Namaku Retno 1.21

Posted on 07 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.21

Cinta Ditolak

 

“Dalam setiap kesempatan, pesta keluarga atau apa saja aku akan menyanyi lagu keroncong atau bossas Jawa.”

Namanya Maya Rosalina. Usianya memasuki duapuluh tahun, fase remaja yang matang. Dia cantik dan seksi penuh pesona. Hari itu dia mengenakan busana Oscar de la Renta yang mengekspos keindahan tubuhnya.

      Tops warna hitam tanpa lengan, pendek sebatas pinggang yang jika menggerak lengannya ke atas akan tampak sebagian kulit perutnya yang putih. Potongan huruf V di bagian depan agak rendah memperlihatkan kulit dada yang membuat mata lelaki yang melihatnya akan membelalak.

      Rok ketat pendek di atas lutut, warna abu-abu dengan garis hitam, dengan sedikit belahan di bagian paha. Maya duduk di ruang tamu beberapa menit, tampaknya gelisah. Duduknya tidak tenang.

      Tiba-tiba dia menghampiri resepsionis berkata ketus. “Mbak Ratih, ini urusan penting dan gawat, jika terlambat ketemu bossmu Pak Arya, jika ada yang mati, maka kamu tanggungjawab, aku lapor ke polisi bahwa kamu menghalangi aku.”

      Ratih ketakutan mendengar urusan orang mati dan polisi. Matanya membelalak, wajahnya pucat dan suaranya bergetar. “Baru lima menit menunggu, sudahlah Mbak Maya masuk saja, tapi aku tidak tanggungjawab kalau Pak Arya marah.”

      “Mana berani dia marah sama aku!” Seru Maya, sepasang matanya mendelik, makin membuat Ratih ketakutan.

      Ketika Maya melangkah memasuki ruang tengah aroma parfum Versace Versense  menyebar ke segala penjuru diantar sirkulasi AC. Detak “tak tak tak” sepatu Manolo Blahnik hak tinggi seharga kisaran tujuh ribu yu-es dolar bagai ketukan drum mengiringi musik balada yang mengantar lagu kematian.

      Maya dengan segala pesonanya, paha putih mulus yang menganga disisi roknya, getaran pantatnya dan langkahnya yang penuh percaya diri membuat semua lelaki dan wanita di ruangan itu terpesona tak sanggup berkata-kata. “Waoh, ini dia gaya gadis masa kini, sungguh beruntung boss kita.” Gumam Santoso, lelaki berusia duapuluh delapan tahun yang matanya melotot melahap irama langkah sang bidadari.

      “Gadis seperti Maya itu, high-cost living, untuk make-up dan salon saja bisa belasan juta rupiah sebulan, belum lagi kalau dia gila shoping.” Komentar Mintarsih yang sedang kasmaran mencintai Santoso. “Mendingan gadis macam aku, biaya kagak tinggi tetapi punya layanan first-class.” Mintarsih senyum menggoda Santoso.

      “Lihat jaket kulitnya, parfumnya, handbag Prada, busananya, total bisa sampai puluhan juta, anak orang kaya, duit dan penampilan berimbang.” Tukas Susana dengan nada cemburu. “Biasanya sih orang kaya begitu, duitnya ndak jelas.”

      “Maksudmu Bapaknya koruptor?” Kata Adam.

      “Ciri-ciri koruptor itu, kalau belanja maunya yang termahal. Tahu ndak sembilan puluh persen anak-anak pejabat yang sekolahnya di luar negeri, duitnya dari korupsi sang Bapak.” Mintarsih menambahkan.

      “Eh boss kamu juga sekolah di luar negeri. Brisbane Australia.” Tukas Santoso.

      “Itu sih lain, pak Sumantri kan pedagang batik, juga ndak termasuk kaya-kaya banget, rumahnya juga biasa-biasa saja.” Mintarsih membela pendapatnya. “Lihat saja waktu kita hadir selametan Umrohnya orangtua Pak Arya, semuanya serba sederhana meski pun tamu undangannya banyak.”

      Estanti yang masih berkutat dengan komputer sempat mendengar tetak hak sepatu menetak lantai marmer dan dia melirik sekilas tetapi tak begitu memperhatikan. Dia mengenal Maya sebagai anak orang kaya dan gadis yang sedang dalam masa pacaran dengan Arya bossnya.

      Dia tidak simpatik pada Maya, malah boleh dikata tidak suka dan dia sendiri tidak tahu alasannya mengapa tidak suka. Jelas bukan cemburu, karena dia tak punya perasaan apa-apa terhadap bossnya kecuali kasihan karena perceraian dengan isterinya dulu. Itu sebabnya ketika mengetahui gosip Arya sedang mengejar gadis bernama Retno di Surabaya, spontan dia mendukung gadis Surabaya itu.

      Saat itu Estanti kaget ketika Maya melewati mejanya sambil mengetuk mejanya. “Hallo Tanti, aku mau ketemu bossmu.” Dan tanpa menunggu jawaban, sambil mengibas jaket kulit Dolce Gabbana yang beraroma parfum Chanel ke bahunya dia menerobos pintu kamar Arya tanpa mengetuk, membuka pintu dan masuk.

      Estanti masih belum bergerak, saking kagetnya ketika Maya menghilang di balik pintu ruangan Arya. Dia meraih telpon. “Boss dia menerobos begitu saja, aku ndak sempat mencegah.”

      “Oke, tolong bawa beberapa map yang perlu kutandatangani.” Arya menutup telepon. Lalu memandang Maya. “Tampaknya dia membawa masalah.” Gumamnya dalam hati.

