Namaku Retno 1.17

Posted on 01 Februari 2017 ( 0 comments )


Namaku Retno 1.17

Bab Enam

Pesona Dan Cinta
Arya merespons dengan sopan. “Oh begitu Pak.” Namun dalam hati dia membantah. “Retno telah menjelaskan, dia tak menyukai Yudi. Jadi aku tak akan berhenti mendekati Retno.”

Hari Jumat pagi itu, tigabelas hari sejak perkenalan pertama di pesta, Arya yakin Retno adalah wanita pilihan yang layak menjadi isterinya. Fisiknya memenuhi seleranya, postur tubuh, potongannya yang seksi proporsional. Telah dua kali dia berjumpa secara fisik. Keduanya dalam busana dan penampilan yang berbeda, suasana juga tidak sama. Dan dua penampilan itu Retno telah memesona Arya.

Dia teringat kata orang, jika ingin tahu cantiknya seorang gadis, amati dia saat tidak bersolek atau dandanannya tidak berlebihan. Untuk menilai kecantikan isteri sendiri, amati dia saat baru bangun tidur, belum tersentuh air apalagi make-up.

Arya tersenyum sendiri. Dia membayang kembali dua pertemuan dengan Retno.

Ketika mengenakan gaun pesta. Gaunnya sederhana hanya warnanya yang mencolok, rok hitam dan blus merah. Dia juga tidak bersolek berlebihan, make-upnya pun tipis. Dia tampak cantik, seksi dengan potongan tubuh yang proporsional.

Ketika makan siang di rumahnya Retno tidak berdandan dalam busana istimewa, juga tidak bersolek. Dia mengenakan jin ketat dengan blus sederhana. Gadis itu tak menggunakan make-up berlebih malah cenderung tipis dan samar. Bahkan tampaknya tidak bermake-up, namun wajahnya kelihatan bersih dan berseri-seri.

Gadis yang aksennya begitu medok Jawa seakan tak punya kekurangan. Pribadinya menarik, santun dan menghargai lawan bicaranya. Jika ada yang tidak cocok dengannya maka dia akan beralasan dengan santun dan rasional. Dia  memperlihatkan dirinya sebagai wanita yang bisa diatur.

Yang benar-benar menawan adalah the way she talk, bicaranya yang lugu dan polos, tak ada siasat atau pretending. Suaranya yang merdu dengan logat Jawa yang medok serta gerak kepala dan mulutnya. Dia enak dipandang ketika bicara. Dan ucapan manja yang terkesan kekanak-kanakan itu juga membuat jantung Arya berdetak lebih kencang.

“Aku tidak cinta. Juga tidak kasmaran. Hanya terpesona menemukan sesuatu yang langka tapi indah, seorang gadis yang cantik alamiah.” Katanya pada diri sendiri. Desakan orangtuanya untuk cepat menikah dan punya anak, seakan jadi alasan untuk mendekati Retno. Tidak mustahil dia nekad melamarnya jadi isteri.

Retno pilihan yang paling pantas. Dia membayangkan jika berada dekat si gadis, memeluk dan mencumbu si gadis, dia yakin akan cepat membangkitkan gairah nafsu seksnya. Berada dekatnya sering kali membangkitkan birahinya.

“Itu sudah cukup alasan untuk aku melamarnya. Tetapi apakah serendah itu Retno di mataku? Berterusteranglah Arya bahwa kamu sudah jatuh cinta padanya. Kalau pun belum sekarang, kedepannya kamu pasti akan mencintai gadis lugu yang penuh pesona itu.” Bisik bathinnya. “Mungkin Rini lebih cantik, lebih jelita, lebih seksi, lebih matang, kulit lebih putih, namun Retno punya banyak kelebihan yang mampu menjerat seorang lelaki bertahan dekatnya, pesona Retno ibarat gemerlapnya bintang gemintang di malam purnama.”

Arya menepuk meja kerjanya, meraih intercom. Memanggil Estanti.

“Dua tahun ini aku kadang panggil kamu Mbak, kadang Ibu, biasakan saja Mbak. Tolong tiket Surabaya hari ini, aku harus tiba di Juanda jam empat sore. Booking juga hotel Sheraton dan mobil rental jemput aku. Pulangnya hari Sabtu pagi.”

Estanti tersenyum. “Ada apa di Surabaya, Boss?”

Arya tertawa. “Rahasia.”

“Namanya Retno? Benarkah?”

Arya kaget. “Tahu dari mana?”

“Di kantor ini, Santoso karyawan bagian desain yang alumnus es-em-a dua Surabaya, dia melihat kamu dansa berdua Retno, mendekap Retno mesra. Sudah dua kali kamu liburan ke Surabaya, ini yang ketiga.” Tutur Estanti berseri-seri.

Arya hanya bisa tertawa geli. “Ooohhh… lantas bagaimana menurutmu?”

“Setuju banget. Kamu harus menyerang gencar, dapatkan dia. Secepatnya kamu tanggalkan gelar dudamu. Aku mendukungmu Boss.” Estanti tampaknya antusias. “Lebih cepat lebih baik supaya kita semua berpesta, dan para gadis karyawati di sini membuang mimpi mereka menikah dengan jutawan AP.” Estanti tertawa geli.

