Namaku Retno 1.16
Posted on 30 Januari 2017 ( 0 comments )
Namaku Retno 1.16
Melihat kangmasnya kehilangan muka oleh ucapan Retno, Bambang Susetiyo upaya mengalih pembicaraan. “Mas Arya sudah lama kerja di Australia?”
“Aku kerja di kantor cabang Jakarta, pusatnya di Sydney. Sebelumnya memang pernah dua tahun di kantor pusat, lalu pindah ke Jakarta.”
Retno memotong. “Mas Arya, pecelnya pedas atau sedang?”
“Pedasnya sedang saja Dik.” Kata Arya.
“Mas Arya, biasa makanan Eropa, Jepang dan Korea, tumben mau makan lontong mi, apakah pengaruh propaganda Retno?” Susi isteri Bambang ikut nimbrung.
“Aku biasa makan masakan Jawa, ibuku ahli masakan Jawa, dulu buka warung masakan Jawa.” Arya tersenyum sambil menyebut beberapa masakan Jawa dengan cepat. Tentu saja dia hafal menu utama restorannya.
“Oh jadinya Mas Arya penggemar masakan Jawa rupanya.” Sahut Susi.
Endang Pratiwi, ibu Retno memotong, ikut meredakan suasana tegang antara Retno dan Mas Koco. “Nak Arya, jujur saja, katakan enak mana, masakan Jawa atau masakan Eropa?”
Arya tidak menjawab langsung. “Pernah saya mengajak teman saya, dua orang Australia makan masakan Jawa bikinan Ibu. Mereka suka. Berulangkali mereka memuji. Apalagi saya, tentu saja doyan masakan Jawa, dan juga lontong mi. Lidah saya sejak kecil dimanjakan masakan Jawa.” Sambil Arya menikmati nasi pecal.
“Bagaimana rasanya lontong mi mbakyuku?” Potong Darma Susilo adik Retno.
Arya tersenyum. “Enak. Nasi pecel ini juga enak.”
Suara Mas Koco mengejutkan Arya, keras datar. “Mas, kata Retno, anda duda, cerai dengan isteri dua tahun lalu. Kenapa sampe cerai, apakah ada wanita lain sebagai orang ketiga?”
Arya merunduk sejenak, menekan amarahnya. Tampaknya Mas Koco ini tidak menyukainya atau sengaja cari gara-gara.
Semua diam. Suasana hening.
“Tidak ada wanita lain. Kami tidak cocok.” Arya menjawab datar.
“Umumnya perceraian di negeri kita, karena suaminya yang menceraikan dan isteri hanya terima nasib.” Tegas Mas Koco, nadanya sinis.
“Kasusku ini, tidak bisa kuceritakan. Tidak elok. Perceraian saya resmi, bisa dilihat di pengadilan k-u-a Jakarta Timur, bulan dua tahun duaribu sembilan.” Kata Arya. “Kesendirianku dianggap jelek. Yah pandangan orang macam-macam. Hanya nasib duda tidak seburuk janda, pandangan terhadap janda sangat memprihatinkan. Tetapi perceraian adalah resiko suatu perkawinan dimana tidak ada kecocokan. Isteriku yang minta cerai. Semua ada sebab akibatnya.”
“Mungkin dia tak mau dimadu, lalu minta cerai.” Desak Mas Koco.
Retno merasa jantungnya berdebar, darah membersit di wajahnya yang tadinya pucat. Tetapi dia tak berdaya. Dia melihat kepada ayahnya, seakan minta tolong agar interogasi dan desakan Mas Koco dihentikan. Tetapi Purwanto pura-pura tidak mengerti arti tatapan putrinya.
Paras Arya merah padam. Namun dia berhasil menekan amarahnya. “Tidak begitu. Isteri saya hanya dia seorang. Tak ada isteri lain. Di kantor ka-u-a Jakarta Timur, ada pak Solihin, dia panitera, tahu persis kasus cerai itu. Kalau dia yang bercerita itu soalnya lain, tetapi saya tidak akan bercerita.”
Tiba-tiba Dimas memotong. Dia juga kesal kangmasnya mendesak Arya tanpa sebab yang jelas. “Mas Arya, katamu kamu ambil master di Brisbane, bisa cerita pengalaman paling buruk di sana?” Pertanyaan untuk mengalih pembicaraan.
Arya tertawa. “Kamu mau ambil master di sana?”
“Maunya sih begitu. Kamu belum jawab pertanyaanku, pengalamanmu di sana, katanya orang Indonesia dipandang rendah?”
Arya menunjuk batang hidungnya. Ada lekuk dan codet bekas jahitan melintang. “Hidungku ini pengalaman buruk sekaligus keberuntungan.”
Retno memotong. “Ceritakan, Mas.”
“Tiga bulan pertama, aku berkelahi. Namanya Phillip, dia kelewat menghina Indonesia. Berkelahi. Aku tidak tahu kalau dia petinju. Fisik sama besar, aku juga biasa bertinju ketika kuliah di Bandung. Tetapi pukulannya sangat cepat dan keras. Mukaku berdarah-darah, hidung patah, kening sobek. Gerahamku nyaris patah, untung aku sempat memblok pukulan ke rahang. Tapi aku kalah total, tersandar di tembok.”
“Teruskan.” Seru Dimas.
“Aku masuk rumah sakit. Hidungku dioperasi.”
“Kamu ndak menuntut dia ke polisi?” Tanya Dimas.
Mereka semua diam, ingin tahu kelanjutan cerita.