      “Aku mau bicara, empat mata.” Desak Maya tanpa basa basi.

      Arya diam sesaat. “Mau apa dik Maya kemari, mendadak begini?”

      Estanti muncul di ambang pintu dengan setumpuk map.

      Gadis itu tak perduli kehadiran Estanti, dia menghampiri meja, membungkuk begitu rupa sehingga sebagian payudara, mengintip dari belahan bajunya yang rendah. Tampaknya dia tak mengenakan bra.

      Parasnya dengan makeup mengilat serta bibir basah Estee Lauder menantang.  Nafasnya bau wangi permen ketika dia berkata. “Lihat aku, Mas Arya, apa aku kurang cantik, aku masih segar, perawan dan belum terjamah lelaki.” Kebohongan besar, memang dia masih perawan, tetapi dia pengalaman soal ciuman dengan  lelaki.

      Estanti batuk-batuk pelan, mendekat ke meja lalu meletakkan map di sisi kanan meja kerja Arya. “Boss, silahkan panggil jika sudah diperiksa atau ditandatangani.” Sekretaris itu lalu keluar kamar sambil melirik Maya.

      “Biarkan pintunya terbuka, Mbak.” Suara Arya datar dan tegas.

      “Iya Boss, oh iya client yang ditunggu-tunggu sedang on-the-way kemari, sekitar sepuluh menit lagi sudah nyampe.” Kata Estanti dari ambang pintu sambil mengedip mata ke Arya, tanda berita itu isapan jempol belaka.

      “Huh pintu dibuka, ada client sedang o-te-we kemari, itu ancaman tidak boleh lama di ruangan ini. Tapi gue mau duduk the whole day, mau apa Mas Arya? Mau panggil satpam mengusir gue?” Maya duduk di kursi berhadapan dengan Arya. Matanya mencorong tajam menatap lelaki itu yang berusaha menahan emosinya.

      “Dik Maya ada sesuatu yang perlu kubantu?” Arya berkata lirih. Santun.

      Maya menoleh ke belakang, tak ada siapa pun. Dia menantang mata Arya. “Apa alasan Mas Arya mengatakan kita tak punya hubungan serius, kita hanya teman dan seperti kakak dan adik, apa-apaan itu?”

      Rupanya Maya memendam rasa mengkal dan kesal sejak Minggu malam ketika Arya mengantarnya pulang, dimana lelaki itu mengucap kata-kata menyakitkan itu. Sebelumnya Arya menyampaikan tapi samar-samar. Malam Minggu itu sangat jelas dan tegas membuat Maya tidak bereaksi lantaran kaget.

      Belakangan setiap mengingat kejadian itu amarahnya meluap. Ketika bertemu di rumah Arya yang menyelenggarakan selametan orangtua Arya yang hendak umroh, dia tak punya kesempatan mengumbar uneg-uneg. Terlalu banyak orang, apalagi Arya tampak sibuk melayani tamu.

      Hari ini lain, sejak pagi dia sudah siap menyerang. Dan untuk menggandakan daya serang dia menelan pil ecstasy.

      Arya diam, memperhatikan lembaran kertas dalam salah satu map.

      Maya merentang dua tangannya menutup lembaran kertas itu. Gerakan itu menguar wangi parfumnya menabrak penciuman Arya.

      “Ini salah satu yang paling tidak kusuka, parfum berlebihan.” Bisik Arya dalam hati. Dia menatap mata Maya yang tampak mengilat tapi tidak fokus. Seketika dia tahu gadis itu telah mengonsumsi pil ecstasy dan berada di tingkat high.

      Saat berikut kata-kata ibarat peluru machine-gun meluncur dari sepasang bibir merah merekah yang memesona itu.

      “Kamu memutus hubungan secara sepihak. Aku malu, semua temanku sudah tahu aku tunanganmu, calon isterimu. Sekarang apa kataku? Enak buat kamu, tetapi pahit buat aku, kamu mempermalukan aku di komunitasku, semua teman kuliahku, semua teman gaulku, kalau mereka tanya, apa yang harus kujawab?”

      Arya menjawab datar dan ramah. “Dik Maya, sejak awal bertemu kamu, aku tidak pernah menjanjikan sesuatu padamu, tidak pernah aku mengatakan tunangan atau pacar atau cinta, kita hanya teman biasa. Mungkin kamu salah mengerti.”

      “Tidak bisa begitu! Kamu harus tanggungjawab! Selama ini kamu telah pagari aku, tindakanmu seolah-olah aku tunanganmu dan akan jadi isterimu, semua temanku  bertanya-tanya kapan aku jadi isterimu. Lalu sekarang tiba-tiba kamu putus hubungan, bahwa kita hanya teman biasa. Tega benar kamu bohongi aku, sekarang jawab yang tegas, mau kawini aku atau tidak?” Suara Maya meskipun lirih tetapi tajam.   

      Arya masih dalam kultur Jawa yang dibangun orangtuanya sejak kecil, tetapi dia dewasa dalam perantauan. Sejak lepas dari SMA dia hidup sendiri berpindah-pindah ngekos dari Bandung ke Brisbane dan Sydney. Dia terbiasa mandiri dan survive dalam tekanan lingkungan untuk mencapai kelulusan menggapai sarjana dan master. Boleh dikata dia hidup dalam dua alam. Kultur Jawa yang melekat dan mengutamakan tenggang rasa. Dan ketegasan sikap hidup ala Barat.

( Bersambung 1.22 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com