 Arya diam, hanya tersenyum.

“Boss, kamu pastikan pulang Sabtu pagi, sebab siangnya opening restoranmu di Kali Malang, nanti mbak Murni ngambek lho.” Kata Estanti.

“Iya usahakan tiketnya. Harus dapat ya Mbak?”

“Beres Boss.”

Estanti keluar ruangan. Dia menulis nota, ditujukan kepada bagian keuangan, beli tiket dan booking hotel. Biaya masuk pos entertainment pimpinan AP.

Arya melanjutkan kerjanya. Tetapi sebagian pikirannya melayang ke paras Retno. “Aku akan membuat surprise, datang dadakan ke kantornya sebelum jam lima sore. Mengantarnya pulang ke rumah. Lalu undang dia dan saudara-saudaranya makan malam di hotel.”

Di ruangan administrasi dan keuangan, berita cepat menyebar.

“Dalam waktu dua minggu ini AP tiga kali ke Surabaya. Benar cerita Santoso tampaknya AP serius menggandeng si Retno. Hebat juga boss kita.” Kata manajer keuangan sambil memerintah anak buahnya cepat-cepat mengurus tiket pesawat dan hotel sang boss.

“So pasti dong. Ndak mungkin AP menduda terus.” Kata Markus.

“Aku jadi penasaran, Retno itu macam mana bisa menjerat AP?” Kata Monica Situmorang anak Medan.

“Kata Santoso, Retno itu kembang es-em-a dua sekitar tahun dua ribu tigaan, tidak ada yang bisa menjeratnya, dia cantik, luwes tapi anti pacaran.” Potong Sri Rahayu, manajer keuangan yang usianya tigapuluh tiga tapi masih single.

***

Estanti masuk kamar. “Tiketnya Garuda, sudah isued, take-off jam tiga persis, Margono akan menemui kamu di pintu masuk. Hotel oke. Apa saja bawaanmu? Tas dan pakaianmu masih di sini?” Estanti berlagak macam ibu yang mengurus anaknya.

“Masih. Itu kan untuk emerjensi. Aku tidak bawa laptop.”

“Iya buat apa bawa laptop, di sana kan kamu ndak mungkin sempat bekerja.” Estanti tertawa, lalu melanjutkan. “Hai Boss, aku ulangi lagi, cepat tanggalkan gelar dudamu! Supaya gadis-gadis di kantor ini tidak banyak bermimpi.”

“Insya-Allah, kalau memang jodoh kan tidak kemana. Mbak, hari Sabtu besok kamu harus datang, jangan tidak datang ke opening resto.”

“Pasti Boss, aku ajak suami dan anak-anak, kebetulan makan gratis di malam minggu, itu hiburan paling enak.”

***

Bertamu ke rumah Retno yang hanya dua jam waktu itu, bagi Arya cukup untuk menganalisa keluarga sederhana si gadis. Sebagian informasi dipancingnya dari Dimas Biyantoro. Rumah sederhana. Tiga sepeda motor di pekarangan menurut Dimas, milik Mas Koco, Bambang Susetiyo dan Darma Susilo.

Sekilas dia bisa menarik kesimpulan bahwa Joko Santoso alias Mas Koco, sangat dominan dalam keluarga. Adik-adik dan orangtuanya respek dan segan padanya.

Dia hanya lulusan STM, pernah di ITS fakultas tehnik tetapi semester empat berhenti kuliah. Bambang Susetiyo akrab dipanggil Tiyo, anak kedua tampaknya pendiam, wartawan koran lokal. Retno karyawati travel FlyMe dan Darma Susilo bekerja di ekspedisi pengiriman barang di pelabuhan Tanjung Perak. Ketiganya telah menyelesaikan kuliah strata satu.

Purwanto bekerja buka bengkel sendiri dan kerja malam sebagai kepala keamanan pertokoan. Endang Pratiwi guru SMA dan bekerja sambilan menjahit pakaian. Bertiga bersama Mas Koco, berhasil membiayai Tiyo, Retno, Darma sampai menjadi sarjana. Inilah yang membuat Mas Koco disegani adik-adiknya.

Tampaknya persoalan yang merepotkan keluarga itu adalah biaya kuliah Dimas Biyantoro. Dalam dialog dengan anak muda itu di mobil, Arya menyimpulkan biaya transportasi Dimas dari rumah ke kampus setiap hari menjadi kendala. Kadang dibantu Retno atau Darma. Sementara dari Tiyo dan Mas Koco hanya sekali-sekali karena keduanya sudah punya isteri. 

( Bersambung 1.18 )

Flagcounters

 Flag Counter

Image Gallery

Service Overview

Curabitur sed urna id nunc pulvinar semper. Nunc sit amet tortor sit amet lacus sagittis posuere cursus vitae nunc.Etiam venenatis, turpis at eleifend porta, nisl nulla bibendum justo.

Contact Us


E-mail: info@johnhalmahera.com