Namaku Retno 1.18

Posted on 02 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.18

Dalam dialog dengan anak muda itu di mobil, Arya menyimpulkan biaya transportasi Dimas dari rumah ke kampus setiap hari menjadi kendala. Kadang dibantu Retno atau Darma. Sementara dari Tiyo dan Mas Koco hanya sekali-sekali karena keduanya sudah punya isteri.

Satu hal yang menggembirakan yang didengarnya dari cerita Retno dan Dimas,  tidak seorang pun dari keluarga itu yang keliaran di jalanan dan terlibat urusan kriminal, perkelahian atau narkoba dan minuman keras.

 “Aku akan membiayai Dimas sampai kuliahnya selesai, kubelikan motor second-hand, untuk kuliah dan sekali-sekali ngantar Retno. Selama ini amalku berpindah-pindah tak ada sasaran yang tetap. Sekarang ini kalau bisa tetap pada Dimas akan lebih bermanfaat.” Arya teringat sesuatu. “Apakah ini lantaran aku ada perasaan terhadap Retno? Maybe yes maybe not. Seandainya tak ada jodoh dengan Retno, kupikir akan tetap membantu Dimas. Pemuda itu sedang berjuang melawan kehidupan, patut dibantu.” Itulah tekad Arya sekembalinya dari makan siang.

 

***

Sore itu Arya tiba di Juanda, dia dijemput mobil minibus rental. Memang dia memesan minibus bukannya sedan. Dia langsung ke kantor Retno. Masih ada waktu setengah jam sebelum jam lima sore. Dia berharap si gadis masuk kerja dan belum pulang. Dia sengaja tidak memberitahu akan datang, karena ingin memberi kejutan.

Dan memang Retno terkejut melihat Arya Priambodo muncul di ambang pintu kantornya. Sesaat dia menahan nafas. Tampak Arya bercakap dengan Satpam yang menunjuk ke kursi tamu. Arya duduk di sofa, tersenyum ke arah Retno.

“Tamu itu hanya mau dilayani mbak Retno.” Kata Satpam kepada Retno yang didengar temannya disebelah.

“Siapa si ganteng itu, Ret kamu ndak bilang-bilang kalau punya pacar.” Kata temannya dengan senyum menggoda.

Di ruangan itu masih ada beberapa tamu.

Tiba gilirannya,  Arya maju duduk menghadapi Retno. Menatap tajam si gadis.

“Mas, ngapain kamu di sini?” Retno berbisik. Pipinya merona merah, malu.

“Menjemputmu, lalu mengantar pulang. Jam berapa kamu selesai?”

“Masih sepuluh menit lagi. Kalau begitu kamu tunggu di sofa.”

“Okey.” Arya melangkah menuju sofa.

“Dia suka bertindak yang aneh dan tak terduga. Datang tanpa memberitahu, apa misinya? Dia membuat jantungku berdebar kencang.” Bisik Retno dalam hati.

Dalam mobil Arya menelpon Dimas.

“Posisimu di mana Dim?” Arya menoleh memandang Retno yang menatap heran.

“Oh Mas Arya, aku di kampus. Kamu di mana Mas?”

“Surabaya.”

“Sheraton lagi?”

“Iya.”

“Mau ke rumah nemuin mbak Retno?”

“Oh ndak perlu.”

“Lho koq begitu. Kamu sedang marahan?” Suara Dimas agak cemas.

“Ndak. Aku di mobil bersama mbakyumu.” Arya tertawa.

“Oh pantas saja aku tidak diperlukan.” Terdengar tertawanya yang keras.

Arya memandang Retno yang tersipu malu disebelahnya.

“Eh Dimas, kamu naik apa kuliah?”

“Biasanya naik bemo, kadang naik ojek. Tadi pagi aku bonceng teman.”

“Ndak punya motor?”

“Motor? Untuk ongkos angkot saja harus minta Mbakyu.” Kata Dimas tanpa upaya  menyembunyikan nada getir.

“Dim, aku mau beli motor buat kamu.”

