Namaku Retno 1.22
Posted on 07 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.22
Dia terbiasa mandiri dan survive dalam tekanan lingkungan untuk mencapai kelulusan menggapai sarjana dan master. Boleh dikata dia hidup dalam dua alam. Kultur Jawa yang melekat dan mengutamakan tenggang rasa. Dan ketegasan sikap hidup ala Barat.
Dia tidak tega menyakiti Maya, namun dia harus mengutarakan yang pahit demi masa depan Maya dan juga dirinya sendiri. Tak mungkin ada pertemuan antara dua arus hidup yang begitu berbeda dan kontras. “Kita berdua tidak cocok satu sama lain, maka sebaiknya dik Maya melupakan aku.”
“Ada perempuan lain di hatimu?” Maya mendesak.
“Dik Maya, kamu cantik, edukatif calon sarjana, pasti akan ada pria yang mencintaimu. Pria yang lebih muda dari aku.”
“Kamu tidak mencintaiku?”
“Aku tak pernah ucapkan itu, kurasa kita hanya berteman selama ini.”
“Mengapa kamu tidak berupaya mencintaiku, orangtua kita telah sama setuju.”
“Dik Maya, hubungan antara kita telah selesai, tidak ada apa-apa.”
Mata Maya berair. “Jadi kamu tidak mau kawini aku? Baik, aku terima. Tetapi kamu kusumpahi karena telah mempermalukan aku.”
“Kamu duduk dulu di sofa itu, supaya tenang, jangan pergi dengan hawa marah.”
“Iya aku memang mau duduk sejenak, aku mau nangis, tetapi tidak boleh nangis, nanti orang-orangmu di kantor ini menertawakan aku.” Maya melangkah menuju sofa. Dia duduk tenang, memejam mata dan mengatur nafasnya. “Arya kamu jahat, apa salahku kamu permalukan aku begini rupa?”
“Kita tetap berteman, jika perlu sesuatu aku akan membantumu.”
“Aku tidak mau berteman dengan kamu.” Seru Maya, suaranya tinggi. “Aku tidak bakalan minta bantuan padamu, aku benci kamu.”
***
Santoso lelaki ganteng yang selalu berbusana rapi. Anak orang kaya. Dua tahun bekerja di kantor sebagai tenaga ahli. Dia pernah melihat bossnya, Arya Priambodo, dansa berdekapan dengan Retno di pesta reuni es-em-a. Retno, adik kelasnya. Dulu dia pernah naksir Retno namun gadis itu tak mau pacaran meski dikenal pintar tari tradisional, dansa serta mampu memikat orang kala menyanyi.
Belakangan beredar gosip di kantor bahwa Arya liburan ke Surabaya. Pulang dari Sydney langsung ke Surabaya. Santoso menebak pasti Arya sedang mendekati Retno. Gosip pun merebak Arya punya pacar di Surabaya, peniup gosip tentu saja Santoso. Dia tak punya maksud apa-apa, hanya iseng dan sok tahu.
Sebelumnya beberapa kali Santoso melihat Maya menemui Arya di kantor. Dia tahu juga dari gosip, dua insan itu sedang pacaran. Diam-diam dia jatuh hati pada Maya yang memang cantik dengan gaya gadis masa kini. Namun dia tahu diri bersaing dengan bossnya adalah perbuatan sia-sia dan akan berakhir pada kesulitan.
Hari Rabu lalu dia bersama rombongan karyawan kantor menghadiri selamatan di rumah Arya mendoakan orangtua Arya ke umroh. Dia melihat Maya yang datang bersama orangtuanya. Perhatiannya tidak pernah lepas dari sosok Maya, tampaknya Arya menjauhi bahkan tak pernah mendekati Maya. Waktu itu juga dia tahu hubungan Maya dengan Arya sudah tidak harmonis.
Nalurinya mengatakan Arya telah melepas Maya dan berlabuh dalam pelukan Retno.
Dia hampir sulit mempercayai laki-laki modern anak orang kaya dengan karir yang gemerlap dan gaji besar macam Arya Priambodo membuang gadis cantik yang kaya untuk berpaling kepada gadis Surabaya yang meskipun manis dan ayu namun dari keluarga pas-pasan. Tetapi itulah kenyataan.
