri, seorang wanita rumahan, yang modern dan cerdas yang jika suaminya pulang kantor menyambutnya dengan peluk cium dan jika pergi kantor mengantarnya ke pintu mobil dengan kecupan dan bisikan “hati-hati”.
Dia membayang kehidupan yang romantis, sarapan pagi berdua dengan isterinya sibuk melayani kopi dan panganan kegemarannya. Dia gemar kue serabi dan panganan tradisional bukannya kue tart yang penuh mentega, susu dan cokelat yang jika selesai makan bibir akan tampak berminyak.
Ketika di Sydney justru dia yang melayani isteri, menggoreng kentang, telur dadar atau omelet, menuang kopi tubruk untuk sarapan pagi sementara Susmorini masih tidur berselimut. Selesai sarapan dia pamitan dan Susmorini hanya mengintip dari balik selimut dan berbisik malas. “Hati-hati dijalan Mas, telpon aku yah.”
Susmorini tak pernah masak. Dia selalu pesan delivery. Atau mengajak makan di restoran. Jika Arya terjaga di malam hari atau bekerja malam hari di rumah, Arya dipaksa kembali ke masa-masa kuliah di Brisbane, membuat makanan sendiri atau sengaja membeli berbagai penganan dan menjejalnya di lemari-es.
Susmorini lebih suka bermalasan dan memanjakan diri katimbang melayani suami. “Mas, aku di rumah saja, mau nonton dividi atau film serial tivi, siang ini aku mau tidur karena semalaman kita bercinta, capek.”
“Mas jemput aku di mall.”
“Mas, aku ikut ke kantormu, turunkan aku di mall, aku mau shoping.”
“Mas, aku ikut ke Melbourne.”
“Mas, kesini Mas, kenalkan ini temanku bang Simon, teman es-em-a.”
“Mas, ambilkan minuman dong.”
“Mas, jangan pulang dulu, aku masih betah disini, ada yang belum kubeli.”
“Mas ambilkan parfum di meja itu. Aku ndak bisa tidur tanpa parfum di bantal.”
“Mas hapeku harus diganti.”
“Mas, jangan mencegah aku nelpon ke rumah orangtuaku. Kamu bebas nelpon Papa dan Mamamu, jadi aku juga bebas nelpon orangtuaku.”
Begitu sering ucapan itu didengar telinganya, sehingga ketika sudah cerai pun semua masih terngiang dibenaknya. Dan ketika Maya bersikap-pola seperti itu, serta merta bayangan Susmorini menggelayut di pelupuk matanya. Dan saat itupun Arya menatap Maya sambil mengeluh dalam hati, “mengapa aku ketemu Rini lagi?”
Perkawinannya dengan Susmorini ibarat tanjakan yang menjurus perceraian. Tidak cocok. Kontras dan berlawanan pola hidup. Begitu banyak benturan yang makin hari makin memuncak dan semakin sengit. Arya harus bersabar menahan diri, mengekang dua tangannya.
( Bersambung 1.24 )
Comments