Tidak terdengar suara Dimas yang pasti terkejut. Retno yang duduk anteng di sebelah Arya, menutup mulutnya dengan jari tangan, ciri kalau dia kaget.

“Maksud Mas Arya apa? Aku ndak ngerti?” Kata Dimas, suaranya ragu.

“Begini Dim, silahkan kamu cari sepeda  motor yang cocok untukmu, pilih sendiri, aku yang bayar, itu pemberianku dengan ikhlas, mau kamu?”

“Mau. Aku mau, terimakasih Mas. Tetapi aku tahu, pasti ada syaratnya, apa?”

“Kuliah yang serius. Selesaikan kuliahmu secepatnya. Terus yang paling pokok, jangan berbohong padaku. Itu saja.”

“Syaratnya mudah. Aku sanggup. Kapan belinya?”

“Cari sendiri secepatnya, kamu sms harganya dan juga nomor rekeningmu, nanti uangnya aku transfer, setelah motor atas namamu, perlihatkan es-te-en-ka dan be-pe-ka-be padaku. Mudah kan?”

“Harganya berapa? Maksudku ancer-ancernya?”

“Pasarannya berapa?”

“Kalau motor bekas yang masih bagus, sekitar tujuh sampe delapan juta, kalau yang gres sekitar duabelas jutaan.”

“Baik. Kalau begitu cari yang delapan jutaan. Bisa?”

“Oh bisa. Terimakasih Mas. Boleh aku tahu alasannya? Karena Mbak Retno?”

“Tidak ada hubungan dengan Mbakyumu, ini urusan antara kamu dan aku. Mulai sekarang aku juga akan membiayai kuliahmu sampai kamu lulus sarjana. Uang semester, uang bensin, uang jajan di kampus, semuanya nanti kita hitung-hitungan.”

“Okay Mas, jelas dan gamblang, between you and me.” Dimas diam sejenak terdengar isak tangisnya. “Tapi … tapi … mengapa kamu bantu aku?”

“Kamu masih muda, semangatmu tinggi, cerdas, calon sarjana, calon manusia Indonesia yang unggul di masa depan. Kupikir aku layak membantumu karena aku mampu untuk membantu, daripada uangku lari ke benda-benda tak berguna.”

“Mas, terimakasih Mas, aku ingin mencium tanganmu, sayang posisimu jauh. Tapi kamu kan sedang menuju rumah ngantar Mbak Retno, aku akan pulang cepat biar keburu ketemu.”

“Aku ndak lama di rumah, langsung ke hotel. Ingat Dim, tanggungjawabmu padaku besar, jangan kecewakan aku.”

“Tidak akan aku mengecewakan kamu. Aku akan membuat kamu bangga padaku, itu janjiku Mas Arya.” Suaranya mengandung ketegasan seorang patriot muda.

“Cepat pulang, supaya bisa ke hotel makan malam bersamaku.” Kata Arya.

“Ini kejutan lagi. Makan malam di hotel? Wah nasibku lagi mujur Mas.”

Arya memutus hubungan, menutup hapenya. Dia menoleh memandang Retno dengan senyum yang sulit ditebak.

“Apa maksudmu membelikan motor untuk Dimas?” Tanya Retno curiga.

“Karena ingin membantu Dimas yang potensial dan penuh semangat, aku suka semangat adikmu. Ini murni antara aku dan Dimas. Tak ada hubungan dengan kamu, jadi jangan kamu terpengaruh atau berpikir negatip.”

“Aku ndak mengerti. Apa maksudmu dengan terpengaruh dan berpikir negatip?”

Arya berkata serius. “Jangan simpati padaku lantaran aku membantu adikmu. Aku tidak ingin memikat kamu dengan cara itu. Aku ingin membantu seorang muda yang cerdas, indeksnya tiga koma enam, untuk jurusan tehnik itu termasuk tinggi, semangatnya tinggi untuk meraih masa depan.”

“Maaf ya Mas, aku ingin tahu latar belakang pemberianmu itu.”

