Namaku Retno 1.19
Posted on 03 Februari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.19
“Mengapa kamu cerita padaku?”
“Tak ada maksud apa-apa, just talking, kebetulan tadi kamu menyebut istilah cocok sebagai salah satu syarat bagi isterimu. Aku hanya bercerita bahwa sepasang manusia tidak akan bisa jadi suami isteri jika tidak cocok, tapi maaafkan aku kalau kamu tidak suka mendengarnya.” Retno berkata lirih, agak malu.
“Mengapa kamu tolak lamarannya?”
“Seperti kataku padanya, tidak cocok.” Tegas Retno.
“Apanya yang tidak cocok?”
Retno tampak kesal. “Tidak cocok yah tidak cocok, ndak mungkin dibuat cocok.”
Arya tertawa.
“Mengapa tertawa, kamu ketawain aku?” Retno tersinggung.
“Menurut cerita Hendrik, Yudi itu sudah lama naksir kamu.”
Retno memotong cepat. “Dan sudah sejak lama aku menolaknya. Sudahlah ganti topik.” Tetapi ada yang disembunyikan. Retno tidak menceritakan kata-kata Yudistira yang mengejutkan dan bergayut terus di benaknya.
“Kamu tahu aku orang baik-baik, aku mencintaimu, bapak ibuku serta keluargaku pasti menyukai kamu, tapi kamu menolak. Apakah sebab Arya? Kamu tidak tahu siapa dia! Apakah kamu sudah kenal keluarganya, sudah ketemu bapak ibunya? Apakah dia sudah berjanji akan membahagiakan kamu? Belum kan, dasar perempuan bodoh. Jangan-jangan dia sudah punya isteri? Kamu yakin dia tidak membohongi kamu?”
Suara Arya menyadarkan Retno. “Kamu yang bicarakan Yudistira, bukan aku.”
“Yah sudah memang aku yang salah, aku minta maaf.”
Mereka diam. Retno tidak tahu bahwa Arya terbakar cemburu mendengar nama Yudistira disebut-sebut.
“Aku ndak bisa lama di rumahmu, hanya mengantar kamu, sekalian minta ijin sama Bapak dan Ibu, mengundang kamu bersaudara makan malam di hotel.”
“Kamu ndak tanya aku dulu?” Tegas Retno.
“Hari Sabtu kemarin kamu sudah menjawab iya, malah kamu yang usul supaya diundur ke akhir pekan ini.”
“Iya itu kan usulan, sekarang kan undangan lisan. Itu beda Mas. Kamu mesti ngundang aku dulu, kalau aku mau baru bicara dengan Ibu dan Bapak. Belum tentu aku mau lho.” Retno tertawa ringan. Dia menggoda Arya agar suasana membaik dan perdebatan tadi terlupakan.
Arya tersenyum. “Baiklah, dik Retno sing ayu, aku ngundang kamu makan malam di hotel, kamu pasti curiga aku akan menculik kamu, jadi bawalah semua saudaramu supaya kamu aman. Bagaimana undanganku, bagus ndak?”
“Bagus.”
“Kamu mau?”
Retno mengangguk. “Aku mau.”
Diam sejenak dia memandang Arya. “Mas, aku masih perawan. Waktu di es-em-a aku suka dansa dan tari, itu olahraga. Masa kuliah, aku mendalami Islam, pelan-pelan terjadi pergeseran. Aku batasi pergaulan muda mudi. Tak pernah pacaran. Aku hanya mau jatuh cinta sekali dan kawin. Itu doaku, dan pintaku pada Allah Yang Esa.”
“Tetapi kau mau dansa dengan aku, mau kudekap saat itu.” Goda Arya. “Mengapa kamu mau kudekap?”
“Loh kamu tanya dirimu sendiri, mengapa kamu mendekap aku, memeluk aku. Kan kamu yang mendekap aku, iyakan?”
“Tetapi mengapa kamu mau?”
“Ah aku ndak mau menjawab. Kamu jawab dulu mengapa kamu memeluk aku?”
“Karena aku senang. Aku mulai menyukaimu.”
Retno memandang dengan tatapan menggoda. Lalu mengalih pembicaraan. “Waktu itu aku ke pesta reuni tidak niat dansa. Hanya mau ketemu teman-teman lawas. Mas Hendrik mengajak dansa. Satu putaran dengan Hendrik kemudian ketemu kamu seterusnya kamu tahu ceritanya. Aku tak menyangka telah membiarkan kamu mendekapku saat dansa.”
“Kamu juga dansa dengan Yudistira.”
“Aku dansa biasa, ada jarak, aku ndak mau didekap. Dia marah. Aku tidak perduli, aku bukan tunangannya. Aku menganggapnya sebagai teman Mas Koco. Beberapa kali dia ke rumahku bersama Mas Koco, tapi aku tak perduli.”
“Mas Koco tampaknya tidak menyukai aku, apa kira-kira alasannya?”
“Tidak tahu. Sebenarnya aku ingin tanyakan ini padanya, tapi waktu itu kamu melarangku dan aku mengikuti maumu.” Tutur Retno lirih. Dia masih merasa malu jika mengingat tingkah laku Mas Koco waktu makan siang itu.
Arya menatap wajah cantik yang tampak muram. “Tidak apa. Aku yakin suatu saat dia akan berubah, yang penting aku tidak menyakiti hatinya. Sebaiknya ajak juga dia ke hotel, aku akan membangun komunikasi dengannya.”