“Hari itu juga di rumah sakit, orangtuanya datang bersama polisi, aku tidak melapor, tetapi teman-temanku dari Indonesia, ada tujuh orang, melaporkan sebagai penganiayaan.” Tutur Arya.
“Polisi bertanya. Kujawab, kami hanya latihan tinju, tak ada perkelahian, tak ada penganiayaan, Persoalan selesai di situ, esoknya Phillip datang, mengucap terimakasih dan minta maaf. Orangtuanya yang melunasi biaya rumah sakit. Mereka menawarkan operasi plastik untuk memperbaiki penampilan hidung ini. Tapi aku menolak.
Setelah sembuh, aku mencari sasana tinju. Berlatih. Rupanya dia tahu aku berlatih tinju. Dia datang ke sasanaku. Katanya, Arya kamu tidak perlu latihan tinju karena aku tak akan berkelahi dengan kamu lagi, silahkan pukul aku, satu pukulan dan aku tidak akan membalas. Kujawab. Kamu sudah minta maaf, aku juga tak mau berkelahi dengan kamu, tidak ada gunanya, berteman itu lebih beradab dari bermusuhan. Sejak itu kami bersahabat. Dia yang membawa aku ke perusahaan. Dan aku diterima bekerja di situ. Sampai hari ini kami masih bersahabat, dia tinggal di Melbourne.”
“Hidungmu patah tapi dapat ganti pekerjaan, tidak disangka di Australia ada juga ka-ka-en, pasti ayahnya orang berpengaruh.” Kata Mas Koco sinis.
“Ayahnya orang kuat di partai buruh. Tapi perusahaan itu tak mengenal ka-ka-en, lagipula aku diterima karena aku lulusan cum-laude dengan nilai terbaik, aku juga melewati tes yang panjang dan melelahkan.” Suara Arya datar, tak ada emosi ketersinggungan akan tuduhan kasar Mas Koco.
Jawaban itu membuat Mas Koco yang nama aslinya Joko Santoso terdiam.
Tetapi sesungguhnya jika disimak benar, cerita itu seakan sindiran kepada Mas Koco, bahwa berteman itu lebih beradab dari bermusuhan.
Suasana makan siang menjadi cair. Peran isteri Mas Koco dan isteri Bambang sangat menetralisir suasana yang sempat panas sebab ulah ucapan Mas Koco.
Dari cara Arya bercerita dan menahan sabar, timbul respek keluarga Retno. Kecuali Mas Koco yang masih saja memendam rasa tidak suka.
Ketika Arya minta ijin ke toilet, Retno mengantarnya. “Mas, maafkan perilaku Mas Koco.”
“Tak apa aku mengerti.”
“Mas, kamu jangan marah iya. Janji dulu.” Retno memegang tangan Arya.
“Lagi-lagi janji jangan marah. Oke aku janji. Ada apa?”
“Undangan makan malam di Sheraton sebaiknya ditunda Mas, mungkin minggu depan, bagaimana Mas setuju ora?” Retno bertanya dengan suara manja.
Arya tertawa. “Setuju Dik. Kan kamu sudah ikat aku dengan janji jangan marah, itu sama artinya dengan keharusan setuju.”
“Ndak begitu. Aku manut saja kalau kamu bersikeras mengundang kami. Itu tadi cuma usulan. Aku ingin selesaikan urusan dengan Mas Koco. Aku kesal.”
“Sudahlah Dik Retno, jangan perpanjang persoalan dengan Mas Koco. Biarkan saja, nanti juga dia akan berbaik padaku, percayalah.” Kata Arya lirih.
Retno menatap mata Arya. “Baik aku ikut kata-katamu.” Sambil dia menunjuk pintu kamar mandi. “Itu kamar mandinya.”
Arya kembali ke ruang tengah. Namun sebelum dia duduk, Purwanto, pensiunan kapten marinir itu berdiri. “Nak Arya, aku harus pergi, mau ke bengkel.”
Arya cepat menyahut. “Oh saya juga mau pamitan. Kita sama-sama keluar, Pak.”
“Ayo kalau mau bareng. Sampai di depan gang, aku naik ojek.”
Arya pamitan. “Bu, saya pamitan, terimakasih makanannya, rasanya enak dan perut juga kenyang.” Dia menoleh kearah Retno dan saudara yang lain. “Sampai ketemu lagi.”
“Nak Arya jangan kapok, datang lagi makan di sini.” Kata Endang Pratiwi.
“Iya Bu, terimakasih.” Kata Arya sambil melambai kepada keluarga Retno lainnya.
Retno mengantar dua lelaki itu sampai di pagar. “Mas, telpon aku yah?” Suaranya lirih, terbungkus rasa malu. Dia khawatir Arya memutus hubungan karena ulah Mas Koco. Mungkin juga setelah melihat keadaan ekonomi mereka.
Arya menyahut. “Pasti Dik Retno.” Dia menelpon supirnya lalu menoleh ke Purwanto. “Pak aku antar dengan mobil.”
Dalam perjalanan Purwanto menjelaskan bahwa Retno sudah bertunangan dengan lelaki bernama Yudistira. “Kami sedang menunggu lamaran resminya.”
Arya merespons dengan sopan. “Oh begitu Pak.” Namun dalam hati dia membantah. “Retno telah menjelaskan, dia tak menyukai Yudi. Jadi aku tak akan berhenti mendekati Retno.”
( Bersambung 1.17 )
***
Comments