“Selera si Boss aneh, Retno memang ayu tetapi dari semua sisi perbandingan, Maya masih lebih cantik dan lebih seksi. Apalagi Maya anak orang kaya.” Bisik hati Santoso yang tiba-tiba saja merasa gembira. “Aku punya peluang mendekati Maya.”
Hari itu dia melihat Maya mendatangi Arya di kantornya. Santoso semakin kasmaran melihat gaya penampilan Maya yang seksi dan hot. Terdengar gosip “breaking news” yang berasal dari Estanti dan beberapa gadis yang sengaja lewat depan ruangan Arya dan melirik ke dalam.
“Maya merayu tetapi boss AP cemberut.”
“Tampaknya AP telah membuang Maya.”
“Diam-diam ternyata boss kita itu play-boy, kawin dua tahun lalu cerai, pacaran dengan Maya lalu lepas.”
“Barangkali ada gadis lain di Sydney dan Brisbane.”
“Dan gadis Surabaya, Retno, karyawan travel, dia bakal korban berikutnya.”
Melihat airmuka Maya yang masam dan cemberut, Santoso yakin Maya sudah dibuang Arya. Timbul semangat untuk mendekati Maya. Sejenak berpikir, dia cepat mengejar Maya keluar kantor. “Maya aku punya info tentang pacar Arya.” Serunya.
Ternyata seruannya itu menahan langkah Maya yang berhenti lalu menoleh ke belakang. Pelataran parkir sedang sepi, belum jam istirahat kantor. Santoso mendekati gadis yang mengenakan kacamata hitam. Dia tahu Maya tak mau bekas air matanya dilihat orang.
“Siapa kamu? Apakah kita pernah bertemu?” Maya bertanya dengan nada kaku.
“Kamu tidak kenal aku, tapi aku kenal kamu, gadis cantik seperti kamu sulit untuk dilupakan. Beberapa kali aku melihatmu.” Santoso berkata, cepat dan lugas.
Sesaat Maya merasa rileks. Dia suka akan pujian. “Katakan apa maksudmu.”
“Arya Priambodo punya pacar gadis Surabaya.” Santoso mengamati, apakah Maya tertarik topik yang dia ucapkan.
Tampak Maya mengernyitkan kening.
“Gadis itu adik kelasku ketika es-em-a, cantik dan ayu.” Diam sesaat dia lalu menambahkan ketika melihat Maya mulai tertarik. “Aku asal Surabaya, orangtuaku masih di Surabaya, aku ngekos disini di daerah Menteng.”
“Aku ingin mendengar cerita adik kelasmu itu.” Tegas Maya hati-hati.
“Ceritanya panjang, di sini panas, kamu mulai keringatan. Aku juga harus balik kantor. Kamu hubungi aku, ini nomor hapeku.” Santoso menyodorkan kartu namanya.
Sekilas membaca kartu nama, Maya bertanya. “Kamu anak buahnya Arya?”
“Yah dia bossku.” Santoso menegaskan hati-hati. “Kapan kamu hubungi aku?”
“Kupikir-pikir dulu.” Saat berikut Maya berkata, “Sore nanti jam lima kita ketemu, rumahku di Tebet kita ketemu di sekitar situ, tempatnya kuberitahu nanti.”
“Tapi jam tujuh saja. Aku banyak kerjaan. Akan kutelpon kamu untuk konfirmasi, beri aku nomor hapemu.”
“Oke, jam tujuh.” Maya membuka tas, mengeluarkan fulpen dan kertas, menulis sederet angka. “Aku tunggu telponmu.” Sambil menyodorkan kertas.
“Kutelpon kamu sekitar jam enam atau setengah tujuh.” Santoso balik badan dan melangkah cepat. Tanpa sadar mulutnya bersiul, lagu mars “maju tak gentar.” Langkah kakinya diatur seperti serdadu baris menuju medan perang.
***
( Bersambung 1.23 )
Comments