“Mungkin malam nanti dia berhalangan, katanya dia keluar kota. Nanti aku ajak Mbak Ningsih mewakili suaminya.” Kata Retno yang diam-diam bersyukur dalam hati bahwa kangmasnya kebetulan keluar kota.
***
Arya bertemu orangtua Retno.
Endang Pratiwi sedang sibuk menggunting jahitannya, memborong seluruh daun meja. Purwanto duduk baca koran, tampaknya baru mandi sepulang dari bengkel.
Arya tidak lama, hanya menyampaikan undangan lisan.
Kebetulan Darma Susilo baru pulang kerja. Dia pulang agak sorean karena besok tugas keluar kota. Dia menyambut positip. “Mas Koco keluar kota, nanti aku call Mas Tiyo dan isterinya.” Katanya.
“Kalian saja anak-anak muda, Ibu dan Bapak di rumah.” Kata Endang Pratiwi.
Arya pamitan. “Saya pamit dulu, Bapak, Ibu.”
Saat itu Dimas muncul.
Arya menoleh kepada Dimas. “Dik, jam tujuh nanti kamu temui aku di hotel, kamar tiga tiga lima. Bisa?”
“Siap Mas.”
“Oh Iya, Dik Retno nanti aku kirim mobil yang tadi. Supirnya, pak Totok, begitu kalian siap telpon dia.” Kata Arya menyebut sederet angka yang dicatat Retno.
“Kamu tunggu di lobi, jam berapa?” Retno bertanya.
“Enaknya jam delapan saja.” Tegas Arya.
***
Jam setengah delapan Arya dan Dimas telah menunggu di lobby. Keduanya ngobrol. Arya sering tertawa mendengar cerita anak muda itu.
Arya menyodorkan kamera digital ke tangan Dimas. “Ingat foto Mbakyumu harus yang paling banyak diantara kita semua.”
“Beres Mas. Aku tahu apa yang diinginkan my boss.”
Jam delapan lewat sepuluh rombongan itu masuk lobby. Tiga wanita, Retno, Ningsih dan Susilowati, dikawal dua pria, Bambang Susetiyo dan Darma Susilo.
Paras Arya berseri. Dia memandang Retno yang mengenakan hoodie merah hadiah darinya kombinasi celana jin biru tua.
Kecantikan Retno yang hanya dipoles make-up tipis seperti menerangi hati Arya yang tadinya buram tanpa cahaya. Potongan tubuhnya yang semampai dan berisi menerbitkan sensasi dalam angan-angan Arya.
“Tuh Mas Arya lihat lenggoknya mbakyuku Retno, luwes tapi tegas, koyok macan luweh, tidak salah kalau kamu naksir dia.” Bisik Dimas.
“Apa itu macan luweh, macan yang lapar?”
“Iya itu lho gaya dan langgam jalannya putri-putri Suroboyo yang siap menerkam calon suaminya,” Dimas tertawa geli. “Awas kamu diterkam Mas.”
Arya tertawa. “Didengar Retno, telingamu dijewer.”
Sambil melangkah, Ningsih, isteri Mas Koco yang bersama Susi mengapit Retno, berbisik pada iparnya. “Ret, calonmu itu ganteng dan macho.”
“Tambahan lagi, dia anak orang kaya, banyak duitnya.” Seloroh Susi.
“Mestinya kamu dandan yang istimewa.” Bambang Tiyo menggoda.
Retno tak bisa mengelak dari godaan keluarganya, tapi hatinya berbunga-bunga, paling tidak dia melihat dukungan dari mereka.
Arya menyambut tamunya dengan senyum dan paras berseri-seri. Tadi dia sempat massage satu jam di kamarnya, kemudian mandi air panas. Kondisi fisiknya bugar kembali. Dia mengenakan celana putih kombinasi kemeja lengan pendek hitam, menonjolkan tubuhnya yang ramping atletis.
Dimas mengajak Arya dan saudara-saudaranya ke tengah ruangan. Tampak dua meja digandeng jadi satu dengan delapan kursi. Mereka duduk, Retno ditempatkan berdampingan dengan Arya. Disebelah Retno, Ningsih isteri Mas Koco. Diseberang, Bambang dan isterinya Susi bersama Dimas dan Darma.
Dua orang pelayan menghampiri. Mereka memesan minuman. Saat berikut mereka berdiri dan masing-masing mengambil makanan yang disukainya.
“Mas Arya kapan datangnya, ada bisnis apa?” Bambang bertanya.
Arya tersenyum sambil melirik Retno. “Aku berhutang pada Dik Retno, beberapa waktu lalu aku janji akan mengundang kalian semua makan malam di hotel. Baru malam ini bisa kutepati.”
“Lama di sini?” Susi bertanya sambil menyuap daging panggang.
“Besok pagi balik Jakarta, ada yang harus kuhadiri mewakili orangtuaku.”
“Memangnya orangtua Mas Arya di mana?” Darma memotong.
“Umroh, hari Rabu kemarin mereka berangkat.” Tutur Arya.
“Mas Arya pernah umroh?” Ningsih bertanya.
“Dua kali. Yang pertama ketika lulus master di Brisbane university, yang kedua setelah aku cerai.”
“Beruntung bisa umroh, bahkan dua kali.” Tegas Susi. “Sudah haji?”
“Belum. Kata orang, belum ada panggilan dari nabi Ibrahim.”
Mereka makan dan ngobrol. Disela-sela makan itu Dimas memotret. Dan seperti pesan Arya dia lebih fokus pada Retno.
“Kamu pinjam siapa kameranya?” Ningsih bertanya.
( Bersambung 1.20 )
Comments