“Aku ngobrol dengan Dimas dan aku punya kesan baik. Sudah kupikirkan, akan membantu Dimas sampai kuliahnya selesai. Aku tidak berniat mencari-muka padamu, ini murni amalku dan hubunganku dengan Dimas.”

“Karena keluargaku miskin?”

“Oh tidak. Jangan salah sangka. Keluargamu tidak miskin, melainkan kaya. Semangat juang untuk survive, kebersamaan, kamu dan dua saudaramu sarjana, ayah ibu masih bekerja, suasana kekeluargaan harmonis dan saling menghargai. Aku punya kesan baik.” Diam sesaat kemudian melanjutkan. “Banyak keluarga kaya, punya mobil dan rumah gedung tetapi kehidupan moral dan ahlaknya dibawah standar, aku nilai keluarga ini miskin. Mereka tidak bahagia dengan kekayaannya, kalaupun bahagia, mereka bahagia dalam pretending dan kepura-puraan. Bahkan banyak diantaranya anak-anak mereka terlibat narkoba, minuman keras.”

“Kamu menghargai keluargaku?” Tanya Retno agak ragu.

“Diantara saudaramu adakah yang terlibat narkoba, mabuk-mabukan?”

“Ndak ada Mas. Kamu sendiri bagaimana, relasimu banyak orang bule, mereka terbiasa dengan minuman alkohol, pil dan hal-hal buruk?”

“Aku tidak terpengaruh. Aku tak pernah terlibat minuman beralkohol, judi apalagi pil dan narkoba.” Kata Arya menatap tajam Retno untuk menegaskan kejujurannya.

 

Retno diam sesaat, lalu bertanya sesuatu yang dua hari belakangan mengganjal pikirannya. “Apa pandanganmu tentang wanita calon isterimu?” 

“Rumahtanggaku yang lalu berantakan. Kami tidak membangun komunikasi sejak awal, ternyata dalam rumah tangga komunikasi suami isteri sangat penting. Isteriku suka jalan, tidak betah di rumah. Dia cantik dan suka glamor. Aku suka sederhana. Dia malas, aku terbiasa kerja keras. Aku belajar dari pengalaman, sekarang ini aku tahu apa yang kuinginkan, isteriku harus betah di rumah, jadi menantu teladan bagi orangtuaku, jadi ibu anak-anakku, memasak, meladeni suami. Tampaknya egois, tetapi itulah yang kuinginkan.” Arya menutur dengan penuh perasaan.

Retno menghela nafas.  “Aku bisa mengisi posisi isterimu,” bisiknya dalam hati. “Malah enak, aku berhenti kerja, ndak perlu capek, tinggal ngurusin rumah dan suami. Juga melayani mertua.”

“Apakah ekonomi calon isterimu juga masuk pertimbangan, artinya harus sama kelas, sama-sama dari ekonomi mapan?” Retno menganggap hal ini penting mengingat hidup Arya dari ekonomi mapan.

“Pandangan orangtuaku dan juga aku sendiri, tidak membedakan manusia dari harta kekayaan tetapi dari moral dan akhlak. Dan aku bebas memilih calon isteriku, tidak perlu harus dari keluarga kaya.” Arya mengerti arah pertanyaan Retno. “Yang penting isteri itu seiman seagama, bisa membawa diri dan menyatu dalam keluargaku. Bisa menjadi ibu rumah tangga yang ideal. Dan dia harus cocok dengan aku.”   

Tampaknya Retno merasa puas. Dia teringat sesuatu. “Tadi waktu istirahat siang, Yudistira datang ke kantor, memaksa ketemu. Kita bicara di warung belakang kantor. Dia ngelamar aku jadi isterinya. Kutolak dengan halus, alasanku tidak cocok. Dia marah. Kata-kata kasar keluar dari mulutnya, membuat aku malu ditonton orang.”

“Mengapa kamu cerita padaku?”

( Bersambung 1.19 )


Comments


  Verification Code

  Name

  Email

  Homepage





Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com